ACT NOW !!!

by - Tuesday, March 18, 2008

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Alhamdulillah Allah memberikan karunia kepada kami kenyamanan hidup berumah tangga. Sebagai keluarga muda segala yang kami impikan sudah kami raih.
Dua orang puteri yang sehat,cerdas dan cantik, rumah mungil yang "homy", kendaraan, gaji yang cukup , bahkan bisa mengasuransikan pendidikan anak-anak dan tak lupa kami juga membantu orangtua kami secara rutin.

Tapi kenyamanan yang diperoleh dengan adanya penghasilan tetap sudah kami tinggalkan sejak 3 tahun lalu, ketika suatu hari suami diajak oleh salah satu bos nya untuk mendirikan perusahaan baru. ( Untuk memudahkan cerita saya, saya sebut nama perusahaan itu "PT. A ")

Semula hati saya berbunga-bunga, alhamdulillah, suami naik pangkat dari seorang manajer menjadi direktur. Harapan saya, tentu fasilitas yang akan diperoleh akan "naik pangkat juga" seperti gaji dan kendaraan operasional.

Konsekuensi dari tawaran tersebut suamiku jadi kerja "gila-gilaan" ketika mereka setting segala sesuatu hal untuk membuat perusahaan baru tsb.
Bisa dikatakan suamiku kerja mulai dari subuh sampai subuh lagi. Pagi meeting di Jakarta, siang ke potential customer di Cilegon, malam meeting lagi dengan supplier di Purwakarta. Begitu terus selama 2 bulan kerja lebih dari 12 jam sehari.

Saya juga mereka libatkan, sesuai pengalaman saya yang lebih dari 7 tahun kerja dibidang pemasaran maka sayapun direkrut sebagai anggota tim marketing. Untuk mendukung usaha suami maka sayapun rela melepaskan pekerjaan saya sebelumnya.

Singkat cerita mulailah "PT. A" berjalan Namun setelah 3 bulan terjun total ternyata kami merasa banyak ganjalan-ganjalan. Detailnya saya tidak akan menceritakan penyebabnya, cukuplah menjadi pembelajaran bagi kami. Daripada terus meruncing dan tidak nyaman bekerja saat itu juga kami memutuskan keluar dari perusahaan tersebut.

Lalu dalam waktu sekejap kami berdua menjadi pengangguran. Meskipun masih ada sedikit penghasilan suami sebagai parttime consultant namun jauh dibanding dengan pemasukan sebelumnya.
Saat itulah kami tergerak untuk mendirikan perusahaan sendiri. Meskipun dalam skala yang jauh-jauh lebih kecil.
Kami pikir meskipun minim, tapi kami punya pengalaman dan sudah terlanjur keluar dari predikat "karyawan"

Tidak ada modal ratusan juta, bahkan nyaris 1 milyar, seperti modal yang disiapkan untuk membuat "PT. A". Bahkan untuk membayar pembuatan surat-surat CV saja, kami terpaksa menunggu adanya pembayaran dari jasa consultan suami.

Kami harus naik-turun bis untuk menemui customer, jika harus mengantar barang kadang-kadang pinjam mobil teman karena kami tidak punya uang untuk sewa mobil. ( Mobil kami sebelumnya kami kembalikan ke leasing karena tidak sanggup bayar cicilannya lagi.) Bahkan saat itu kami belum mampu beli mesin fax (yang hanya beberapa ratus ribu) sehingga harus menumpang terima fax di wartel.

Sengsara memang rasanya, tetapi setiap bangun pagi kami selalu punya harapan baru. Harapan bertemu customer baru, harapan mendapat purchase order baru.
Complain-complain yang kami terima malah menjadi cambuk dan pelajaran bagi kami.

Kami saling menyemangati.

Jika suami down karena kelelahan naik-turun bis membawa karung-karung dagangan kami, saya akan bilang. " Liem Swie Liong (salah gak ejaannya?) dulu juga sengsara..Kita lebih baik, mulai usaha sudah punya jaringan meskipun masih kecil. Sehingga biarpun hanya 2-3 customer tapi mereka percaya pada kita."
Atau ketika saya pusing menangani tagihan-tagihan supplier, suami akan menghibur "Meskipun pusing, tapikan labanya langsung kita rasakan. Untung kita akhir bulan ini boleh deh sedikit dipakai untuk ke salon".

Nekadkah kami ketika memutuskan meninggalkan kenyamanan kami?
Jawabannya "YA, 100% nekad".
Saya pernah sempat bermimpi mempunyai suami seorang direktur (ketika suami diajak membuat perusahaan oleh temannya.), Dan suami terlanjur berharap mengelola bisnis sendiri.
Lalu ketika kenyataan pada awalnya tidak sesuai harapan, kami tidak melepaskan impian.

Maka harus diwujudkan.

Kalau tidak pernah dimulai, akankah terlaksana?

You May Also Like

0 komentar