Intan dan Mutiara (Bagian 2)

by - Saturday, April 06, 2013

  1. Bakat Miskin

Kami hidup ditengah-tengah rimba yang subur .  Segala macam buah dan sayur tumbuh diladang kami. Ikanpun tersedia melimpah di sungai.  Kami tidak pernah kekurangan air jernih yang mengalir hingga sudut-sudut dusun.
Aku pernah dengar  dari radio Abah, tempat tinggalku disebut Jamrud Katulistiwa.
Namun  keindahan Jamrud Katulistiwa tersebut kini hanya menjadi dongeng pengantar tidur.  Kesejahteraan penduduk asli dusun ini menghilang saat  ribuan ton emas didulang  dari sungai-sungai. Meninggalkan cemaran merkuri yang mematikan ikan, ketam, udang dan lain-lain. 
Isi perut bumi  desa kami dikeruk habis-habisan oleh Perusahaan Pertambangan Batu Bara  dan Perusahaan Minyak.  Menyisakan ratusan lubang-lubang menganga dan cemaran minyak di hulu-hulu sungai.
Hutan-hutan yang dulu menyediakan makanan berlimpah dalam bentuk sayuran, buah dan binatang buruan kini berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.  Tanah adat kami entah bagaimana tiba-tiba dikuasai orang asing yang tidak kami kenal, karena ia berasal dari negeri antah berantah.
Sepanjang ingatanku, aku terlahir dan hidup dalam kemiskinan. Abah-Umaku miskin. Begitupun  Kai dan Nini kedua orang tuaku.  Bisa jadi Datu kamipun miskin. 
Entahlah, apakah kemiskinan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya?
Karena telah menikah maka suamiku harus pindah dari barak pekerja. Dengan sisa tabungannya, ia membeli sebidang  tanah seluas 100M2 dekat lokasi perkebunan tempatnya bekerja.  Dibangunnya sepetak rumah terdiri dari 3 kamar , ruang  tamu merangkap ruang makan, dapur  dan kamar mandi.  Meskipun tanpa perabotan yang  indah, namun inilah istanaku. Tempat dimana aku  menjadi ratunya.
Namun istana ini mengurung kami.  Kami tidak pernah melihat apa-apa selain langit, rumput dan jajaran pohon kelapa sawit. Kerabat kami adalah para buruh-buruh perusahaan dan keluarga mereka.
Untuk mencapai pasar terdekat kami harus menumpang traktor perkebunan.  Jaraknya 20KM dari rumah kami.  Sehingga selain padi dan sayur  dari ladang, kami kesulitan mendapat barang-barang kebutuhan lain seperti sabun, gula,kopi, bahkan minyak sayur.
Untuk menambah  penghasilan karena hasil upah sebagai pemetik kelapa sawit sering kali tidak mencukupi biaya hidup kami berlima. -Terutama untuk biaya sekolah anak-anak dan pengobatanku.- Suamiku juga berladang  di tanah kami yang sempit itu serta mencari pekerjaan apapun yang membutuhkan tenaga lelaki.
Namun karena nyaris semua tetangga kami adalah juga orang yang kekurangan, maka sering kali tenaga suamiku dibayar dengan beberapa ikat padi, pisang atau  seekor  ayam.
Padahal yang kami butuhkan adalah uang.
Aku tidak menyesali perkawainan ini. Aku juga tidak menyalahkan suamiku yang  ternyata ditakdirkan menjadi jodohku. Namun aku menjadi sedih ketika ternyata garis hidupku tidak memberikan pilihan lain untuk kujalani. 
Aku meyakinkan kepada diriku sendiri bahwa tidak akan kuwariskan kemiskinan ini  kepada anak-anakku dan keturunanku berikutnya. Tidak akan kutempatkan anak-anakku dijalur kemiskinan yang telah aku lalui. Cukuplah ayah dan ibu mereka yang pernah melaluinya.
Dengan segenap daya kemampuanku, akan kubuka jalur kehidupan baru yang berbeda bagi mereka. Akan kuantar anak-anakku menuju pintu itu, menuju jalur yang jauh dari segala kemiskinan yang hanya berisi penderitaan semata.
Itulah janji seorang ibu kepada anak-anaknya.


Bersambung….

Fiksi lainnya:







You May Also Like

0 komentar