twitter


Lanjutan dari cerita  When We Met (Part I)

Ask : Kapan kamu menyadari bahwa kamu telah jatuh cinta dan mengapa?

Jawaban Rinny:

Jatuh cinta kan berarti lebih dari sekedar suka. Iya ngga sih? Kapan persisnya merasa lof-lofan saya ngga tahu. Yang jelas sih saya mulai jatuh suka ketika kami kerja praktek di LAPAN (oya, kemarin ada yang bertanya, "LAPAN itu apaan?" LAPAN itu singkatan dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Merupakan sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Kami saat itu jadi Trainee di Pusat Teknologi Penerbangan & Roket - Deputi Bidang Teknologi Dirgantara di Rumpin - Bogor, Jawa Barat) 

Saat di LAPAN saya dan Aa dijadikan satu tim. Sedangkan George dan Suroto berada dalam tim lain.
Saya sempat merasa kecewa dijadikan satu tim dengannya. Soalnya kan sebelumnya kami ngga saling mengenal banget. Lingkaran pertemanan kami berbeda. 

Tapi, yah begitulah TAKDIR. Selalu ada jalan untuk mencapai takdir tersebut walau mungkin awalnya dengan cara yang tidak kita sukai 

Pemicu saya merasa connect dengan Aa adalah karena datangnya seorang Intruder ke mess kami di LAPAN. Intruder itu adalah saudara sepupu jauh dari pihak Bapak, yang naksir saya.

Ceritanya, si Intruder  dapat informasi entah dari siapa, bahwa saya berada di LAPAN Rumpin, yang lumayan dekat dari kampusnya di ITI Serpong. Jadi sowanlah ia ke mess kami sekalian mau coba-coba cari celah buat mendeklarasikan cintanya
Tapi sungguh, saya  ilfil  banget sama orang ini. Karena ada suatu sebab yang kapan-kapan akan saya ceritakan.

Si Intruder terus mendesak saya supaya menerima dia. Sampai saya kehabisan alasan menolak. Segala omongan saya selalu bisa diputar-balikkan. Lalu, tiba-tiba saya melihat Aa melintas dari kamarnya ke arah ruang makan. 
Nah!
"Lagian, Kak. Saya sudah pacar, koq. Tuh, pacar saya." Tunjuk saya ke teman satu tim itu. Sebenarnya saya berharap Aa ngga mendengar omongan saya ini. Karena jelas saya bohong banget.
Tiba-tiba si Intruder  menghampiri Aa dan bertanya, "Bener kamu pacarnya Rinny?"
Aa menoleh ke saya dengan pandangan bingung. Saya salting.
"Rinny bilang begitu?"
"Iya."
"Oh. Ya berarti saya memang pacarnya" Terus Aa ngeloyor masuk ke kamarnya lagi.
Mampus gw!!!

Setelah si Intruder pulang. Saya langsung dengan heboh mencoba menjelaskan ke Aa.
Blablablabla.....
Komentarnya "Ya udah. Lu tenang aja, kenapa sih. Yang penting masalah lu bereskan? Lagian ngga apa-apa juga kali kalau gw jadi pacar lu.

Tragedi itu  terjadi pada tanggal 21 Juli.

Karena merasa sudah terselamatkan, saya jadi lebih ramah kepada Aa. Karena saya lebih ramah, ya otomatis dia juga jadi lebih nyaman berteman dengan saya. Sebelumnya saya lebih jutek, Mungkin karena saya merasa lebih senior.

Jadi ngga ada sih cerita pertama kali ditembak.  Apalagi pakai kiriman bunga atau boneka Teddy Bear. Maka dari itu saya ngga 'ngeh kapan saya  jatuh cinta.

Kenapa saya jatuh cinta?

Ya karena saya merasa nyaman bersama dia. Aa mengerti jalan pikiran saya. Dia bisa memahami mimpi-mimpi saya dan membantu saya meraih impian saya. (Saya ngga bakalan menyelesaikan kuliah-kuliah saya kalau dia tidak jadi supporter utama. Dari mulai tenaga antar-jemput, tukang ketik tugas, dan sebagainya. Dia adalah The Wind Beneath My Wings. Dia adalah pendengar terbaik. Tempat saya berkeluh kesah. Bertanggung jawab. Pokoknya segala kriteria saya tentang pendamping hidup saya, -dalam perjalanan waktu bertahun-tahun kemudian-, bisa saya dapatkan pada Aa.

Jawaban Suami:

"Waduh!!! Pertanyaannya diganti ajalah! Pindah ke pertanyaan lain."
Ngga bisa. Pertanyaan ini harus tetap dijawab.
"Serius. Saya ngga tahu kapan mulai jatuh cinta sama kamu. Yah pokoknya selama di LAPAN." Jawabnya.
Ok. Berarti jawabannya sama dengan saya.

Alasan jatuh cinta?
"Apa ya? Ya karena udah takdir harus begitu. Sudah ketentuan ALLAH kalau kita memang harus jadi suami-istri. Kalau saya ngga diberiNYA rasa cinta dan sayang sama kamu, ya, ngga bakalan betah bertahun-tahun hidup bareng. Ngga bakalan tuh ada anak-anak."

(Rinny: "Bener banget, Pak Ustadz".
Padahal saya berharap dia menjawab : Karena kamu cantik. -boleh dong. Karena cantik kan relatip-, atau ' karena kamu pintar', atau ' karena karena kamu baik'. Atau apalah gitu yang bisa bikin saya ge-er. maximal).

Ya sudahlah. Saya terima saja jawabannya ini. Dia memang begitu orangnya.


Bersambung....