Monday, March 24, 2008 0 komentar

I do like Monday

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Senin Pagi yang indah.
Hari baru, minggu baru, semangat baru. Setelah libur panjang 4 hari.
Pagi ini saya dan suami akan mengantar barang ke PT. Narumi, berhubung barangnya akan dipakai segera, sementara bag pengiriman barang blom datang ya kita ambil alih sementara deh, lagian cuman 200 kg.
Wah, beruntungkan PT. Narumi, direktur supplier langsung yang nganter pesanannnya. Hehehe
Sunday, March 23, 2008 0 komentar

Laskar Pelangi ( Novel)

Buku ini saya beli ketika diadakan pameran buku di sekolah anak kami (TK Syafanah) dalam rangka "Book Week"

Buku ini mengilhami dan membangkitkan semangat saya untuk kembali bersekolah, melanjutkan cita-cita saya yang tertunda.
0 komentar

Ketika Cinta Bertasbih (Novel)

Novel Ini saya beli seminggu setelah saya membeli Novel "Ayat-ayat Cinta". Saya juga sudah membaca 1x dan saya merencanakan membaca ulang besok malam.
0 komentar

Ayat-ayat Cinta (Novel)

Buku ini sudah saya beli sekitar 2 bulan lalu, saya baru baca 1 kali.
Sesuai dengan kebiasaan saya sejak jaman sekolah dulu kalau membaca buku baru , pertama kali baca dengan metode baca cepat, maksudnya dibaca keseluruhan dari depan sampai belakang secara sepintas diperhatikan poin -poin saja, jika buku tersebut saya rasa menarik dan bagus baru saya baca ulang dengan dihayati...hehe
Tetapi karena kesibukan saya dan suasana yang tidak kondusif maka saya belum membaca ulang buku ini. Tapi saya malah sudah menonton filmnya.
Malam ini saya berniat akan menyelesaikan membaca buku ini.
Saturday, March 22, 2008 1 komentar

Masjid Kubah Emas




1 Maret 2008 Pukul 14.00

Saya, Papa, VanDa dan Ibu Mertua berwisata ke Masjid termegah di Indonesia. Setelah menempuh perjalanan 1.5 jam dari Bekasi Timur (Rumah Mertua) akhirnya kami tiba di lokasi. Mengikuti papan penunjuk yang ditulis besar-besar " PINTU MASUK MESJID KUBAH EMAS" kami ikuti jalan tersebut, mertua yang sudah pernah 2 x ke sana komentar :

"Perasaan waktu saya kesini ngga masuk lewat jalan ini , mungkin karena hari ini weekend jadi harus lewat jalan ini kali ya"
10 meter melewati penunjuk arah tadi ada semacam portal yang ditunggui oleh seseorang berbaju koko dan berpeci yang kemudian menyodorkan karcis tanda masuk (Rp. 2000) , Papa komentar " Serasa masuk Ancol, dipintu gerbang harus bayar". OK lah mungkin untuk dana kebersihan .

Namun, 20 meter kemudian ada lagi loket + portal dengan seorang berbaju koko dan berpeci yang menyodorkan karcis masuk juga. Kami lalu komplain.
"Kan tadi didepan sudah membayar tiket masuk ,Pak"

" Itu tanda masuk tadi pengurus warga sini ,Bu. Bukan resmi dari kita, yang resmi ( dari pengurus masjid) tiket yang ini ". Merasa malu harus bertengkar dihalaman rumah Allah kami membayar Rp.2000 lagi.
Begitu memasuki pelataran kompleks mesjid yang luas, hati terkagum-kagum, Subhanallah, ada masjid seindah dan semegah ini.

(Ada yang berpendapat dengan dibangunnya mesjid ini oleh Ibu Dian Al Mahri, akan terwakilkan keindahan dan keagungan Islam. Saya pribadi berpendapat andaikan dana yang dipergunakan untuk menyepuh kubah, tiang - tiang , dengan emas yang konon seberat 3 ton, dipergunakan untuk memberi makan fakir miskin di jabotabek, niscaya tidak akan terjadi cerita balita kekurangan gizi.)
Karena hari itu hari Sabtu sehingga lahan parkir penuh, kami parkir agak jauh.
Tak lama menunggu, tibalah waktu ashar, kami berniat shalat berjama'ah disana. Namun kami kembali merasa kecewa dengan peraturan yang melarang anak-anak memasuki masjid.
Berarti salah satu dari kami tidak dapat mengikuti shalat berjama'ah karena harus ada yang menjaga 2 anak kembar kami. Akhirnya saya mengalah kepada suami dan mertua sehingga saya yang mengawasi anak-anak.
Saya mengamati selama waktu shalat ashar tersebut para pedagang foto keliling dan penjual minuman tetap saja berdagang, sehingga terkesan mereka tidak menghargai panggilan Allah untuk menunaikan shalat.

Setelah saya selesai shalat ashar, kami berniat pulang. Lagi-lagi kami disodori karcis , untuk membayar parkir. Rp. 2000 lagi. Dan dipintu gerbang keluar untuk yang terakhir kalinya kami harus membayar lagi Rp.2000, yang kali ini entah untuk alasan apa.

Artikel Wisata Lain:
Pelabuhan Sunda Kelapa
Tuesday, March 18, 2008 0 komentar

Bisnis Kedua, apa ya?

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Tiga tahun setengah lalu...tepat sebelum ramadhan , saya dan suami membangun sebuah bisnis sendiri.
Benar-benar dari NOL.
Modalnya skill dan tekad, tanpa rupiah berjuta-juta ( Kalo hanya beberapa ratus ribu saja sih ada)
Diawal, benar-benar sengsara rasanya. Apa aja kami lakukan agar perusahaan kami berjalan. Tapi Alhamdulillah sekarang mulai smooth.Tapi posting kali ini saya tidak berbicara tentang perusahaan kami itu. Melainkan keinginan saya membangun sebuah bisnis baru,bisnis yang lain.

Kenapa merasa perlu membangun bisnis baru?

Pertama: karena saya yakin saya bisa membangun sebuah bisnis (lagi). Kan sudah berpengalaman. Sengsara dan perjuangannya juga sudah pernah saya rasakan. Jadi jika mengalami lagi rasanya sudah imun deh

Kedua: Karena saya merasa bahwa saya perlu back-up penghasilan untuk rumah tangga kami. {Karena sebagai pemilik perusahaan kami adalah yang paling terakhir menerima gaji. Kalo ada sisa profit baru kami gajian...kalo profit dibulan tsb nggak cukup buat membayar gaji kami...ya kami pasrah aja. Yang penting para karyawan terpenuhi hak-haknya.

Ketiga: Dari kecil saya selalu punya energi lebih untuk selalu berpikir dan bergerak ( Alhamdulillah Syukur kepada Allah SWT atas karunianya dan terima kasih kepada ortu atas bimbingannya) dan selalu gelisah apabila punya gagasan, ide atau rencana apabila belum dijalankan.

Masalah sukses atau gagal....ya belakangan deh, yang penting usaha dulu. Ya ngga...ya ngga.
Keempat: sejak kecil saya pernah bercita-cita menjadi "orang kaya" ( Selain pernah punya cita-cita jadi astronot,pilot,dokter,guru,insinyur. Bahkan pernah punya cita-cita jadi princess :)) Namun karena saya bukan keturunan pengusaha atau diplomat atau birokrat, alias orang biasa-biasa aja, maka untuk merealisasikan cita-cita dan impian saya tersebut,yah saya harus berusaha sendiri membangun sebuah - semoga menjadi beberapa-bisnis saya dari sekarang .

Trus... bisnis apa sih yang mau dibuat?

Nah itu juga pertanyaan saya..hehehe. Sempat kepikir sih ingin buka toko online. Tapi jualan apa?
Saya mempertimbangkan beberapa hal:
Bedding : Sprei, bedcover dan teman-temannya
Busana muslim,jilbab
Bumbu Siap Pakai
Kue Tart
Rias Pengantin
Kursus-kursus..Kendala saya ngga bisa jahit, masak,bikin kue apalagi merias pengantin.(Hmm mungkin bisa cari partner atau tukang jahit yang bisa menerjemahkan ide saya)

Pemasarannya kemana?

Tetangga, temen, bikin web, bikin milis....promosiin deh.
Kalo buka toko apalagi toko grosir, modal saya nggak ada segitu banyak. Modal berapa dan dari mana?
Nah itu dia...kira-kira suami mau ngga ya modalin? Jumlahnya belum dikalkulasi...harus SEGERA !!!
Ok deh..berarti saya harus bikin Business Plan segera nih.
Pamit ya...

Wassalam
0 komentar

ACT NOW !!!

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Alhamdulillah Allah memberikan karunia kepada kami kenyamanan hidup berumah tangga. Sebagai keluarga muda segala yang kami impikan sudah kami raih.
Dua orang puteri yang sehat,cerdas dan cantik, rumah mungil yang "homy", kendaraan, gaji yang cukup , bahkan bisa mengasuransikan pendidikan anak-anak dan tak lupa kami juga membantu orangtua kami secara rutin.

Tapi kenyamanan yang diperoleh dengan adanya penghasilan tetap sudah kami tinggalkan sejak 3 tahun lalu, ketika suatu hari suami diajak oleh salah satu bos nya untuk mendirikan perusahaan baru. ( Untuk memudahkan cerita saya, saya sebut nama perusahaan itu "PT. A ")

Semula hati saya berbunga-bunga, alhamdulillah, suami naik pangkat dari seorang manajer menjadi direktur. Harapan saya, tentu fasilitas yang akan diperoleh akan "naik pangkat juga" seperti gaji dan kendaraan operasional.

Konsekuensi dari tawaran tersebut suamiku jadi kerja "gila-gilaan" ketika mereka setting segala sesuatu hal untuk membuat perusahaan baru tsb.
Bisa dikatakan suamiku kerja mulai dari subuh sampai subuh lagi. Pagi meeting di Jakarta, siang ke potential customer di Cilegon, malam meeting lagi dengan supplier di Purwakarta. Begitu terus selama 2 bulan kerja lebih dari 12 jam sehari.

Saya juga mereka libatkan, sesuai pengalaman saya yang lebih dari 7 tahun kerja dibidang pemasaran maka sayapun direkrut sebagai anggota tim marketing. Untuk mendukung usaha suami maka sayapun rela melepaskan pekerjaan saya sebelumnya.

Singkat cerita mulailah "PT. A" berjalan Namun setelah 3 bulan terjun total ternyata kami merasa banyak ganjalan-ganjalan. Detailnya saya tidak akan menceritakan penyebabnya, cukuplah menjadi pembelajaran bagi kami. Daripada terus meruncing dan tidak nyaman bekerja saat itu juga kami memutuskan keluar dari perusahaan tersebut.

Lalu dalam waktu sekejap kami berdua menjadi pengangguran. Meskipun masih ada sedikit penghasilan suami sebagai parttime consultant namun jauh dibanding dengan pemasukan sebelumnya.
Saat itulah kami tergerak untuk mendirikan perusahaan sendiri. Meskipun dalam skala yang jauh-jauh lebih kecil.
Kami pikir meskipun minim, tapi kami punya pengalaman dan sudah terlanjur keluar dari predikat "karyawan"

Tidak ada modal ratusan juta, bahkan nyaris 1 milyar, seperti modal yang disiapkan untuk membuat "PT. A". Bahkan untuk membayar pembuatan surat-surat CV saja, kami terpaksa menunggu adanya pembayaran dari jasa consultan suami.

Kami harus naik-turun bis untuk menemui customer, jika harus mengantar barang kadang-kadang pinjam mobil teman karena kami tidak punya uang untuk sewa mobil. ( Mobil kami sebelumnya kami kembalikan ke leasing karena tidak sanggup bayar cicilannya lagi.) Bahkan saat itu kami belum mampu beli mesin fax (yang hanya beberapa ratus ribu) sehingga harus menumpang terima fax di wartel.

Sengsara memang rasanya, tetapi setiap bangun pagi kami selalu punya harapan baru. Harapan bertemu customer baru, harapan mendapat purchase order baru.
Complain-complain yang kami terima malah menjadi cambuk dan pelajaran bagi kami.

Kami saling menyemangati.

Jika suami down karena kelelahan naik-turun bis membawa karung-karung dagangan kami, saya akan bilang. " Liem Swie Liong (salah gak ejaannya?) dulu juga sengsara..Kita lebih baik, mulai usaha sudah punya jaringan meskipun masih kecil. Sehingga biarpun hanya 2-3 customer tapi mereka percaya pada kita."
Atau ketika saya pusing menangani tagihan-tagihan supplier, suami akan menghibur "Meskipun pusing, tapikan labanya langsung kita rasakan. Untung kita akhir bulan ini boleh deh sedikit dipakai untuk ke salon".

Nekadkah kami ketika memutuskan meninggalkan kenyamanan kami?
Jawabannya "YA, 100% nekad".
Saya pernah sempat bermimpi mempunyai suami seorang direktur (ketika suami diajak membuat perusahaan oleh temannya.), Dan suami terlanjur berharap mengelola bisnis sendiri.
Lalu ketika kenyataan pada awalnya tidak sesuai harapan, kami tidak melepaskan impian.

Maka harus diwujudkan.

Kalau tidak pernah dimulai, akankah terlaksana?
0 komentar

Assalamu'alaikum

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Beberapa posting di blog ini mungkin sama dengan di blog saya yang lain, jujur saja, karena sudah lama tidak posting saya jadi lupa alamat email dan password yang spesial saya buat ntuk blog ini...hehe..konyol banget yah.

Ok deh let's start this blog as my diary.

Wassalamu'alaikum
 
;