Friday, May 4, 2012

Oknum Tentara itu Mengetuk Pintu Rumah Kami



Ada yang bilang "Menjadi wirausaha itu enak". Menurut saya kalimat tersebut salah, yang benar adalah "Menjadi wirausaha itu enak banget dan tidak enak banget" .
ENAK BANGET kalau segala urusan lancar, penjualan meningkat, saldo ditabungan "digit"-nya berderet. Tapi tidak jarang seorang wirausaha mengalami kejadian yang tidak enak –pakai banget- ; pembayaran customer telat, tagihan menumpuk, saldo tipis, komplain bertubi-tubi dan... di datangi Oknum Tentara.
Tanpa bermaksud mendiskredit Pelindung Rakyat tersebut, melainkan saya sekedar menceritakan apa yang saya alami, tanpa ditambah-tambahi.
Kami  pernah punya pengalaman menghadapi kearoganan Oknum Tentara. Waktu itu kami baru memulai usaha perdagangan bahan kimia. Ada salah satu customer yang sudah berbulan-bulan tidak mau membayar tagihan atas pembelian bahan kimia yang di pesannya. Nilai tagihan sebesar 5 juta rupiah. Sangat lumayan untuk usaha kami yang saat itu masih tertatih-tatih.
Setelah bosan menagih lewat telepon, suatu hari Suami mendatangi kantor orang tersebut dan berbicara langsung dengan pimpinannya mengenai tagihan perusahaan mereka. Selama pembicaraan berlangsung seorang tentara (yang merangkap menjadi keamanan untuk proyek-proyeknya) terus-terusan bolak-balik, antara pintu ruang pertemuan dan ruang resepsionis, seperti ayam yang kehilangan anaknya.
Kunjungan Suami tidak mendapat hasil yang memuaskan. Tagihan masih belum dibayar juga.
Lalu, beberapa hari kemudian, dengan diantar seorang SATPAM Perumahan yang terlihat agak takut-takut, datanglah seorang tentara kerumah kami.
Ketika memasuki teras rumah Tentara tersebut mengucapkan salam dan bertanya “Permisi, ini rumah Pak Agus?” dengan nada arogan dan sedikit membentak.
Suami  saya dan seorang rekannya yang kebetulan sedang ngobrol di teras tampak kaget.
Saya yang sedang berada di kamar depan mendengar suara yang cukup keras tersebut , melongok melalui jendela “Wuihhh, Tentara” Pikir saya : Ada masalah apa nih?. Saya pun keluar kamar menemuinya.
Sejak pertama memasuki teras rumah, Saya sudah merasakan tentara tersebut mencoba menteror mental kami. Ia berbicara dengan volume suara yang keras. Saya pikir harus bisa mencounter teror tersebut dengan bersikap ramah seolah welcome dengan kedatangannya. Menghadapi keramahan kami sikap tentara tersebut sedikit melunak. Saya persilakan ia masuk ke rumah, memberinya minuman dingin dan suguhan kue kecil (yang sama sekali tidak di sentuhnya), lalu dengan gaya seolah menawarkan bantuan, saya tanya tujuan dan maksud kedatangannya.
Dengan arogannya ia mengharuskan kami menerima kembali bahan kimia yang sudah pernah dibeli oleh customer tersebut. Dengan alasan produknya sama sekali tidak bisa digunakan. (Padahal, sebelum kasus kredit macet ini si customer pernah bercerita bahwa produk yang dibelinya memberikan hasil yang memuaskan dan bermaksud akan membeli lagi dalam jumlah yang lebih banyak).
Ketika berbicara, Tentara tersebut berkali-kali  menekankan kata-kata ” harus..” dan “Pokoknya…”. Saya dengarkan kalimat-kalimatnya sampai selesai, dengan tatapan mata yang bersahabat dan mengangguk-angguk seolah setuju dengan ucapannya.
Dengan ramah, Saya tanyakan padanya ” Bapak punya saham di perusahaan tersebut?”
Jawabnya, “Tidak, Tentara tidak boleh berbisnis”
“Lalu, kenapa Bapak yang kesini? Bukannya Bapak S sebagai pemesan barang?”
“Bapak S sedang sibuk mengurus proyek di X, saya dimintai tolong olehnya.”
“Kalau begitu saya mau ajak Bapak diskusi, sebagai pengayom rakyat, Bapak tentu bersedia diajak diskusi oleh rakyatnya”
Lalu seolah saya sedang curhat,saya katakan padanya “Pak, coba Bapak bayangkan, usaha kami baru mulai, tentu kami berharap banyak ketika ada orang yang tertarik dengan dagangan kami sampai kami bersedia menghutangi.”
“Tapi, setelah lebih dari 3 bulan, padahal tanggal jatuh tempo sudah sejak 3 bulan lalu, tiba-tiba barang dagangan kami dikembalikan, seharusnya jika memang tidak bisa dipakai kenapa tidak sejak awal dikembalikan? Saya ‘kan juga harus bayar ke supplier, gaji karyawan”
Bla..bla..bla…
Alhamdulillah , mendengar kata-kata saya dan dengan tidak menunjukkan ketakutan maupun resistensi terhadap kehadiran tentara tersebut,  ia mau memahami dan mendengarkan kata-kata Saya. Ia pun tampak menjadi malu karena kesalahan ternyata ada dipihak Customer kami.
Tak lama kemudian, Ia pamit.
Esok harinya tagihan kamipun dibayarkan.


0 komentar:

Post a Comment

 
;