Friday, April 19, 2013

Intan dan Mutiara (Bagian 4.)

4.      Tas Merah Muda

Sepanjang  ingatanku, selama 11 tahun bersekolah , sejak SD hingga kelas 2 SLTA sekarang, aku hanya  memiliki 2 buah tas sekolah. Tas pertamaku dibelikan Uma saat aku  akan masuk SD. Tas ransel hitam bergambar tokoh kartun Micky Mouse. Tas keduaku terbuat dari kain flanel berwarna merah muda dengan 2 buah kantung di bagian depan dan belakang  berhiaskan bordiran bergambar bunga berwarna kuning. Tas ini kubeli saat aku duduk dibangku kelas 3 SMP.

Beberapa temanku yang cukup beruntung memiliki orang tua yang berprofesi sebagai pegawai tidak pernah perlu pusing memikirkan bagaimana caranya mengupayakan agar segala fasilitas belajarnya terpenuhi. Tiap tahun ajaran baru mereka telah siap dengan setumpuk buku-buku serta peralatan sekolah baru. Tidak jarang dihari pertama sekolah adalah ajang memamerkan perlengkapan sekolah, entah karena model yang sedang ‘ngetren atau karena mereknya yang menunjukkan barang tersebut berharga mahal. Sehingga tidak semua murid bisa memilikinya. Terutama aku.

Aku tidak pernah iri kepada mereka. Karena aku tahu pasti, Abah dan Uma telah berusaha memberikan segala yang terbaik yang bisa mereka berikan kepada kami. Namun, kemiskinan rupanya masih enggan beranjak dari kehidupan kami.
Kesadaran betapa akrabnya kami dengan kemiskinan kuperoleh karena kepedihan yang kutanggung untuk mendapatkan tas merah-mudaku.
Aku tidak paham arti dan definisi kemiskinan, tapi aku mengalaminya. Tidak kumiliki kalimat yang tepat untuk mengartikannya. Lebih mudah bagiku untuk menjadikannya sebuah cerita  dengan mengungkapkan segala yang kualami.

Pertama, kemiskinan agaknya paling sering mendekatkan seseorang dengan rasa  lapar. Barangkali aku terlalu akrab dengan lapar sehingga  nyaris kulupakan kenyang. Karena hampir tidak pernah kuperoleh kesempatan untuk mendapatkannya.

Jika kalian memiliki sahabat tentu kalian pernah begitu dekat lebih dari biasanya. Nah suatu ketika aku harus mengakrapi rasa lapar itu berlipat ganda, menjadikannya serupa sahabat sejati dengan keterkaitan satu dengan lainnya.

Suatu hari sepulang sekolah aku berjalani menemani temanku, Khadijah, menuju pasar. Dia bermaksud membeli beberapa peralatan sekolah. Dengan mudah ia membeli barang ini dan itu,  dari satu toko ke toko lainnya. Sementara tidak ada satupun barang yang kubeli. Aku tidak memiliki uang. Bahkan sebatang pensil seharga 500 pun masih terlalu mahal untukku.  Maka aku hanya mengekor Khadijah dan melihat-lihat saja barang-barang yang dipajang di etalase.
Lalu disebuah toko kulihat tas merah muda itu.
Masih berselimut plastik transparan.
Melihat mataku lekat memandangi tas itu, pemilik toko menurunkannya dari gantungan di langit-langit dan menawarkan kepadaku.
“Tas ini baru datang kemarin siang. Selain kantung di depan dan dibelakang ini, ada juga kantung didalamnya, sehingga kau bisa menyimpan peralatan menulismu disitu”  Bapak pemilik toko berpromosi.
“Benarkah?” aku pun meraih tas itu, tapi aku tidak berani membuka plastik pembungkusnya , karena aku tahu  saat itu aku tak memiliki kemungkinan untuk membelinya.  Aku hanya memantas-mantaskannya dengan menyampirkan tas itu di pundakku.
“Jadi, kau akan membeli tas ini?” Tanya Bapak penjual.” Harganya 50.000.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Aku tidak membawa uang.” Kataku
Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sesungguhnya, bahwa aku tidak membawa uang karena tidak ada serupiahpun di sakuku. Bahwa aku tidak membawa uang karena tidak memilikinya, aku tidak perlu mengatakan kepada seorangpun. 

Kuulurkan tas itu kepadanya. Ada rasa enggan didalam diriku untuk melepaskan tas tersebut dan membiarkannya kembali kepada pemiliknya. Ada tarikan kuat, suatu hasrat ingin mempertahankan tas itu dalam genggamanku.
Tapi bagaimana caranya? Serupiahpun aku tak punya sebagai penebus tas itu.
Maka kubiarkan ia kembali menggantung di langit-langit  toko.
Sejak hari itu, ingatanku kepada tas merah muda dengan bunga kuning sebagai pemanis nya, tidak pernah lekang. Terpatri lekat sehingga aku tidak memiliki cara melepaskannya.Semalaman aku berpikir bagaimana cara memiliki tas itu.

Sayangnya, aku tidak mungkin meminta uang tambahan pada  Abah dan Uma. Karena dengan penghasilan Abah saat ini sering kudengar Uma mengeluh betapa makin tidak cukup menutupi kebutuhan hidup yang kian mahal.

Menjelang pagi kutemukan cara untuk mendapatkan tas  impianku. Memang tidak segera. Tapi aku yakin bahwa aku akan bisa membelinya suatu saat nanti. Saat rencanaku berhasil dan uang yang kuperoleh mencukupi harga pembelinya.
Harga tas itu 50.000 rupiah. Bila Abah memiliki uang biasanya aku mendapat uang saku tambahan sebesar 10.000 perminggu. Namun jika mengharapkan dari uang saku tersebut aku tidak yakin tas itu masih bertahan tergantung disana selama 5 minggu.
Aku bertekad akulah yang akan menjadi pemiliki tas merah muda itu.  Aku sadari betul, akan ada pengorbanan yang harus kulalui untuk meraihnya.



Bersambung.... 


Fiksi lainnya:




0 komentar:

Post a Comment

 
;