Monday, July 30, 2012 0 komentar

Berguru Pada Imam Youtubi Al-Gugeli...

.
-----------------------------------


Hari Sabtu tanggal 28 Juli 2012 kemarin saya melakukan manasik . Diantara peserta manasik ada seorang Bapak yang terlihat “menonjol” karena ia sering sekali menyela pembicaraan dan penjelasan dari Ustadz Pembimbing.
” Saya baca di sebuah website ,Sunahnya jika pertama kali melihat Ka’bah membaca do’a begini…”  lalu iapun membaca do’a dengan fasihnya, menyela pembicaraa Ustadz ketika menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan ketika baru tiba di Mekkah. Atau,
“Cara memakai baju ihram begini, saya lihat contohnya di You Tube” Bapak tersebut lalu mencontohkan cara memakai baju Ihram dengan benar.

Apa yang dilakukan Bapak tersebut adalah contoh dari memanfaatkan kecanggihan teknologi  dan kemudahan mendapat dan mempelajari ilmu apapun, yang ingin kita ketahui, dari internet.  Jujur, saya pun sering melakukan hal yang sama. Mencari informasi dengan cara googling, atau bila membutuhkan peragaan visual saya akan mencari di You Tube.

Namun, jika menyangkut ilmu agama, mendapat pengetahuan hadist atau tata cara ibadah lewat hasil googling ada faktor risiko. Apabila website yang menyajikan informasi yang kita butuhkan adalah website yang “menghalalkan” bid’ah, kurofat bahkan tidak sedikit ada website-website yang berisi ilmu syirik yang dibalut informasi keagamaan. Contoh do’a-do’a memohon kekayaan dan  pengasih yang ditambahi permintaan terhadap khodam dsb.

Era Informasi tidak bisa kita bendung, malah sebaiknya kita ikut berenang didalamnya. Namun, agar selamat mengarungi lautan kehidupan ini, alangkah bijak jika kita memilih guru berenang yang mumpuni. Yang jelas memahami do and don’t -nya ilmu tersebut.

Sekalipun segala macam informasi keagamaan sudah tersedia di dunia maya. Tetaplah belajar pada guru-guru didunia nyata. Karena amalan yang kita lakukan harus jelas hukum, tata cara atau hadis harus jelas sanadnya,  agar tidak tertolak dan menjadi amalan yang sia-sia bahkan bisa jadi  malah mendatangkan dosa.

Yuk, tetap rajin datangi Taklim.

Salam,

Rinny
0 komentar

Baab Seven




Ini cerita di bulan Maret lalu ketika saya mengunjungi Kairo sebagai utusan dari Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI)  untuk mengikuti ajang pameran di  "Cairo International Fair" . Saya berangkat bersama suami (yang mewakili perusahaan kami sendiri) dan Safira, anak bungsu kami yang masih berusia 1 tahun.

Alhamdulillah, sebelum dan selama acara berlangsung kami mendapat banyak bantuan dari para staf KBRI di Kairo dan dari rekan-rekan pengurus dan anggota KPMI cabang Mesir.

Hari ketujuh pameran kondisi anak saya agak drop, sejak malam badannya mulai panas,  sehingga hari itu saya memutuskan tidak ikut menjaga stand pameran.  Namun sayangnya dihari yang sama suami dan Mas Amran (Ketua "panitia" kami) juga harus ke Sabuga untuk mengunjungi salah satu calon buyer , teman petugas pameran lainnya pun nampaknya masih tepar kelelahan, dikarenakan sejak hari pertama, setelah tutup pameran kami masih melanjutkan diskusi tentang berbagai hal hingga lewat tengah malam.
Melihat stand kami masih tutup, petugas KBRI-pun menelpon. Protes. Mendapat teguran tersebut maka saya segera siap-siap berangkat ke lokasi pameran. Dengan membungkus rapat anak saya yang sedang demam, di tengah dinginnya udara awal musim semi Kairo, saya keluar apartemen mencari-cari taxks.  Dan...kecemasan sayapun terbukti.

Saat menutup telepon dari petugas KBRI , saya sudah cemas. Bagaimana cara saya mencapai lokasi pameran? Nama jalannya pun saya tidak tahu. Ditambah cerita teman-teman peserta pameran lain, bahwa sopir taksi di Kairo sangat jarang yang menguasai bahasa Inggris. Meskipun saya coba berkomunikasi dengan bahasa Inggris paling sederhana sekalipun.
"Do you know Cairo International Fair ?  I will go there."  atau,
"I will go to  exhibition hall, do you know the place?” seluruh sopir dari 8 taxi yang saya berhentikan menggelengkan kepala, lantas langsung cabut dengan cueknya. Meninggalkan saya yang terbengong-bengong dipinggir jalan. Deg-degan dan suhu udara yang 10 derajat celcius membuatsaya kian gemetaran. 

Saya berpikir keras mencoba mengingat-ingat apa yang Mas Amran katakan kepada sopir taxi ketika menunjukkan lokasi pameran. Namun sayangnya tidak ada kalimat yang saya ingat. Hanya ada dua kata yang saya ingat " Ma'rod" dan "Ala-tuul". Maklum, bahasa Arab saya minus.
Ok , saya coba menggunakan kata tersebut.

Sayapun memberhentikan taxi berikutnya.”Assalamu’alaikum, Do you know Ma’rod? “ Tanya saya harap-harap cemas. Si Sopirpun mengangguk. Alhamdulillah. Saya buru-buru masuk ke dalam taxi.
Ketika, sudah sampai di sekitar lokasi pameran (Kurang lebih seluar Gelora Bung Karno – Jakarta) si sopir mengatakan sesuatu yang saya tafsirkan menanyakan saya akan turun dimana.
Ala tuul.” Saya bilang. Tapi si Sopir menggeleng keras.
”La!! La!! La ala tuul!!” katanya sambil menunjuk ke depan. Ada tank-tank tentara didepan. Disepanjang pagar area pameran . Waktu itu sedang persiapan pemilihan presiden Mesir.
Sayapun gak yakin jadinya dengan kata Ala tuul ini.  “ Left. Left.” Sayapun menunjuk ke arah kiri. Si sopir ‘ngomel-ngomel . Lalu, Syuuuttt…ia tiba-tiba membelokkan setirnya kekiri. Ketika saya tanya Mas Amran arti kata‘ala tuul ini adalah jalan lurus.  Hehehe…yah iyalah gak mungkin jalan lurus, emangnya mau nabrak tank-tank tentara itu. Pantas saja Pak Sopir ngomel-ngomel.

Lalu Pak Sopir kembali mengatakan sesuatu, sambil menunjuk deretan pintu masuk ke arena pameran. Saya ingat Mas Amran pernah bilang pintu masuk terdekat dari stand kami adalah Pintu Tujuh.  Nah loh ,bagaimana cara menjelaskan Pintu Tujuh dalam bahasa Arab ke Pak Sopir, karena saya berkali-kali mengatakan “Gate Number Seven” dia ngga mengerti juga.
Saya ingat Pintu dalam bahasa Arab itu Baab. Lah, Kalau Tujuh itu apa yah? Saya pun mengulang lagi hapalan lagu belajar angka dalam bahasa Arab yang diajarkan di TK anak saya.
Wahidun Satu
Isnaini dua
Salasatun tiga
Arba’atun empat
Tapi Pak Sopir sudah tidak sabar, karena mobil terus melaju hamper sampai keujung arena.
Baab Seven, stop. Ok?” Mudah-mudahan dia mengerti.
“Seven? Ok!” Katanya.
Dan sampailah saya di arena pameran dengan selamat . Alhamdulillah

Wasalam,

Rinny

Thursday, July 12, 2012 0 komentar

Jokowi Menang Bukan Karena PDIP







Membaca berita disalah satu koran online ini, yang menyatakan Jokowi memenangkan Pilkada Jakarta kemarin karena diusung partai PDIP .Lalu mereka mengklaim bahwa kemenangan yang diraih merupakan hasil kerja partai tersebut.


Sebagai emak-emak  yang prioritas perhatiaannya adalah keluarga dan dapur, namun saya masih juga menyempatkan 'nguping pendapat masyarakat sekitar , membaca dan nonton berita (meski kebanyakan isinya menyesuaikan maunya majikan pemilik stasiun TV) akhirnya saya menyimpulkan bahwa masyarakat menginginkan perubahan dan sudah muak dengan kondisi politik sekarang.

Lalu, dengan kehadiran Jokowi (dan Dahlan Iskan, ups ...OOT) seolah masyarakat mendapat angin segar dan mimpi baru untuk menuju perubahan.



Kembali ke soal partai politik. Saya termasuk masyarakat yang kecewa ketika mendengar dan membaca Jokowi dan Ahok menggunakan Parpol sebagai kendaraannya berkampanye, karena saya sangat yakin meskipun seandainya mereka  memutuskan menjadi calon independen, maka kemenangan bukan mustahil akan mereka raih. 

Karena masyarakat Jakarta memilih berdasarkan penilaian akan ketokohan 2 manusia ini. Karena masyarakat Jakarta memiliki harapan akan terjadinya perubahan, dan harapan tersebut disandarkan pada pencalonan mereka sebagai pimpinan tertinggi Ibukota ini.
Selamat kepada Jokowi dan Ahok  atas keberhasilannya menjadi finalis. Selamat berjuang kembali di putaran kedua. Saya yakin kalian akan menang, Insyaa Allah. 

Note: Pilkada Jakarta 11 Juni 2012 
0 komentar

Masyarakat Pemaksa


Masyarakat mayoritas Indonesia  sekarang ternyata kurang menghargai kemajemukan. Padahal sejak Gajah Mada dan Hayam Wuruk menyatukan Nusantara, sudah disadari banyaknya perbedaan baik dalam beragama, suku,adat istiadat, ras, kebiasaan hidup dsb.

Kenapa semakin maju, masyarakat kita semakin memaksakan keseragaman?
Kenapa yang mayoritas semakin merasa bahwa kelompoknyalah yang paling benar?
Tidak sedikit yang merasa punya ilmu mumpuni membodoh-bodohkan orang yang berbeda pendapat dengannya. Bahkan mempertanyakaan tingkat keimanan seseorang yang mencoba bertoleransi terhadap perbedaan.
    *Membayangkan diri seandainya menjadi minoritas. Dan Sungguh menjadi minoritas di Indonesia sangat tidak menyenangkan.*
    Monday, July 9, 2012 0 komentar

    Wortel, Telur dan Biji Kopi

    Ada seorang anak datang ke ayahnya mengeluhkan segala kesulitan hidup yang dihadapinya. Sang ayah lalu mengajak anaknya ke dapur.
    Kemudian ia memasukkan air kedalam 3 buah panci lalu menjerang panci tersebut. Setelah air didalam panci mendidih, maka Ayah memasukkan wortel kedalam panci pertama, telur kedalam panci kedua dan biji kopi kedalam panci ketiga.
    Setelah 10 menit kemudian Ayah mengeluarkan wortel, telur dan segelas air dari hasil memasak biji kopi.
    Si anak yang sejak tadi diam memperhatikan apa yang dilakukan Ayahnya ,lalu bertanya. "Untuk apa semua ini , Ayah?"
    Ayahnya menjawab. "Makanlah wortel dan telur ini. Lalu minumlah air rebusan biji kopi dari gelas ini."
    Si Anak mematuhi perintah Ayahnya.
    Lalu si Ayah bertanya " Apa yang kau rasakan?"
    Sang anak menjawab " Wortel ini terasa lunak. Telur rebus ini keras seperti telur rebus umumnya. Lalu air ini terasa pahit karena mengandung kopi. Apa maksud Ayah?"
    "Ketiga jenis benda tersebut mengalami perlakuan yang sama. Direbus dalam air mendidih selama 10 menit. Namun, Wortel yang tadinya keras, kaku dan susah dibentuk kemudian menjadi lunak, bahkan kau bisa menjadikannya bubur. Sedangkan Telur yang isinya berupa cairan dan diliputi kulit yang tipis setelah direbus berubah menjadi keras dan padat.  Namun berbeda dengan biji-biji kopi ini. Ketika ia direbus, maka ia akan mempengaruhi air sekitarnya sehingga ia menjadi hidangan kopi yang siap engkau nikmati.
    Lalu Anakku,Apakah yang akan kau pilih, menjadi seperti Wortel, Telur atau Biji kopi ketika kau menghadapi cobaan dan tantangan dalam hidupmu?"
    Sunday, July 8, 2012 0 komentar

    Jangan Jadi Pengusaha



    Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

    Saran saya jangan jadi Pengusaha , kalau anda...
    1. Tidak ingin bermental baja
    2. Tidak ingin lebih dekat kepada Allah 
    3. Tidak ingin menjadi lebih sabar
    4. Tidak rajin belajar
    5. Tidak berani mencoba hal baru
    6. Tidak ingin kaya 
    7. Tidak siap miskin ketika bangkrut 
    8. Tidak ingin memiliki banyak teman dan saudara
    9. Tidak suka bersilaturahim
    10. Tidak suka berbagi alias pelit
    Karena dengan menjadi Pengusaha maka anda akan...
    1. Selalu menghadapi tantangan dan banyak menghadapi kondisi dan keadaan yang diluar rencana
    2. Hanya Allah yang Maha Berkehendak, maka perbanyaklah ibadah dan do'a agar regala rencana dan harapan dalam berjalan dan menjadi baraqah
    3. Harapan dan Rencana yang tidak sesuai seringkali terjadi diluar kendali kita. Dan Tidak ada yang bisa kita perbuat selain bersabar dan terus berusaha
    4. Ilmu pengetahuan dan Teknologi terus berkembang dengan pesat. Tentu sebagai Pengusaha kita tidak ingin kehilangan peluang akibat tidak meng-update kapabilitas.
    5. Selalu ada hal-hal baru akibat kemajuan jaman. Metode yang kita kerjakan hari ini akan menjadi metode jadul  pada 2-3 tahun kedepan.
    6. Memiliki Penghasilan yang tidak berbatas. Sepanjang ia mau terus bekerja dan berkarya.
    7. Mengharapkan profit yang sebesar-besarnya, namun High return - High risk. Itulah yang biasa terjadi pada bisnis. Dan sebagai pemilik usaha, anda tidak bisa melimpahkan tanggung jawab kerugian kepada pihak lain, dimana tanggung jawab tersebut kadang kala harus kehilangan seluruh aset harta anda.. (Pada beberapa orang mungkin lari dari tanggung jawab. Tapi pada saat ia lari, itulah saat ia memutuskan akhir dunianya akibat tidak lagi memiliki harga diri dan kepercayaan dari orang lain)
    8. Selalu mencari  peluang untuk berkembang. Ketika kita sadari  ilmu pengetahuan dan sumber daya tidak mungkin kita kuasai sendiri, maka seorang Pengusaha harus menjalin relasi yang bagus dengan mitra, karyawan, supplier, pemilik modal, dll
    9. Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini berlaku dalam silaturahim. Bahkan seorang selebritispun hanya kita kenal namanya, tapi tidak kepribadiannya, jika belum pernah bersilaturahim secara personal dengan kita. Sedangkan kepercayaan dibangun dengan adanya pengenalan secara personal
    10. Menyadari dalam keuntungan proyek yang kita kerjakan,  terdapat haknya karyawan, keluarga, tetangga, fakir miskin dan lain-lain -yang dititipkan Allah Subhana wata'ala kepada kita. Maka sepantasnyalah kita menyalurkan sebagian keuntungan yang didapat kepada pihak-pihak yang berhak tersebut. 


    Just my 2 cents.




    Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh..


    Rinny Ermiyanti
    0 komentar

    Agar Dimengerti, Komunikasikan Tujuan Anda (Bag.2)

    Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

    Seperti judul dan ilustrasi cerita yang saya tuliskan pada posting saya sebelumnya, bahwa sebagai pemilik usaha adalah sangat penting menyampaikan tujuan dari suatu perencanaan.

    Kadangkala kita menyimpan sendiri tujuan kita karena takut dicap Ambisius. Padahal dengan berterus terang apa Goal  yang ingin dicapai berarti kita -sebagai pemimpin- mengajak bawahan untuk mewujudkan mimpi bersama-sama. 
    Dengan mengkomunikasikan tujuan kita, kita bisa mengajak bawahan untuk bersama-sama memikirkan strategi dan membagi tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Karena tidak mungkin kita melaksanakan segala hal sendirian.  

    Jadi, jika Ramadhan ini anda bermimpi meningkatkan penjualan 300%, misalnya, sampaikan kepada bawahan sehingga mereka tidak kaget jika harus bekerja keras 3x lipat.


    Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
    Rinny Ermiyanti
    Saturday, July 7, 2012 0 komentar

    Agar dimengerti, Komunikasikan tujuan Anda...


    Setelah Shalat Dhuha, Engkong Rijal udah rapi jali siap-siap bersilaturahim menengok anak dan cucunya di kampung sebelah. Lagi jalan santai tiba-tiba Encing Rahma ,yang sedang menyapu halaman ,menegur "Assalamu'alaikum. Keren amat, mau kemane 'Kong?"
    "Wa'alaikumsalam .Gue mau ke rume Sofi. Mau jenguk cucu gue. Kabarnya sakit step semalem."
    "Lagian udeh tau kite Betawi, si Sofi 'ngasih name anaknye Stephani..yah step mulu dah tuh anak "
    " Yaelah Rahma, sekarang udah jaman moderen, nama juga kudu  moderen. Udah deh lu 'nyapu aja yang bersih ye. Gue mau jalan dulu. Salam ama Babe lu ye. Assalamu'alaikum"
    "Wa'alaikumsalam"
    Sampai diujung gang ,Engkong Rijal memanggil salah satu tukang ojek yang lagi ngadem dipangkalan.
    "Jek! Jek!"
    Maka segera datanglah salah satu ojeker kehadapan Engkong Rijal.
    "Eh, lu Syid. Ayo antar gue cepetan" Engkong Rijal segera nangkring di boncengan motor Bang Mursyid.
    "Anter kemane Kong?" Mursyid pun menyalakan motornya dan mulai melaju pelan-pelan.
    "Yaelah Syid, ini motor apa keong? Pelan amat jalannye. Udah lu jalan aje kedepan, nanti di lampu merah sono lu belok kanan yak" Engkong Rijal mulai kasih instruksi.

    Tak berapa lama..
    "Ini udeh belok kanan, terus kemana 'Kong?"
    "Lurus aje, abis perempatan kedue lu ke kanan lagi"

    Tapi sebelum perempatan kedua dilalui terjadi kemacetan akibat sebuah truk terbalik.
    "Kong, sabar ye, kite kena macet nih" Mursyid  berusaha menghibur penumpangnya meski dia sendiri gelisah kepanasan.
    "Ya gimane lagi Syid, nih macet kan bukan maunya kite. Cuman pinggang gue suka ngga kompak kalo lama-lama duduk gini, linu"

    Menghadapi kemacetan ini Mursyid sebagai Ojeker berpengalamanpun ternyata tidak berdaya. Tidak bisa 'nyalip kiri-kanan akibat saking padatnya lalu lintas.
    Engkong Rijalpun cuma bisa pasrah nangkring di jok motor , sambil kipas-kipas menghalau panas,.

    Setelah 1 jam lebih bermacet-macet ria, truk yang terbalik bisa diderek ke bengkel, lalu lintaspun mulai bergerak lancar.

    "Kita udah sampe ke perempatan kedua 'Kong, terus kemane?"
    "Belok kiri, ade pohon asem paling gede samping  Toko Subur lu ke kiri.Abis itu terus aje, nanti kalo ade warung gado-gado berenti dah lu disitu. Gue mau ke rume si Sofi" Engkong Rijal menjelaskan panjang lebar.
    "Yaelah Kong...'Kong....Jadi Engkong mau ke rume Mpok Sofi?"
    "Iye, anak perempuan gw atu-atunya 'pan Si Sofi. Lu kire sofi yang mane?"
    "Ampun deh 'Kong. Bilang  dari tadi. Kalo tibang mau kesitu mah, kite bise cari jalan alternatip laen. Yang kagak pake macet. Lewat Gang Haji Pi'i."

    "Yaudahlah, emang nasib kite kudu macet-macetan. Udeh gue turun disini. Nih duit ongkosnye."
    "Kong, masa cuman 'ngasih tiga rebu.,tambahin 'napa" Mursyid protes
    "Nih, gue tambahin gopek. Gue pensiunan Syid. Kagak gablek duit. Kalo kurang nanti gue ganti ame nasi lauk ikan mujaer dari kolam gue ya." Engkong Rijal mencoba merayu Mursyid.
    "Yaudahlah Kong, ane terime. Tapi laen kali ngomong tujuan 'nyang jelas ye..Kali aja kalo mentok kayak tadi, ane bisa bantu cari alternatip laen, nyang lebih lancar jalannye." 
    "Iye..iye Syid. Maapin gue. Tapi lu ikhlas 'pan gue bayar segitu?
    "Iye ikhlas. Ane terima. Ane jalan dulu ye 'Kong. Assalamu'alaikum" Mursyidpun pamit.
    "Wa'alaikumsalam"


    Regards,
    Rinny Ermiyanti

    Wednesday, July 4, 2012 0 komentar

    'Ngerasani : Adalah Cara Tercepat Menghilangkan Pelanggan


    Dalam berinteraksi dengan  masyarakat sekitar  seringkali ada hal-hal yang menjadi ganjalan hati namun sulit diungkapkan secara terang-terangan. Entah karena kita merasa sungkan, malu atau  karena terlalu sebal sehingga enggan untuk berurusan lebih jauh. Namun, sebagai makhluk yang  memiliki kebutuhan untuk selalu berkomunikasi dan bersosialisasi maka tak jarang ketidak sukaan tersebut akan kita ungkapkan kepada objek yang tidak berhubungan dengan pelaku penyebab kesebalan kita. (Kalau istilah saya adalah “orang yang kena getahnya” .). Atau bisa juga ketidaksukaan tersebut kita ungkapkan dibelakang punggung pelaku. Dalam bahasa Jawa  disebut “Ngerasani”

    Saya yakin hampir semua manusia pernah ‘ngerasani, termasuk saya sendiri. Berdasarkan pengalaman  saya (hehehe...jadi malu..)  ada perasaan “puas” ketika selesai mengungkapan hal jadi yang ganjalan dihati. “Kepuasan” tersebut timbul karena kita sudah menyalurkan emosi dan perasaan negatip lainnya.  Namun, anehnya  akibat ‘ngerasani  akan timbul ‘ganjelan hati’ lainnya.  Karena jauh dilubuk hati, kita tahu bahwa dalam pandangan sosial dan agama perbuatan ‘Ngerasani’ adalah tidak baik. 

    Complicated yah.  Susahnya jadi manusia.

    Meskipun kadang saya me-rasani , tak jarang juga saya menjadi korban yang di-rasani. Percayalah, sangat tidak enak. Saya menjadi merasa berada jauh diseberang pelaku rasan-rasan, meskipun bisa jadi semenit sebelumnya saya merasa sangat dekat dengan mereka (karena pasti percakapannya diantara 2 orang atau lebih), saya merasa jadi korban , dan seterusnya dan seterusnya. Akibatnya, setelah tahu pernah dirasani saya akan menjauh dari orang tersebut.  

    Contoh kejadiannya begini, saya pernah diundang oleh salah satu supplier untuk menghadiri seminar tentang perkembangan teknologi terkini dibidang proses kimia. Karena memang materi yang akan disajikan sangat berhubungan dengan bidang usaha , maka dengan semangat 45 saya menghadiri acara tersebut. Selesai acara seminar sesi I, karena masih sangat penasaran dengan materi yang disampaikan, maka saya mengajak pemateri untuk berdiskusi lebih lanjut ,apalagi pemateri adalah orang yang cukup mumpuni dibidangnya. Ditengah diskusi, salah satu panitia memotong percakapan kami dan mempersilahkan kami masuk ke ruang lain dikarena acara akan dilanjutkan presentasi produk. Ketika saya akan masuk ke ruangan acara tiba-tiba saya mendengar percakapan bisik-bisik yang intinya meragukan kemampuan perusahaan kami menghandle kecanggihan produk tersebut.

    Meskipun saya tetap mengikuti seminar sampai akhir (alasannya karena saya merasa sayang, sudah datang jauh-jauh tidak dapat tambahan ilmu dan apalagi kelihatannya menu makan  siangnya enak dan gratis) namun ada tekad didalam hati kami tidak akan memakai produk perusahaan tersebut, termasuk untuk produk lain yang sudah kami order rutin sebelumnya. Toh, kompetitor mereka pasti ada.

    Saya marah?

    Ya, karena meskipun mungkin benar penilaian si pelaku rasan-rasan bahwa teknologi tersebut adalah mahal buat kami, tapi yang membuat saya marah adalah ia menyampaikannya dibelakang punggung kami. Yang terluka adalah harga diri . Seandainya ia secara terbuka menyatakan harga sekian juta rupiah, maka mungkin yang akan meyatakan bahwa harga tersebut mahal dan kami tidak sanggup dengan level harga tersebut adalah kami sendiri. Selesai. Tidak ada sakit hati. Dan bisnis diantara kami akan berjalan seperti biasa.
     
    ;