Intan dan Mutiara (Bagian 1)

by - Saturday, April 06, 2013

1.  Perempuan dan Surga

Dari cerita yang aku dengar, dibeberapa negara lelaki memiliki kewajiban menjalani wajib militer,  sedangkan perempuan tidak perlu. Ketika ada peperangan maka lelaki  wajib maju berperang, sedangkan perempuan berlindung diwilayah yang aman.  Jika dibutuhkan perempuan akan menjadi perawat untuk mengobati luka atau bekerja di dapur umum menyiapkan makanan dan minuman bagi tentara.
Lelakilah yang pergi berburu. Merambah hutan-hutan dan menghadapi bahaya . Tidak jarang pemburu justru dimangsa binatang buas, tersesat dihutan atau  jatuh ke dalam jurang.  Tugas perempuanlah menghidangkan hasil buruan tersebut menjadi sumber protein bagi keluarga dalam bentuk hidangan yang lezat.
Para perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi yang memerlukan waktu belajar bertahun-tahun dan biaya yang besar untuk membayar sekolah. Mereka hanya perlu memiliki pengetahuan sekedarnya. Segala persoalan akan terselesaikan ketika menikah. Kemudian melahirkan anak-anak, membesarkan dan mengurus mereka hingga saatnya anak-anak tersebut menikah. Melanjutkan garis kehidupan yang nyaris sama dengan generasi sebelumnya.
Begitulah tradisi perempuan didusunku.
Persangkaanku dulu mudah saja menjadi seorang perempuan.
Namun kemudian kusadari ternyata garis hidupku tidak semudah bayanganku. Meskipun kehidupanku sederhana. Bahkan terlalu sederhana karena tidak ada hal menarik dalam hidupku.
Aku  dilahirkan ibuku 31 tahun lalu.  Aku diberi nama Mutiara. Ada do’a yang disematkan  oleh kedua orang tuaku dalam nama itu. Mereka berharap kehidupanku akan berkilau seperti sebutir mutiara. 
Aku  lahir dan besar di Dusun  Aruk berjarak hampir 90 KM dari  Sambas ,kota Kabupaten terdekat.  Perempuan-perempuan di desaku tidak banyak yang  memiliki kesempatan bersekolah yang lebih tinggi dari SD.  Untuk bersekolah di SMP mereka harus  ke kecamatan Sajingan Besar, 30 KM dari dusunku.  Namun karena kemiskinan orang tuaku, aku tidak memiliki kesempatan bersekolah meskipun hanya SD.  Aku tidak dapat membaca dan menulis. Aku tidak mengenal banyak hal yang disebut sebagai Ilmu Pengetahuan.  Yang kuketahui hanya membersihkan rumah, membantu Abah dan Uma di ladang. Bermain di kali  bersama teman-teman sambil menangguk ikan atau ketam. Untuk lauk makan kami nanti malam.
Ketika umurku 14 tahun, Anggah Fatmah datang.  Membawa kabar perjodohan bagiku. Calon suamiku bernama Zainal, berumur  22 tahun. Seorang buruh pemetik kelapa sawit.
“Ia  seorang lelaki yang rajin, ulet dan tangguh, Muti.”Kata Anggah Fatma.
“Tapi, aku baru 14.  Aku tidak ingin kawin cepat-cepat” tolakku.
Malam itu kuhabiskan dengan menangis. 
“Menikahlah dengan lelaki itu.” Uma membelai rambutku, mencoba menenangkan dengan kasih sayangnya.
“ Uma percaya pada penilaiang Anggah-mu. Ia adik Abah. Tidak mungkin ia menjodohkan keponakannya dengan lelaki yang tidak baik”
“Aku belum ingin menikah, Uma” Bagaimana mungkin aku menikah dengan lelaki yang tidak kukenal.  Lelaki yang belum pernah kulihat bahkan namanya pun baru kudengar  petang tadi.
Uma menghela nafas, menatapku dengan sedih.
”Bila kau tolak perjodohan ini, Uma khawatir keluarga lelaki itu merasa sakit hati.  Kau bisa dibikin  mereka menjadi perawan tua”. Ibuku menggeleng kuat-kuat.
”Aku tak mau hal itu terjadi padamu, Nak. Aku tidak bisa menanggung aib itu.” Kulihat Uma bergidik.
”Jadilah anak shalehah dengan tidak memberikan aib kepada orang tuamu. Pesan Uma sebelum meninggalkan kamarku.
Aku tergugu.
Beginilah aku. Perempuan dusun tanpa pendidikan atau kepandaian. Aku tidak bisa menentukan sendiri kapan saat yang tepat bagiku untuk menikah.  Aku tidak bisa memilih siapa suamiku, yang  dengannya akan kujalani hidup puluhan tahun kedepan.
Menjadi perempuan di dusunku berarti menjadi manusia dengan hak-hak yang tereliminasi. Para perempuan harus rela jika tersingkir dari keutamaan.  Seorang ibu yang belum melahirkan anak lelaki akan terus melahirkan hingga terlahir bayi lelaki sebagai pewaris nama keluarga. Penerus kepemilikan ladang-ladang dan kebun-kebun mereka berikutnya.
Bila sebuah keluarga menghadapi kemiskinan maka anak lelakilah yang akan mendapat kesempatan terbaik lebih dahulu, sementara anak perempuan harus menerima saat mereka dibiarkan menanggung penderitaan. Salah satu jalan untuk melepas tanggungan keluarga terhadap anak-anak perempuan adalah dengan menikahkan mereka sesegera mungkin, begitu anak-anak tersebut mendapat haid pertama.
Ustadz Hamdan guru mengajiku pernah mengutip perkataan Rasulullah “Perempuan shalehah lebih baik dari 1000 lelaki shaleh.”
Ibuku menginginkan aku menjadi anak shalehah. Perempuan shalehah.
Tapi, mengapa jalan yang ditunjukkan kepadaku untuk menjadi perempuan shalehah begitu berat? Apakah hanya kepatuhan absolut adalah satu-satunya jalan untuk menjadi perempuan shalehah? Apa yang akan terjadi padaku jika ternyata lelaki yang disodorkan untukku itu tidak dapat mengantarkan aku menuju Surga?.
Beberapa minggu kemudian beberapa orang  kerabat calon suamiku datang ke dusunku. Basasuluh, kata Abah. Mencari tahu tentang diriku.
Disusul Badatang sebulan kemudian. Lamaran, membicarakan mas kawin dan waktu pelaksanaan pernikahan.
Aku masih ingat dengan jelas, di suatu hari Kamis pada bulan Dzulhijah aku dinikahkan.  Dalam sebuah acara sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan beberapa tetangga dusunku. Tidak ada makanan berlimpah. Mas kawin yang diserahkan sebentuk cincin seberat 2 gram dan uang beberapa ratus ribu rupiah.  Keluarga calon suamiku ternyata sama miskinnya dengan kami.
Saat menyematkan mas kawin ke jari manisku, kulirik wajah lelaki yang kini telah resmi menjadi suamiku. Tergambar jelas kegamangan dalam sorot matanya. Ia tidak berani menatap mata pengantin perempuannya.
Seketika aku merasa kelu. Seakan jantungku tersayat sembilu. Ada rasa tertolak dalam diriku. Aku merasa diriku begitu kecil dan rendah. Tak berharga. Sia-sia.
Aku menjadi pengantin yang tidak dikehendaki.
Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Bukan karena begitulah seharusnya pengantin perempuan bersikap, namun karena aku menyembunyikan air mata.
Akulah pengantin yang meneteskan air mata dihari pernikahannya. Bukan karena terharu bahagia menempuh hidup baru. Namun karena aku menjadi pengantin yang terpinggirkan dihari pernikahannya.
Tiba-tiba Uma yang duduk disampingku membisikkan sesuatu. Aku harus mencium tangan suamiku. Tanda bakti seorang istri terhadap suaminya.
Saat menerima uluran tangan Zaenal,  kutatap matanya dengan selarik sinar harapan. Sinar yang sedemikian lemah sehingga akan padam dengan sehembusan angin.  Aku ragu, harapan apa yang bisa kutumpukan pada orang yang  tidak menghendakiku sebagai istrinya?
Tiba-tiba ia tersenyum. Aku terkejut membaca ketulusan dalam senyumannya. Kucium punggung tangan yang terulur  lengkap dengan senyuman tulusnya. 
Lalu kesedihanku lenyap.  Aku merasa bisa menambatkan harapan dipundak suamiku ini. 
Maka demikianlah, hari itu kami menjelma menjadi sepasang suami –istri. Kujalani pernikahan dini ini dengan iklas. Kulahirkan anak-anakku satu persatu.  Intan,  Ahmad dan Iskandar. 
Perasan keringat dan darah kami kerahkan agar bisa menjadikan anak-anakku sebagai penghantar jalan kami menuju surga kelak.


Bersambung ….

Fiksi lainnya:


You May Also Like

0 komentar