Wednesday, May 30, 2012 2 komentar

Susahnya Mendapatkan Hak di Negeri Ini




Ketika menyadari bayi bungsu kami nyaris berumur  30 hari saya buru-buru mengurus akte kelahirannya. Rencananya sekalian juga dengan akte kelahiran Kakaknya ( 2 tahun) yang belum sempat dibuat.  Dengan berbekal  surat keterangan lahir dari rumah sakit , saya meminta surat pengantar ke RT, RW dan Kelurahan.
Saat mengurus ke RT  dan RW sih mudah, karena tetangga. Sekali datang langsung ditandatangani dan di stempel. Beres, dan gratis.  Lalu saya ke kelurahan, menurut petugas kelurahan peraturan terbaru pengurusan akte kelahiran si anak harus sudah memiliki  NIK yang tercantum di Kartu Keluarga. Sehingga saat itu saya juga harus mengurus pergantian kartu keluarga di kecamatan. Maka petugas kelurahan membuat 2 lembar surat pengantar, untuk mengurus KK dan mengurus akte kelahiran. Untuk perubahan KK diperlukan waktu 1 minggu  menunggu terbitnya KK yang baru. “Biaya” 2 surat pengantar tersebut 50 ribu rupiah.
Setelah KK yang baru jadi, saya langsung menuju ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten. Ternyata dokumen harus dilengkapi surat pernyataan dari 2 orang saksi dan disertai fotokopi KTP nya. Jadi, hari itu saya harus pulang dulu untuk melengkapi dokumen tersebut.
2 hari kemudian saya kembali kesana untuk menyerahkan dokumen. Untuk anak bungsu kami setelah dokumen diterima dan diperiksa kelengkapannya ,langsung dibuatkan tanda terima pembuatan akte kelahiran. Menurut petugasnya akte akan jadi dalam waktu 2 bulan. Biayanya 20 ribu rupiah. Dan, memang benar 2 bulan kemudian akte tersebut sudah bisa saya ambil.
Namun, untuk anak ketiga saya yang sudah berumur 2 tahun terpaksa harus melalui sidang pengadilan dulu. Maka petugasnya membuatkan surat pengantar ke Pengadilan.
Karena kesibukan, saya baru bisa ke Pengadilan minggu berikutnya. Oleh petugas penerima berkasnya saya disuruh membuat surat permohonan sidang , bermaterai. Ketika saya menanyakan contoh draft surat tersebut, si Petugas menyarankan saya minta dibuatkan oleh Warnet di seberang Pengadilan . Alasannya karena mereka sudah biasa membantu membuatkan surat permohonan Permintaan Sidang. Upah ‘ngetik dan ‘ngeprint selembar surat tersebut 20 ribu rupiah.
Setelah di cek berkasnya maka saya diberi nomor perkara dan nomor rekening Departemen Kehakiman untuk membayar biaya Perkara dan Pemanggilan sekitar 325 ribu rupiah. 2 minggu kemudian kami (saya, suami dan saksi-saksi) dipanggil untuk menghadiri sidang pada hari yang ditentukan.
Minggu berikutnya Kami disidang untuk menjelaskan dibawah sumpah bahwa anak tersebut adalah benar anak kami  (:D ).  Sidang berlangsung sekitar 15 menit. Satelah sang Hakim mengetok palu ada satu kalimatnya yang bikin saya ‘nyengir .
” Bu, jangan lupa kasih paniteranya sedikit uang lelah ‘ngetik, ya.” Maka 100 ribupun kembali keluar dari dompet saya.

Sebulan kemudian, saya mendapat telepon dari Pengadilan yang menyatakan bahwa dokumennya sudah jadi dan siap diambil. Kembali lagi kena charge 20 ribu rupiah buat administrasi.
Saya kembali lagi mengunjungi kantor Catatan Sipil Kabupaten, eh lahdalah, ternyata sudah pindah ke pojok kota yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari rumah saya. Karena saya pikir sudah terbengkalai urusannya berbulan-bulan sementara sebentar lagi anak ketiga saya itu sudah akan mulai sekolah, maka hari itu juga saya melanjutkan perjalanan ke pojok kota tersebut.
Saya sampai sekitar pukul 2 siang, mengantri dan akhirnya berkas diperiksa dan diberikan tanda terima berkas. Bayar biaya administrasi lagi 25 ribu rupiah. Dijanjikan minggu depan selesai.

Kemarin, setelah seminggu saya datang lagi kesana, berharap akte kelahiran tersebut sudah jadi. Namuunnnn, kali ini saya terpaksa gigit jari. Karena meski telah dicari dalam tumpukan akte-akte yang sudah jadi, akte kelahiran atas nama anak saya tidak ditemukan. Di cek ke komputer datanya tidak ada, bahkan berkas-berkasnya pun tidak ditemukan .
NAH LOH!!!

Yang lebih menyebalkan adalah bukti tanda terima berkas nya pun (yang saya serahkan kembali pada saat saya bermaksud mengambil akte) ikut hilang, entah ‘nyelip dimana pada saat petugas tersebut mengaduk-aduk  map-map tempat penyimpanan akte.
Akhirnya, saya dibuatkan tanda terima baru dan dijanjikan akan di telepon ketika akte kelahiran sudah jadi.

hari ini, Tanggal 5 Juni 2012, akhirnya Jasmine Fairuzzahra, anak ketiga kami memiliki Surat Akte Kelahiran... 
Monday, May 28, 2012 0 komentar

Dasar Bahlul !!!

Melihat link Youtube berikut ini membuat saya geleng-geleng kepala. Selain menyaksikan tontonan kemewahan dan menghambur-hamburkan uang  dalam video tersebut, saya juga sering mendengar tentang kemewahan para Raja Minyak ini . Deretan koleksi mobil mewah, makanan yang berlimpah-limpah, dan lain sebagainya. Sebegitu kayanya sehingga mereka menjadi bahlul. Tidak melihat ke “bawah” karena selalu berada diatas menara gading.
Yah, itu sudah nasib mereka jadi orang kaya.
 
Tapi, jika membandingkan dengan melihat foto penderita gizi buruk seperti dibawah ini, hati siapa yang tidak merasa nyeri? Anak-anak ini tidak menyangka ketika mereka dilahirkan harus menghadapi kondisi lingkungan yang begitu buruk. Udara yang panasnya “Audzubillah,  ketersediaan pangan yang sangat minim, kondisi lingkungan yang buruk.

Namun, inilah dunia kita tercinta. Yang mau tidak mau harus kita tempati. Ada kutub utara  ,ada kutub selatan. Harus mengalami pagi yang bersinar dan malam yang temaram.  Ada orang yang sangat kaya sehingga menjadi Raja Bahlul sementara ada sebagai yang demikian miskin sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sangat kekurangan.


Semoga ALLAH Subhana wata’ala memberikan hidayah kepada kita semua untuk mau berbagi kepada sesama, dan semoga kita tidak menjadi BAHLUL

Salam berbagi

Rinny
Saturday, May 26, 2012 0 komentar

Galunggung, Bahkan Sisa Letusanmu Tetap Memukau

Entah mengapa dibanding berwisata ke pantai saya lebih menyukai jalan-jalan ke (pe)gunung(an). Mungkin karena saya tinggal di Karawaci, yang berudara cukup panas. Atau mungkin karena saya secara naluriah adalah wong ‘ndeso sehingga rasanya selalu takjub dengan pemandangan yang hijau royo-royo. Setelah kami (saya, suami dan keempat anak kami) berunding akhirnya diputuskan vakansi kali ini menyusuri jalur selatan pulau Jawa. Karena Bandung sudah sering kami datangi maka kota tersebut kami coret dari daftar lokasi tujuan perjalanan. Melalui tol Cipularang – Padaleunyi kami bablas langsung ke Garut, menuju Sabda Alam Cipanas. Sayang, kami tiba disana sudah malam sehingga tidak bisa berlama-lama menikmati berendam di pemandian air panasnya. Keesokan paginya, perjalanan dilanjutkan ke arah Tasikmalaya. Tujuan kami kali ini adalah ke Gunung Galunggung. Saya masih ingat dengan jelas, letusan Gunung Galunggung pada1982, yang berlangsung selama 9 bulan, menyebabkan atap rumah kami di daerah Tanjung Priok – Jakarta Utara tertutup abu tebal, langit mendung berhari-hari dan sekolah diliburkan. Kali ini kami bermaksud melihat langsung Gunung yang perkasa tersebut. Pukul 11 siang kami tiba dikaki Galunggung. Untuk mencapai kesana dengan berkendara mobil tidak sulit, dari Jalan Raya Barat Singaparna kami belok kiri, ada papan penunjuk jalan. Lalu menyusuri jalan kampung yang terus menanjak sepanjang kurang lebih 5 KM. Setelah memarkir kendaraan, kami harus menaiki 620 anak tangga untuk mencapai bibir kawah. Buat saya yang jarang berolah raga sekarang saatnya menguji ketahanan napas dan kekuatan dengkul. Terutama karena saya menaikinya sambil menggendong anak




Setelah perjuangan berat, dimana saya nyaris menyerah karena napas serasa mau putus, ditambah kepala tiba-tiba menjadi pening, karena pengaruh tekanan udara, akhirnya sampailah saya dibibir danau.


Subhanallah, Maha Suci Tuhan Yang Maha Perkasa.



Sayang, kami tidak bisa berlama-lama menikmati pemandangan ini karena tiba-tiba hujan deras , memaksa kami untuk segera turun.

Wednesday, May 16, 2012 3 komentar

SETTING PINDAH DOMAIN DARI BLOGSPOT KE CUSTOM DOMAIN

Beberapa hari lalu saya mencoba setting domain dari rinnyermiyanti.blogspot.com ke www.rinnyermiyanti.com. Setelah saya browsing saya menemukan caranya dibeberapa blog. Namun, saya merasa kurang puas karena untuk migrasi dibutuhkan waktu minimal 24 jam sampai 48 Jam..Keburu ngga semangat dooonggg...

akhirnya saya tanya ke seorang teman saya yang juga seorang blogger yang aktif , dan diberi petunjuk sebagai berikut:
1. Login ke blogspot, masukkan username dan password (yaiyalahhh...hehehe)
2. Masuk ke Menu "Setting"----Submenu "Basic"
3 Masuk ke Menu "Publishing" >; Custom Domain--->; "Switch To Advance Setting-->; dibagian "Your Domain" masukkan URL anda secara lengkapn ("www.rinnyermiyanti.com".
4.check pilihan "Redirect" www.rinnyermiyanti.com . Lalu masukkan kopde Captcha, Klik Save Setting

5. Lalu Login ke CPanel anda ( "www.rinnyermiyanti.com/cpanel")
6. File Manager  ,  klik Folder "Publik_html atau "www' buat file dengan nama httaccess setelah itu isikan didalamnya "redirect/rinnyermiyanti.blogspot.com"
7. Kembali ke "Home" pada CPanel masuk ke SIMPLE DNS ZONE EDITOR 
8. Isikan pada form "Add an CNAME Record" 
    Name : www
    CNAME : ghs.google.com,

lalu tambahkan lagi  "Add an CNAME Record"
    Name : (kode yg terletak dibawah "www")
    CNAME : (kode yang terletak dibawah " ghs.google.com"
   lalu masukkan juga  kode yang diberikan, sebagai contoh kode sebagai berikut
    Name :  diisi kode yg terletak dibawah "www"
    CNAME : diisi kode yang terletak dibawah " ghs.google.com"

9. Isikan pada form Add A Record
    Name : rinnyermiyanti.com
    Address : 216.239.32.21
                  216.239.34.21
                  216.239.36.21
                  216.239.38.21

10. SAVE

Taaaddaaaa...
Blog saya langsung menjadi www.rinnyermiyanti.com hanya dengan menunggu 1 jam. (Standar 24 jam)

*CMIIW, karena saya juga sedang belajar"

Rinny Ermiyanti


Friday, May 11, 2012 0 komentar

Jadilah Bintang



Kita Berani menantang dunia
tegar hadapi semua
asa dan keyakinan
bertahta dalam jiwa
kita percaya dan yakin
segalanya kian pasti
masa yang akan datang
bersinar secerah sinar mentari

Terbanglah tinggi menuju angkasa
meraih bintang
mencapai semesta
buatlah cita-cita menjadi nyata
raih segalanya
raihlah semua
taklukan dunia
jadilah bintang

Wednesday, May 9, 2012 0 komentar

Warung Kopi dan Rapat



Ketika selesai dari Ibadah Dhuhanya, kakek akan keluar rumah, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menikmati segelas kopi hitam di warung kopi langganannya, meskipun setiap subuh nenek sudah membuatkan kopi sebagai bagian dari sarapan. Namun kenikmatan menghirup kopi sambil bertukar cerita dengan sesama "lelaki" di warung kopi seolah tidak tergantikan.

Bagi kakek, warung kopi adalah menjadi tempat bersosialisasi dengan tetangga dan bertukar informasi tentang berbagai hal. Dari mulai mengkritik kebijakan pemerintah hingga membagi resep ramuan untuk mengobati sakit encoknya. 

Kebiasaan mengunjungi warung kopi - hanya disatu warung kopi tertentu dan pada jam tertentu, tidak hanya dilakukan oleh Kakek, namun nyaris semua lelaki dikampung melakukan hal yang sama.persis seperti  yang diceritakan pada novel "Laskar Pelangi"   warung kopi seolah menjadi bagian dari rutinitas harian dan  merupakan bagian dari urat nadi kehidupan penduduk kampung.

Kebiasaan Kakek kini menular kepada saya, namun dalam versi yang berbeda. Karena alasan menghindari kemacetan di jalanan Jakarta, terutama di jalan-jalan yang merupakan kawasan gedung perkantoran , seperti Jl. Thamrin - Jl. Sudirman biasanya saya memilih rapat dengan Customer maupun Supplier di sebuah Cofee-Shop (versi keren dari warung kopi, padahal kalau diterjemahkan ya sami mawon). Lokasi Coffee Shop yang dipilih biasanya terletak didalam Mall yang berada ditengah-tengah jarak tempuh perjalanan saya maupun teman rapat,  

Untuk efisiensi waktu, biasanya pada hari yang sama saya akan janjian dengan lebih dari satu supplier atau customer. Tentu dalam waktu yang berbeda. Sehingga bisa saja pada pukul 11 siang saya 'ngopi dengan perwakilan PT. A di Coffee-shop X, lalu pada pukul 13 tengah hari dengan rekan " B"  di Y, dan pada petang hari ketemu dengan Bapak " C" di Z.  Walhasil pada hari itu saya kembung karena minum bergelas-gelas kopi dan dampaknya malam hari akan sulit tidur.

Selain untuk rapat, saya nyaris tidak pernah memilih Coffee -shop sebagai tempat "hang-out". Saya lebih memilih duduk di taman atau area terbuka lainnya. Mungkin karena sudah tertanam  dalam benak saya coffee-shop adalah tempat saya bernegosiasi, dan berbicara sesuatu yang ada nilai uangnya. 
Jadi, jika suatu waktu saya mengajak anda ke coffee-shop bisa jadi saat itu saya akan menagih utang anda kepada saya. :D








Tuesday, May 8, 2012 0 komentar

Bapak-bapak, Mohon Dukung Kami








Wanita dikodratkan sebagai Ibu yang memiliki kasih sayang berlimpah ruah terhadap anak-anak yang dilahirkannya. Kesakitan dan penderitaan selama mengandung dan melahirkan langsung sirna begitu mendengar tangisan pertama sang bayi. Bahkan disaat dirinya masih membutuhkan pemulihan, dengan suka rela diberikannya saripati kehidupan bagi bayi tercinta melalui ASI.

Bagi Ibu-ibu pekerja, dilema terbesar akan muncul diakhir masa cuti melahirkan. Melanjutkan bekerja berarti meninggalkan sang buah hati dirumah. Jika memutuskan mengurus dan mengasuh sendiri bayi tercinta, maka Ibu harus merelakan melepas pekerjaan dan karir yang sudah dibina bertahun-tahun, belum lagi kehilangan kesempatan mengelola eksistensi diri.

Seperti yang terjadi pada saya setelah cuti melahirkan anak pertama (dan kedua, karena kembar), 3 bulan kemudian saya kembali bekerja. Setiap pagi berangkat kerja dengan hati yang sangat berat, tidak jarang saya menangis dibalik kemudi selama perjalanan ke kantor. Setiap tiba waktunya menyusui, karena payudara  sudah penuh, saya menangis ingat anak-anak dirumah. Bahkan melihat kucing bercanda dengan anaknya pun saya menangis, lagi-lagi karena ingat anak. Saya menjadi cengeng. 
Tidak tahan dengan perasaan selalu sedih karena selalu teringat anak dirumah, beberapa bulan kemudian saya memutuskan resign dari pekerjaan.

Total mengurus anak dan rumah tangga seringkali menyebabkan para Ibu menjadi terisolasi. Daya jelajahnya tergantung dengan luas rumah yang ditinggali. Teras, ruang dalam rumah, dapur, kamar, balik ke teras lagi, hingga kedapur lagi. Meskipun nyaman berada didalam rumah,  setelah beberapa bulan menjalani rutinitas domestik  tidak jarang kejenuhan dengan suasana yang 'itu lagi-itu lagi' melanda. Akibatnya, perasaan terisolasi ini bisa menyebabkan timbulnya stress, malah tidak sedikit yang menjadi depresi jika stressnya tidak dikelola dengan baik.

Untuk itu, kami para Ibu, membutuhkan bantuan dan peran serta Bapak-bapak dalam mengasuh anak-anak. Please, jangan beralasan capek kerja, sehingga setibanya dirumah  langsung mandi, leyeh-leyeh menonton TV, lalu tidur. Begitupun di akhir minggu, tidak sedikit para Bapak yang lebih memilih untuk menyalurkan hobinya atau hang-out bersama teman komunitas dibanding menggantikan istrinya mengasuh anak-anak. 

Tanpa bantuan dan kerjasama Bapak-bapak, mengurus rumah dan mengasuh anak akan terasa bagaikan pekerjaan tanpa memiliki hak cuti.
Bukan pula kami mengeluh dan tidak ikhlas menjadi Ibu, namun sebagai manusia kadang-kadang kami juga memerlukan me-time, justru untuk memulihkan segala kelelahan,terutama kelelahan rohani. Sehingga kami bisa selalu fresh ketika mendarma baktikan hidup kami bagi keluarga.



Monday, May 7, 2012 1 komentar

Saya Seorang Sales

Saya, lahir sebagai anak ke 2 dari 7 orang bersaudara. Pada saat saya kelas 3 SMP, bulan Februari 1989, ayah saya Bpk. H. Abdul Muin meninggal dunia. Dengan meninggalnya ayah menyebabkan Ibu saya yang tadinya tidak pernah bekerja terpaksa harus banting tulang menghidupkan ketujuh anaknya untuk bertahan hidup.
Melihat kondisi demikian, saya memutuskan setamat SMP akan melanjutkan ke sekolah kejuruan dengan harapan  bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Selulus SMP saya mendaftar ke  Sekolah Menengah Teknologi Kimia, karena nilai nilai pelajaran ilmu eksakta saya cukup bagus.
Alhamdulillah, begitu selesai ujian akhir di SMT. Kimia, bahkan sebelum ijazah saya terima dari Kepala Sekolah,  saya langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan jamu dan kosmetika terkenal  yaitu PT. Mustika Ratu. Namun, begitu menerima gaji pertama, saya merasa sedih, karena berdasarkan hasil perhitungan, gaji saya hanya akan habis untuk uang transport dan makan siang. Dengan gaji tersebut akan sulit bagi saya membantu Ibu membiayai adik-adik.
Saya hanya bertahan sekitar 1 tahun di perusahaan tersebut, kemudian saya melamar pekerjaan ke PT. Takeda Indonesia sebagai Medical Representative , dengan  pertimbangan selain gaji yang lebih baik , fasilitas lain yang akan didapat adalah kendaraan operasional, insentive, maupun reward lain jika target penjualan tercapai.
Dengan dorongan  ingin membantu Ibu, saya berusaha keras untuk selalu mencapai target penjualan. Sehingga nyaris setiap tahun saya selalu menjadi “The Best Achievement” dimana reward yang diberikan selain insentive yang bisa lebih besar berkali lipat dari gaji, juga mendapat trip perjalanan keluar negeri, Tidak jarang saya juga mendapat  beberapa barang elektronik sebagai hadiah jika sedang ada program  Product Challenge.
3 tahun bekerja di Takeda, lalu pada 1996 saya  mendapat tawaran untuk bergabung dengan  PT. Bayer Indonesia sebagai Senior Medical Representative dan pada tahun 1999 saya pindah kerja lagi ke Degussa-Huls sebagai Area Manager.
Menjadi sales yang tidak harus ‘ngantor dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore membuat saya memiliki kesempatan  bekerja sambil kuliah. Sehingga saya bisa kuliah Teknik Perminyakan dan dilanjut Manajemen Bisnis.
Tahun 2001 saya menikah dan pada Agustus 2002 melahirkan anak kembar.  Karena ingin mengasuh dan mengurus kedua anak  saya tersebut, maka pada 2003 saya  memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan saya saat itu. Namun, karena terbiasa memiliki sumber pemasukan sendiri, saya menjadi gelisah, kemampuan saya untuk berbagi kepada keluarga dan saudara menjadi terbatas, karena income hanya dari gaji suami.
Tahun 2004, kami memutuskan membuat dan membangun perusahaan sendiri. Yaitu PT. Harvest Chemical Solution ,  (  http://www.harvestchemical.co.id ) yang merupakan perusahaan perdagangan Bahan Kimia untuk Industri. Suami saya yang sejak awal berkarir bekerja dibagian Riset dan Pengembangan, maka suami fokus dalam pengembangan produk dan masalah teknis lainnya. Sedangkan saya yang berkarir di bagian Sales, mendapat tugas mengurus Penjualan dan Pemasaran.

Alhamdulillah, dengan ijin Allah, restu dari orang tua dan kerja keras kami, sejak Tahun 2007 perusahaan kami sudah mengeksport ke Sudan , Malaysia , Vietnam , dan Mesir.

Dengan menjadi SALES saya menjadi mendapat banyak ilmu dan manfaat. Tidak hanya pengetahuan seputar produk –produk yang pernah saya pasarkan , namun juga bertambah luasnya jejaring dan persaudaraan yang bisa dibina selain dengan pelanggan juga dengan masyarakat disekitar saya.
0 komentar

Nyelak (Memotong Antrian)

Selamat Pagi…
Sungguh. Saya tuh paling bangga jadi orang Indonesia.  Penduduknya ramah tamah, tanahnya subur,  hasil laut berlimpah, alamnya kaya raya. Saya yakin, pada saat menciptakan Indonesia, Tuhan sedang tersenyum.

Yang koruptor dan anarkis? Ahh…itu cuma “oknum” orang Indonesia.

Tapi, kadang-kadang saya ‘tersandung’ dengan kebanggaan saya. Misalnya seperti pagi ini, setelah mengantri beberapa orang didepan penjual nasi uduk, tibalah giliran saya,
“Bu, nasi Uduk 3 bungkus, jangan pakai sambal semua ya. Buat anak-anak ” pesan saya ke Ibu Penjual Nasi Uduk. Pada saat bungkus ketiga akan dibuatkan oleh penjualnya, Ponsel saya -yang saya tinggal dimobil-berdering. Untuk menjawab panggilan tersebut terpaksa saya masuk ke mobil lalu segera kembali ke Penjual nasi uduk, karena panggilan terputus.
Daann… saya lihat 3 bungkus nasi uduk jatah saya sudah berpindah tangan ke orang lain.
“Loh, mana nasi uduk saya? ” Tanya saya ke Penjual Nasi Uduk.
“Diminta Bapak itu, Bu. Katanya buru-buru mau ke kantor”
“Loh, anak saya juga mau buru-buru ke sekolah. Gak bisa gitu dong” Bukannya minta maaf si Bapak “perampok” nasi uduk malah menjawab
“Biasa aja kali Buu..Ngga usah marah-marah gitu.” Katanya sambil menjalankan motornya.
Brengsek! (maaf)
“Maklum Bu, orang Indonesia” Ujar seorang Ibu yang sejak tadi berdiri di sebelah saya dan menonton perang kecil tersebut.

Kejadian lain yang lebih menyebalkan terjadi di Bandara Qatar. Setelah transit selama 14 Jam menunggu penerbangan ke Indonesia, tiba juga saat kami check in untuk masuk ke pesawat.  Dalam kondisi lelah kurang tidur , saya mengantri sambil menggendong bayi. Tiba-tiba saya terdorong kebelakang, yaa ampuunnn… tanpa tedeng aling-aling ada serombongan TKW -lebih kurang 50 orang memotong dan memaksakan diri masuk antrean. Sambil cekikikan.
Emosi saya memuncak. Saya tarik salah satu petugas airline , dan  meminta bantuannya agar mereka yang menyelak antrian agar di keluarkan dari barisan. Dan mereka semua harus mulai mengantri dari belakang lagi.

Melihat kegaduhan tersebut, saya dengar beberapa Bule menyeletuk ” No wonder. Indonesian! “
Halah!
Yang punya kelakuan jelek itu hanya “Oknum” Orang Indonesia, Sir.





Friday, May 4, 2012 0 komentar

Oknum Tentara itu Mengetuk Pintu Rumah Kami



Ada yang bilang "Menjadi wirausaha itu enak". Menurut saya kalimat tersebut salah, yang benar adalah "Menjadi wirausaha itu enak banget dan tidak enak banget" .
ENAK BANGET kalau segala urusan lancar, penjualan meningkat, saldo ditabungan "digit"-nya berderet. Tapi tidak jarang seorang wirausaha mengalami kejadian yang tidak enak –pakai banget- ; pembayaran customer telat, tagihan menumpuk, saldo tipis, komplain bertubi-tubi dan... di datangi Oknum Tentara.
Tanpa bermaksud mendiskredit Pelindung Rakyat tersebut, melainkan saya sekedar menceritakan apa yang saya alami, tanpa ditambah-tambahi.
Kami  pernah punya pengalaman menghadapi kearoganan Oknum Tentara. Waktu itu kami baru memulai usaha perdagangan bahan kimia. Ada salah satu customer yang sudah berbulan-bulan tidak mau membayar tagihan atas pembelian bahan kimia yang di pesannya. Nilai tagihan sebesar 5 juta rupiah. Sangat lumayan untuk usaha kami yang saat itu masih tertatih-tatih.
Setelah bosan menagih lewat telepon, suatu hari Suami mendatangi kantor orang tersebut dan berbicara langsung dengan pimpinannya mengenai tagihan perusahaan mereka. Selama pembicaraan berlangsung seorang tentara (yang merangkap menjadi keamanan untuk proyek-proyeknya) terus-terusan bolak-balik, antara pintu ruang pertemuan dan ruang resepsionis, seperti ayam yang kehilangan anaknya.
Kunjungan Suami tidak mendapat hasil yang memuaskan. Tagihan masih belum dibayar juga.
Lalu, beberapa hari kemudian, dengan diantar seorang SATPAM Perumahan yang terlihat agak takut-takut, datanglah seorang tentara kerumah kami.
Ketika memasuki teras rumah Tentara tersebut mengucapkan salam dan bertanya “Permisi, ini rumah Pak Agus?” dengan nada arogan dan sedikit membentak.
Suami  saya dan seorang rekannya yang kebetulan sedang ngobrol di teras tampak kaget.
Saya yang sedang berada di kamar depan mendengar suara yang cukup keras tersebut , melongok melalui jendela “Wuihhh, Tentara” Pikir saya : Ada masalah apa nih?. Saya pun keluar kamar menemuinya.
Sejak pertama memasuki teras rumah, Saya sudah merasakan tentara tersebut mencoba menteror mental kami. Ia berbicara dengan volume suara yang keras. Saya pikir harus bisa mencounter teror tersebut dengan bersikap ramah seolah welcome dengan kedatangannya. Menghadapi keramahan kami sikap tentara tersebut sedikit melunak. Saya persilakan ia masuk ke rumah, memberinya minuman dingin dan suguhan kue kecil (yang sama sekali tidak di sentuhnya), lalu dengan gaya seolah menawarkan bantuan, saya tanya tujuan dan maksud kedatangannya.
Dengan arogannya ia mengharuskan kami menerima kembali bahan kimia yang sudah pernah dibeli oleh customer tersebut. Dengan alasan produknya sama sekali tidak bisa digunakan. (Padahal, sebelum kasus kredit macet ini si customer pernah bercerita bahwa produk yang dibelinya memberikan hasil yang memuaskan dan bermaksud akan membeli lagi dalam jumlah yang lebih banyak).
Ketika berbicara, Tentara tersebut berkali-kali  menekankan kata-kata ” harus..” dan “Pokoknya…”. Saya dengarkan kalimat-kalimatnya sampai selesai, dengan tatapan mata yang bersahabat dan mengangguk-angguk seolah setuju dengan ucapannya.
Dengan ramah, Saya tanyakan padanya ” Bapak punya saham di perusahaan tersebut?”
Jawabnya, “Tidak, Tentara tidak boleh berbisnis”
“Lalu, kenapa Bapak yang kesini? Bukannya Bapak S sebagai pemesan barang?”
“Bapak S sedang sibuk mengurus proyek di X, saya dimintai tolong olehnya.”
“Kalau begitu saya mau ajak Bapak diskusi, sebagai pengayom rakyat, Bapak tentu bersedia diajak diskusi oleh rakyatnya”
Lalu seolah saya sedang curhat,saya katakan padanya “Pak, coba Bapak bayangkan, usaha kami baru mulai, tentu kami berharap banyak ketika ada orang yang tertarik dengan dagangan kami sampai kami bersedia menghutangi.”
“Tapi, setelah lebih dari 3 bulan, padahal tanggal jatuh tempo sudah sejak 3 bulan lalu, tiba-tiba barang dagangan kami dikembalikan, seharusnya jika memang tidak bisa dipakai kenapa tidak sejak awal dikembalikan? Saya ‘kan juga harus bayar ke supplier, gaji karyawan”
Bla..bla..bla…
Alhamdulillah , mendengar kata-kata saya dan dengan tidak menunjukkan ketakutan maupun resistensi terhadap kehadiran tentara tersebut,  ia mau memahami dan mendengarkan kata-kata Saya. Ia pun tampak menjadi malu karena kesalahan ternyata ada dipihak Customer kami.
Tak lama kemudian, Ia pamit.
Esok harinya tagihan kamipun dibayarkan.


 
;