Saturday, March 3, 2012

Suamiku dan Pembalut



Alhamdulillah, setelah 29 tahun menjomblo akhirnya ALLAH mengirimkan pendamping untukku. Kawan SMA, jadi cukup kenal wataknya, yang bagai bumi dengan langit dibandingkan aku.
Dia pendiam, aku ceriwis. Dia pemikir, aku easy going . Yang bikin aku ‘meleleh’ karena dia jago main drum dan gitar. Anak band , gitu loh.

11 tahun menikah (semoga sampai ajal memisahkan kami) membuat kami tidak berhenti saling menyesuaikan diri. Misalnya, karena sering mengantar saya keberbagai kegiatan akhirnya Ia mau tidak mau sedikit berubah menjadi manusia yang bersuara. Padahal saat jaman pedekate dulu, Ibu saya pernah mengomentarinya,  
“Temanmu koq kayak kapal aja, berbunyi hanya kalau mau masuk dan keluar pelabuhan?”.
Maksudnya, pacar Saya itu terdengar suaranya hanya saat mengucapkan salam pada saat datang dan mau pulang. Selain itu diaaammm saja.
Begitupun saya, yang tadinya hobi keluyuran sekarang jadi lebih betah berdiam dirumah.

Sebagai anak band, suami saya tidak romantis. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari dia bilang “I Love You” Berharap dia merayu atau menulis puisi cinta? Jaauhhh!!!

Suatu saat saya berulang tahun, sebuah kado atau ucapan selamatpun tidak ada tanda-tanda akan diucapkannya hingga menjelang tidur. Akhirnya saya menyindir,
“ Pa, lupa sesuatu?”
Ngggg..kayaknya ngga ada.”
“Ya ampun, kan saya ulang tahun” Rasanya kesel banget.
“Oh,ya? Kalau begitu selamat ulang tahun. Semoga sehat selalu. Mendapat umur baroqah,” Hhhmm, basa basi amat ucapannya.
“Kadonya?”
“ Yah, uang Papa’kan semua di Mama. Ya udah pilih dan beli aja”
Rasanya ingin menangis deh.   
Bukan karena terharu. Tapi karena jengkel.
“Masa setahun sekali beli mawar sebatang aja ngga mau sih?” Gerutu Saya
Dia hanya menatap saya dua detik, lalu memejamkan mata.
Tidur.

Keesokan paginya, dia memanggil tukang tanaman keliling. Dibelinya 2 pokok mawar dan ditanamnya di taman mungil kami.
“Nanti kalau sudah mulai berbunga, Mama bisa punya mawar ngga cuma saat ulang tahun. Kata penjualnya mawar bisa berbunga setahun lebih dari 3 kali, Ma”
Ggrrrr…

Meskipun jarang sekali menyatakan cinta, suami menujukan perhatiannyanya dengan cara melakukan beberapa hal kecil. Membuatkan segelas coklat dan setangkup roti bakar sebagai hidangan sarapan, sementara saya sibuk menyusui si Bungsu.
Atau seperti sore kemarin ketika saya sibuk membongkar kotak isi obat
“Cari apa Ma?” Tanyanya
“Seingat Mama, kayaknya masih menyimpan sebungkus pembalut disini deh”
“Bukannya sudah dikasih Sri waktu dia kesini kemarin? Perlunya sekarang?”
“Belum sih, buat siap-siap aja.” Jawab Saya
Suami mengambil kunci motor dan pergi tanpa bicara apa-apa. Setengah jam kemudian dia pulang dengan membawa beberapa kresek berlogo sebuah minimarket.
“Ini pembalutnya. Yang paling panjang tuh, 35 senti. Ini juga Kirantinya” Suamiku menyerahkan sebuah kantong berisi sebungkus pembalut dan beberapa botol Kiranti. Saya jadi terharu. Ternyata dia tahu sedetail itu keperluan kewanitaanku.
“Tapi, koq belanjaannya banyak amat?”.
Kukeluarkan sabun mandi, shampoo, pembersih lantai, sabun cuci piring hingga susu dan diaper dari plastik-plastik pembungkus itu.
Yaelah, Ma, masa saya ke minimarket cuma beli pembalut dan Kiranti saja? Emangnya gue cowok apaan?” Katanya dengan gaya sok melambai.
Waduh, perhatian atau emang hobi belanja , Pak?
Hehehe


6 komentar:

winsang said...

Pembalutnya jangan yang dijual disuper market bu. Industri pembalut kita beda seperti di Amerika. Disini penggunaan dioxine masih perkenankan, padahal berbahaya sekali makanya Indonesia no 1 kanker serviks dimana pembalut yg tidak berkualitas ada penyumbang 60 % masalah kewanitaan

Anonymous said...

subhanallah, aku tertawa-tawa baca artikel ini bu, hahaha.. taunya agus tuh masa mudanya kaya kapal ya dan dia seorang yang... oh, no, pendiam? hihihi.. beda yah sama masa keemasannya sekarang kekekeke.. salut!

Moocen Susan said...

Hihihi.... wah bejo banget tu dpt suami gt. No talk just do it. Keren. Tp mesti rata2 kok do gak romantis yo. Apa suami ideal yg tdk romantis?

Moocen Susan said...

Wah bejo bgt tu dpt suami kyk gt. Tp mesti og do gak romantis ya? Apa rata2 suami ideal justru yg tdk romantis?

Rinny Ermiyanti said...

Ngga ideal, ah, Mbak Agustina, tetap ada kekurangannya.
Tapi Alhamdulillah,

Cah Gisting said...

Mudah2an bisa menjadi inspirasi buat yg msih lajang kya aku :D luar biasa buk banyak tulisan ibuk yg membuat saya kagum dan ingin segera melakukan banyak hal trimakasih buat tulisan ibuk yg sangat memotivasi :)

Post a Comment

 
;