twitter


Tak kusangka hatiku bisa begini ringan saat meninggalkan kantor di lantai 7 itu. Seringan perasaan seorang mahasiswa yang lulus ujian akhir dengan 
cum laude. Beban yang kutanggung bertahun-tahun hilang seketika. 

Sangat cukup bagiku Mas Bim mau menerima Abimanyu sebagai anaknya. Karena anak semata wayangku itu membutuhkan sosok ayah sebagai penguatnya.
Biarlah sejenak ia merasakan memiliki ayah dan ibu, orang tua yang lengkap. 
Biarlah ia bahagia sejenak sebelum simpul kehidupannya di dunia ini terlepas dan kembali kepada Khaliknya. Aku sudah mengikhlaskannya jika itu terjadi. Karena akupun tidak lagi sanggup  menatap matanya saat ia berjengit dan mengaduh menahan serangan rasa sakit yang kian sering datang. 


Hari-hari berikutnya anakku sering melaporkan "Papa tadi datang menjenguk, Ma." Katanya setiap kali dengan mata berbinar bahagia. 
"Oya? Kapan? Koq ngga pernah ketemu Mama?" Tanyaku
"Pagi-pagi, Ma. Sekitar jam 7 pagi. Biasanya sih nanti menjenguk lagi setelah jam besuk sore" Jawab anakku. 
Oh, pantas. Tentu sebagai direktur ia memiliki akses untuk keliling rumah sakit ini di luar jam jenguk.

Hari demi hari terus berganti. Kondisi kesehatan anakku tidak juga membaik meskipun tidak juga memburuk. Nampaknya, kehadiran sosok ayah yang dirindukan berbelas tahun menjadi obat baru baginya. Hingga sebelas hari kemudian anakku menyampaikan sebuah berita,  
"Semalam ada dokter baru yang visite, Ma. Namanya dokter Dita"
Deg! 
Oh, Dita sudah tahu tentang Abimanyu. 
"Dia periksa kamu?" Entah mengapa aku tiba-tiba merasa was-was.
"Engga. Cuma tanya-tanya. Nama siapa, sekolah dimana, kayak gitulah. Ngajak mengobrol aja. Psikolog kali, ya, Ma?" katanya 
"Ah, sok tahu kamu" Aku mencoba bercanda.
"Iya kali, Ma. Soalnya pertanyaannya macem-macem." Katanya. 
"Mungkin dia penasaran sama kamu. Karena anak mama ini sudah ganteng, tabah lagi" Kataku. "Mas, kalau dokter Dita visite lagi, Mas kasih nomor ponsel mama ke beliau, ya. Ada hal penting yang akan mama bicarakan pada dokter Dita, bilang begitu, ya, Mas" Lanjutku.
Semakin cepat aku bisa menemui Dita, akan semakin baik. Aku harus berbicara dengan Dita. Aku ingin  ia tidak usah lagi menemui anakku. Aku khawatir ia mengatakan hal yang bisa melukai anakku. Aku akan memohon ia bersabar sedikit. Aku akan meminta agar ia mengizinkan suaminya menemui anakku 5-10 menit setiap hari. Seperti hal yang selalu dilakukan dokter saat merawat pasiennya. 
Itu saja.

Lebih dari seminggu kutunggu telepon dari Dita. Aku sengaja bersikap pasif, karena selain kunjungan yang sekali itu, anakku tidak pernah lagi melaporkan bahwa Dokter Dita melakukan visite. Tapi sore ini, tiba-tiba Dita mengirim pesan singkat agar aku menemuinya di salah sebuah restoran tak jauh dari rumah sakit. 
Kugenggam kuat telapak tanganku yang gemetar. Jantungku berdebar keras setelah membaca pesan singkatnya.  Meski aku tahu suatu saat Dita akan muncul, tapi ada rasa enggan berkonfrontasi dengannya. Karena sesungguhnya aku tidak menginginkan lebih dari yang sekarang aku dan anakku dapatkan. Kehadiran kami di kehidupannya kini, tentu saja membuat Dita terluka. Sesunggunya pun aku tidak suka menjadi duri dalam dagingnya. Ah, andai anakku tidak sakit separah ini. Andai Mas Bim tidak menghamiliku. Dan berjuta andai lainnya yang tentu saja percuma disesali.

Aku datang menemuinya tepat waktu. Dita pun sudah menunggu. Sudah tersedia segelas orange juice dihadapannya.
"Pesanlah minuman Esti. Pembicaraan kita kali ini mungkin membutuhkan waktu lebih dari satu jam."
Katanya menyambut kedatanganku. 
To the point. 
Tidak ada basa-basi seperti halnya pertemuan reuni dua orang yang dulu pernah begitu akrab. Aku pun memanggil pelayan, memesan segelas air mineral dan secangkir kopi. 

"Aku sudah menemui anakmu" katanya.
Juga anak Mas Bim, tambahku dalam hati. 
"Aku sedih, karena harus mengakui bahwa anakmu begitu mirip dengan suamiku." Lanjutnya.
Ah, mengapa 'anakmu' dan 'suamiku' yang kau tekankan. Kau tak perlu melakukannya. Aku sudah tahu. Dan aku tak ingin merubahnya.  Ingin kuteriakkan kalimat itu kepadanya, tapi bibirku memilih tetap terkatup. 
"Sesungguhnya bertahun-tahun aku menyimpan kesedihan karenamu, Esti" Dita berbicara sambil menatap tajam ke mataku.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu." Aduh, kenapa sih dari dulu aku selalu merasa kalah darinya? Andai kutahu akan begini efek dari merasa hutang budi, aku akan menolak segala bantuan yang dulu ia dan keluarganya, keluarga paman- tawarkan padaku. Andai kutahu akan ada kejadian seperti ini, biarlah aku tidak pernah merasakan kuliah di fakultas kedokteran lalu bekerja di rumah sakit itu dengan biaya dan rekomendasi dari paman. 
"Mungkin kau tak tahu, Esti. Tapi aku tahu. Aku merasakan. Walau sudah belasan tahun berlalu, Mas Bim masih menyimpan cinta padamu." Meski berbicara dengan suara perlahan, tapi luapan emosinya sangat terasa di telingaku.  
Aku menggeleng. "Kami tidak pernah bertemu sejak aku resigned dari rumah sakit, sampai beberapa pekan lalu" Kataku.
"Sudahlah!" Katanya. "Sekarang bukan itu masalahnya. Tapi ada hal lain yang akan kita bahas." Lanjutnya. "Mas Bim benar, kejadian ini terjadi bukan karena ia mengkhianatiku selama perkawinan kami. Andai itu yang terjadi, Esti, aku tak akan menawari hal ini padamu."
"Menawari aku apa?" Jantungku kembali berdetak keras. Apakah ia akan menawari sejumlah uang agar aku mau menyingkir dari kehidupan mereka? Tentu Dita tidak perlu melakukan itu, karena aku akan dengan suka rela pergi lagi dari kehidupan mereka. Tapi nanti, bila Abimanyu telah pergi dari kehidupan ini. 
"Aku menawarimu menikah dengan suamiku." Katanya. Kalimatnya ini membuatku terbelalak. 
Aku langsung menggeleng kuat. "Aku tidak mau!"
"Ssttt, dengarkan aku dulu. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, Esti. Saat kutahu diam-diam Mas Bim kerap mendengarkan Love Story saat ia sedang sendiri. Aku tahu saat itu ia sedang mengenangmu." Dita menggenggam tanganku."Awalnya aku merasa sangat sakit. Tapi kemudian aku berkompromi dengan perasaanku. Aku memiliki tubuhnya, aku yakin ia mencintaiku juga kini, terutama setelah lahir anak-anak kami. Tapi kau tetap berada di hatinya, Esti. Tak tergantikan."
"Jika dengan menikahimu membuat Mas Bim berbahagia, kupikir biarlah aku menahan egoku. Toh, dulu kau telah mengalah padaku." Dita tiba-tiba terisak pelan. "Maafkan aku, Esti. Aku menginginkan Mas Bim dan kau merelakannya. Padahal mestinya saat itu kau lah yang seharusnya lebih berhak menikah dengannya."
"Ya, Dita, jika kau tidak menjebaknya dan lalu mengancam melaporkannya ke komite. Kau selalu memaksakan kehendak dan keinginanmu. Sekarang pun begitu. Tapi sekarang aku sudah dewasa, Dita. Kau tidak lagi bisa mengatur aku." Aku begitu geram padanya. Pada ide gilanya. 
Menjadi istri kedua?
Dalam khayalan pun aku enggan membayangkannya. 
"Yang kau sebut keinginanku, kali ini bukan buat kesenanganku, Esti. Kalau bukan kasus penyakit anakmu dan demi kebahagiaan suamiku, apa kau pikir aku mau berbagi suami? Selain itu dokter dan beberapa perawat di ICU setidaknya sudah menduga Abimanyu adalah anak Mas Bim, mengingat begitu miripnya mereka berdua. Dan riwayatmu di rumah sakit itu tentu bisa mereka telusuri dengan bergosip. Nah, apa kau tega jika Mas Bim dianggap tak bermoral dan anakmu tanpa ayah? Pikirkan tawaranku, Esti. Ini demi kebaikan bersama."
"Tidak" jawabku. " Mas Bim akan dipecat jika berpoligami"
"Ya. Itu sudah kami bicarakan. Tapi apakah jabatan lebih penting dari kehormatan dan kebahagiaan?" Kata Dita."Pikirkan tawaranku, Esti. Jika bukan engkau, tidak mungkin kulakukan ini. Karena aku tahu kau tidak akan memonopoli Mas Bim, saat kau menjadi istrinya nanti"
"Tidak, Dita!" Tolakku  "Saat aku menemui Mas Bim beberapa pekan lalu, tujuanku bukan agar ia menikahiku. Kalau itu mau ku sudah lama aku memasuki kehidupan rumah tangga kalian. Tapi aku hanya ingin Mas Bim mau menerima Abimanyu, sampai...sampai...." Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimatku. Aku tidak peduli ketika beberapa pengunjung restoran melirik berulang kali kepada kami. 

Tiba-tiba dering ponsel dari dalam tas Dita berbunyi. Dijawabnya panggilan itu. Sedetik kemudian kutangkap kepanikan dalam suaranya.
"Aku pergi dulu" pamitnya terburu-buru tanpa sempat teringat ia belum membayar minumannya. Bahkan ia berjalan dengan setengah berlari.
Aku memanggil pelayan, meminta bill, dan membayarnya.

Bersambung,...