Tuesday, April 16, 2013

Berteman Diri Sendiri

Rinny Ermiyanti




Ponselku berbunyi. Alarm. Rupanya pengingat bahwa hari ini ada undangan yang kurencanakan untuk kuhadiri.

Rasanya malas sekali. Aku harus berangkat sendiri (suatu hal yang sudah jarang kulakukan karena biasanya selalu ditemani suami atau anak atau seorang teman), lokasi acara lumayan jauh, pada jam 5 sore  jalanan bisa dipastikan macet, dan hujan mulai turun. Lengkaplah alasan yang mendukung kemalasanku untuk tidak menghadiri undangan tersebut.

Akan tetapi, entah mengapa akhirnya aku pergi juga karena merasa tidak enak hati kepada pengundang  jika aku tidak hadir. Ada rasa malas untuk pergi, ada rasa harus pergi. Begitulah aksi tarik menarik, bahkan dalam keputusan yang  tampak remeh dalam hidup  seperti menghadiri undangan-, walau sejatinya keputusan remeh itu tidak ada. Semua keputusan walaupun tampak kecil namun memiliki implikasi yang besar pada akhirnya , walau kadang-kadang kebesarannya tidak selalu terasa karena yang disebut besar atau kecil adalah sekedar anggapan kita terhadapnya. Sesuatu kita anggap besar kalau ia nyata didepan mata, menguntungkan dan dalam jumlah banyak pula. Yang kita sebut nyata itu pun masih sebatas tertangkap panca  indera sebagai ukurannya. Yang abstrak tidak pernah kita sebut nyata. Padahal, betapa besar dukungan realitas abstrak itu bagi pertumbuhan hidup seseorang. Banyak yang bertumbuh karena mendapatkan atensi, kemungkinan, kesempatan , rekomendasi, promosi dan doa. Semua kata-kata tersebut adalah tidak nyata jika panca indera adalah ukurannya.



Begitulah, petang itu aku memutuskan benar-benar pergi menghadiri undangan tersebut. Saat berkendaraan sendirian, petang beranjak malam, ditingkahi hujan dan laju kendaraan yang tersendat-sendat karena macet aku bertemu dengan realitas yang menakjubkan.

Aku bertemu teman. Teman lama. Ia  adalah diriku sendiri.
Saat bertemu kami mengobrol. Asyik sekali. Karena begitu banyak hal yang kami obrolkan.

Ah, ternyata jarak kami yang begitu dekat tidak menyebabkan kami sering bertemu. Terlalu banyak penghalang yang kusebut URUSAN. Celakanya, seringkali urusan-urusan yang menghalangi tersebut bukanlah urusan yang  benar-benar  penting. Hanya egoku saja yang memberinya label penting.

Itulah kenapa, aku sering  lupa menyapa teman terdekat ini. Sekarang terlalu banyak diri ini dikepung berbagai hal, tidak hanya persoalan tetapi juga beraneka properti. Ponsel saja dua . Dering sana dering sini. Belum lagi gadget  yang terhubung dengan internet sehingga aku makin disibukkan menyapa rang-orang jauh. Manusia-manusia yang benar-benar kukenal, setengah kenal bahkan hanya kukenal nama dan lihat  gambar sosoknya melalu media karena  ia  menyandang jabatan Presiden.

Aku begitu sibuk dengan pribadi-pribadi disekitarku sampai melupakan pribadi terdekat. Diri sendiri.

Berkendara sendirian di petang hujan yang macet malah memnjadi ramai sekali karena saya menemukan teman lama : diri saya sendiri.

*Pri



0 komentar:

Post a Comment

 
;