Di Tangerang, Dilarang Menolak Pemberian Permen Tetangga

by - Monday, June 17, 2013


11 tahun lalu suami memboyong kami bermigrasi ke Tangerang dari Rawamangun. Sebenarnya saat itu, ingin rasanya menolak ajakan pindah dan  tetap bertahan di rumah orang tua.  Saya memilih tinggal di rumah orang tua karena banyak gratisan dan tersedia bala bantuan  terutama setelah saya melahirkan ( :D) .Keengganan pindah ke Tangerang karena dalam bayangan saya : hadeuh, Tangerang ‘kan banyak pabrik, polusi, jalanan sempit dengan truk-truk kontainer? Apa nyaman tinggal dengan suasana seperti itu? Bayangan tersebut didapat dari hasil pengamatan selama saya beberapa kali (puluhan atau ratusan kali deh) mengantar atau menjemput Suami dari dan ke kantornya di Curug -Tangerang
Namun Suami menyanggah,” Enggak koq, perumahannya enak (enak? Rasa stroberi atau duren?). Deket pinggir tol.”
Hah, pinggir tol? Polusi dong. Tapi,sudahlah. Namanya istri, dibawa suami kemana saja yah harus mengikuti.
Alhamdulillah, ternyata janji Suami tidak meleset. Meskipun berada di pinggir tol Jakarta- Merak suasana perumahan kami cukup nyaman. Karena banyak pohon udara terasa bersih. Suasananya pada pagi hari sering membuat saya mengira sedang berlibur di Puncak. Hanya bedanya, kalau di Puncak kami tidak akan sering kaget -hingga rasanya terpelanting- saat mendengar dentuman ban meletus dari sebuah truk besar yang sedang nahas. Hal lain yang “asik” dari komplek perumahan ini adalah kami masih bisa berinteraksi dengan tukang sayur, tukang bakso dan penduduk kampung sebelah komplek.
Akrabnya interaksi kami dengan beberapa orang kampung (itu sebutan mereka sendiri loh untuk membedakan  dengan “orang komplek”) menyebabkan saya mudah memperoleh personel jika  butuh tenaga bantuan. Membersihkan rumput halaman, cuci-setrika ,antar jemput ke pasar bahkan tenaga kerja musiman saat produksi usaha kami meningkat . Kamipun sering mendapat undangan acara pernikahan atau sunatan dari mereka.
Suatu hari saya di tegur salah seorang dari mereka ” Bu Agus, koq kemarin ‘gak kondangan? Mila’kan nikah, Bu”
“Mila mana?” tanya saya sambil berpikir keras. Karena nama Mila ada beberapa orang. Karmila, Sarmila, Milana.
“Mila, anaknya Abah Atep”
“Oh. Gak ‘ngundang sih.” Alasan saya ” Kalau gitu saya “titip” angpau aja deh. Bilangin ke Abah, saya minta maaf gitu yah. Gak tau kalo beliau ‘ngundang”. Lalu saya buru-buru mengambil amplop merah dan mengisinya dengan selembar uang. Selama tinggal di Tangerang kami  selalu punya persediaan amplop yang disebuta angpau ini karena saking sering kondangan, terutama di bulan-bulan tertentu.
Masa’ dari sini gak kedengeran suara petasannya? Ya udah nanti saya sampein deh amplopnya.”
Saya cerita obrolan tadi ke khadimat yang sedang mencuci, dia menjelaskan,
“Iya, Bu. Petasan Cabe rawit dipasang kalau ada nikahan. Siapa aja yang ‘ngedenger suaranya artinya diundang datang. “
Weleh!
Cerita undangan unik lain terjadi pada Jum’at kemarin. Saat menuju pangkalan ojeg, saya dicegat oleh seorang Ibu.
“Bu Agus, saya mau ‘ngundang. Sabtu besok anak saya -si Malik- mau sunatan. Datang yah.” Kata Mamak si Malik sambil mengulurkan bungkusan plastik berisi 5 buah permen. Karena sudah beberapa hari saya batuk lumayan parah bahkan hingga suara sempat menghilang, uluran permen tersebut saya tolak.
Insyaa Allah, saya datang Bu. Terima kasih permennya tapi saya sedang batuk.” Kata saya sambil memegang leher (agar mendramatisir..hehehe)
“Kalo begitu, Ibu Agus mau blao aja?” Mamak si Malik mengulurkan sebungkus pewarna biru untuk pakaian.
Hah! Barang antik nih, pikir saya. Tapi buat apa, saya tidak pernah lagi memakai benda seperti itu. Sayapun kembali menggeleng. Mamak si Malik-pun berlalu dari hadapan saya dengan muka bertekuk. Tidak seramah saat baru bertemu tadi.
Karena bingung mengapa Mamak Malik tiba-tiba menjadi  "jutek’ ,  sayapun menceritakan pertemuan dan percakapan kami tadi dengan khadimat  yang penduduk kampung secara turun temurun.
“Yaiyalah Bu. Pantesan aja Mamak Malik marah. Itu artinya Ibu menolak undangan dia.”
Loh koq? Kan tadi saya bilang InsyaAllah datang ke acaranya.
“Iya,Bu. Kebiasaan disini kalau dikasih permen atau blao ama orang yang mau pesta sunatan, artinya kita diundang dan kudu dateng”
Oalah!!! Meneketehe.Hehehe….
Kesimpulan, diberi apapun oleh tetangga  tidak boleh nolak. Meskipun jika tidak akan kita makan atau  pakai pemberiannya tersebut, agar tidak mengecewakan si pemberi yang sudah berniat baik.

Sumber gambar: kurakuraninja

You May Also Like

2 komentar