Kalimat Talbiyah Mengantarkanku Ke UGD

by - Saturday, March 30, 2013




Sebagai seorang muslimah siapa sih yang tidak ingin menjalankan rukun Islam yang ke lima, yaitu pergi haji ke Baitullah? “Sayapun iingiiiiiiin sekali” begitu jawab saya setiap ditanya oleh ustadz. Namun, keinginan –yang iingiiiiiiin sekali itu- tidak benar-benar saya jadikan sebagai salah satu kebutuhan ruhaniah yang harus segera dipenuhi.
”Ah, belum ada panggilan. Nanti saja kalau sudah ada rezeki lebih” Begitu saya selalu beralasan.
Betapa sesungguhnya saya pernah dianugerahi oleh Allah rezeki yang berlebih, Buktinya bisa membeli rumah, mobil, motor, menyekolahkan anak di sekolah yang lumayan mahal SPP perbulannya. Namun, menabung beberapa ratus ribu setiap bulan untuk ONH rasanya berat sekali. Saya punya tabungan haji, namun saldonya masih sama dengan saldo saat awal buka rekening tabungan tersebut, tidak tambah-tambah.
Sebagai seorang wirausaha kecil-kecilan, kadang-kadang order yang kami terima banyak, kadang-kadang sepi order sehingga penghasilan berkurang. Seperti halnya yang terjadi pada tahun lalu dimana pemasukan sangat sedikit, maka semakin jauhlah keinginan ke Baitullah ,malah kami sibuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Disuatu siang yang lumayan terik, saya menghadiri pengajian, karena sedang bulan haji maka tema yang diangkat oleh Ustadz adalah tentang Ibadah Umrah dan Haji . Entah mengapa sepanjang penyampaian ceramah saya merasakan hati saya sedih sekali –mengingat betapa saya lalai dalam melaksanakan ibadah yang satu ini. Padahal Allah sudah pernah memberikan kami rezeki yang lebih dari cukup untuk membayar biaya umrah atau haji. Namun, godaan materi membuat kami lebih memprioritaskan membeli benda ini – itu demi gengsi. 

Puncak kesedihan saya adalah ketika sebelum menutup ceramah, Pak Ustadz mengajak para jamaah melantunkan kalimat talbiyah bersama-sama. Saat itu, kesedihan saya memuncak. Jantung serasa dicabik-cabik. Lubuk hati merasakan betapa keimanan saya demikian rendah dan lemah. Sedangkan keagungan ALLAH tiada duanya. Saya lah yang memerlukan Allah, tapi mengapa saya tidak mau memenuhi kewajiban saya? Saya takut. Teramat takut.

Ketakutan yang terasa demikian dasyat membuat saya menggigil. Jantung saya tidak kuat menanggungnya. Nafas saya sesak. Dan sayapun jatuh pingsan.
Terbangun saya sudah berada di UGD sebuah rumah sakit dengan diantar oleh beberapa jemaah pengajian. Sejak itu saya bertekad, saya harus segera menginjak kaki di Masjidil Haram. Jika berhaji harus menunggu bertahun-tahun,saya akan berumroh. Meskipun saat itu kondisi bisnis sedang sepi, uang ditabungan sangat minim, saya sangat yakin Allah akan memudahkan niat saya ini.
Sayapun tidak hentinya berdzikir, beristighfar dan bershalawat disetiap waktu (kecuali di toilet tentunya). Saat memasak,sambil mengasuh anak, sambil berkendara. Tentu juga Qiyamul lail dan Dhuha.

Alhamdulillah, Qadar Allah, 3 bulan kemudian saya dan suami bisa bersujud di depan ka’bah selama nyaris 1 bulan , ditambah shalat arba’in di Mesjid Nabawi. Dan kamipun bertekad -Insha Allah,Semoga Allah menghendaki dan memudahkan- kami akan kembali kesana minimal setahun sekali. Untuk mereguk kenikmatan beribadah di Baitullah, yang tidak bisa ditandingi dengan perasaan kebanggaan membeli sebuah rumah baru. 

Tidak percaya? Silakan Bapak dan Ibu buktikan sendiri.
Saya do’akan semoga terkabul dan terlaksana secepatnya . Aamiinn ya Rabbal ‘alamiiinn
*foto Koleksi Pribadi*

You May Also Like

1 komentar