Monday, June 20, 2011 0 komentar

Diamlah!!!



Begitu banyak pintu-pintu terbuka
yang memendarkan cahaya berkilauan
memikat angan untuk memasuki ruang-ruangnya
Namun logika mengikat erat kaki-kakinya
"Diamlah!" perintahnya.
"Tidak. Aku ingin berlari menggapai cahaya itu." pekik sang angan.
"Diamlah! adakah telah kau kunjungilah nurani? apakah kau temui bahagia disana?"
Tentu saja.
"Lalu, untuk apa cahaya itu?"
"Jika kau telah memegang kunci pintu-pintu itu, kau bisa membukanya kapanku kau mau. Namun saat ini takdirmu disini. Jadi diamlah!"

(Ditulis sambil menyusui Safira Aziza Noor Yasin)
Thursday, June 9, 2011 0 komentar

TERNYATA, MEMULAI USAHA ITU MUDAH !!


Hehehe, judulnya sok tau banget yah. Tapi benar koq, memulai usaha itu mudah. Tidak percaya? Yah harus percaya! Lha wong saya sudah memulainya. Hasilnya sekarang saya dan suami memiliki 3 perusahaan perdagangan dan 1 agen perjalanan haji dan umroh.
Apakah saya dan suami mendapat perusahaan dari warisan? Atau ada keturunan keluarga pedagang?
Jawabnya : No, no,no!!
Saya dan suami memulai usaha karena “kecelakaan”.
Tahun 2004, kira-kira sebulan sebelum bulan Ramadhan, suami saya diajak bergabung oleh salah seorang temannya untuk membuat sebuah perusahaan baru. Saya yang saat itu sedang berprofesi sebagai Full Time Mother-karena anak kembar kami (saat itu berumur 2 tahun) sedang lasak-lasaknya- dilibatkan sejak dari persiapan , seperti mencari nama perusahaan, mendesain logo, membuat brosur, company profile, dll, dsb. “Jam kerja” saat itu bisa dari pagi sampai pagi lagi. Lalu , tepat 1 Desember 2004 mulailah perusahaan tersebut beroperasi. Berdasarkan pengalaman kerja sebelumnya ,saya diminta menangani tim Marketing. Sedangkan suami di Production dan rekannya di Manajemen Operasional.
Namun sayang, belum lagi genap 4 bulan berjalan terjadi perpecahan di tubuh Top Management akhirnya perusahaan tersebut bubar jalan. Padahal omset yang diperoleh dalam waktu 3 bulan sudah mencapai 300 juta rupiah.
Dan jadilah kami berdua pengangguran berat . Tanpa pesangon, tidak punya tabungan , namun tiap bulan harus bayar berbagai tagihan. Pussiiiinggg. Dunia serasa gelap.
Untuk melamar kerja kembali tentu harus melalui proses yang panjang. Harus lebih dahulu menulis lamaran , mengirimkannya, menunggu dipanggil interview, dan seterusnya dan seterusnya. Sementara perut lapar minta segera diisi nasi dan lauknya.
Akhirnya, setelah memohon petunjuk pada YANG MAHA KUASA, kami memutuskan untuk mencoba membuat perusahaan sendiri. Kali ini karena nyaris tanpa modal uang , persiapan kami dalam membuat perusahaan baru ini tidak seheboh sebelumnya.
Kantor di ruang tamu, ruang produksi masih di teras rumah, alat-alat laboratorium sederhana tersusun dimeja makan. Modal lainnya, 2 buah ponsel CDMA ,mesin fax masih menumpang di wartel dan sementara perusahaan tersebut tanpa bendera. Yang penting cari order dulu. Kemana-mana naik angkot, dan jika masih memungkinkan dijangkau dengan jalan kaki, yah kami jogging. Hemat beib
Alhamdulillah, setelah telepon teman kanan –kiri akhirnya ada juga penjualan . Meskipun nilai nominalnya masih kecil. Tapi itu juga sudah Alhamdulillah banget bagi kami saat itu.
Perlahan-lahan tapi terencana –disesuaikan dengan jumlah keuntungan yang mulai masuk- kami mulai mengurus surat-surat legalitas perusahaan. Seiring dengan bertambahnya order dan keuntungan yang masuk, kami membuat web, brosur, company profile, membeli mesin fax, merekrut beberapa karyawan, membeli beberapa kendaraan operasional dan kini kami bisa menempati 3 buah ruko sebagai kantor.
Seiring dengan berkembangnya kebutuhan customer-customer kami, maka kami mengembangkan divisi-divisi bisnis kami. Kami juga membangun sebuah perusahaan export – import, sebuah Service Company, serta sebuah agen perjalanan Umrah dan Haji. Dalam waktu 6 tahun .
Ya, dalam waktu 6 tahun. 6 tahun lalu saya tidak membayangkan bisa mencapai tahap ini. Lah wong buat makan aja senin –kemis koq. Jadi judul tulisan ini tidak mengada-ada dong. Iya’kan? Iya’kan?...hehehe.
Tapiii….hehehe, ada tapi-nya nih. Tapi, proses tumbuh kembangnya perusahaan tentu tidak segampang menanam umbi singkong. Tinggal tancep, disiram sehari sekali, seminggu sekali bersihkan gulma, tunggu beberapa bulan langsung panen deh. Melainkan, kami yang kami lalui dalam membesarkan dan mengurus perusahaan bisa dianggap nyaris seperti membesarkan dan mengurus anak manusia.
Ketika perusahaan masih berumur bulanan, seperti bayi baru lahir, tidak bisa menghasilkan apa-apa. Untuk bertahan hidup masih bergantung dari “inang”. Alias jual atau gadai barang yang sudah kami miliki sebelumnya. Karena order masih sedikit otomatis keuntungan penjualan lebih kecil daripada kebutuhan minimal bulanan keluarga kami.
Lalu, perlahan-lahan mulai merangkak, kemudian berjalan. Pada fase ini juga seperti bayi yang sedang belajar berdiri, jatuh berkali-kali meskipun tidak sampai terluka. Akhirnya perusahaan mulai berlari. Nah, pada tahapan ini kami mengalami jatuh 3-4 kali hingga berdarah-darah.
Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, kata-kata penghiburan teman-teman, uluran tangan para sahabat, kami semangat untuk bangkit kembali, mengobati luka-luka disana-sini. Dan mulai berlari lagi.
6 tahun yang sangat luar biasa. Setiap menghadapi masalah besar kami menyebutnya dengan “sedang menaiki jet coaster”. Karena jika kami mengatakan “sedang bermasalah” kami merasa tersugesti dengan kata “masalah” tersebut, sehingga menyebabkan stress yang Audzubillah.
Namun, dengan mengatakan “Saat ini saya sedang naik jet coaster nih…” kepada sahabat yang menanyakan kondisi usaha kami ketika sedang bad moment, kami sadari saat itu kami dalam kondisi menghadapi kengerian-kengerian ‘permainan jet coaster ini, namun diujung jalur , akan ada perasaan lega dan bangga karena bisa mengalahkan ketakutan.
Makanya jangan heran ya, kalau di DUFAN banyak “orang gila” yang rela ngantri naik wahana Halilintar berkali-kali. Ssttt…saya salah satunya.
Saya merasa sangat bersyukur kepada Allah, karena perusahaan yang baru seumur jagung ini bisa beranak-pinak dan bermanfaat bagi beberapa orang karyawan dan kerabat . Hal ini juga tak lepas dari hasil silaturahmi yang berkesinambungan baik dengan teman-teman lama maupun teman-teman baru di berbagai komunitas entrepreneur.
Dengan bersilaturahmi ini saya tidak menjadi katak didalam tempurung. Bisa membuka wawasan terhadap hal-hal baru yang sebelumnya tidak saya ketahui, mengambil teladan dari orang-orang hebat , dan belajar dari kesalahan-kesalahan dalam mengelola perusahaan, baik yang dilakukan oleh kami sendiri maupun teman-teman di berbagai komunitas tersebut .
Di mailing list komunitas entrepreneur saya sering membaca berbagai cerita yang kadang-kadang membuat saya merefleksikan perjalanan bisnis kami, karena sering kali kasusnya sebelas-duabelas, alias mirip-mirip dengan kasus yang pernah kami alami. Dan dalam hati sering berkata-kata “Duh, si A ini mestinya mengambil keputusan begini…”. Hehehe…saya jadi sotoy karena saya’kan pernah mengalaminya.
Di dalam komunitas-komunitas entrepreneur tersebut, saya berusaha berperan aktif. Baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus. Tujuan semata-mata membagi pengetahuan dan pengalaman saya dalam jatuh-bangun mengelola perusahaan, sehingga teman-teman bisa belajar dari kesalahan-kesalahan saya dan terhindar melakukan hal yang sama.
Kami masih belum apa-apa. Masih jauh perjalanan kami. Untuk itu kami juga membutuhkan sahabat-sahabat dalam melaluinya. Untuk teman curhat, berbagi ilmu ataupun sekedar teman ngobrol. Kami juga sangat tidak keberatan menemani perjalanan teman-teman yang memiliki visi sama dengan kami. Berjuang mencapai taraf hidup layak dan berguna bagi masyarakat disekitar.
Termasuk juga menularkan virus kepada teman-teman yang masih ragu-ragu dalam memulai bisnis. Apa sih yang ditakutkan?, Wong memulai usaha itu mudah koq.
Salam,
Rinny Ermiyanti
 
;