Pengalaman Mengandung Janin Kembar

by - Saturday, March 30, 2013






Mengandung janin kembar berjenis kelamin perempuan ternyata memang lebih berat dibanding ketika mengandung janin tunggal  perempuan. Masih teringat dengan jelas suatu sore di bis dalam perjalanan pulang kerja saya merasa mual dan pusing. Semakin lama rasa pusing dan mual semakin tidak tertahankan, maka saya memutuskan turun dari bus , dan muntah-muntah di trotoar. Setelah muntah bukannya merasa lebih nyaman, pandangan mulai berkunang-kunang, tubuh makin lemas.

Sayapun panik. Sopir bis menurunkan saya di sekitar Jalan Sudirman  sedangkan rumah di Rawamangun. Masih sangat jauh. Kalau sampai jatuh pingsan siapa yang akan mengantar pulang?. Saya menghentikan taksi dan meminta supirnya mengantar  kerumah sakit. Rumah sakit mana saja yang tercepat dicapai.
Sopir taksi mengantarkan saya ke UGD RS. PELNI Petamburan. Entah siapa yang mengabari tidak sampai satu jam suami sudah tiba di rumah sakit tersebut .
Dari hasil pemeriksaan darah, urin dan USG dokter mengabarkan “Selamat. Ibu hamil 6 minggu dan janinnya kembar”
WHAT!!!
Sepanjang pengetahuan saya dan suami tidak ada keluarga kami yang memiliki anak kembar. Kamipun memaksa dokter untuk USG ulang. Dan –apa boleh buat , hehe- kembali terlihat ada 2 kantung bayi yang masing-masing diisi sebuah titik. Alhamdulillah. Kami hanya menanti 4 bulan sejak tanggal pernikahan dan langsung dianugerahi karunia yang luar biasa ini.

Seperti yang saya tulis diawal, mengandung janin kembar adalah tidak mudah. Benar-benar menguras tenaga dan kesabaran. Betapa morning sickness tidak hanya dirasakan pada trimester awal , melainkan sepanjang kehamilan. Mual-muntah bukan hanya dipagi hari, saya sering terbangun mendadak di malam hari untuk menguras isi perut. Berkali-kali. Tidak ada makanan yang bisa bertahan didalam perut lebih dari satu jam. Tubuhpun menjadi kurus sementara perut semakin membesar. Karena tidak mempunyai cadangan energi yang cukup saya kesulitan melakukan aktifitas yang biasa saya kerjakan sebelum hamil. Bahkan saya tidak kuat berdiri lebih dari 10 menit tanpa jatuh pingsan. Akibatnya selama hamil saya beberapa kali dirawat di rumah sakit karena kekurangan gizi dan cairan.

Kondisi tersebut membaik pada bulan ke lima. Makanan didalam perut mulai bisa bertahan beberapa jam. Sayapun “balas dendam”. Memakan segala jenis makanan, bahkan beberapa jenis sayur dan ikan yang tadinya tidak saya sukai. Ketika makanan tersebut dimuntahkan , saya segera makan lagi. Sehari bisa 5-6x makan belum lagi ngemil es krim minimal 1 liter sehari. Berat badan sayapun melambung. Menjadi 65 kg dari semula 45 kg.

Karena badan menjadi gendut, saya mudah kegerahan. Tidur malam susah nyenyak. Sayapun memilih tidur dilantai tanpa alas dibanding tidur diatas kasur. Selain itu indera penciuman menjadi luar biasa sensitif. Segala macam bebauan tidak ada yang pas dengan penciuman saya. Aroma parfum bikin pusing, Asap nasi bikin mual. Keset basah bikin pening. Bahkan parfum suami saya buang ke tempat sampah, padahal saya yang membelikannya sebelum hamil.

Selain sensitif terhadap bebauan, saya juga sensitif terhadap kehadiran makhluk lain. Sensitifitas ini yang bikin saya senewen. Misalnya saat sedang menunggu bis di halte saya mendengar anak kecil menangis keras, padahal tak ada seorang bocahpun di halte tersebut. Atau saat sedang berjalan di trotoar dekat rumah untuk membeli panganan ke warung, tiba-tiba jilbab saya di tarik sesuatu hingga saya nyaris terjatuh, padahal jilbab saya tidak tersangkut benda apapun. Dan masih ada beberapa kejadian sejenis.

Sebelum kehamilan memasuki bulan ke delapan, hari Senin 12 Agustus 2002, ketika bersiap berangkat ke kantor, ketuban saya pecah. Dan hari Selasa 13 Agustus 2002 kedua bayi kembar kami di lahirkan melalui operasi caesar. Beratnya masing-masing 1700 gram untuk si Kakak dan 2000gram untuk si Adik. Alhamdulillah, seluruh fungsi vital mereka normal meskipun berat badan lahir rendah sehingga kedua bayi mungil tersebut harus di rawat di inkubator 2 minggu lebih lama dibanding  pemulihan pasca operasi saya yang hanya memerlukan perawatan satu minggu ,hingga dokter merasa berat badan mereka cukup ideal untuk mulai mengarungi kehidupan di dunia luar dalam bimbingan dan kasih sayang kami.

You May Also Like

2 komentar

  1. Replies
    1. Hamil memang selalu sarat dengan pengalaman aneka rupa, setiap bumil pasti punya cerita unik dan berbeda. hehehe :*

      Delete