Kata-kata Setajam Silet

by - Saturday, November 27, 2010

Membaca artikel yang di posting Pak Ipan "Ayah, Maafkan Aku" membuat saya "tersinggung". Meskipun jarang terjadi, jujur saja, akibat emosi kadang membuat saya tega melayangkan cubitan ke paha si Kecil. Meskipun selalu menyesal jika kemudian mendengar tangisan kesakitannya.

Namun, kesakitan akibat cubitan mungkin tidak membekas lama. Tapi terluka akibat kata-kata yang tajam lebih meembekas hati.

Sampai sekarang saya masih ingat dengan jelas, bagaimana malu dan sedihnya hati saya ketika suatu sore saya menghidangkan kopi untuk Ayah ,namun kopi tersebut segera dibuang Ibu karena kopi yang saya hidangkan adalah kopi hangat.

Saya - yang saat itu kelas 3 SD- merasa sangat senang karena Ayah yang seorang pelaut hari itu pulang. Melihat beliau sudah bangun dari istirahat sore harinya, saya buru-buru membuat kopi. Setelah menyeduh kopi dengan air panas, dengan harapan agar kopi tersebut bisa segera diminum Ayah, saya menambahkan air dingin sehingga yang saya hidangkan adalah kopi hangat.
Melihat kopi yang saya hidangkan tidak mengepulkan asap, Ibu bertanya;
"Ngga ada air panas?"
"Ada Bu, tapi udah dicampur air dingin, biar bisa cepet diminum"
Saat itu saya mengharapkan mendapat pujian - minimal senyuman- atas "kecerdasan" saya menghidangkan kopi hangat
Namun, gelas kopi segera dibawa Ibu ke wastafel dan Beliau membuang isinya sambil ngomel
"Bodoh! Bikin kopi tuh pake air panas aja"

Hati saya langsung berdarah.

Jangan salah, Ibu saya bukan yang orang cerewet seperti saya. Beliau santun, ramah dan menjaga perkataannya. Namun, justru karena sangat jarang melontarkan kata-kata yang menyakitkan, sekali Beliau "terselip lidah", saya masih mengingatnya berpuluh-puluh tahun kemudian.

Dan celakanya, kesalahan yang sama saya lakukan juga terhadap anak kedua saya beberapa minggu yang lalu. Karena dia melakukan sebuah kesalahan kecil, saya memarahinya dengan melontarkan sebuah perkataan yang menyakitkan hatinya.
Saat saya menangkap ekspresi terlukanya, duh , penyesalan saya melebihi penyesalan jika saya mencubit pahanya.
Untuk menghapus penyesalan itu, saya berulang-ulang minta maaf kepadanya.
Sambil berharap semoga saja sepotong kalimat amarah saya tersebut tidak akan melukai hatinya bertahun-tahun kemudian.


Wassalam,

Rinny

You May Also Like

0 komentar