Intan dan Mutiara (Bagian 3 )

by - Sunday, April 07, 2013

3.      Aku Seorang Pelajar

Namaku Intan.
Aku terlahir sebagai anak pertama dari 3 bersaudara. Adik-adikku lelaki, Ahmad dan Iskandar. Sekarang usiaku 16 tahun.  Aku bersyukur hingga saat ini  aku masih berstatus pelajar SLTA. Tidak seperti Uma yang saat seumur denganku sudah menimang seorang anak.  
Aku dan adik-adikku  bersekolah di sebuah kota kecamatan, Sajingan Besar. Kurang lebih 30 KM dari dusunku.  Kota kecil ini dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara . Penduduknya terdiri dari berbagai macam suku  seperti Madura, Jawa, Bugis, Cina dan Banjar. 
Mata pencarian penduduk adalah pedagang atau buruh perkebunan dan pertambangan. Hanya sedikit sekali yang menjadi petani. Karena nyaris semua lahan disekitar kami dikuasai perusahaan. Penduduk hanya memiliki lahan  sempit sekedar cukup mendirikan rumah dan tanah pekarangan.  Sepengetahuanku tidak ada tetanggaku yang memiliki  ladang, kebun  atau lahan persawahan yang luas.  
Orang-orang bilang tanaman kelapa sawit “rakus air”. Tanaman-taman tersebut akan menyedot habis mata air - mata air disekitarnya. Bahkan sungai-sungaipun akan surut bila terletak dekat dengan perkebunan kelapa sawit. Kecuali rumput, sangat susah tanaman lain tumbuh subur di areal sekitar perkebunan.  Tanaman sayur  dan buah (seperti jambu, nangka, belimbing dan kersen) yang Uma tanam di pekarangan kami  tumbuh kurus-kurus. Hanya karena Uma rajin menyiram dan memberi  pupuk kandang maka tanaman tersebut masih bertahan hidup.
Untuk berangkat ke sekolah kami harus berjalan kaki. Kontur tanah yang berbukit dan berlembah menyebabkan perjalanan selama 5 jam lebih itu semakin menguras energi.  Belum lagi kami harus siap menghadapi berbagai gangguan disepanjang perjalanan.
Gangguan–gangguan tersebut seringkali adalah binatang-binatang liar seperti monyet, ular, buaya rawa, babi atau anjing liar. Untuk itu kami harus selalu waspada di setiap langkah. Jangan sampai  tidak sengaja menginjak kalajengking atau ular yang sedang melata.
Gangguan lain yang lebih berbahaya adalah para perampok . Sasaran mereka sesungguhnya adalah para pedagang dari pedalaman yang membawa uang untuk kulakan ke kota. Namun kami juga sering menjadi korban mereka. Meskipun harta yang kami bawa nyaris tidak bernilai, hanya bekal bahan makanan yang tidak seberapa serta alat-alat sekolah. Mereka menjarah kami tanpa ampun. Bahkan sering kali dengan kekerasan.
Tanpa kasihan, mereka memukuli kami yang masih anak-anak. Padahal kami tidak punya potensi melawan.
Dengan seiring pertumbuhan badan kami yang mulai remaja, Uma dan Abah kini melarang kami berjalan kaki ke sekolah.  Kekhawatiran mereka terutama disebabkan sekarang aku menjelma menjadi seorang gadis. 
Kami tempuh cara lain untuk mencapai sekolah, yaitu dengan menumpang truk pengangkut kelapa sawit. Diatas bak truk kami harus mengatur posisi duduk diantara tumpukan-tumpukan sawit. Tak jarang kami duduk di atap kepala truk jika muatannya penuh.  Cara yang berbahaya, sesungguhnya. Namun kami tidak memiliki pilihan lain yang lebih baik.
Berbeda dengan perjalanan menuju sekolah dimana truk pengangkut selalu penuh terisi muatan, perjalanan pulang diakhir minggu lebih nyaman. Truk lebih sering kosong tanpa muatan.  Sehingga tidak jarang kami tertidur kelelahan dengan beralaskan terpal  di dalam bak truk.
Sesungguhnya sopir truk sering kali menawari aku  duduk didalam ruang kemudi. Aku pernah sekali menerima tawaran tersebut, kupikir aku akan nyaman duduk disitu. Namun keputusan tersebut benar-benar salah. Karena sepanjang perjalanan aku harus menghadapi rayuan dan keisengan Pak Sopir.  Aku kapok. Lebih baik duduk didalam bak diluar sana sekalipun harus terpapar  terik matahari dan debu.
Menumpang truk bukan berarti gratis. Kami harus membayar 10.000 rupiah perorang. Sesungguhnya nominal yang tidak seberapa mengingat jarak dan kondisi jalan yang rusak parah. Sopir truk harus seorang pengemudi yang handal.  Tidak jarang  truk tergelincir  atau terperosok di lubang yang cukup dalam.
Oleh karena jauhnya perjalanan, kami  dititipkan Uma dan Abah di rumah pengurus sekolah. Indekos. Kami menempati sebuah kamar  berdinding dan beralaskan papan.  Biaya perbulannya 100.000 rupiah untuk kami bertiga.
Masing-masing kami mendapat sebuah kasur lipat tipis dan sebuah kotak kayu  buatan Abah. Untuk menyimpan barang-barang kami.
Barang –barangku tidak banyak. Hanya 2 pasang  seragam sekolah yang kupakai bergantian (yang sepasang dipakai, sepasang lain dicuci), sepasang pakaian ganti untuk diperjalanan , peralatan sekolah, serta bekal bahan makanan untuk seminggu.
Setiap minggu, Uma memberikan kami  bekal  2 kg beras, 9  butir telur , 10 bungkus mie instan, beberapa ikat bayam atau kangkung serta beberapa jenis bumbu dapur seperti bawang merah , bawang putih , cabe dan garam.  
Sebelum berangkat sekolah aku memasak. Dengan tungku batu bata disamping kamar kami. Aku harus pandai mengatur menu untukku dan adik-adikku.  Mie instan untuk sarapan- setiap pagi kumasak 2 bungkus mie untuk dibagi kami bertiga. Hari Senin dan Selasa kami makan dengan lauk sayur .  Karena setelah Selasa biasanya sayur-sayur tersebut sudah  terlalu layu untuk dimasak.  Hari Rabu, Kamis dan Jum’at  menu kami  nasi dan telur ( yang kadang-kadang diganti Uma dengan ikan kalengan jika Abah mendapat upah cukup banyak). Makanan untuk hari Sabtu biasanya tergantung dari apa yang tersisa. Untuk sarapan tak jarang kami hanya makan sedikit nasi putih beserta air rebusan bawang merah dan garam. Tidak ada makan siang di hari Sabtu karena sepulang sekolah kami langsung menuju pangkalan truk.  Kami harus menahan lapar hingga tiba di rumah dan berharap Uma memasak makanan yang lezat bagi kami.  
Meskipun kami tidak kelaparan, namun jatah makanan tersebut tidak pernah benar-benar mengenyangkan kami.  Nasi dan lauk selalu sudah habis saat perut masih perlu diisi.
Antara lapar dan kenyang. 
Tak jarang Iskandar menangis meminta tambah nasi atau lauk karena jatahnya sudah habis lebih dahulu. Aku yang tidak tega mendengar rengekannya terpaksa memberikan sebagian jatahku. Akibatnya aku  harus menahan lapar lebih lama hingga waktu makan berikutnya.
Aku tidak pernah menyesali Uma yang terlalu sedikit memberi bekal kami. Karena aku tahu segala yang diberikan kepada kami adalah yang terbaik yang dimiliki Uma dan Abah.
Tidak jarang di hari  Minggu, pagi-pagi sekali Abah pergi. Entah untuk  membantu tetangga membuat sesuatu atau  menjual telur ayam peliharaan Uma  atau buah-buahan yang tumbuh di pekarangan rumah kami.
Pernah secara tidak sengaja aku lihat  sepulang dari bepergian Abah merogoh saku celananya lalu menyerahkan ke Uma. Tampaknya uang. Karena tidak lama kemudian Uma memanggil kami –ketiga anaknya- lalu memberikan uang tersebut untuk ongkos truk.
Kami menyaksikan bagaimana usaha keras Uma dan Abah menyekolahkan kami.  Abah sudah memeras keringat dan darahnya demi memberikan bekal kehidupan yang lebih baik buat kami. Bahwa apa yang dihasilkannya selama ini tidak benar-benar memadai bagi kehidupan kami, itu adalah soal lain.
Aku menyayangi dan mencintai kedua orang tuaku lebih dari apapun.  Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengecewakan mereka atas segala yang telah mereka perjuangkan. Aku belajar keras di sekolah. 
Aku bertekad akan membuat bangga Abah dan Uma

Bersambung... 
---
Fiksi lainnya:


You May Also Like

0 komentar