Monday, April 8, 2013

Memulai Bisnis Dari Nol (Bagian 3)


3.   Memilih Produk dan Lokasi Usaha

Saat memulai usaha sebagian orang  mempertimbangkan produk yang akan dijual haruslah sebuah produk yang paling menguntungkan dan risikonya ruginya paling kecil. Ketika pisang goreng  kremes booming maka penjual pisang goreng kremes bermunculan bak jamur dimusim hujan, dengan berbagai merek.  Tak sedikit penjual dagangan lain yang meninggalkan produknya yang sudah dirintis bertahun-tahun, dengan harapan mendapat keuntungan lebih besar dengan menjual pisang goreng kremes ini. Apa yang terjadi kemudian ketika pasokan pisang menyusut akibat supply dari Lampung dan Pontianak terhambat sementara permintaan dari pedagang pisang kremes melonjak? Harga pisang menjadi mahal. Akhirnya satu demi satu pedagang dadakan tersebut berguguran.
Jika anda termasuk orang yang masih mencari usaha yang cocok dengan anda, atau anda masih meragukan apakah usaha yang sedang anda jalani sekarang bisa menghantarkan sukses untuk anda dimasa depan, ketahuilah ada beberapa fakta yang layak anda renungi ulang.  yaitu:

1. Pada umumnya semua jenis barang memiliki peluang mencetak keuntungan dan kerugian.  Pada awal tahun 2000 berbondong-bondong orang mendirikan bisnis IT karena dianggap inilah bisnis masa depan (Bahkan pemerintahpun, melalui  Kementrian UKM sengaja menggelontorkan dana untuk mengembangkan jenis bisnis  ini ), tapi nyatanya berguguran juga perusahaan –perusahaan IT yang tidak sanggup bersaing.  Sebaliknya bisnis yang tampak sepele seperti warung pecel lele di emperan jalan bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Jadi permasalahan adalah bukan jenis produk melainkan kemampuan produk untuk diserap pasar

2. Sebagian besar usaha mengalami kebangkrutan bukan karena produk yang dipilih melainkan karena ketidakmampuan mengelola Manajemen dan SDM. Banyak usaha bisa tumbuh dengan cepat namun karena  manajemennya lemah maka usaha tersebut akan bertumbangan.

3. Ada orang yang mengira bisnis yang dimulai dengan hobi akan melaju dengan  lebih pesat. Faktanya tidak selalu begitu. Membisniskan hobi memang menyenangkan namun anda perlu juga mencermati pola alur bisnis yang bisa menguntungkan. Penggemar burung yang menjadi pedagang burung akan kesulitan menjual burung yang disukainya, meskipun ada pembeli yang bersedia membeli dengan harga tinggi.

4. Barang yang murah belum tentu akan laku keras. Ini adalah soal NILAI yang akan diterima oleh customer anda. Banyak barang yang mahal lebih laku dibanding dengan pesaingnya yang berharga murah. Ponsel Samsung lebih laku dibanding dengan ponsel “merek china” dengan fitur yang nyaris serupa. Karena customer merasa lebih yakin dengan merek , layanan purna jual atau harga  yang diperoleh jika ia bermaksud menjual kembali produk tersebut.

5. Banyak orang ingin memulai usaha yang belum dilakukan orang lain. Padahal memulai ‘jenis usaha yang baru sama sekali’ dibutuhkan nilai investasi yang lebih besar. Karena anda harus mengedukasi pelanggan anda bahwa produk yang anda jual memberikan manfaat bagi mereka.

Lalu, bisnis  apa yang pas buat anda?  Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya terhadap beberapa bisnis saya sendiri maupun teman-teman, anda bisa mempertimbangkan hal sebagai berikut:

1. Produk apa yang cocok dengan saya?
Produk yang pas buat anda perdagangkan adalah produk yang membuat anda senang ketika membayangkannya atau anda  merasa “Aha! Ini dia!”  saat melihat  produk tersebut. Disisi lain jika anda memiliki perasaan : “Saya suka sih dengan produk ini, taaapiii…”  lupakan saja memilih produk tersebut. Kata “Taaapiii…,” tadi akan menghancurkan semangat anda.

2. Siapa yang akan membeli produk anda?
Sejak awal sebaiknya anda tentukan segmen pasar anda. Ibu-ibu rumah tangga,  Bapak-bapak, Anak-anak ,Perempuan karier , atau Remaja. Dengan tingkat penghasilan low-end, middle-end atau high-end.
Segmen pasar  yang jelas akan memudahkan anda dalam pemilihan jenis  produk, dan kualitas produk. 

3. Dimana saya akan berjualan?
Segmentasi selain menentukan siapa pembeli juga akan menjelaskan dimana lokasi usaha yang paling cocok untuk produk anda. Katakanlah anda ingin berbisnis donat. Maka donat yang anda jual buat kelas menengah akan berbeda letak counternya dengan donat yang anda tujukan buat kelas bawah.  Donat seharga 10.000  tidak akan laku anda jual di emperan pasar tradisional, sekalipun anda berbusa-busa menjelaskan kepada calon pembeli anda bahkan donat anda terenak sejagat raya dan memakai bahan baku terbaik sealam semesta. 
Begitupun sebaliknya donat seharga  500 rupiah tidak akan laku anda jual  di dalam mall yang super dingin. Saat saya jalan-jalan di mall lalu ditawari donat enak seharga 500 rupiah  saya langsung curiga : jangan-jangan donat expired nih.

4. Pesaing saya banyak, apakah produk saya akan laku?
Wallahu’alam.
Untuk itu anda perlu mempelajari pesaing anda. Berapa ia menetapkan harga jual,  siapa pembeli mereka, bagaimana cara mereka mempromosikan bisnisnya, dan lain sebagainya. Pokoknya ulik sedetail mungkin pesaing anda. Buka mata dan buka telinga anda.
Setelah data anda dapatkan. Anda tidak perlu meng copy-paste 100% trik kompetitor anda. Pelajari kelemahannya, lalu anda lakukan dengan cara  yang lebih baik. Di modifikasikan dengan segala sumber daya yang ada pada anda.

Bersambung.... 




0 komentar:

Post a Comment

 
;