Saturday, April 6, 2013

Kuntum Kemboja Yang Luruh..

Kurasakan angin berhembus pelan, sapuannya dipundakku seolah merengkuh dan menghibur kegalauanku. Desaunya menggugurkan kuntum-kuntum kemboja. Menjadi penghias gundukkan tanah merah ini. Bersama roncean mawar ,melati dan kembang kantil. 
Di nisan ini terpahat namamu,Mas. Beserta tanggal lahir dan tanggal kepergianmu kemarin. 
”Mas, terima kasih untuk 13 tahun yang kau lalui bersamaku. Maafkan aku tidak bisa menjadi teman hidup yang terbaik bagimu” bisikku sambil menghapus airmata. Bagaimanapun, ada tahun-tahun terbaik dalam kebersamaan kami. Jadi wajar rasanya jika aku merasa sedih dengan kepergian lelaki yang pernah menjadi suamiku ini. 
*** 

Awal Mengenalmu 

Aku keluar ruangan kuliah dengan banyak pertanyaan yang belum tuntas dijelaskan oleh Pak Teguh, dosen Teknik Reservoir I.Namun bel tanda jam kuliah berakhir ditambah tampaknya beliau sedang terburu-buru menyebabkan aku harus pasrah dengan ketidakpuasanku. 
“Tik, Tika.” Aku menoleh kesumber suara dan tersenyum menyambut Yulia yang berlari-lari kecil menghampiriku. 
“Kamu ‘gak lupa bawa buku yang aku pesan ?” Dipasangnya tampang memelas “Aku pinjam sehari saja untuk difotokopi.” 
“Itu namanya pembajakan, Non.” Namun kuulurkan juga buku yang dimintanya. 
”Tapi janji kau kembalikan besok ya. Dan traktir aku es teh manis buat ganti biaya sewa buku” Kutarik tangan Yulia masuk ke kantin dan duduk dibangku kosong yang terletak tak jauh dari wastafel. 
  
Tiba-tiba, 
Girls , tolong titip salam buat Suryo dong. Tolong bilangin Jum’at besok batal ke Ranupane karena Rido sakit cacar. Ngga seru kalau kami cuma pergi berdua.” Lelaki itu berbicara dengan memandang lurus ke mataku sambil dia melanjutkan mencuci tangan di wastafel. 
“Kau berbicara denganku?” Aku yang tidak merasa mengenalnya cukup kaget juga dengan caranya yang tanpa tedeng aling-aling. 
“Ups,sorry.” Ia menghampiri meja kami. Mengambil beberapa lembar tisu dari kotak, mengeringkan tangannya, lalu duduk dikursi dihadapanku. 
“Aku lihat kalian membawa buku itu.” Ditunjukkan buku Applied Reservoir Simulation yang tadi diletakkan Yulia di meja 
” Jadi kalian pasti anak Perminyakan.Kalian juga pasti kenal Suryo Ananto. Anak itu’kan ngetop di fakultasmu” 
“Oya, aku Satria. Sipil” Lanjutnya tanpa mengulurkan tangan. “Kalian siapa?”  
“Yulia” Yulia mengulurkan tangan. 
“Aku tidak menyentuh perempuan.” Satria Menggeleng. 
“ Yang bukan mahram, maksudku. “ Wajah Yulia bersemu menahan malu . 
Akupun makin merasa tidak nyaman menghadapi gaya lelaki ini. 
“Kita makan diwarung depan kosan aku saja. Aku gak suka orang ini.” Bisikku kepada Yulia, lalu kami bangkit dari kursi kami 
“Oke, akan kami sampaikan pesanmu ke Suryo. Kalian tidak jadi ke Ranupane karena Rido sakit. Begitu’kan?” 
“Yap” Dianggukkan kepalanya dengan tegas.“Eh, kalian mau kemana? Yulia, siapa nama temanmu?” 
Aku menoleh. Lalu melambai. 

*** 

Jum’at Dua Minggu Kemudian 

Kulirik jam tanganku, pukul 15 kurang 10 menit. Tidak terasa sudah dua jam setengah aku menghabiskan waktu di Perpustakaan Pusat. Suasana yang tenang dan dikelilingi buku-buku referensi, selalu menjadi tempat yang ideal bagiku menulis hal-hal teknis seperti Paper Drilling System Operations yang masih belum separuhnya kukerjakan ini. 

Dengan berat hati kumatikan laptop, merapikan berbagai kertas data dan buku diktat. Ada jadwal taklim ba’da Ashar di Masjid Raya. Dan aku sudah berjanji, kecuali ada halangan serius atau sedang pulang kampung, aku tidak akan alpa dari kegiatan yang satu ini. 

Akupun bergegas menyusuri jalan setapaktaman selatan kampus, lalu lewat depan gedung Fakultas Teknik Sipil yang berseberangan dengan Mesjid Raya. 
“Sartika” Aku menoleh ke kiri kanan. Mencari sumber suara yang memanggilku. Merasa tidak ada yang aku kenali aku lanjutkan kembali langkahku. 
“Sartika.” Arah suara ternyata berasal dari beranda lantai dua gedung Teknik Sipil. Kudongakkan kepala. Ada seseorang melambai kearahku. 
Satria.
 “Tunggu. Aku turun” Katanya.
“Mau kemana?” 
Meskipun tadi kulihat ia berlari menuruni anak tangga, namun tidak kulihat nafasnya terengah-engah. Anak gunung,simpulku 
“Ke Masjid. Ada taklim Wanita” 
“Oh. Tentu.Tiap Jum’at Petang ‘kan? “ 
Aku mengangguk. 
“Dan kau Ketua Divisinya.” Aku kaget. Dari siapa ia tahu? 
“Oh, bukan hanya itu yang kutahu. Aku juga tahu tanggal lahirmu, alamat, nama orang tuamu, jumlah saudaramu.” Dan ia menyeringai “ Dan kucing hitammu yang bernama Goldie” 
“Sebagian datamu kudapat dari Yulia, sebagian dari Suryo, sebagian lainnya dari teman-teman kosmu di Jalan Jalak.” Ia memamerkan deretan gigi putihnya. 
” Aku memang berbakat menjadi intel” lanjutnya. “Dan yang membuat aku gembira, kamu single. Sejak semester satu belum pernah terlihat dekat lelaki manapun.” 
“Bukankah itu menyedihkan? Aku tidak laku bagi kalian, para lelaki pencari cinta “Aku mulai naik darah. Aku tidak siap dengan sikapnya yang selalu tanpa tanpa basa-basi. Aku juga merasa dilancangi dengan ulahnya mengorek informasi tentang diriku ke beberapa orang yang ia sebutkan tadi. 
“Tidak. Bukan begitu. Kamu manis dan menarik.” Satria menatap mataku lekat. 
“Dan Kamu bukan untuk lelaki pencari cinta. Aku yakin, kamu untuk aku” Katanya mantap. 
Aku tergugu. 
Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. 
“Maaf, aku harus masuk kelas. Tadi sudah didepan pintunya ketika Aku tidak sengaja melihatmu melintas. Assalamu’alaikum,Bidadari” Ia mengangguk lalu melesat kembali masuk ke gedung fakultasnya. 
“Wa’alaikumsalam.” Bisikku. 

*** 

Mas, sejak saat itu hatiku tidak lagi sama. Ada debar-debar aneh tiap aku mengingatmu. Sejak petang itu aku jadi rajin shalat Dzuhur dan Ashar di Masjid Raya –yang terletak di seberang kampusmu- dengan harapan aku bertemu denganmu. 

Entah apakah aku jatuh cinta atau karena merasa tersanjung dengan perhatianmu. Selama ini aku berteman dan berinteraksi dengan banyak teman lelaki, tetapi bagiku mereka sama saja. Tidak ada yang istimewa, seperti halnya teman-teman perempuanku. 

Kamu beda, Mas. Kamu yakini perasaanmu. Meskipun begitu, kamu tidak merasa perlu menyatakannya dengan bahasa yang berbunga-bunga. 
Straight to the point. 
Seperti halnya di Kamis akhir bulan Mei itu tiba-tiba ada pesan WA masuk ke ponselku. 
“Bidadari, tolong temui aku di Kantin Fakultas setelah jam kuliahmu siang ini. Ajaklah Yulia atau siapapun untuk menemanimu.” Tanpa nama pengirim dan dari nomor yang tidak kukenal. Aku menduga kaulah yang mengirimkannya, karena hanya kau yang pernah memanggilku Bidadari. 
“Temani aku ya.” Pintaku pada Yulia sambil menunjukkan pesan itu. 
“Dari siapa?” 
“Satria” 
“Owh” Ada pemahaman kulihat dimata Yulia. 
Tepat pukul 1 kami tiba di Perpustakaan Pusat. Kulihat kau sudah berdiri di dekat pintu masuk.

Bersambung....

1 komentar:

Vetrieni bt Munir said...

wah...nggak seru tuh, mosok si Bidadari langsung mau. jual mahal dulu dong...
(hihihi...ini punya siapa sih, Mbak? maaf jika ini punyamu, aku kok ikut campur gitu ya, bukan sutradaranya juga)

Post a Comment

 
;