Jangan (dulu) Gantungkan Cita-citamu Setinggi Langit

by - Monday, May 03, 2010

Yes! Alhamdulillah. Masih diberi umur pagi ini.
Bagaimana kabar rekan-rekan hari ini?

Rekan-rekan, apakah anda masih ingat cita-cita anda sewaktu kecil dulu?
Seingat saya, saya punya banyak sekali cita-cita dimasa kecil. Dan selalu berubah-ubah.
Pernah, saya bercita-cita menjadi seorang Insinyur pertanian, ketika di kelas Pak Guru menerangkan bahwa bapak presiden saat itu mencanangkan gerakan swasembada beras sebagai bagian REPELITA-nya. Dalam pikiran saya saat itu, saya akan bangga jika bisa berperan serta dalam program REPELITA tersebut. Wuih, berat ya.
Saya juga pernah bercita-cita menjadi guru, saat saya terkagum-kagum dengan guru saya yang berpengetahuan luas.
Lalu,cita-cita saya yang lain adalah menjadi Astronout , pilot persawat tempur, bahkan saya pernah bercita-cita menjadi seorang princess dikarenakan saya menonton di televisi betapa menakjubkan pesta pernikahan Princess Diana yang begitu agung dan mewah. Wah…wah…wah.

Namun sayang, semua cita-cita saya tersebut tidak ada yang terealisasi. Tidak menjadi kenyataan,.
Bagaimana dengan anda? Apakah cita-cita masa kecil anda menjadi kenyataan?
Atau “nasibnya “ sama saja dengan cita-cita saya saya.?.
Mungkin dikarenakan ketika itu kita menggantungkan cita-cita kita setinggi langit.

Ketika suatu saat saya menyadari, saya tidak akan pernah mencapai cita-cita saya yang saya gantungkan setinggi langit . Maka saya mengubahnya.

Saya meraih berbagai hal yang telah saya capai sekarang, yang pada awalnya sebagai cita-cita saya , karena saya tidak menggantungkannya di langit.
Saya berhasil menjadi chemist, karena ketika saya masuk jurusan kimia, saya gantungkan cita-cita saya di kelas-kelas teori dan ruang-ruang praktikum. Lalu saya menetapkan diri bahwa saya menolak menjadi mahasiswa kesayangan, hingga akhirnya saya bisa menggapai cita-cita ini.
Menjadi istri juga bagian cita-cita saya. Saya menggantungkannya kepada seorang lelaki, saat saya ditakdirkan bertemu lelaki “ini” - diantara jutaan lelaki didunia-, dan “dia” berani menjatuhi saya cinta.
Kemudian saya bercita-cita menjadi seorang ibu,. Tapi kali ini saya tidak akan membahasnya. Karena pasti akan kena “gunting sensor “ moderator.

Dalam tiap tahapan hidup saya kemudian, seiring perjalanan waktu, saya terus bercita-cita.
Namun, sekali lagi, saya tidak menggantungkannya di langit.

Saya mengibaratkan jika saya bercita-cita mendaki gunung. Saya tidak akan berani langsung bercita-cita mendaki Mount Everest.
Yang pertama saya akan lakukan adalah ke (toko) Gunung Agung, untuk mencari literatur tentang gunung. Saya juga akan melatih ketahanan fisik lebih dulu.

Setelah memiliki pengetahuan dan daya dukung, Cita-cita pendakian pertama adalah mendaki Gunung Salak Untuk mencapai capai cita-cita ini, mungkin saya memerlukan 2-3 kali menelusuri punggung gunung sebelum akhirnya bisa tiba dipuncaknya. Dengan demikian, tercapailah cita-cita saya pada tahapan ini.
Lalu, dengan semakin meningkat pengetahuan saya tentang pendakian dan fisik saya mendukung terhadap situasi gunung, maka cita-cita pendakian berikutnya meningkat ke Gunung Gede, lalu ke Gunung Merapi kemudian ke Puncak Carstenz Pyramid, dan seterusnya.

Dengan kata lain, kita bisa bercita-cita apa saja, namun letakkanlah cita-cita itu pada tempat yang memungkinkan untuk kita raih , sekalipun dibutuhkan kerja sangat keras untuk meraihnya.

Jadi, jangan (dulu) gantungkan cita-citamu setinggi langit.
Karena, jika tidak kokoh, bisa saja cita-cita itu akan diterbangkan angin atau terhapus oleh hujan
Jangan (dulu) gantungkan cita-citamu dilangit.
Karena ,jika tidak mengenalnya, langit itu begitu luas dan tak terpetakan. Sehingga bisa jadi anda lupa bagian langit mana tempat anda menggantungkan cita-cita anda.


Salam,

Rinny Ermiyanti Yasin

You May Also Like

0 komentar