Wednesday, May 22, 2013

Never Say No!!!

Pagi itu ponsel saya berdendang, “Bang, SMS siapa ini Bang…” meskipun bukan abang-abang tapi kalau iseng saya sedang kumat, saya memasang lagu ini sebagai nada dering SMS masuk.
“Sibuk gak Rin? Kapan gw bisa nelpon lu?” isi SMS itu. Saya bingung menjawabnya karena nomor ponsel pengirim tidak tercatat dalam memori ponsel saya. Untuk customer yang mau membayar tagihan, saya selalu punya waktu untuk menerima teleponnya. Tapi sebaliknya, jika yang penelpon mau menagih hutang, kayaknya saya ngga punya waktu deh. Hehehe..
“Sori bos, ini siapa? Nomor ponsel tidak dikenal.” balas saya.
Pengirim SMS sudah ber “lu-gw” maka saya yakin ia sudah cukup mengenal saya dengan baik, karena, setelah menjadi emak-emak  sudah sedikit kenalan yang ber “lu-gw” dengan saya.
Ponsel saya berdendang lagi “ I believe I can fly…I believe I can touch the sky..” tanda ada panggilan masuk.  Di layar tertera  nomor pengirim SMS tadi.
“Halo.. Assalamu’alaikum, Bos. Koq ‘nelpon? ‘Kan belum tentu sekarang waktu yang tepat. “  Tegur saya. 
Ah, banyak ngomong lu. Udah, kapan kita bisa ketemuan?” Whooaa, galakan dia.
Lalu kami mengobrol. Ternyata kami berteman di SD. Selama ini kami berkomunikasi melalui bahasa tulisan di facebook atau twitter. Baru kali ini ngobrol secara lisan.
Lu, jualan chemical’kan?  Ada proyek nih.” Kalimatnya membuat saya semangat menemuinya hari itu juga.

Dari pertemuan hari itu, saya tahu teman saya berprofesi sebagai makelar (Jika aktifitas sebagai penghubung  ini bisa di kategorikan sebagai profesi).
Gue  makelarin apa aja. Dari mulai properti sampai kambing akikah, asal dapet margin (keuntungan) pasti gue cari-in” katanya.
“Rahasianya, kudu banyak teman. Jangan cari musuh”  lanjutnya.
“Informasi bisa didapat darimana aja, tapi biasanya dari teman-teman. Produknya bisa dicari ke teman-teman juga. Gue  lebih prefer  kerjasama dengan teman,Rin, dibanding mencari di  iklan-iklan.” Baik hati bener, kata hati saya.
“Karena kalau kerjasama dengan teman, lebih enak megangnya. Meskipun ada juga sih 1-2 orang yang coba-coba by-pass.” .
Ooooo…itu tho alasannya

Jujur, saya salut dengannya.
Saya selalu gak pe-de berbisnis produk atau jasa yang tidak saya kuasai. Sehingga saya sering menolak peluang yang datang.
“Itu namanya lu nolak rejeki.”
Gue takut gagal. Kan bisa malu ama customer yang udah percaya kepada kita.” Saya mengutarakan alasan.
“Memangnya selama jualan chemical lu ‘gak pernah gagal?” Tanyanya.
“Yah, pernah. Namanya juga bisnis. Tapi jarang gagal karena  produknya, karena gue kan paham kegunaan produk yang  gue jual  selain itu  sebelumnya sudah uji coba dulu.”
”Nah, makanya untuk memperkecil kegagalan, gue kerjasama sama orang yang mengerti di bidangnya. Kayak sama lu sekarang ini.”
“Dan tujuan pertemuan kita ini selain gue  mengajak lu kerjasama, gue  juga  mau membicarakan masalah komisi buat gue.” Wajahnya langsung berseri-seri.

Sebenarnya saya juga beberapa kali menjadi makelar, tapi produknya masih chemical  juga, sehingga saya paham benar dengan produk tersebut. Berbeda dengan teman saya yang cakupan produk dan jasa yang di makelarinya luas sekali.
“Gue jualan palugada. Apa lu mau, di-gue ada” Katanya.
Bagi saya kalimat tersebut mengandung sebuah kenekatan dalam menerima tantangan. Tidak masalah, sepanjang diiringi dengan perhitungan yang matang disamping harus mampu berpikir dan memutuskan dalam waktu cepat,-sangat cepat. Untuk itu , seperti kata teman saya, ia harus mempunyai jaringan pertemanan yang luas dan nama baik yang terjaga. Sehingga teman saya bisa dengan bangga mengatakan “never say no” setiap mengendus sebuah peluang yang menghasilkan uang baginya.

0 komentar:

Post a Comment

 
;