Friday, March 5, 2010

Mengemis, karena Kemiskinan atau "Hobi" ?



Karena Jasmine demam, maka 2 malam aku nyaris tidak tidur. Rencananya setelah ritual melepas Vania - Rifda berangkat sekolah, aku mau membayar utang tidur. Kepala sudah keliyengan, serasa diatas ombak...(lagi naik kapal dongg...:D ). Baru saja merebahkan badan, tiba-tiba...
"Assalamu'alaikum, Ibu nya ada ngga? "
Aduh, tamu siapa lagi nih....
Terdengar suara Ema menjawab, "Ibu sedang istirahat , abis semalam begadang, anaknya sakit"
"Tolong dong, penting sekali, bilangin ya ibunya Novitasari datang" si Tamu terdengar memaksa.

Kamar tidurku yang terletak didepan, sangat jelas mendengar percakapan Ema vs "Ibu-nya Novitasari". Mau ngga mau saya harus bangun menghadapi Sang Tamu.

"Ibunya Novita Sari" (dia sendiri ngga pernah mau jawab kalau ditanya namanya) kemudian mengeluh panjang lebar, yang intinya meminta bantuan untuk biaya sekolah anaknya sebesar Rp. 150.000,-

Setelah dia pulang, saya telepon ke sekolah Novita sari (si Ibu pernah menjelaskan bahwa anaknya sekolah di X,maka saya cari no telp sekolahnya via 108). untuk mencari informasi mengenai anak tsb.
Pegawai administrasi SMK X menyatakan bahwa memang ada seorang anak bernama Novitasari. Anak yatim dari keluarga tidak mampu. Namun semua biaya sekolah dan kegiatan sekolah sudah ada donatur yang tiap bulan menyantuninya.
Terus, apakah sekarang anak tsb sedang PKL yang mengharuskan membeli seragam dan sepatu hingga Rp. 150.000 ?
Jawaban dari pegawai SMK X tsb ternyata, untuk PKL siswanya hanya cukup memakai baju seragam biasa. (Saya jadi ingat, dulu saya juga PKL hanya memakai baju seragam sekolah juga).
Lalu, uang Rp. 150.000 buat apa dong?
"Mungkin buat biaya makan sehari-hari 'kali Bu" Jawab Pegawai SMK X.

Saya kecewa berat. Saya merasa dibohongi.

Dan ini bukan kali pertama dia datang kepada saya, sudah berkali-kali. Dan karena dia selalu mengatas namakan kebutuhan anaknya yang sekolah, saya usahakan untuk memberi sumbangan ,meskipun karena keterbatasan dana tunai saya saat itu saya kadang tidak memberi sesuai "proposal" si Ibu yang selalu ratusan ribu rupiah.

Disisi lain, ada seorang Ibu (sebut saja Ibu B) yang setiap hari berkeliling berjalan berkilo-kilo meter ,bersama anak gadisnya, menjajakan telur ayam dan rempeyek.
Suatu hari, karena tidak ada uang dengan nominal yang lebih kecil, saya membayar lebih Rp. 5000,-. Keesokannya si Ibu B datang kembali ke rumah mengembalikan kelebihan uang tsb. Saat itulah dia bercerita, bahwa dia juga seorang janda dengan 4 orang anak yang masih sekolah. Salah satunya adalah anak gadisnya yang selalu ikut berjualan dengannya.

Bunda saya juga, ketika Bapak saya meninggal, kami 7 bersaudara semua masih bersekolah. Namun, tidak pernah terbersit sedikitpun dibenak Bunda untuk mengemis. (Kalaupun terpaksa berhutang ke sanak saudara, tetap diusahakan membayar sampai rupiah terakhir.)
Bunda dengan segala daya upayanya bekerja keras, segala macam profesi dicobanya, dari pedagang kelontong sampai makelar TKI, demi mendapatkan uang untuk menghidupi anak-anaknya.

Jadi, apakah kemiskinan bisa dijadikan alasan untuk mengemis?

0 komentar:

Post a Comment

 
;