Monday, April 1, 2013

Mencari Celah Pasar

Sebagai tempat tinggal bagi 230 juta penduduk, Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi bisnis retail modern. Tengok saja, sejak sepuluh tahun belakangan berbagai retailer dengan format hypermarket, supermarket, minimarket hingga department store menjamur. Ditambah lagi pembangunan pusat perbelanjaan berkembang pesat, tidak hanya di kota besar, tapi juga di daerah. Semua itu tentu  tak terlepas dari daya beli masyarakat yang meningkat, serta pola hidup masyarakat yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan dalam berbelanja.

Jeli melihat peluang bisnis tersebut, tiga wanita muda ini gigih berusaha menembus pasar retail. Mengedepankan produk yang unik dan berkualitas tinggi, mereka pun berhasil memasukkan produk mereka ke retailer besar.  

Harus gigih, berani, dan tak takut jatuh, itulah tekad yang dipegang Dinar Esfandiari Santoso (39) ketika mengembangkan bisnis pernik interior kamar tidur anak, Simply Idea, pada tahun 2005. Dinar melihat, bisnis hasil kolaborasi dengan dua sahabatnya, ini punya peluang bagus di pasar retail. “Kala itu, belum banyak produk bedding untuk anak buatan dalam negeri, apalagi yang hand made seperti produk kami,” kata Dinar,  yang mengaku mulai mengincar pasar retail setelah 6 bulan menjalankan bisnisnya. 

Berbekal keunikan produknya, ibu dua anak ini lantas memberanikan diri mengirim proposal dan contoh produknya ke sebuah department store terkemuka. Prinsipnya saat itu, toko besar pasti butuh produk, dan sebagai produsen tak ada salahnya ia menawarkan produk karyanya.  “Dalam pikiran saya, semua harus dicoba! Toh, yang terburuk, kalau produknya jelek, ya, ditolak,” katanya, tertawa. 

Tak disangka, Metro Department Store menyambut manis proposalnya. Pertengahan tahun 2005, produknya mulai dicoba untuk dipasarkan di department store ini, meski awalnya hanya sebagai produk undangan untuk mengikuti Metro Big Sale. Hingga akhirnya, pada April tahun 2006, produk Simply Idea mulai menghiasi beberapa gerai Metro di Jakarta.   

Keinginan yang sama untuk meluaskan pasar juga dirasakan oleh Dwi Arlina Avriliawati (41), pemilik fashion brand anak, Daradara. Kecintaannya pada kain batik serta kesenangannya mendandani anak perempuannya, Adara (10), membuat wanita yang akrab disapa Lia ini mencoba berkreasi dengan membuat rok tutu dari bahan batik. Ketika memulai usaha, tahun 2007, Lia hanya memasarkannya kepada teman dan keluarga. Ternyata, tanggapannya sangat baik. “Banyak yang memuji hasil desain saya, bikin saya percaya diri untuk berkreasi lebih banyak lagi,” katanya. Untuk menyikapi permintaan pasar, ia lantas memproduksi juga baju untuk anak dan remaja. 

Setelah Daradara berjalan selama 1,5 tahun dengan pemasaran melalui bazar dan toko online, Lia ingin mencari celah pasar baru untuk meluaskan penjualan produk Daradara. Wanita yang sempat bekerja di biro iklan ini pun melirik pasar retail yang menurutnya menjanjikan. “Bisa masuk ke department store berarti nama kita  makin dikenal, sekaligus menaikkan pamor,” katanya. Sebagai langkah awal, ia mengirimkan proposal ke Alun-Alun Indonesia. 

Berbeda dengan Ni Ketut Arysanti (35). Desain baju anak Canggu Kids miliknya ditaksir sebuah retailer besar yang membuka cabang di Bali. “Sebagai pengusaha baru, ajakan untuk bergabung dengan sebuah retailer besar tentunya sangat menguntungkan. Tak perlu modal besar untuk menguji penerimaan pasar terhadap produk yang kita buat, karena retailer besar bisa mendatangkan konsumen dengan sangat banyak,” kata wanita yang akrab dipanggil Arys ini. 

Meski akhirnya kerja sama tersebut  tak berjalan lancar, ia mengaku mendapat banyak pelajaran. Terutama, ketika menghadapi penjualan di pasar retail yang naik- turun. Dengan jumlah produksi yang sangat besar, tentunya angka kerugian akan lebih tinggi. Untuk itu, Arys tak mau asal memilih   retailer. “Kita harus tahu apakah segmen pasar dari perusahaan retailer tersebut cocok dengan produk kita. Karena, kalau tidak tepat, yang ada barang kita tidak akan terjual,” jelasnya. 

Pentingnya memilih perusahaan retailer yang tepat diakui pula oleh Lia dan Dinar. Lia misalnya, memilih Alun-Alun Indonesia bukan tanpa alasan. Menurutnya, produk Daradara yang berkreasi dengan keindahan kain lokal, tepat untuk dijual di Alun-Alun yang memiliki konsep sama. “Saya yakin, orang yang datang ke Alun-Alun mencari produk lokal bermutu. Dengan menempatkan barang di sana, saya akan menjangkau target market yang sesuai,” jelasnya. 

Sedangkan Dinar, mengaku  makin selektif setelah sempat gagal menjalin kerja sama dengan sebuah perusahaan retailer besar. Berdasarkan pengamatannya, hal tersebut terjadi karena konsep toko dan produknya jauh berbeda. Ketika akhirnya ia mendekati Mothercare untuk bekerja sama, semata-mata karena Dinar sudah yakin dengan konsep Mothercare yang memang ditujukan untuk anak-anak. 

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah harga yang ditawarkan produknya harus sesuai dengan daya beli target market dari perusahaan retailer tersebut. “Dengan mengetahui kisaran harga produk kita, berarti kita telah membuat image untuk produk tersebut,” kata Dinar, yang sejak tahun 2009 membuat produk kelambu yang didesain khusus untuk Mothercare Indonesia.

0 komentar:

Post a Comment

 
;