Friday, April 19, 2013

Sukses Berbisnis Karena Berbakat?




“Tapi, saya tidak berbakat bisnis” atau “ Saya tidak punya keturunan pedagang. Buyut,Kakek,Bapak saya petani” Demikian biasa yang dikatakan seseorang yang masih bimbang berbisnis. Ingin memulai tapi ragu apakah berbisnis adalah pilihan tepat baginya.

Apakah seseorang sukses berbisnis karena ia berbakat?

Rhenald Kasali berpendapat ”Untuk jadi entrepreneur sejati, yang berperan bukan hanya bakat. Seseorang terbentuk bukan hanya karena genetika, melainkan karena orang itu berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia itu menjadi sesuatu bukan by nature, melainkan by nurture,”

Bakat hanyalah sebuah opportunity. Namun opportunity yang tidak dikembangkan ,maka tidak akan menjadi sesuatu.

Seperti contoh adalah Elang Gumilang yang saat ini terkenal sebagai pengusaha properti muda. Ayah Elang yang seorang kontraktor bangunan tidak membuat Elang otomatis langsung sukses dalam bidang properti. Ia tetap harus berjuang dan berusaha keras dalam “sekolah kehidupannya’ dengan mulai sebagai perjual donat keliling, berjualan sepatu, memasok lampu ke kampusnya IPB, mendirikan kursus bahasa Inggris sebelum akhirnya memutuskan berkecimpung di usaha properti. Elang belajar bagaimana bangkit saat jatuh dan berjuang keras untuk bertahan dalam bisnisnya. 
“Butuh proses dan kesabaran untuk mendapatkan semua ini, tidak ada sesuatu yang bisa dicapai secara instan,” tegasnya. 




Begitupun, seorang anak petani ,jika terus tinggal di kampungnya maka ia akan menjadi petani karena ia bergaul di lingkungan petani. Namun saat ia harus merantau, ia bisa jadi pebisnis meskipun tidak diwarisi bakat bisnis. Sebagai perantau ia harus mandiri dan ketakutannya tidak dapat bertahan hidup justru membuatnya mencari peluang apapun yang memungkinkan menghasilkan uang.


Ketakutan tersebut membuat ia terus mengasah kepekaannya untuk mendeteksi peluang dan kesempatan yang mungkin dapat ia raih.

Menurut Rhenald Kasali, ada tiga etnis asli Indonesia yang sering  menjadi pengusaha andal, yaitu Bugis, Banjar, dan Minang. Ketiganya suku perantau. Bisa dibilang, mereka yang merantau akan lebih sukses. Paling tidak, di negeri lain mereka bisa  bikin rumah makan Padang, buka warung kelontong, atau jualan di kaki lima.  Sedangkan etnis lain yang tidak memiliki budaya merantau jarang terdengar memiliki pengusaha yang sukses  ”Biasanya, orang dari etnis ini lahir dan menetap di kota kelahirannya. Mereka enggan merantau. Kalaupun buka warung, yang beli keponakannya, adiknya, pamannya, plus boleh 'ngutang. Kalau sedang tak punya uang, ia  tinggal ambil beras di rumah tetangganya. Toh, tetangganya adalah saudaranya juga. Makan? Ke warung tetangga, yang juga saudaranya. Rasa terlalu nyaman hidup bersama saudara, membuatnya tak mandiri. Karena tak mandiri, ya, sulit jadi pengusaha sukses.” Pungkas Rhenald Kasali.




0 komentar:

Post a Comment

 
;