Monday, April 1, 2013

Mental Mercusuar Pebisnis Fashion


Bukan cuma kreatif dan inovatif, pengusaha fashion juga perlu belajar banyak dari sekelilingnya. Toby Meadows (Direktur Three’s Company Creative Consultancy) dalam Acara Wanita Wirausaha Femina mengatakan pengusaha fashion perlu melakukan riset dan comparative shopping dengan pesaingnya. Tapi di satu saat, mereka harus dapat berdiri tegak di atas batu, fokus pada diri sendiri, dan berkata, “This is me, this is what I do, this is what I’m good at.” 

Banyak dari pebisnis fashion tidak berlatar belakang fashion atau bisnis. Bagaimana masa depan mereka?
Ada kemampuan yang diberikan secara turun-temurun, dan berhasil. Tantangannya, mampukah mereka membawanya menjadi produk unggulan dan mengembangkannya? Inilah hal-hal yang diajarkan di sekolah fashion. Sementara bisnis adalah jembatan untuk mengembangkan produk fashion. Tapi, jangan lupa, ada kelompok pebisnis yang mampu membaca tren tanpa belajar. Mereka inilah yang berbelanja di Bangkok untuk dijual kembali. Mereka mampu menentukan tidak mau membeli barang A, tapi barang B, dan menghasilkan banyak uang. Jadi, tidak ada salahnya mencoba, melihat peluang dan membuatnya berhasil. 

Jangan fokus pada pesaing, fokuslah pada diri sendiri. Pendapat Anda?
Setuju 100%. Anda dapat belajar dari pesaing ketika Anda baru akan memulai bisnis. Belajarlah dari kesalahan mereka, dari produk mereka. Tapi, ketika Anda masih terus menoleh ketika bisnis Anda telah berjalan, di saat itulah Anda berhenti jujur pada diri sendiri. Karena,  tiap label memiliki pesan tersendiri. Milikilah mental mercusuar. Mercusuar dibangun di atas batu. Dia diam tak bergerak, tapi cahayanya memberi arahan bagi banyak kapal. Seperti itulah label yang harus Anda bangun. Kepribadian yang berbeda dapat menghasilkan produk yang inovatif.

Contoh menarik dari pernyataan tersebut adalah produk tas laptop bernama Knomo. Pendirinya adalah pengacara, bankir, dan seorang advertising executive. Mereka mengawalinya dengan konsep bisnis murni, yaitu mengisi kekosongan pasar tas laptop. Mereka membangun infrastruktur dengan kuat, dan menciptakan produk klasik yang tidak terpengaruh fashion. Baru setelah label ini berkembang, mereka menggunakan jasa desainer. Saat ini mereka telah memiliki 800 outlet di seluruh dunia.

Apa yang membuat sebuah produk gagal di pasaran?
Salah satunya pilihan model bisnis yang salah. Saya percaya, apa pun hasil karya seorang desainer, pasti ada orang yang akan membelinya. Tapi, pertanyaannya, berapa banyak dan di mana. Jika ada seribu konsumen dalam radius 1 mil, maka logikanya Anda perlu membangun sebuah toko. Tapi, jika konsumen ada 1 di Jepang, 1 di Paris, dan 1 di London, pastinya tak perlu membangun sebuah toko. Anda perlu membuat target melalui media sosial. Sebaliknya, jika ada tuntutan konsumen secara global, pilihannya adalah wholesale. 

Kapan sebuah label siap menembus pasar internasional?
Anda telah memiliki infrastruktur yang tepat, serta mampu memproduksi dengan kualitas, harga, dan waktu yang tepat. Materi marketing dan website Anda pun mengirimkan pesan kesiapan tersebut. Satu yang terpenting, ada tuntutan dari luar. Singapura, Seoul, Shanghai, mengatakan, mereka menanti produk Anda. Tapi, menurut saya, lebih baik fokus pada pasar lokal karena jumlahnya besar. Itu juga yang menjadi alasan label-label internasional berebut masuk ke Indonesia. Mereka menginginkan pasar Anda. Satu hal yang saya sukai dari pasar Indonesia, mereka memiliki loyalitas terhadap label lokal. Itu tidak terjadi di negara lain. Isilah kesempatan itu, karena kalau tidak, kami yang akan mengambilnya. 

0 komentar:

Post a Comment

 
;