Saturday, March 3, 2012 0 komentar

Entar Ya Mbak....



Menjalani masa remaja sebagai anak yatim dengan 7 orang saudara dan Ibu yang bekerja serabutan, membuat saya sangat memahami bagaimana rasanya hidup kekurangan. Dulu kami sering terpaksa harus berhutang untuk membeli kecap dan kerupuk sebagai teman nasi , sambil menunggu Ibu pulang membawa uang hasil meloakkan celana jins atau menjual barang . Dilarang mengikuti pelajaran setelah Tanggal 10 , yang merupakan batas akhir pembayaran SPP, nyaris tiap bulan kami lalui. Pengalaman pahit tersebut mengajari saya untuk berempati terhadap teman, tetangga atau keluarga yang sedang kesulitan.
Karena penderitaan yang pernah saya alami, mengakibatkan saya nyaris tidak pernah menolak permintaan hutangan, baik yang disampaikan secara langsung, melalui SMS, Email maupun pesan via Inbox FB. Dengan alasan apapun, ngga punya uang buat beli susu anak, atau bayar SPP atau biaya berobat. ( Asal bukan buat beli gadget aja ..:D ) Meskipun kadang saya tidak bisa meminjamkan sesuai nominal yang diminta.
Namun anehnya, sebagian dari penghutang tersebut sepertinya enggan membayar hutang mereka. Selalu saja memberikan alasan setiap kali ditagih. Padahal saya menagih hutang jika hanya saya benar-benar sedang tidak punya uang. Bahkan untuk beli sekilo telor saya harus mengumpulkan koin -koin kembalian.
Seperti hari ini, karena saya harus segera membayar tagihan ke supplier ditambah anak sakit (saya berencana membawanya berobat sore tadi) padahal uang didompet maupun direkening nyaris tiris. Maka sejak pagi saya sudah mengirimkan pesan via SMS dan BBM kedua orang penghutang (mereka sudah berhutang lebih dari 3 bulan , padahal janjinya “Gajian bulan ini (3 bulan lalu) dibayar “ (malah yang yang seorang janjinya “pinjem cuma 2 hari paling telat 1 minggu” ).
Penghutang A menjawab SMS saya, ” Yaa..koq mintanya sekarang, Entar deh Mbah, lagi ngga ada duit nih. Nanti kalau udah ada dikabarin deh “ Lah, si A’kan baru gajian (Hari ini baru tanggal 2 bukan???) Daann, tadi pukul 17.00 saya baca Statusnya di FB ” Man Jadda Wa Jadda..Nonton bareng My Hubby” lalu pukul 19.00 si A Check in status ” Dinner @Mangkok Putih”.
Penghutang B lain lagi, BBM ku ngga dijawab ,meskipun sudah dibaca. Karena anakku batuk- batuknya semakin terdengar menyesakkan buat telinga seorang Ibu, maka dengan sangat terpaksa aku menelpon si B.
Jawabnya “Kalau diundur bolehkan? soalnya uangku mau dipakai jalan ama anak-anak nih. Aku udah janji minggu ini mau ngajak mereka liburan”.
Ketika kudesak sampai meminta-minta tolong, jawabnya ” Ya deh, kalau sempat aku mampir ke ATM. Tapi kayaknya separuh dulu ya Mbak”
Sebelumnya juga ada seorang kerabat, ditagih hutang susah minta ampun, ditelepon , di SMS ngga pernah jawab. Suatu pagi pernah saya menelpon dan diangkatnya, malah saya disemprot habis-habisan ” Gak punya sopan santun, nagih waktu orang belum buka mata…bla..bla..bla..” Dia lupa, saat dia meminjam jam 10 malam saya harus memanggil ojek untuk ke ATM karena besok subuh dia harus ke Bandung untuk training sementara dia ngga punya ongkos jalan.
Duhai. Bukannya saya yang mau minta hutangan. Aku cuma menagih janji kalian. Kalau kalian fakir miskin , sungguh akan saya relakan. Malah menjadi kewajibanku mensedekahi kalian.
Mungkin curhat ini terkesan riya’ . Tapi inilah uneg-uneg saya.
6 komentar

Suamiku dan Pembalut



Alhamdulillah, setelah 29 tahun menjomblo akhirnya ALLAH mengirimkan pendamping untukku. Kawan SMA, jadi cukup kenal wataknya, yang bagai bumi dengan langit dibandingkan aku.
Dia pendiam, aku ceriwis. Dia pemikir, aku easy going . Yang bikin aku ‘meleleh’ karena dia jago main drum dan gitar. Anak band , gitu loh.

11 tahun menikah (semoga sampai ajal memisahkan kami) membuat kami tidak berhenti saling menyesuaikan diri. Misalnya, karena sering mengantar saya keberbagai kegiatan akhirnya Ia mau tidak mau sedikit berubah menjadi manusia yang bersuara. Padahal saat jaman pedekate dulu, Ibu saya pernah mengomentarinya,  
“Temanmu koq kayak kapal aja, berbunyi hanya kalau mau masuk dan keluar pelabuhan?”.
Maksudnya, pacar Saya itu terdengar suaranya hanya saat mengucapkan salam pada saat datang dan mau pulang. Selain itu diaaammm saja.
Begitupun saya, yang tadinya hobi keluyuran sekarang jadi lebih betah berdiam dirumah.

Sebagai anak band, suami saya tidak romantis. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari dia bilang “I Love You” Berharap dia merayu atau menulis puisi cinta? Jaauhhh!!!

Suatu saat saya berulang tahun, sebuah kado atau ucapan selamatpun tidak ada tanda-tanda akan diucapkannya hingga menjelang tidur. Akhirnya saya menyindir,
“ Pa, lupa sesuatu?”
Ngggg..kayaknya ngga ada.”
“Ya ampun, kan saya ulang tahun” Rasanya kesel banget.
“Oh,ya? Kalau begitu selamat ulang tahun. Semoga sehat selalu. Mendapat umur baroqah,” Hhhmm, basa basi amat ucapannya.
“Kadonya?”
“ Yah, uang Papa’kan semua di Mama. Ya udah pilih dan beli aja”
Rasanya ingin menangis deh.   
Bukan karena terharu. Tapi karena jengkel.
“Masa setahun sekali beli mawar sebatang aja ngga mau sih?” Gerutu Saya
Dia hanya menatap saya dua detik, lalu memejamkan mata.
Tidur.

Keesokan paginya, dia memanggil tukang tanaman keliling. Dibelinya 2 pokok mawar dan ditanamnya di taman mungil kami.
“Nanti kalau sudah mulai berbunga, Mama bisa punya mawar ngga cuma saat ulang tahun. Kata penjualnya mawar bisa berbunga setahun lebih dari 3 kali, Ma”
Ggrrrr…

Meskipun jarang sekali menyatakan cinta, suami menujukan perhatiannyanya dengan cara melakukan beberapa hal kecil. Membuatkan segelas coklat dan setangkup roti bakar sebagai hidangan sarapan, sementara saya sibuk menyusui si Bungsu.
Atau seperti sore kemarin ketika saya sibuk membongkar kotak isi obat
“Cari apa Ma?” Tanyanya
“Seingat Mama, kayaknya masih menyimpan sebungkus pembalut disini deh”
“Bukannya sudah dikasih Sri waktu dia kesini kemarin? Perlunya sekarang?”
“Belum sih, buat siap-siap aja.” Jawab Saya
Suami mengambil kunci motor dan pergi tanpa bicara apa-apa. Setengah jam kemudian dia pulang dengan membawa beberapa kresek berlogo sebuah minimarket.
“Ini pembalutnya. Yang paling panjang tuh, 35 senti. Ini juga Kirantinya” Suamiku menyerahkan sebuah kantong berisi sebungkus pembalut dan beberapa botol Kiranti. Saya jadi terharu. Ternyata dia tahu sedetail itu keperluan kewanitaanku.
“Tapi, koq belanjaannya banyak amat?”.
Kukeluarkan sabun mandi, shampoo, pembersih lantai, sabun cuci piring hingga susu dan diaper dari plastik-plastik pembungkus itu.
Yaelah, Ma, masa saya ke minimarket cuma beli pembalut dan Kiranti saja? Emangnya gue cowok apaan?” Katanya dengan gaya sok melambai.
Waduh, perhatian atau emang hobi belanja , Pak?
Hehehe


 
;