Friday, April 19, 2013

Anak Saya Kalah Lomba




Soal yang hampir tak bisa Anda hindarkan ketika menjadi orangtua adalah mendapati anak ikut lomba dan kalah. Lomba apa saja karena anak-anak memang masih ingin menjadi apa saja, tak terkecuali anak-anak saya. Tak ada kekalahan yang enak. Beberapa diantaranya malah menyakitkan. Melihat anak sakit oleh sebuah kekalahan adalah pemandangan yang bikin masygul.
Berikut ini ada beberapa cara untuk menghadapi kekalahan. Pertama, sakit bersama-sama. Si anak kecewa orang tua apalagi. Meskipun dari mulut orangtua berkata,”Tak usah kecewa. Masih ada kesempatan.” Tetapi nasihat ini tidak banyak gunanya karena kekecewaaan terdalam justru terdapat di wajah orangtua. Nasihat ini lebih untuk menghibur hati mereka sendiri ketimbang hati anaknya.
Kedua, labrak saja dewan juri dan protes bahwa penilaiannya tidak jujur. Betapa ada peraturan lomba yang tidak dijalankan dan itu merugikan peserta termasuk anak anda. Protes ini diharapkan memberi kesan bahwa kekalahan ini bukan karena anak kita tidak mampu, melainkan karena lomba yang penuh kecurangan. Di dunia politik strategi ini dikenal sebagai taktik pengalihan isu.Jika isu ini terlalu keras, maka carilah isu yang lebih lunak, misalnya, “Anak saya sakit. Ketika ikut lomba badannya sedang panas. Saking panasnya ketika saya ukur suhu tubuhnya, termometer sampai bengkok begini.”


Ketiga, Anda bisa menempuh cara yang biasa dilakukan oleh teman saya. Sepanjang anak masih mudah dikibuli, katakan saja ia selalu menjadi pemenang dalam setiap lomba yang ia ikuti. Caranya mudah, sebelum lomba usai, ajak ia pulang, belikan ia piala di pasar grosir dan tulis namanya lengkap dengan gelar juaranya.
Keempat, cara ini amat sulit tetapi saya sangat ingin mencobanya, yakni menikmati kekalahan. Melihat wajah anak yang sedang kalah adalah melihat wajah saya sendiri yang malu, sakit, marah, kecil hati dan kecewa. Merasakan derita serupa sedang menimpa anak saya adalah menyakitkan. Namun, kekalahan demi kekalahan dalam lomba yang banyak saya derita pada masa remaja ternyata adalah modal yang baik sekali bagi kekuatan saya pada hari ini, terutama kekuatan menertawai diri sendiri.
Banyak sekali perubahan dalam hidup saya ketika saya mudah tertawa, termasuk pada soal-soal yang selama ini saya anggap menyakitkan hati. Maka, jika kekalahan mendatangkan manfaat sebaik ini, betapa keliru jika saya tidak mengembangkan prasangka baik terhadap kekalahan sejak dini. Saya termasuk terlambat menyemai perilaku ini. Sehingga terlalu banyak rasanya waktu yang saya habiskan untuk sakit dihadapan kekalahan.
Saya ingin tidak cuma anak saya, tetapi juga siapa saja merasakan sensasi kekalahan ini. Berani sakit, berani malu dan berani memberikan kemenangan kepada pihak yang berhak menang adalah latihan mental yang baik sekali. Keberanian semacam itulah yang ternyata menjadi modal dalam menjadi pemenang pada kemudian hari. Tidak hanya menjadi pemenang dalam sebuah lomba tetapi juga pemenang dalam kehidupan.
”Jadi, anakku, kamu boleh kalah dalam lomba, tetapi jangan kalah dalam hidup.”    

(prie)

0 komentar:

Post a Comment

 
;