Friday, December 13, 2013 1 komentar

Bisakah Aku Menjadi Aku?

Kadang aku ingin menjadi AKU.
Yang tidak perlu berada dibalik bayang sebagai anak orang tuaku, Istri suamiku, Ibu anak-anakku, Pimpinan anak buahku, Teman si A,B,C,D.
Aku ingin bebas berteriak, menangis, marah, mencaci, merayu, memuji tanpa takut penilaian orang.
Aku ingin menjadi AKU.
Sebentar saja
Saturday, November 2, 2013 0 komentar

Setahun Bekerja = 70 Jam Kerja Mesin

Demo Buruh, foto dari ciricara


Seorang karyawan dalam seminggu bekerja 5 hari , setahun (ada 48 minggu) berarti 240 hari. Dikurangi (di tahun 2013 ) jumlah Hari Libur Nasional 14 hari, plus 5 hari cuti bersama, tambah 12 hari cuti tahunan = 31 hari libur.
240 - 31 = 209 hari kerja.
1 hari kerja = 8 jam.
209 x 8 =1672 jam.
1672/ 24 jam = hampir 70 hari.

Jika karyawan tsb tidak pernah ijin sakit kepala, ijin mentruasi (perempuan mendapat cuti tambahan 1 hari tiap bulannya),bolos atau ijin-ijin lainnya dalam setahun.
Dari hitung-hitungan tsb, terlihat 1 tahun masa kerja seorang karyawan = 70 hari masa kerja sebuah mesin. Tinggal pengusaha berhitung, lebih menguntungkan mana menggunakan tenaga kerja manusia atau mesin.

Ayo, kita demokan keahlian sehingga perusahaan bersedia membayar mahal dan merasa kita adalah aset yg lebih menguntungkan tak bisa terganti oleh orang lain apalagi mesin.
Wednesday, October 30, 2013 0 komentar

Siaran Radio di Gaya FM bersama Womanpreneur Community

 Hari Selasa 29 Oktober 2013, aku dan mbak Desi dapet kesempatan siaran di radio Gaya FM. Materi siaran kami adalah membahas peluang bisnis dari rumah tangga. Sekalian kesempatan promosi Nastar Safira








Kalau penasaran mau tau rekaman siarannya, boleh koq.  klik Link ini aja ya...
Siaran Radio Gaya FM -WPC
Tuesday, October 1, 2013 1 komentar

6 Tips Beriklan di Media Sosial



Media sosial  menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikan materi promosi kita kepada masyarakat secara cepat dan masif.  Dengan sekali tekan tombol “ENTER” maka pesan yang kita kirim akan diterima oleh relasi kita sekaligus teman-teman mereka. Bayangkan jika kita memiliki 1000 orang follower pada laman media sosial, lalu ada 100 orang yang me-replay quote kita ,  maka 1000 orang plus ribuan orang teman dari 100 orang yang mereplay tadi akan membaca apapun yang kita tulis. Tidak jarang para pembaca ’ikutan’ ini bisa menjadi follower berikutnya.

Berikut ada 6 tips beriklan di media sosial:
1.      Gunakan kalimat sederhana
Agar usaha terlihat hebat, anda menampilkan materi iklan dalam kalimat yang panjang ditambahi dengan data-data statistik.  Ingat, anda sedang beriklan, bukan menulis jurnal ilmiah. Sampaikan materi iklan anda dalam kalimat sederhana dan tepat sasaran

2.      Visualisasikan
Orang lebih tertarik pada gambar-gambar dibandingkan narasi. Jadi, lebih baik visualisasikan iklan anda. Boleh dalam bentuk foto-foto ataupun video.

3.      Bercerita
Orang juga lebih tertarik mendengarkan sebuah cerita dibandingkan ’petuah’. Misalkan anda menjual produk herbal, dibanding anda ’berbusa-busa’ menjelaskan khasiat produk anda dengan kandungan bahan-bahan yang terbukti manjur, akan lebih menarik jika materi iklan anda dalam bentuk video testimoni para pengguna produk anda.
 
4.      Pilih media sosial yang tepat
Sekarang banyak sekali sosial media yang bisa anda pilih : facebook,   twitter, linkedin, pinterest, youtube,slideshare dll. Sesuaikan dengan bentuk materi promosi anda dan tujuan promosi.

5.      Tulislah Apa Adanya
Berpromosi adalah mengumuman kepada masyarakat manfaat yang bisa diperoleh dari membeli sebuah produk. Dalam materi promosi Anda bisa saja menutup- nutupi kelemahan produk anda sekarang. Namun, begitu customer datang dan membeli produk tersebut, cepat atau lambat kelemahan produk anda segera akan menyebar.  Anda tentu tidak ingin menunggu ledakan komplain, bukan?.
Kita bisa mencoba mencontoh pada disclaimer produk kosmetik.

6.      Bekerja sama
Bergabunglah dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki visi atau tujuan promosi yang sama. Di media sosial Anda bisa berbagi hashtag  sehingga tujuan gerakan anda lebih cepat tercapai. Misalny,a gerakan #AyoSarapanPagi yang diadakan oleh perusahaan cereal besar dan sebuah tabloid wanita

Friday, August 30, 2013 0 komentar

Emak-emak Rempong: Jadwal Harian

Dengan 4 Gadisku, 3 thn lalu
Tugas mengurus anak-anak dan pekerjaan sepertinya tidak ada habisnya bagi seorang 'full-time Mom' tapi bukan berarti seorang Ibu tidak bisa punya kegiatan yang bermanfaat diluar rumah.

Jika dibuat rincian singkat inilah jadwal harianku sebagai Ibu dari 4 putri rutin setiap hari : 
-Bangun tidur, rapih-rapih, shalat subuh
-Bikin sarapan,
-Siapin A Pin & A Ming ke PG dan TK (Kakak2nya siap-siap sendiri)
-Antar Van-Da ke sekolah
-Antar A Ming ke sekolah
-Antar A Pin ke sekolah
-Ke Pasar buat menu besok
-Masak (menu dan sayuran sudah disiapkan malam sebelumnya)
-Antar Lunch Box ke sekolah VanDa
-Jemput A Pin
-Jemput A Ming
-Kerja termasuk pesbukan, twitteran, 'Ngompasiana,urusan ini-itu.
-Jemput Van-Da
-Menulis artikel,'ngerumpi via SosMed,baca buku dll
-Siapin makan malam (dan buat makan siang besok)
-Pacaran, berantem, diskusi, dengan suami
-Baca buku, tidur

...tau-tau sudah hampir subuh lagi. 
Yang kutulis diatas adalah jadwal idealnya. kadang-kadang  ada yg di skip . Jika sedang malas, kegiatan memasak diganti membeli makanan matang saja. Atau saat tidak sempat  mengantar-jemput anak2 , aku membayar tukang ojeg langganan untuk mewakili mengerjakan tugas tersebut. .
Begitupun jika ada kegiatan lain yang membutuhkan waktu seharian, biasanya aku rundingkan dengan suami sebelumnya, sehingga sebagian tugas-tugas harianku bisa digantikan oleh suami.

'Sparing' Partner-ku
Lalu apa dong tugas suamiku?
Selain sebagai pencari nafkah utama, karena suami tipe senang hal-hal detail , maka tugasnya adalah memastikan rumah rapi. Jadi menyapu, mengepel dan bersih-bersih (kecuali membersihkan kamar mandi, karena aku 'doyan" sikat-sikat sambil mandi.) adalah tugasnya. Juga karena ia bisa sabar diuyeng-uyeng A Ming (terutama) dan A Pin, maka sepulang mereka sekolah, tugas suami menemani mereka main. Tidak jarang suami mengetik email dengan A Ming nangkring dipundaknya dan A Pin bergelayut dikakinya. Namun, jika saat suami harus bekerja yang memerlukan konsentrasi penuh maka ia akan 'melarikan diri' ke coffe-shop. Saat-saat itulah saya seharian 'handle' anak-anak dan tugas domestik. Pasrah.

Begitulah pembagian tugas diantara kami. Alhamdulillah, sekian tahun berjalan dengan lancar meskipun kadang-kadang bertengkar kecil-kecilan rebutan 'free-time' terutama jika saya dan suami  sedang dikejar deadline pekerjaan pada saat bersamaan. Kalau sudah begitu, biasanya kami akan mengirimkan sigyal SOS kepada adik di Tanjung Priok (untuk jaga anak), tukang ojek (untuk antar-jemput) dan seorang Ibu tetangga kampung (untuk beberes rumah).

Saat semuanya beres, maka saya bisa tarik napas panjang dengan lega..
Hooooossss.....syaaahhhhh...
Tuesday, August 27, 2013 0 komentar

Berpetualang di KL Bersama Bayi Apin




Hari Pertama di KL.

Setelah penerbangan selama 2 jam, pesawat Malaysia Airline ,MH 710, dari Jakarta mendarat dengan mulus di KLIA. Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 13.15. WIB. Segera kumajukan jarum jam 60 menit lebih cepat, mengikuti waktu setempat. Aku tidak merasa perlu tergesa-gesa turun dari pesawat karena kali ini aku terbang ke KL berdua dengan Apin yang baru berumur 6 bulan.
Saat menapaki garbarata kunyalakan ponsel dan segera bertubi-tubi SMS masuk. 2 dari provider celular Malaysia yang menyambut kedatanganku dengan suka cita karena mulai saat itu hingga kembali ke tanah air  pulsaku akan dialihkan ke mereka, 1 SMS dari Ibu yang memintaku berhati-hati selama di Malaysia, dan 2 SMS dari suami. 2 SMS terakhir membuatku terbengong-bengong selama beberapa saat.
Kebiasaan suami adalah mengirimkan SMS pendek-pendek, malah sering kali hanya berisi 1 kata.Jadi aku bisa paham dengan isi SMS pertama ini: Ma, maaf banget ya , Papa jadi berangkat ke off-shore siang ini. Seminggu. Pemberitahuannya mendadak. Mama nginep di hotel depan kantor saja. Papa sudah booking.
SMS kedua berisi alamat hotel yang terletak di Jl. Sultan Ismail, sekitaran Medan Tuanku.

Kedatanganku di Kuala Lumpur kali ini bukan untuk pertama kali, sudah beberapa kali kutelusuri sudut-sudut kota ini baik sendirian maupun bersama suami. Namun ini adalah pengalaman pertama travelling ke luar negeri hanya berdua dengan seorang bayi 6 bulan. Sempat terpikir ingin balik badan saja. Pulang lagi ke Jakarta.Tapi saat ingat sayang uang yang sudah terlanjur dibayarkan untuk sewa hotel dan tiket  pulangpun pasti kena potongan andai dibatalkan, akhirnya kuputuskan: Yo,wis lah. Sudah kadung sampai KL. The show must go on.  

Menaiki KLIA Express aku dan Apin menuju KL Sentral , lalu dilanjut dengan naik monorel menuju Medan Tuanku lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke hotel. Sejak awal aku tidak merencanakan adanya jadwal blusukan di KL pada hari pertama karena mempertimbangkan kondisi Apin yang tentu kelelahan setelah perjalanan cukup jauh bagi bayi 6 bulan ini.

Hari Kedua.

“Pin,hari ini kita ke Batu Cave dan Genting yuk.” Apin yang sedang kususui hanya menatapku.  
“Supaya kamu ngga kepanasan, kita naik taksi saja deh. Gimana?” Apin kembali menatapku sambil berkedip-kedip. Hahaha.
Kami sengaja tidak memesan taksi dari hotel karena sudah pasti akan kena tarif taksi yang lebih mahaldan susah buat nego harga. Kami memilih menyusuri trotoar menjauh dari hotel lalu memberhentikan taksi di pinggir jalan.
Woooyy, ini bukan di Jakarta yang bisa seenaknya memberhentikan taksi di sembarang tempat.
Eh, tapi ternyata sebuah taksi berwarna  merah dibody dan putih di atapnya mau juga berhenti tuh. Supirnya keturunan India. Setelah tawar menawar yang cukup alot maka kami diangkut dengan kesepakatan RM 90 dengan trayek KL-Batu Cave-Genting .
Aca…aca…let’s go to Batu Cave!
Taksi baru berjalan 10 menit, supir berbelok masuk ke sebuah POM Bensin.
”Ibu, mobil isi gas dulu ya. Kita jalan jauh.” Kata si Sopir. Sebagian besar taksi disana rupanya  berbahan bakar gas.
“Ok” saya setuju.
Saat antrian mendekati mesin pengisi gas, sopir kembali menoleh ke saya. “Ibu, saya minta 50 ringgit. You’re my first passenger this morning. Saya belum ada uang” katanya sambil membuka dompet agar saya yakin. 
Hahaha…sopirnya bokek

Sayapun menyerahkan 50 ringgit ke tangannya yang disambut dengan senyum malu-malu.Setelah mengisi gas, taksi kembali melaju ke arah Batu Cave.  
Berwisata di Batu Cave kali ini saya memutuskan tidak menaiki tangga ke dalam gua, karena pasti nafas akan lebih ngos-ngosan saat memanjat 272 tangga sambil menggendong bayi gendut. Jadi saya hanya foto-foto dipelataran dan didepan patung raksasa yang dipersembahkan bagi Dewa Murugan. Patung yang berlapis 300 liter cat emas yang khusus diimport dari Thailand  ini, terlihat suaaanggat bling-bling bahkan dari kejauhan .
Sekitar setengah jam saja saya bernarsis-ria di Batu Cave. Karena kali ini juga bukan kunjungan pertama,maka saya tidak terlalu curious dengan isi wahana wisata ini. Kami lanjut ke Genting Highlands

Dengan alasan karena jalan-jalan sambil menggendong bayi, wahana Theme Park yang merupakan salah satu wahana utama di Genting, kali ini saya skip saja. . Tapi,saya sempat menonton pertunjukan Cabaret di Hall (nontonnya berdiri sambil ngemil) dan masuk ke Museum  Ripley’s untuk (lagi-lagi) berfoto-foto. Tujuan besar saya ke Genting sekali ini adalah karena ingin masuk kedalam Casino. Kunjungan sebelumnya bersama suami di warnai oleh omelannya : “Ngapain sih? Cari penyakit! Udah jelas-jelas dilarang.” Katanya sambil menunjuk tanda perempuan berjilbab dicoret. Alias Muslimah tidak boleh masuk. Karena tidak ada yang akan mengomeli kali ini saya mau mencoba, sekedar memuaskan rasa ingin tahu dan penasaran saya.
Sayapun mendekati petugas security yang sedang berjaga,”Pak Cik, boleh tak saya masuk ke dalam?” Saya pasang tampang sepolos wajah Apin.
You muslimah ke? Tak boleh!” Pak Satpam menggeleng keras.
“Saya dari Indonesia, jalan-jalan kesini. Sebentar saja , Pak Cik. Nak lihat-lihat” Saya coba merayu. Biasanya rayuan saya maut. 
“Saya nak lihat passport awak. Betulkah awak touris?” Buru-buru saya keluarkan paspor hijau saya dan print tiket pulang. 
“Saya hanya sepekan disini, Pak Cik”
“Okelah.Awak boleh masuk. Sekejap saje. No foto ye.”Pak Satpam menyerahkan kembali paspor dan tiket lalu menyilahkan saya masuk. 
Benarkan, rayuan saya maut.

Menuntaskan keingin-tahuan saya keliling dari satu meja ke meja lain. Dari satu permainan ke permainan lain. Memperhatikan bagaimana orang-orang tua-muda (kebanyakan encim-encim dan akoh-akoh) mempertaruhkan keberuntungan mereka disitu. Sekali-kali saya ikutan bertepuk tangan saat ada seseorang yang beruntung memenangkan pertaruhannya.

Bosan berkeliling, sayapun memutuskan keluar dari arena perjudian tersebut. Di pintu keluar saya bertemu lagi dengan Pak Satpam yang mengijinkan saya masuk. 
You kate hanya sekejap.”Katanya menegur. Saya hanya tersenyum menjawab protesnya dan melenggang santai menuju terminal Genting Express Bus untuk naik bis menuju KL Sentral.

Saya tiba di hotel pukul 8 malam. Bahu saya terasa pegal karena seharian penuh menggendong Apin. Apinpun tampak kelelahan. Malam itu ia tidur lelap sekali hingga tidak terbangun malam hari meminta ASI, seperti biasanya.

Hari Ketiga.

Hari itu saya memutuskan jalan-jalan pada sore hari saja. Pagi hingga siang kami istirahat didalam kamar hotel saja. Apin saya pinjat dan mandi berendam di air hangat hingga 2x. Merasa rileks ia tidur siang cukup lama .

Saat matahari telah condong ke barat, saya menggendong Apin keluar kamar. Tujuan kali ini ke Twin Tower, untuk berfoto-foto tentu. Naik monorel dari Medan Tuanku saya turun di Bukit Nanas. Hanya 1 perhentian. Jika tidak menggendong Apin saya biasanya memutuskan berjalan kaki saja untuk jarak sedekat ini. Toh, trotoarnya cukup lebar dan nyaman bagi pejalan kaki.

Setelah puas berfoto-foto dipelataran Twin Tower, sayapun masuk kedalam Suria Mall. Keliling di tiap lantainya. Naik turun lift. Sempat mampir sebentar kedalam salah satu toko yang menjual camera. Sekedar melihat-lihat koleksi lensa mereka sambil berharap semoga ada sale gede-gedean. Ternyata harapanku tidak terkabul selain itu harga lensa dan kameranya nyaris tidak berbeda dengan harga yang dibanderol toko kamera di Jakarta. Sayapun melangkah keluar komplek pertokoan dan perkantoran tersebut bermaksud kembali menuju hotel. Saat menyusuri trotoar setelah perempatan jalan Ampang, Jalan P. Ramlee dan Jalan Yap Kwan Seng, diantara bayang-bayang rimbun pepohonan ,saya melihat ada sebuah café terbuka.
”Pin, kita mampir kesitu ,yuk. Barangkali ada makanan enak. Kamu lapar ngga?” Apin hanya balik menatap saya sambil tertawa-tawa. Merasa diajak ngobrol.
“Oke, berarti kamu setuju,kan Pin?” sayapun melangkah mendekati salah satu bangku besi terdekat.
Dengan menu sepotong ayam kari dan nasi lemak serta secangkir es teh tarik saya sudah merasa full tank. Dan chicken corn soup buat Apin. Jalan kaki menuju hotel terasa berat disaat perut kekenyangan apalagi sambil mengendong bayi yang montok. Maka saya melambai saat ada sebuah taksi lewat.
Alamak! Sampai lambaian kelima tak ada satupun taksi yang bersedia berhenti. Maka saya pasrah saja pelan-pelan berjalan ke terminal monorail Bukit Nanas. Selanjutnya naik monorel ke Medan Tuanku dan berjalan kaki lagi ke hotel.
Tepar.

Saat mata sudah mulai terpejam malam itu, ponselku berdering. Dari suami.
”Ma, Papa sudah turun dari off-shore tadi siang. Sekarang lagi istirahat mess. Tapi besok mau ke Miri, Cuma mau meeting dengan beberapa orang sih. Kalau mau boleh nyusul.”
Wah, tawaran yang tidak akan kulewatkan. Aku belum pernah menginjakkan kaki di Miri. Apalagi , akan lebih mantap berjalan-jalan dengan suami. Bisa gantian menggendong Apin.
Akupun segera searching tiket Kuala Lumpur – Miri untuk esok hari. Alhamdulillah, dapat.
Malam itupun kami berkemas-kemas dan membatalkan sisa pesanan kamar yang 3 hari 
Hari Keempat.


Jam 6 pagi saya dan Apin sudah duduk manis di KLIA Express. Apin saya biarkan duduk dibangku sendiri. Karena kadang-kadang iapun capek digendong terus menerus.
Jam 10 tepat pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 2564 sudah mulai bergerak perlahan-lahan siap mengangkasa meninggalkan Kuala Lumpur.

Goodbye KL, Hello Miri…






















Sunday, August 25, 2013 0 komentar

Relasi Dalam Bisnis Online



Faktor ini sangat penting. Jika anda tidak memiliki relasi dalam bisnis online Anda, Anda tentu tidak akan memiliki target efektif yang bisa dijadikan calon konsumen. Bahkan jika anda hendak berjualan di jejaring sosial, tanpa adanya relasi, bisa dipastikan tidak ada yang akan mengunjungi laman anda.

Untuk itu relasi adalah salah satu syarat mutlak dalam bisnis online. Manfaatkanlah jejaring sosial seperti twitter dan facebook dalam menjalin relasi dengan calon pelanggan anda. DI Twitter dan Facebook terdapat ribuan akun grup yang bisa anda ikuti berdasarkan minat dan bidang usaha anada. Agar anda dikenal,aktiflah dalam grup tersebut dengan mempostingkan tulisan-tulisan yang dapat memberikan manfaat bagi para anggota grup. Jangan hanya memposting iklan melulu. Karena hal tersebut akan cepat membosankan anggota lainnya. Kecuali jika grup tersebut memang grup khusus iklan.
Monday, August 19, 2013 0 komentar

Nastar Safira : Sebuah Bisnis Dari "Rasan-rasan"

Kali ini saya mau berbagi kisah bisnis baru saya yang saya mulai saat Ramadhan kemarin.
Bermula dari "rasan-rasan" saya dengan kakak yang berteman dengan bagian pembelian di sebuah BUMN . Kakak saya bercerita bahwa teman itu setiap menjelang lebaran selalu membeli ratusan stoples kue kering untuk hadiah lebaran bagi dhuafa sebagai bagian CSR mereka. Saya bilang ke Kakak : "Saya juga bisa bikin kue kering. Beli ke saya aja deh". Kakak langsung menelpon temannya dan sang teman meminta besok saya membawa sample ke kantornya.

Waduh. Jelas saya tidak siap. Saat itu'kan saya asbun saja.

Tapi tidak kehilangan akal saya dan adik segera ke pasar Mayestik untuk membeli beberapa stoples kue kering sebagai sample dan menyerahkan ke teman Kakak. Untuk meyakinkan beliau bahwa bisnis saya serius,saya segera membuat Fanspage di FB, Twitter dan website dan memberi merk Nastar Safira untuk dagangan saya ini.

Sayangnya sample yang saya kasih "over of spec" buat mereka. Saya kasih kue yang harga diatas 50.000 sedangkan budget mereka separuhnya. Saya tersingkir.

Namun, karena sudah kadung maka saya jalan terus. Alhamdulillah berkat rekomendasi teman-teman dan promosi yang gencar orderan masuk terus dan saya harus merekrut hingga 10 tenaga bala-bantuan.


Masalah lain muncul yaitu permodalan. Karena biarpun saya memakai sistem pre-order, tapi kan agar harga jual lebih ekonomis saya harus membeli bahan baku grosiran. Gak mungkin ada yang pesan nastar stoples, saya baru beli telur sekilo, mentega setengah kilo dlll secara "ketengan". Alhamdulillah, setelah pasang status di FB,ada teman yg kebetulan punya dana nganggur menawarkan untuk profit sharing.

Alhamdulillah (lagi), bisnis dadakan ini dalam 1 bulan beromset tidak kurang dari 25 juta.Dan produk kami juga sudah pernah di liput oleh televisi loh . 


Lalu setelah lebaran apakah bisnis ini akan berhenti? Insya Allah tidak. Kami hanya perlu merumuskan pola pemasaran baru yang berbeda tentu dari pola saat menjelang lebaran kemarin.

Oya, ini foto beberapa produk Nastar Safira :








Sunday, August 18, 2013 1 komentar

Sate Padang, oh, Sate Padang


Tahu sate padang’kan? Itu loh irisan daging  , lidah dan jeroan sapi yang direbus dengan bumbu, setelah masak di potong-potong dan ditusuk dengan batangan lidi, kemudian dibakar lagi. Sekedar untuk menghangatkan . Lalu sate tersebut dihidangkan dengan lumuran saus kacang, taburan bawang goreng dan di temani sebungkus kerupuk kulit.  Biar makin jelas nih saya kasih gambarnya.

Melihat penampilan sate padang seperti itu, saya tidak memasukkannya ke dalam daftar makanan favorit saya. Malah bisa dikatakan saya anti sate padang.  Dalam pandangan mata saya bumbu sate padang itu terlihat aneh. Kenthel, kuning, lengket.  Seperti pup bayi.
Yeakh.!
Saya langsung bergidik.
Saya memilih menahan lapar jika satu-satunya menu yang tersedia adalah sate padang. Dibanding harus menyuapkan sesendok demi sesendok “pup bayi” itu ke dalam perut saya.
Yeakh!
Tapi, itu pendapat lama saya,  sebelum saya mengenal sate Mak Syukur . (Uppss, menyebutkan merk. Tapi gak apa-apa deh, Toh, Sate Mak Syukur sudah melegenda)

Kegandrungan  pada sate padang dimulai saat saya baru saja melewati fase morning sickness pada kehamilan kedua. Setelah lepas dari “bulan-bulan mual-muntah”, nafsu makan saya jadi gila-gilaan. Sehari saya bisa makan 6 kali makanan berat ditambah beberapa kali ‘ngemil.  Saat-saat itu sepertinya saya tidak berhenti mengunyah. Gembul sekali.

Suatu hari,  saya kembali mengunjungi mall dekat rumah (kunjungan yang kedua-juta sekian, saking seringnya kami kesana) dan kebetulan sedang ada pembukaan cabang Sate Mak Syukur.  Pertama yang menggoda saya adalah diskon Grand Launching-nya yang  50 %.
“Pa, tuh, Mak Syukur diskon 50%” Saya menjawil suami. “Kesana yuk.”
“Yakin?” Suami paham betul kalau saya anti sate padang. Sebelumnya ia telah beberapa kali gagal memprovokatori saya mencicipi sate padang.
“Papa aja yang makan. Saya temani saja”
Wah, suami menyambut tawaran saya dengan suka cita. Karena ia termasuk penikmat makanan satu ini. Hanya karena istrinya tidak suka, maka dengan berbesar hati ia mengesampingkan menu tersebut saat makan bersama saya .  

Melihat suami menyantap potongan-potongan daging sate dengan lahap, saya jadi tergoda juga. Lalu saya mencicipi sepotong kerupuk kulit yang berbumbu.
Wah, enak ya ternyata. 
Kemudian sekerat daging.
Tidak terasa saya menghabiskan satu porsi sate. Sendirian.
Dan sejak saat itu, yang tadinya antipati menjadi cinta.
Kebelakangan, saya sering ngangeni sate padang. Akibatnya saya tidak segan-segan menyediakan waktu khusus untuk berburu kuliner yang satu ini. Namun, setelah mencoba sate padang ke beberapa tempat. Sate padang Mak Syukur masih yang paling terenak buat saya

Namun, sejak dua hari lalu saya mesti menggeser status sate padang dari yang “Disukai” menjadi “Diwaspadai”. Ceritanya, hari itu seharian saya berkutat dengan kesibukan urusan rumah tangga dan pekerjaan, tidak terasa jam menunjukkan pukul 3 sore. Saya merasa lapar karena belum sarapan sejak pagi dan makan siang. Kebetulan sore itu saya berjanji mengajak anak-anak menonton film Smurf 3 di bioskop. “Makan sate padang di mal aja sekalian deh sebelum nonton. “ Begitu pikir saya.

Kamipun berangkat ke mal (lagi-lagi-dan lagi. hehe), setelah memesan tiket bioskop kami segera ke gerai sate Mak Syukur. 1 porsi sate plus 2 gelas es teh manispun lenyap ke dalam perut saya. Dengan perasaan puas karena telah kenyang sayapun menemani anak-anak menonton.Tetapi, ditengah film ditayangkan, perut saya bergejolak. Sayapun segera terbang ke toilet. Astaga. 
“Mama’kan dari dulu sudah tahu. Kalau sudah telat makan begitu jangan makan bersantan, berbumbu kacang dan pedas. Akibatnya sekarang diare.” Tegur suami melihat saya  sepulang dari bioskop hingga pukul 3 dini hari bolak-balik ke kamar mandi.
“Mulai sekarang, kalau sudah telat makan jangan makan sate padang. Diingat-ingat,Ma”
“Oke deh, Kakak” Saya manggut-manggut. Geli dengan gaya galaknya suami
“Jangan meledek. Saya serius nih. Atau mau di blacklist aja tuh sate padang? Dulu juga ngga suka’kan?”
Noooo !!!!
Baiklah. Baiklah. 
Daripada sate padang di blacklist saya akan mengikuti komando Bos Gede aja deh.
Toh, buat kebaikan saya juga. 


Gambar dari 1.bp.blogspot
Monday, July 22, 2013 0 komentar

Firasat




Prang!
Botol pelembabku jatuh dan pecah berkeping-keping. Aku tertegun segenak. Bodohnya aku. Padahal dua detik sebelumnya alam bawah sadarku sudah memberi isyarat

Kemarin sore aku membeli beberapa plastic container untuk merapikan barang-barang printilan kami yang rasanya semakin lama semakin banyak. Aku bermaksud menggunakan salah satu kotak tersebut sebagai tempat ‘parkir’ botol-botol kosmetikku. Parfum, pelembab, alas bedak, susu pembersih, penyegar dan teman-temannya selama ini bertumpang tindih dalam laci lemari pakaian. Berantakan.

Semalam kulaksanakan niat itu. Pertama tentu mencari lokasi yang cocok untuk meletakkan kotak kosmetik tersebut (sekarang container merah yang terpilih kusebut begitu). Karena mempertimbangkan tinggiku yang “ secukupnya saja”, maka rak kedua adalah posisi yang paling cocok. Aku mengosongkan rak dan memindahkan barang-barang diatasnya ke lemari lain. Kemudian meletak kotak kosmetik disitu  dan menata segala macam botol berisi cairan atau krim untuk wajah dan tubuh ke dalamnya. Saat mengambil botol pelembab di tangan kiri dan botol susu pembersih di tangan kanan, tiba-tiba otakku melepaskan sinyal  : botol di tangan kiri akan terpeleset , jatuh dan pecah.

Sejenak aku mempertimbangkan untuk menaruh kembali  botol tersebut, tapi karena merasa ‘tanggung’ sudah memegang maka kulanjutkan gerakanku memindahkannya. Dan benar saja, botol itu terasa licin ,dan meluncur bebas dari genggamanku lalu menghantam lantai. Pecah berderai. Duh!

Selintas prediksi yang kemudian menjadi kenyataan seperti ini sebetulnya sering kualami. Kupikir  inilah yang disebut firasat .  Sebuah alarm yang akan berbunyi jika akan ada kejadian yang tidak mengenakkan (aku tidak ingin menyebut sebagai kejadian buruk)  akan terjadi. 
Alarm ini pernah berbunyi saat aku akan jatuh dari motor,  atau ketika anak ketigaku , Jasmine, akan  tertimpa etalase yang jatuh . 

Dan yang firasat terburuk  yang pernah terjadi padaku  adalah saat  akan terjadi sebuah tragedi yang hingga kini meninggalkan luka tak terobati di hatiku. Detail peristiwa kejadian itu begitu melekat, bahkan setelah 2 dasa warsa terlewati.  Pagi itu aku memutuskan ikut dengan salah seorang paman yang ingin menjenguk Bapak di RSPP. Padahal sehari sebelumnya aku baru pulang dari RS saat hampir tengah malam. Aku merasa hari itu aku harus datang karena akan menjadi pertemuan terakhir dengan Bapak.  Dan benar saja. Pukul 10, di suatu hari Jum’at 24 tahun lalu, Bapak terbangun  setelah semalaman koma pasca operasi. Ia menitipkan pesan-pesan kepada Ibu dan kami anak-anaknya,  sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.   
Sunday, July 14, 2013 7 komentar

Bayaran Mengaji 5 Juta Seminggu.



Minggu lalu, salah satu karyawati saya izin tidak masuk kerja selama beberapa hari karena ibu mertuanya meninggal dunia.  Saat ia masuk kerja kembali terlihat raut wajahnya sangat keruh.
“Rohimah, turut berduka cita ya . Kamu kayaknya sedih banget mertuamu meninggal. “ Saya menyalaminya.
“Iya, Bu . Mertua saya orang baik “
Lalu mengalirlah cerita kenangannya mengenai  hubungan mertua-menantu. Namun, cerita berikutnya membuat saya heran karena baru kali ini saya mengetahuinya.
“Dirumah masih ramai terus sampai hari ketujuh, Bu.  Jadi pulang kerja nanti saya harus memasak untuk bikin ta’jil dan makan malam yang pada ‘ngaji”
Oh, bukannya dapat sumbangan makanan dari tetangga , Mah?” begitu kebiasaan di komplek perumahan  kami. Jika ada tetangga terkena musibah kematian anggota keluarganya, ibu-ibu akan berkumpul di salah satu rumah warga lain untuk memasak bagi keluarga tersebut dan para penta’jiah.
“Cuma hari pertama doang. Selanjutnya ,yah, memasak sendiri. Paling dibantuin tenaga tukang memasaknya."
 “Makanya, Bu.  Suami saya keluar uang banyak nih. Belum lagi bayar  Tukang ‘Ngajinya. 5 Juta.”  Lanjutnya.
“Loh, koq bayar sih?” Saya terheran-heran.
Rupanya kebiasaan di kampung tersebut saat tertimpa musibah kematian adalah anggota keluarga akan mengadakan pengajian di rumah duka selama 3, 7 atau 40 hari. Tergantung kemampuan ekonomi dan tingkat sosial mereka. Mereka akan mengundang tetangga untuk bersama-sama membaca Al Qur’an (terutama surah Yasiin). Pengajian tersebut berlangsung ba’da Maghrib hingga menjelang Isha.  Selesai pengajian , saat akan pulang para penta’jiah akan dibekali  “nasi berkat” yang berisi nasi dan lauknya. Bahkan sering ditambah kue-kue kecil.
Pengajian yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam tersebut rupanya kurang memuaskan bagi sebagian orang. Mereka ingin diadakan pengajian lanjutan.. Disinilah para “Tukang Ngaji” (begitu sebutan mereka) bertugas. Mereka akan melanjutkan pengajian tersebut sejak ba’da Isha hingga pukul 10  atau hingga pukul 12 malam. Tergantung keinginan tuan rumah. 
Tidak heran mereka disebut “Tukang ‘Ngaji” karena mereka mendapat bayaran uang dalam melakukan tugas tersebut. Menurut Rohimah, keluarga membayar 5 juta rupiah untuk 5 orang Tukang ‘Ngaji dengan “jam kerja” sejak ba’da Isha hingga pukul 10 malam. Tentu saja makin banyak anggota tim pengajian tersebut dan makin lama waktu mereka mengaji  maka tarif nya makin mahal.
“Bisa 10 juta, Bu” Kata Rohimah. 
“Lah, anak mertuamu berapa orang ,Mah?” Tanya saya
“8 orang, Bu. Perempuan 5 , Lelaki 3”
“Kenapa ‘gak anak-anaknya aja yang ‘ngaji.? Pahalanya Insyaa Allah sampai ke mertuamu. Lagian, kan lumayan uang 5 juta. Bisa dipakai  buat bayarin hutang-hutang, kalau ada. Mungkin ada hutang kredit sandal yang belum dibayar. “
“Iya yah, Bu. Tapi, bagaimana lagi, anak-anaknya gak lancar ‘ngajinya.” Tukasnya.

Saya jadi termanggu.
Oh, itu alasan sebenarnya.
Saat ada anggota keluarga meninggal , terutama orang tua, keluarga tersebut tentu ingin mendo’akan dan mengirim pahala kepada yang meninggal. Namun, jika pengetahuan agama keluarga yang ditinggalkan minim, termasuk tidak bisa mengaji, mereka berpikir praktisnya saja. Membayar orang untuk melakukan hal tersebut bagi mereka.
Apakah sampai atau tidak pahala perbuatan mereka, wallahu’alam.

Yang jelas, semakin membaja tekad saya untuk mengajari anak-anak saya tentang pengetahuan agama termasuk mempelajari ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhana wata’ala.   Harapan saya mereka menjadi anak-anak shalihah (4 anak saya semua perempuan) yang bisa mengirimkan do’a-do’a saat kami orang tuanya meninggal kelak.

Aamiinn...


Saturday, June 29, 2013 2 komentar

Sekarang, Pembeli Lebih Pemalas






Coba kita perhatikan toko- toko diberbagai mall, betapa sering kita lihat toko-toko tersebut hanya berisi SPG/SPB, nyaris tanpa pembeli. Keramaian di mall biasanya berpusat di foodcourt, bioskop atau tempat hiburan lainnya. Kini, mall sudah mulai bergeser fungsi dominannya, yaitu sebagai sarana rekreasi keluarga.

Dengan alasan kepraktisan dan waktu yang  dihabiskan dijalan bisa berjam-jam saat ingin mencapai pusat pertokoan, maka pembeli mulai melirik ke toko  online . Pembeli dapat  mencari barang yang dibutuhkan dari ponsel, tablet atau komputer mereka. Lalu, dengan beberapa kali “klik” barang yang diinginkan akan diantar ke rumah. Dimana saja-kapan saja.
Kecenderungan ini disambut baik oleh pebisnis dengan bermunculan usaha yang dipasarkan secara online. Baik dalam bentuk iklan baris online, katalog online  maupun toko online.

Cara penjual online  melayani calon pembeli tentu berbeda dengan penjual “offline”. Ditoko, calon pembeli bisa menyentuh, merasakan dan bahkan mencoba produk yang diinginkan. Sedangkan di toko online pembeli mengetahui ciri-ciri produk hanya berdasarkan foto dan detail yang diberikan (jika ada). Padahal, saat mereka tertarik terhadap suatu produk, mereka ingin mendapatkan informasi sedetail-detailnya. Maka pembeli akan merasa senang jika mereka berkesempatan bertanya sebanyak-banyaknya kepada penjual agar kian yakin produk yang akan dibeli sesuai harapan.

Berikut ini contoh percakapan via Whatsapp antara calon pembeli dan penjual toko online:
C (Customer): "Hallo Sis, aku tertarik ama dres model A1234, itu bahannya apa ya?
S (Seller): "Itu semi sutra, sis"
C : Warnanya apa aja sis yang ready stock?
S :  Ada merah, ungu, biru.
C : Ukuran L ada ngga? Ukuran L tuh panjang bajunya berapa?
S : L ada, panjang bajunya 130 cm.
C : Oh. Ok. Kalau model B5678, itu bahannya apa sis?
S :  (mulai kesal) Sis, detailnya lihat aja di website..
C : oh, web nya apa ya? Soalnya Aku ngeliat  fotonya t di Wall FB temenku.
S : webnya www..jualbajumacem_macem.com lihat aja detailnya disitu.
C : Oh Ok.

Lalu, percakapan berhenti disitu. Dan penjualan pun tidak closing order. 'C" malas me-klik alamat website yg diberikan, karena saat itu ia online dengan ponsel sehingga merasa kurang nyaman membuka tampilan sebuah website.
Sedangkan "S" juga keberatan meladeni pertanyaan bertubi-tubi dari "C" dengan alasan: “Ah, nanya panjang-panjang, iya kalau jadi ‘ngorder. padahal sudah chatting setengah jam. Semua data lengkap mengenai produk sudah ada di website,koq.”
“Lagian, kerjaanku banyak, belum foto produk, upload fotonya ke website, optimasi. Ditambah lagi kerjaan mengurus rumah dan anak” sambung Penjual.

Apakah Pembeli mau tahu alasan keengganan Penjual menjawab pertanyaan-pertanyaanya? Tentu tidak. Mereka hanya mau  pertanyaannya harus dijawab segera. Apalagi jika 'diminta' mengeluarkan energi tambahan untuk browsing ke website kita, jawabannya pasti : ih, males banget. Udah deh cari penjual lain yang mau aku 'cerewetin' Lalu, apakah jika pertanyaannya sudah terjawab tuntas juga ia pasti closing order? Yah, belum tentu juga. Tapi setidaknya ia sudah punya image baik tentang penjual ini.
Bagaimana jika ia sebenarnya kompetitor yang hanya ingin ‘cek harga’? Biar saja. Yang jelas kewajiban anda adalah menjawab  dan membuat penanya puas dengan jawaban anda. Kalau ia benar kompetitor anda, setidaknya ia merasa punya saingan yang bagus. Dan kompetitor tersebut akan memperhitungkan kehadiran toko anda dalam strategi bisnisnya.

Sediakanlah saluran komunikasi sebanyak-banyaknya bagi (Calon)Pembeli anda. Terutama saluran komunikasi yang gratisan : YM, BBM, FB Messanger, Twitter, Whatsapp, Line, CacaoTalk. Dsb..dll. Dengan demikian anda bisa menjaring sebanyak mungkin “buying signal” yang dilepas mereka.



====
Sudah pernah mencoba NASTAR Unik dengan karakter animasi? Dijamin rasanya enak, renyah dan halal
Yuk, beli di NastarSafira
YM : Status YM
Whatsapp : 08170044530 
=========

 *Sumber gambar :customerconnect

Monday, June 17, 2013 2 komentar

Di Tangerang, Dilarang Menolak Pemberian Permen Tetangga


11 tahun lalu suami memboyong kami bermigrasi ke Tangerang dari Rawamangun. Sebenarnya saat itu, ingin rasanya menolak ajakan pindah dan  tetap bertahan di rumah orang tua.  Saya memilih tinggal di rumah orang tua karena banyak gratisan dan tersedia bala bantuan  terutama setelah saya melahirkan ( :D) .Keengganan pindah ke Tangerang karena dalam bayangan saya : hadeuh, Tangerang ‘kan banyak pabrik, polusi, jalanan sempit dengan truk-truk kontainer? Apa nyaman tinggal dengan suasana seperti itu? Bayangan tersebut didapat dari hasil pengamatan selama saya beberapa kali (puluhan atau ratusan kali deh) mengantar atau menjemput Suami dari dan ke kantornya di Curug -Tangerang
Namun Suami menyanggah,” Enggak koq, perumahannya enak (enak? Rasa stroberi atau duren?). Deket pinggir tol.”
Hah, pinggir tol? Polusi dong. Tapi,sudahlah. Namanya istri, dibawa suami kemana saja yah harus mengikuti.
Alhamdulillah, ternyata janji Suami tidak meleset. Meskipun berada di pinggir tol Jakarta- Merak suasana perumahan kami cukup nyaman. Karena banyak pohon udara terasa bersih. Suasananya pada pagi hari sering membuat saya mengira sedang berlibur di Puncak. Hanya bedanya, kalau di Puncak kami tidak akan sering kaget -hingga rasanya terpelanting- saat mendengar dentuman ban meletus dari sebuah truk besar yang sedang nahas. Hal lain yang “asik” dari komplek perumahan ini adalah kami masih bisa berinteraksi dengan tukang sayur, tukang bakso dan penduduk kampung sebelah komplek.
Akrabnya interaksi kami dengan beberapa orang kampung (itu sebutan mereka sendiri loh untuk membedakan  dengan “orang komplek”) menyebabkan saya mudah memperoleh personel jika  butuh tenaga bantuan. Membersihkan rumput halaman, cuci-setrika ,antar jemput ke pasar bahkan tenaga kerja musiman saat produksi usaha kami meningkat . Kamipun sering mendapat undangan acara pernikahan atau sunatan dari mereka.
Suatu hari saya di tegur salah seorang dari mereka ” Bu Agus, koq kemarin ‘gak kondangan? Mila’kan nikah, Bu”
“Mila mana?” tanya saya sambil berpikir keras. Karena nama Mila ada beberapa orang. Karmila, Sarmila, Milana.
“Mila, anaknya Abah Atep”
“Oh. Gak ‘ngundang sih.” Alasan saya ” Kalau gitu saya “titip” angpau aja deh. Bilangin ke Abah, saya minta maaf gitu yah. Gak tau kalo beliau ‘ngundang”. Lalu saya buru-buru mengambil amplop merah dan mengisinya dengan selembar uang. Selama tinggal di Tangerang kami  selalu punya persediaan amplop yang disebuta angpau ini karena saking sering kondangan, terutama di bulan-bulan tertentu.
Masa’ dari sini gak kedengeran suara petasannya? Ya udah nanti saya sampein deh amplopnya.”
Saya cerita obrolan tadi ke khadimat yang sedang mencuci, dia menjelaskan,
“Iya, Bu. Petasan Cabe rawit dipasang kalau ada nikahan. Siapa aja yang ‘ngedenger suaranya artinya diundang datang. “
Weleh!
Cerita undangan unik lain terjadi pada Jum’at kemarin. Saat menuju pangkalan ojeg, saya dicegat oleh seorang Ibu.
“Bu Agus, saya mau ‘ngundang. Sabtu besok anak saya -si Malik- mau sunatan. Datang yah.” Kata Mamak si Malik sambil mengulurkan bungkusan plastik berisi 5 buah permen. Karena sudah beberapa hari saya batuk lumayan parah bahkan hingga suara sempat menghilang, uluran permen tersebut saya tolak.
Insyaa Allah, saya datang Bu. Terima kasih permennya tapi saya sedang batuk.” Kata saya sambil memegang leher (agar mendramatisir..hehehe)
“Kalo begitu, Ibu Agus mau blao aja?” Mamak si Malik mengulurkan sebungkus pewarna biru untuk pakaian.
Hah! Barang antik nih, pikir saya. Tapi buat apa, saya tidak pernah lagi memakai benda seperti itu. Sayapun kembali menggeleng. Mamak si Malik-pun berlalu dari hadapan saya dengan muka bertekuk. Tidak seramah saat baru bertemu tadi.
Karena bingung mengapa Mamak Malik tiba-tiba menjadi  "jutek’ ,  sayapun menceritakan pertemuan dan percakapan kami tadi dengan khadimat  yang penduduk kampung secara turun temurun.
“Yaiyalah Bu. Pantesan aja Mamak Malik marah. Itu artinya Ibu menolak undangan dia.”
Loh koq? Kan tadi saya bilang InsyaAllah datang ke acaranya.
“Iya,Bu. Kebiasaan disini kalau dikasih permen atau blao ama orang yang mau pesta sunatan, artinya kita diundang dan kudu dateng”
Oalah!!! Meneketehe.Hehehe….
Kesimpulan, diberi apapun oleh tetangga  tidak boleh nolak. Meskipun jika tidak akan kita makan atau  pakai pemberiannya tersebut, agar tidak mengecewakan si pemberi yang sudah berniat baik.

Sumber gambar: kurakuraninja
 
;