Sunday, April 21, 2013

KERUPUK






Belum pernah saya mendengar ada pakar gizi membahas manfaat kerupuk. Mungkin makanan ini cuma sedikit bermanfaat sehingga tidak perlu ada pembahasan atasnya atau malah tak bermanfaat samasekali sehingga meskipun tidak dilarang juga tidak perlu dianjurkan. Jangankan kerupuk yang bahkan belum pernah diperdebatkan, rokok saja yang jelas-jelas berbahaya mustahil dilarang serta-merta.
Walaupun kerupuk tidak dipentingkan dalam takaran wacana, ia amat sentral kedudukannya bagi lidah manusia Indonesia. Saya sendiri gelisah setiap kerupuk tidak tersedia menyertai menu makanan yang ada. Meskipun saya bukan ahli gizi, saya tahu kandungan gizi kerupuk pasti rendah sekali. Sebelum melar menjadi sebesar wajan, kerupuk mentah bisa kecil sekali. Saya belum pernah menemui jenis pemekaran yang seagresif kerupuk saat sudah jatuh ke dalam bejana penggorengan.

Mungkin pemelaran dramatis itu yang mendatangkan efek dramatik juga dimulut. Ia meramaikan kedudukan sayur dan nasi yang walau penuh gizi tetapi sepi rasa. Ia memberi sensasi seperti halnya pedas. Ia memperdayai dan menipu lidah. Itulah kenapa, bagi penggemarnya, gabungan antara pedas dan kerupuk adalah duet yang menggemparkan. Menu paling sederhana sekalipun menjadi gegap gempita jika dua aksesoris ini turut serta.




Dengan demikian, jadilah kerupuk sebagai makanan kultural karena keakraban kita atasnya. Ia sebetulnya tidak penting, tetapi harus ada, jadilah ia penting. Lalu sampailah kenyataan: akhirnya ada barang penting menjadi tidak penting. Dari sekedar soal makanan, kebiasaan ini turun dalam kenyataan. Didalam kenyataan, betapa banyak kita mementingkan soal yang tidak penting. Lalu, terjadilah kekacauan urutan antara tidak penting, penting dan mendesak. Pertukaran tempat antara ketiganya tinggi sekali di negeri ini.

Ada barang yang tidak penting tidak cuma diubah menjadi penting, tepi juga ditingkatkan jadi mendesak. Maka ketika salah urutan ini telah menjadi kebiasaan, ia lalu menjadi peristiwa kultural. Dari yang kultural, lalu jadilah fenomena sosial. Oleh karena itu, mudah kita jumpai kekeliruan prioritas.
Lalu, apa jadinya jika tradisi mendahulukan sensasi ala makan kerupuk itu diam-diam ada dalam diri kita sebagai pribadi, keluarga, masyarakat bahkan sampai negara? Apa jadinya jika seorang penganggur lebih mendahulukan rokoknya dibanding makan anak-istrinya? Apa jadinya jika sebuah keluarga lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi cuma untuk menghibur diri dibandingkan mengembangkan diri? Apa jadinya jika kesibukan aparat negara ternyata bukan untuk kepentingan negara, melainkan lebih untuk kepentingan politiknya? 
Kerupuk memang sensaional, tetapi satu soal harus disepakati: ia ramai di mulut, tapi rendah di gizi. 
(Pri)

Order Italian food online with Foodpanda ID

1 komentar:

Anonymous said...

ibu rini....bisaaa aja, tapi biar gizi nya rendag saya tetap cinta kerupuk...kriukk!!!

Post a Comment

 
;