Tuesday, April 30, 2013

Aduh, padahal bukan begitu maksudku,



Saat itu, saya sedang duduk di sebuah bangku semen memandangi bingkai kaca jendela yang didalamnya berderet-deret box bayi yang baru di lahirkan. Tidak bosan rasanya memandangi box-box inkubator berisi bayi-kembar saya yang dilahirkan prematur, ada  rasa takjub campur khawatir. Mereka  begitu kecil dan rapuh.
Tiba-tiba serombongan ibu-ibu penjenguk pasien menghampiri jendela yang sama.
“Ya, ampun, bayinya kecil-kecil amat. Kayak anak tikus. “ Tunjuk seorang Ibu ke arah box salah satu bayi saya. Sungguh, kalau tidak sedang  masa pemulihan dari operasi caesar , akan saya tonjok ia  hingga K.O.
“Mereka bayi saya, Bu. Prematur. “ Saya harap tatapan mata saya bisa membuatnya menguap. Ibu itu segera berlalu dengan menggumamkan maaf berkali-kali.
 Dilain waktu, saya ingin menyampaikan berita gembira kepada suami, namun pembicaraan melalui telepon tersebut malah berakhir dengan pertengkaran ketika suami merespon hanya dengan “ya...,ya..,.ya…”. Di telinga saya , suami bukan hanya seperti kurang antusias dengan berita tersebut, tapi juga terdengar terpaksa merespon. Cerita selanjutnya mudah ditebak.  Ketimbang membicarakan kegembiraan, kami malah lebih sibuk bertengkar.  Apakah  semata karena kesalahan suami? Pasti tidak. Ini pasti juga kesalahan saya karena bukan sekali-dua kali suami mengeluhkan hal yang sama atas perilaku saya. Pada saat ia bercerita dengan penuh semangat,  tiba-tiba berhenti mendadak hanya dikarenakan saya dianggap keliru bereaksi.  
 Namun, apa yang disebut menurut ia, ternyata tidak sama dengan apa yang disebut menurut saya. Itu sungguh bahan pertengkaran yang tak berujung pangkal. Kami masing-masing merasa baik-baik saja, tidak bermaksud seperti anggapan pihak lain. Itulah sesungguhnya pusat bahayanya. Tidak adanya kesamaan antara persepsi yang diinginkan dan ucapan yang diharapkan.
 Saya menangkap persepsi ibu penjenguk pasien : bahwa bayi saya kecil sekali, karena prematur. Saya mengharapkan ia mengucapkan sebuah kalimat simpati jika tidak sanggup mengucapkan kalimat penghiburan. Namun, saya sama sekali tidak mengharapkan kalimat penghinaan darinya.
 Percayalah, ini pasti bukan cuma menyangkut soal saya saja. Ini pasti terjadi hampir disemua  hubungan  bilateral manusia.  Perbedaan cara berkomunikasi dilatari perbedaan kebiasaan, budaya, jenis hubungan dan beberapa faktor lain. Bukankah pernah kita jumpai seorang atasan yang meminta bawahannya melakukan suatu pekerjaan dengan cara mengahardik? Atau memberikan instruksi melalui selembar kertas, padahal si pemberi instruksi maupun penerimanya masih bisa saling bicara.  Bagi mereka  mungkin sudah jamak sikap tersebut, padahal saya merasa tidak semestinya begitu.
Jadi, seni bicara dan seni mendengar harus selaras dengan pemahaman akan latar belakang lawan berbicara . Kemampuan  tersebut perlu selalu kita tingkatkan terus menerus dengan semakin bertambahnya usia, semakin luasnya relasi dan semakin banyak pengalaman hidup sehingga kita diharapkan semakin bijak. Semoga,  disisa  hidup ini ,  kita tidak sering-sering lagi menyesali kalimat yang terlontar dari mulut yang menyebabkan pendengarnya sakit hati.  Lalu, kita hanya bisa berucap  “Aduh, padahal bukan begitu maksudku...,”  

0 komentar:

Post a Comment

 
;