Thursday, January 26, 2012 0 komentar

Semua Ibu bisa menjadi Mom-preneur



Selamat Siang,
Bahasan Ibu bekerja dari rumah adalah salah satu bahasan yang selalu menarik. Dengan semakin tingginya biaya hidup, para Ibu tentu merasa terpanggil untuk membantu dan menambah penghasilan keluarga .
Ibu yang bekerja mengurus rumah dan mempunyai penghasilan sering di sebut sebagai SUPER-MOM. Wow, keren sekali ya istilanya. Padahal nyatanya -dari pengalaman dan pengamatan saya- tidak ada SUPER-MOM itu kecuali di Cerpen, novel atau kisah khayalan lainnya.
Menjadi sosok SUPER-MOM sangatlah berat, meskipun perempuan adalah makhluk multi tasking , namun konsentrasi akan terpecah. SUPER-MOM yang sering muncul di televisi atau tabloid, biasanya urusan rumah tangganya terabaikan. sedangkan SUPER-MOM untuk urusan keluarga malah biasanya tidak menjadi berita , karena tidak terlihat.
Sekali lagi saya tuliskan, menjadi SUPER-MOM itu sangat berat, buktinya lelaki yang dinobatkan sebagai SUPERMAN cuma ada di komik dan film saja.
Saya ingin mengistilahkan seorang Ibu yang aktif adalah seorang Mom-preneur. Aktif yang saya maksudkan disini adalah seorang Ibu yang mau dan sanggup menjalankan peran ganda sebagai Ibu rumah tangga dan sebagai pemilik usaha.
Menjadi Mom-preneur tidaklah sulit, meskipun juga tidak mudah. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Mom-preneur :.
1. Mom-preneur harus jago manajemen.
Seorang mom-preneur dituntut menguasai manajemen waktu, manajemen pendelegasian dan manajemen hati , karena double peran jika tidak dikelola dengan baik bisa membuat seorang Ibu mengalami stress.

Dalam waktu 24 Jam, Mom-preneur harus bisa membagi waktu untuk mengurus rumah, beribadah , bersosialisai dan waktu untuk diri sendiri. Informasikan pembagian waktu ini kepada suami dan anak-anak. Sehingga mereka akan paham dan tidak protes jika pada waktu-waktu tertentu Ibu tampak mengabaikan mereka.
Konsen utama seorang Ibu adalah urusan lokal rumah tangga, Sayangnya,pekerjaan dalam rumah tangga seolah tidak ada habis-habisnya. Belum lagi jika mempunyai balita yang harus diperhatikan aktifitasnya setiap detik. Sangat sulit jika semua itu dikerjakan seorang diri.
Ibu yang memutuskan untuk ikut bekerja maka ia harus bisa mendelegasikan sebagian pekerjaan rumah kepada anggota keluarga lainnya.
Banyaknya tugas yang harus dilakukan sementara waktu “cuma” 24 Jam. Seorang Mom-preneur akan menghadapi kondisi dikejar deadline, customer cerewet, anak rewel, suami manja (?) semua tekanan tersebut membuat syaraf tegang , akibatnya Ibu bisa menjadi lebih galak. Jika tidak segera menata hati lama -lama suami dan anak-anak menjauh karena takut jika sang Ibu tersenggol sedikit maka akan meledak…
Untuk itu seorang Mom-preneur harus mempunyai kesabaran yang tak berujung

2. Mom-preneur harus gaul

Customer lebih suka membeli dari seseorang yang lebih dikenal dibanding dari orang yang tidak dikenal, Maka perbanyaklah bersosialisasi. Akan sulit tetangga atau teman menerima seseorang yang tidak terlalu dikenal ujug-ujug datang lalu menawarkan dagangan.
Ikutan komunitas juga termasuk sosialisasi. Namun jangan “diam” saja, alias baca-baca email yang masuk saja. Harus ikut aktif berkontribusi.

Banyak isu-isu aktifitas kompetitor yang bisa diperoleh pada saat kita hang-out dengan sekelompok teman. Bahkan seringkali bisa menemui jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapai pada saat copy darat dengan suatu komunitas.
paling tidak , dengan bergaul akan menambah daftar teman dan daftar referensi
3. Mom-preneur harus rajin belajar.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Anak-anak percaya bahwa jawaban dari Bunda adalah jawaban yang paling benar atas setiap pertanyaannya.
Menjual produk lama ataupun baru jelas harus mempelajari segala aspek pasar, kelamahan dan keunggulan produk, aktifitas kompetitor dan lain sebagainya.
Tak ada cara lain, seorang Mom-preneur harus rajin belajar karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, pengetahuan kita tentang sesuatu pada 5 tahun lalu bisa saja dianggap jadul sekarang.
4. Mom-preneur harus tahan banting
Dari mulai bangun tidur sampai mau tidur bagi seorang Mom-preneur tak ada waktu yang akan terbuang sia-sia. Sekalipun sedang tiduran sambil menyusui bayi, tetaplah merupakan waktu yang berkualitas. Karena meskipun terlihat sedang berbaring, isi kepala sering berputar menyusun menu makanan, atau merencanakan strategi penjualan, dll.
Seorang Mom-preneur harus bisa tetap tersenyum pada saat menyambut anak pulang sekolah padahal baru saja menerima komplain customer. Atau harus siap menemani suami makan padahal sedang dikejar-kejar deadline produksi.

Melelahkan dan terasa berat? TIDAK! Karena seorang Mom-preneur adalah seorang yang penuh cinta kepada keluarganya.
*bagi yang mempunyai daftar syarat lain silakan menambahkan, kita saling berbagi.*
Regards,
Rinny Ermiyanti
Ibu yang sedang belajar jadi Mom-preneur
0 komentar

If Tomorrow Never Comes

Siang ini dalam perjalanan menuju tempat menuntut ilmu, di dalam shuttle bus yang saya tumpangi, terdengar lagu dari speaker Pak Sopir , yang penggalan liriknya diantaranya seperti ini;

’cause I’ve lost love once in my life,
who never knew how much I loved them
Now I live with the regret that my true feelings for them,
never were revealed.
If Tomorrow Never Comes,

Penggalan syair itu seolah menampar saya. Betapa alasan “sibuk” sering membuat saya mengabaikan orang-orang terdekat, Keterbatasan waktu menjadi sebab saya menjadi tidak sabaran dan emosi menjadi tidak terkendali.

Saya bekerja keras dengan tujuan agar bisa menghasilkan uang , sehingga anak-anak bisa bersekolah dan terpenuhi kebutuhan lainnya. Namun, saya sering melupakan betapa dalam masa pertumbuhan kebutuhan utama mereka adalah kasih sayang dan teladan yang baik
Seringkali dengan alasan terburu-buru, seolah memberikan saya pengesahan untuk menghardik dan membentak mereka saat mereka menghampiri meminta sedikit perhatian dari Bundanya.
If tomorrow never comes, akankan anak-anak saya mengingat kalimat terakhir yang saya ucapkan kepada mereka adalah hardikan. Andaikan saya mau bersabar sedikit….


Saat saya kecil, Bunda adalah orang terdekat saya, tak ingin sedetikpun saya berpisah darinya. Bahkan saat ia mandipun saya akan menjerit-jerit mencari dan memanggilnya. Bunda adalah orang pertama yang saya cari untuk mengadu ketika teman-teman menjahili saya. Bunda pula menjadi orang tersibuk ketika saya menikah dan ikut sibuk mengurus bayi sementara saya masih memulihkan diri setelah melahirkan anak pertama.
Namun, kesibukan mengurus pekerjaan dan anak-anak seolah melegalkan alasan atas kemalasan saya melakukan perjalanan ke kampong halaman untuk menjenguknya.
If tomorrow never comes, betapa menyesalnya saya, karena terakhir kali saya mencium tangannya adalah lebaran tahun lalu.

Ritual saya ketika keluar rumah adalah ;menyalakan mesin mobil, buka pintu pagar, mengeluarkan mobil dari carport, tutup pintu pagar lalu melaju.. Begitupun sebaliknya ketika tiba di rumah. Jika disela-sela ritual tersebut berpapasan dengan tetangga, saya hanya melempar senyum dan mengangguk. Tanpa sepotongpun sapaan terucap kepadanya.
If tomorrow never comes, apakah saya dikenal sebagai tetangga yang baik ? atau jangan-jangan karena keiritan saya bertegur sapa maka saya dianggap seorang yang angkuh? Lalu jika mereka sebal dengan saya, siapakah yang akan sudi bertakziah dan menggotong keranda saya?

Hari demi hari, saya sibuk mengejar kejayaan dan kebanggaan diri. Sementara usia bertambah dan waktu keberadaan saya didunia ini semakin berkurang. Lagi-lagi karena alasan sibuk , saya merasa cukup dengan menjalankan ibadah hanya yang wajib-wajib saja. Kesibukan mengejar yang saya inginkan menyebabkan saya sering lupa bersyukur atas apa yang saya punya.
If tomorrow never comes, cukupkah bekal akhirat saya?
 
;