Thursday, May 2, 2013

Marah, Kurus, Sakit, Mati


Sebuah riset  mengatakan bahwa negara terkaya adalah China (riset lain menyebutkan Qatar). Sementara negara terbahagia adalah Finlandia. Jika riset ini benar, muncullah fakta berikut : yang terkaya bukanlah yang terbahagia. Definisi kekayaan pada riset itu berdasarkan seberapa besar pendapatan warna negara, sementara  kebahagiaan ditunjukkan dengan seberapa besar perasaan puas warna negara kepada negaranya. Didalam daftar negara terbahagia, China dan Qatar berada di luar sepuluh besar.


 Apa yang membuat warna  negara bisa demikian puas kepada negaranya? Ada beberapa indikasi, seperti tingginya harapan hidup, keadilan sosial, dan perhatian pemerintah. Dan yang paling menonjol dari semua itu adalah perasaan puas pada kedaulatan hukum mereka. Indikator lain adalah bersihnya kadar air mereka, polutan yang rendah dan keseimbangan antara konsumsi dan produksi. Dimana kedudukan Indonesia dalam daftar itu? Diperingkat ke 96 (semoga riset ini salah).

Jika sumber kebahagiaan warga itu jelas,  sumber ketidakbahagiaan warga juga jadi jelas. Jika kebahagiaan bisa datang dari rasa puas kepada kedaulatan hukum, pada kebersihan air dan udara, dan pada keseimbangan konsumsi dan produksi, ketidakbahagiaan bisa datang dari jurusan sebaliknya : hukum yang gagal berdaulat, air kotor, udara kotor dan konsumsi tinggi tetapi produksi rendah. Hasilnya harapan rata-rata manusia Indonesia juga dianggap masih rendah, berkisar antara 60 - 65 tahun (sekali lagi, semoga riset ini salah).
Saya menduga dari seluruh indikator itu pasti ada indikator baku. Dari setiap ujung selalu memiliki pangkal. Pilihan saya jatuh pada kedaulatan hukum sebagai pangkal dari semua persoalan. Hukum yang berdaulat itulah yang membuat air menjadi bersih, udara menjadi bersih, pekerja tenang, berekreasi menjadi mungkin, dan kehidupan menjadi panjang. Di sebuah negara dengan hukum yang tidak berdaulat inilah  yang terjadi : membaca koran marah, menonton televisi marah, bekerja marah, di jalanan marah dan di rumah marah. Setiap hari warga negara ini menabung kemarahan dan akhirnya sakit, kurus lalu mati.

Jika hidup tidak bahagia, dalam menjalani hidup pun menjadi tidak menarik lagi. Akhirnya, sudah miskin mencuri, mabuk pula. Hasil dari mabuk itu lalu melebar kemana-mana, membacok orang hanya untuk merampas haknya, baku bunuh hanya karena saling pandang di keramaian. 

Di dalam keadaan yang tidak bahagia, keramaian sebuah tontonan tak lagi menjadi perayaan, tetapi telah menjadi ajang keributan yang berbahaya. Orang-orang yang tidak bahagia cenderung menghargai rendah hidupnya sendiri dengan cara merendahkan hidup sesamanya. 

Jika benar bahwa kebahagiaan seseorang tak cuma ditentukan oleh kualitas pribadinya, tetapi juga oleh kualitas negaranya, betapa berat tanggung jawab seorang pemimpin yang gagal membahagiakan negaranya.  

0 komentar:

Post a Comment

 
;