Sholat Sunah "Minta Tempat" di Masjidil Haram

by - Tuesday, August 28, 2012


Menjalankan ibadah Umrah dan beri’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan nampaknya menjadi pilihan waktu terfavorit para pencari Berkah Illahi.  Walhasil berbondong-bondonglah ratusan ribu umat muslim dari berbagai belahan dunia memadati Masjidil Haram, karena pahala yang Insya Allah akan didapat begitu besar seperti yang tertulis dalam salah satu HR. Bukhari-Muslim “Rasulallah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:Pahala umrah dibulan Ramadhan sama seperti pahala ibadah Haji” dan dalam hadist lain tertulis ” Rasullallah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: Pahala Umrah di bulan Ramadhan sama seperti menunaikan haji bersamaku” . Muslim mana yang tidak tergiur dengan pahala sebesar ini?

Sekalipun kapasitas Masjidil Haram terus diperluas,bahkan kini bisa menampung hingga lebih dari 1.1juta orang, namun tetap saja akan terjadi desak-desakan ketika menjelang saat-saat shalat. Berbagai macam trik dilakukan para jemaah umrah untuk mendapat tempat didalam barisan shaf , salah satunya pura-pura numpang shalat sunah.

“Hajjah..hajjah..ushalli..raka’atain” kata tukang ‘nyempil ini sambil mengacungkan 2 jarinya. 
Saat shalat sunah tersebut telah selesai bukan berarti mereka akan rela langsung berdiri dan mengembalikan lahan tersebut kepada kita , shalat 2 rakaat tersebut akan disambung dengan berdzikir, baca al-qur’an atau  ngobrol  hingga masuk waktu shalat berikutnya dan berikutnya tiba. (Biasanya mereka datang sebelum ashar dan akan pulang  ba’da isha).
Trik ini tetap dipakai sekalipun ketika mereka minta tempat untuk shalat sunah pada saat ba’da ashar atau sebelum Maghrib  . Ketika di protes tidak boleh sholat sunah pada saat-saat tersebut,
“Tahiyatul masjid” katanya beralasan. Wallahu’alam.
Trik lain adalah pura-pura sakit kaki. Dengan gaya memelas sambil mijit-mijit kakinya, mereka sering memaksa masuk didalam shaf. Sehingga tak jarang saya dan rekan di sebelah yang sedang nyaman tadarus sambil bersila terpaksa menselonjorkan kaki sambil mengerutkan badan kami sekecil mungkin. Mengingat para tukang nyempil biasanya adalah ibu-ibu dari Turki, Jordania atau negara Arab lain yang punya postur XXXL.



Yang lebih parah adalah ketika malam 27 Ramadhan, dimana puncak dari kegiatan i’thikaf di masjidil Haram. (kabarnya dihadiri oleh Raja dan keluarga kerajaan Arab Saudi).  Sejak sebelum Ashar jamaah sudah sangat padat, seluruh bagian masjid terisi manusia bahkan dibawah-bawah eskalator dan di undakan-undakan tangga (bahkan saat Tarawih jamaah meluber hingga ke terminal Saptco) , sangat sulit mencari tempat lowong untuk shalat. Trik yang dilakukan oleh Ibu-ibu tersebut adalah shalat dengan membawa kursi kecil,jadi mereka melakukan shalat dengan duduk dikursi tersebut. Bisa dimaklumi, karena mengingat postur tubuh mereka yang bessarr akan sulit bagi mereka untuk dapat tempat didalam shaf. Daann…kursi-kursi tersebut diletakkan diantara 2 shaf. Saya yang berada dibelakang kursi harus legowo dengan hati-hati mengatur posisi kepala tiap akan sujud dan bangun dari sujud  agar tidak terbentur kursi.

Sabaarr…sabaaarrr…

You May Also Like

0 komentar