Wednesday, May 9, 2012

Warung Kopi dan Rapat



Ketika selesai dari Ibadah Dhuhanya, kakek akan keluar rumah, tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menikmati segelas kopi hitam di warung kopi langganannya, meskipun setiap subuh nenek sudah membuatkan kopi sebagai bagian dari sarapan. Namun kenikmatan menghirup kopi sambil bertukar cerita dengan sesama "lelaki" di warung kopi seolah tidak tergantikan.

Bagi kakek, warung kopi adalah menjadi tempat bersosialisasi dengan tetangga dan bertukar informasi tentang berbagai hal. Dari mulai mengkritik kebijakan pemerintah hingga membagi resep ramuan untuk mengobati sakit encoknya. 

Kebiasaan mengunjungi warung kopi - hanya disatu warung kopi tertentu dan pada jam tertentu, tidak hanya dilakukan oleh Kakek, namun nyaris semua lelaki dikampung melakukan hal yang sama.persis seperti  yang diceritakan pada novel "Laskar Pelangi"   warung kopi seolah menjadi bagian dari rutinitas harian dan  merupakan bagian dari urat nadi kehidupan penduduk kampung.

Kebiasaan Kakek kini menular kepada saya, namun dalam versi yang berbeda. Karena alasan menghindari kemacetan di jalanan Jakarta, terutama di jalan-jalan yang merupakan kawasan gedung perkantoran , seperti Jl. Thamrin - Jl. Sudirman biasanya saya memilih rapat dengan Customer maupun Supplier di sebuah Cofee-Shop (versi keren dari warung kopi, padahal kalau diterjemahkan ya sami mawon). Lokasi Coffee Shop yang dipilih biasanya terletak didalam Mall yang berada ditengah-tengah jarak tempuh perjalanan saya maupun teman rapat,  

Untuk efisiensi waktu, biasanya pada hari yang sama saya akan janjian dengan lebih dari satu supplier atau customer. Tentu dalam waktu yang berbeda. Sehingga bisa saja pada pukul 11 siang saya 'ngopi dengan perwakilan PT. A di Coffee-shop X, lalu pada pukul 13 tengah hari dengan rekan " B"  di Y, dan pada petang hari ketemu dengan Bapak " C" di Z.  Walhasil pada hari itu saya kembung karena minum bergelas-gelas kopi dan dampaknya malam hari akan sulit tidur.

Selain untuk rapat, saya nyaris tidak pernah memilih Coffee -shop sebagai tempat "hang-out". Saya lebih memilih duduk di taman atau area terbuka lainnya. Mungkin karena sudah tertanam  dalam benak saya coffee-shop adalah tempat saya bernegosiasi, dan berbicara sesuatu yang ada nilai uangnya. 
Jadi, jika suatu waktu saya mengajak anda ke coffee-shop bisa jadi saat itu saya akan menagih utang anda kepada saya. :D








0 komentar:

Post a Comment

 
;