Sabar dan Tawakal vs Pasif ???

by - Sunday, June 01, 2008

Minggu, 1 Juni 2008 Jam 10.00 WIB

Telepon dirumah berdering, ternyata dari Mbak Dar - salah seorang mubalighah yang pernah magang dirumah ortu dan akhirnya dikawinkan dengan salah satu sepupu Bapakku-, dia sering "just say hello" dengan ibuku, saling bertukar kabar dan cerita2 ringan.

Mbak Dar adalah salah satu dari sedikit manusia yang memiliki kadar kesabaran dan sifat 'nerimo yang nyaris sempurna. Selama 25 tahun lebih pernikahannya, mereka tinggal dari satu kontrakan ke kontrakan lain tanpa sedikitpun mengeluh. Bahkan 5 tahun terakhir mereka tinggal di bedeng ukuran 2x3 M , tanpa penerangan listrik, tanpa sumber air bersih, juga tanpa kamarmandi+WC memadai.

Tapi mereka menjalaninya tanpa pernah mengeluh, selalu tersenyum dan bersyukur.

Tapi ada satu hal yang mengganjal hatiku menyangkut kesabaran dan sifat "nrimo mereka;

Suatu hari di Bulan Desember tahun 2007 yang lalu, setelah mendengar tentang kondisi keluarga Mbak Dar yang tinggal di bedeng tanpa pintu dan hampir kegusur (semua tetangganya sudah tergusur), saya datang ke sana untuk melihat keadaannya dan barangkali saja ada yang bisa saya bantu.

Pertama yang terlintas dibenak saya adalah saya harus membantu mereka untuk tinggal dirumah yang lebih layak. Setelah menjelaskan panjang lebar niat saya tersebut, sambil saya berkali-kali minta maaf jika saya sampai menyinggung perasaan dan harga diri mereka, saya ajak mereka mencari rumah kontrakkan.

Namun niat baik saya tersebut ditolak dengan alasan "pakewuh" dan ngga mau memberatkan saya. Lah, koq memberatkan, yang 'nawarin bantuan'kan saya.

Kemudian, saya pikir mungkin mereka merasa tidak bebas, risih atau canggung jika pergi mencari kontrakkan bersama saya. Akhirnya saya serahkan bantuan saya sebesar Rp. 5 juta yang pemanfaatannya saya serahkan saja kepada mereka. Namun saya katakan saya akan lebih senang jika uang tersebut mereka jadikan modal usaha.

Karena jika mereka memiliki mata pencarian dengan berjualan, maka mereka akan menghasilkan sumber uang yang akan mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, dari cerita yang saya peroleh dari Ibu setelah bertukar kabar dengan Mbak Dar pagi ini, sangat mengecewakan saya. Ternyata mereka tidak menggunakan kesempatan yang ada ,untuk memperbaiki nasib mereka.
Uang yang saya berikan habis untuk biaya makan...meskipun mereka habiskan dalam waktu yang cukup lama, 5 bulan lebih, dibandingkan jika uang dalam jumlah yang sama ada ditangan saya :)).

Uang tersebut tidak mereka gunakan untuk membayar kontrakkan rumah, atau untuk modal berjualan. Hanya dipakai sedikit demi untuk beli lauk pauk.

Ah, andaikan mereka mau "bertaruh" sedikit, membelanjakan uang tersebut dalam jumlah yang lebih banyak , untuk dibelikan bahan dagangan, tentu mereka akan mendapat untung yang bisa dipakai membeli lauk - pauk untuk makan.
Seandainya jika hari ini tidak ada untung, mungkin esok, atau esoknya lagi...saya yakin Allah akan memberikan rezeki jika kita mau berusaha.

Bukankah Allah membukakan 99 pintu rezeki bagi pedagang?

Yah...sudahlah, yang penting saya kembali meluruskan hati, tidak boleh menyesali apa yang sudah saya sedekahkan.
Semoga Allah mengampuni dosaku dan memberiku rezeki yang bermanfaat sebagai gantinya.
Amiiin....


You May Also Like

0 komentar