Tuesday, September 10, 2019 0 komentar

Perahu Lain


”Mega, kalau misalkan aku, kamu, dan ibumu sedang naik perahu, lalu perahu itu akan tenggelam, sementara kita cuma punya satu pelampung, kepada siapa pelampung itu akan kau berikan?” suatu hari Tristan bertanya pada istrinya.

“Gimana, sih? Kamu ngga tau peraturan keselamatan apa? Udah tahu yang mau berlayar lebih dari satu orang, kenapa pelampungnya cuma satu?” jawab Mega dengan nada bercanda.

“Andaikan kita berada dalam kondisi begitu. Tolong jawab aja pertanyaanku.” desak Tristan.

“Hm, aku yang akan memakai pelampung itu. Karena jika aku selamat, aku bisa menyelamatkan orang lain,” jawab Mega.

“Siapa orang yang akan kau selamatkan? Aku atau ibumu?”

Pertanyaan ini membuat Mega terkesima. Ia tentu tidak ingin dianggap lebih mementingkan salah satunya, karena mereka sama pentingnya dalam hidup Mega.

“Aku tidak ingin mengesampingkanmu, Mas. Kau penting bagi hidupku. Tetapi ibuku telah sepuh. Ia belum tentu punya tenaga yang cukup untuk bertahan, maka prioritasku adalah menyelamatkan ibu. Kutahu, kau kan cukup mahir berenang. Kau akan bisa berjuang sendiri mencapai pantai. Aku juga akan berharap ada perahu lain segera datang menyelamatkanmu. Jika tidak ada, aku akan segera kembali untuk menyelamatkanmu.”

“Hm, begitu ya?”
Lalu Tristan diam termenung. Membuat Mega merasa bersalah atas jawaban yang diberikan. Ia begitu khawatir suaminya merasa tersinggung.

“Tidak... tidak... aku tidak marah. Itu kan hanya pengandaian, Sayang,” ucap Tristan ketika Mega berkali-kali membujuk meminta maaf atas jawabannya.

Mega menyeka airmatanya ketika mendengar keputusan Tristan. Ia memohon agar Tristan membatalkan niatnya. Ia mengiba. Ia hancur ketika suaminya bergeming.

“Ibuku akan tenggelam dalam kesedihannya, Mega. Ia merasa bersalah, karena ia yang menyuruh bahkan memaksa Taufik berangkat menjemputnya. Padahal adikku itu sedang sakit kepala saat menyetir. Akibatnya Taufik lalai. Dan kecelakaan itu merenggut nyawanya. Aku harus mematuhi permintaan ibuku, Mega, untuk menebus rasa bersalahnya.”

“Tetapi, mengapa keputusan itu yang kau ambil?”

“Kau tidak akan bisa kan menerima separuh aku?”
Mega menggeleng.

“Kalau begitu keputusanmu, aku yang akan tenggelam dalam kesedihan, Mas. Belum-belum hatiku sudah hancur begini.” Mega bersimpuh di lantai. Memegang lutut suaminya.

“Kau tidak akan hancur, Mega. Kau perempuan paling kuat yang kukenal. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu ada untuk membantumu, jika kau butuhkan.”

Mendengar kalimat itu, Mega seolah telah terhempas dari perahu. Jeritan minta tolong menggema di dadanya. Tetapi tidak ada yang mendengar. Karena secara perlahan, ia mulai tenggelam dalam keputusasaan.
Gelap!
Sunyi!
Dunianya mati!
Ia pun akan segera mati...
Tiba-tiba sebuah hentakan keras membawanya kembali ke permukaan kehidupan,
“Bertahanlah, Mega!” Samar-samar ia mendengar suara dari kejauhan.
Sepasang tangan terus menarik tubuhnya, menjauhkannya dari gelombang lautan tanpa harapan. Membawa Mega yang penuh luka.

“Bernapaslah. Buka matamu. Hiduplah, Mega! Kau akan baik-baik saja,” sebuah suara berbisik di telinganya. Menenangkan.

Mega membuka mata. Ia tersenyum melihat ke sekitar.
Lalu menarik napas dalam-dalam.
“Ya, aku akan terus bertahan hidup,” ucapnya dalam hati.
Ada perahu lain datang menyelamatkannya.
 
;