Tuesday, April 2, 2013

Laranglah, Maka Makin Tidak Dipatuhi






Suatu siang di 2006 dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke Customer temanku yang mengemudi bertanya " Kamu sudah nonton film The Da Vinci Code?"
"Belum" Aku yang saat itu sedang heboh-hebohnya mengejar target penjualan kurang mengikuti berita film-film yang diputar dibioskop.
"Mending gak usah nonton deh, Banyak ngga benernya. "
"Ah, namanya juga film. Gak heran kalau ngga sesuai kenyataan. Emang ceritanya gimana sih"
"Ceritanya tentang Aliran Kristen, Vatikan, Maria Magdalena. Tapi banyak gak benernya" Temenku kelihatan kesal.
Temanku Katolik, jadi aku memahami  ia menjadi galau jika ada yang menyampaikan cerita yang tidak sesuai dengan keyakinannya, seperti film ini. Maka aku diam saja.
Tapi kegalauan dan ketidak jelasan alasannya menjadikan aku kian penasaran. Pulang kerja aku mengajak suami ke bioskop. Menonton The Da Vinci Code.

Saat KEJAGUNG melarang beberapa buku beredar diantaranya Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karangan John Rosa pada Desember 2009. Justru fotokopian buku tersebut banyak beredar diantara mahasiswa. Aku yakin para pekerja yang aware denga politik pasti juga berusaha memiliki buku tersebut.

Begitupun saat saya melarang si Kembar fesbuk-an, maka larangan saya tersebut digugat. Karena mereka melihat saya tiap hari fesbukan berjam-jam.  Setelah bernegosiasi mereka mematuhi akan fesbukan hanya pada akhir minggu. Dibawah pemantauan kami sebagai orang tuanya.

Lalu bagaimana cara melarang yang efektif sehingga dipatuhi?

1. Berilah contoh.
Jika anda melarang anak-anak menonton sinetron maka anda juga jangan nonton. Melarang hal yang justru anda kerjakan hanya kesia-siaan belaka. Karena objek larangana -baik secara terang-terangan ataupun dibelakang anda- akan menggugat diberlakukannya larangan tersebut.

2. Laranglah dengan kasih sayang, bukan dengan Kekuatan
Pada dasarnya orang tidak suka merasa terintimidasi. Larangan yang dikemukan dengan mengandalkan kekuatan akan dipatuhi saat anda hadir. Namun dibelakang anda larangan tersebut bisa jadi tidak berlaku.

3.Berikan alasan rasional
Bahkan kepada balita sekalipun sampaikan alasan anda melarang dengan cara yang mereka pahami.

4. Konsisten
Anda harus konsisten dengan peraturan yang anda buat. Jangan sampai hari ini anda melarang namun besok pagi anda langgar. Ketidak-konsistenan akan menyebabkan kebingungan malah bisa jadi mengurangi respek terhadap anda.

5. Sebelum larangan ditetapkan, ajaklah objek peraturan untuk berdiskusi. Agar saling memahami manfaat ditetapkan larangan tersebut
Orang lebih merasa dihargai jika mereka dianggap "bisa berpikir" dalam memahami konsekwensi tindakan mereka.

6. Jangan Tunda Hukuman
Menetapkan larangan tentu harus ada hukuman jika dilanggar. Jika ada obyek yg melanggar segara berikan hukumannya. Jangan tunggu sampai ia berulang melanggar peraturan yang sama. Sebab orang tidak suka melakukan kesalahan dan mendapatkan hukuman beruntun

7. Jangan "Bertekuk Lutut"
Tetapkan hukuman yang ditentukan sekalipun yang melanggar adalah orang yang paling anda sayangi.






0 komentar:

Post a Comment

 
;