Masjid Kubah Emas

by - Saturday, March 22, 2008




1 Maret 2008 Pukul 14.00

Saya, Papa, VanDa dan Ibu Mertua berwisata ke Masjid termegah di Indonesia. Setelah menempuh perjalanan 1.5 jam dari Bekasi Timur (Rumah Mertua) akhirnya kami tiba di lokasi. Mengikuti papan penunjuk yang ditulis besar-besar " PINTU MASUK MESJID KUBAH EMAS" kami ikuti jalan tersebut, mertua yang sudah pernah 2 x ke sana komentar :

"Perasaan waktu saya kesini ngga masuk lewat jalan ini , mungkin karena hari ini weekend jadi harus lewat jalan ini kali ya"
10 meter melewati penunjuk arah tadi ada semacam portal yang ditunggui oleh seseorang berbaju koko dan berpeci yang kemudian menyodorkan karcis tanda masuk (Rp. 2000) , Papa komentar " Serasa masuk Ancol, dipintu gerbang harus bayar". OK lah mungkin untuk dana kebersihan .

Namun, 20 meter kemudian ada lagi loket + portal dengan seorang berbaju koko dan berpeci yang menyodorkan karcis masuk juga. Kami lalu komplain.
"Kan tadi didepan sudah membayar tiket masuk ,Pak"

" Itu tanda masuk tadi pengurus warga sini ,Bu. Bukan resmi dari kita, yang resmi ( dari pengurus masjid) tiket yang ini ". Merasa malu harus bertengkar dihalaman rumah Allah kami membayar Rp.2000 lagi.
Begitu memasuki pelataran kompleks mesjid yang luas, hati terkagum-kagum, Subhanallah, ada masjid seindah dan semegah ini.

(Ada yang berpendapat dengan dibangunnya mesjid ini oleh Ibu Dian Al Mahri, akan terwakilkan keindahan dan keagungan Islam. Saya pribadi berpendapat andaikan dana yang dipergunakan untuk menyepuh kubah, tiang - tiang , dengan emas yang konon seberat 3 ton, dipergunakan untuk memberi makan fakir miskin di jabotabek, niscaya tidak akan terjadi cerita balita kekurangan gizi.)
Karena hari itu hari Sabtu sehingga lahan parkir penuh, kami parkir agak jauh.
Tak lama menunggu, tibalah waktu ashar, kami berniat shalat berjama'ah disana. Namun kami kembali merasa kecewa dengan peraturan yang melarang anak-anak memasuki masjid.
Berarti salah satu dari kami tidak dapat mengikuti shalat berjama'ah karena harus ada yang menjaga 2 anak kembar kami. Akhirnya saya mengalah kepada suami dan mertua sehingga saya yang mengawasi anak-anak.
Saya mengamati selama waktu shalat ashar tersebut para pedagang foto keliling dan penjual minuman tetap saja berdagang, sehingga terkesan mereka tidak menghargai panggilan Allah untuk menunaikan shalat.

Setelah saya selesai shalat ashar, kami berniat pulang. Lagi-lagi kami disodori karcis , untuk membayar parkir. Rp. 2000 lagi. Dan dipintu gerbang keluar untuk yang terakhir kalinya kami harus membayar lagi Rp.2000, yang kali ini entah untuk alasan apa.

Artikel Wisata Lain:
Pelabuhan Sunda Kelapa

You May Also Like

1 komentar


  1. adventures
    a lot of interesting stuff for you
    you must see this

    river4you


    pay attention on the advert in the right box


    this is my blog and I have ads by google on it.
    PLEAS just click on it because I need money. Thank you and god bless you.. :)


    :) hi!!!

    ReplyDelete