Monday, July 22, 2013 0 komentar

Firasat




Prang!
Botol pelembabku jatuh dan pecah berkeping-keping. Aku tertegun segenak. Bodohnya aku. Padahal dua detik sebelumnya alam bawah sadarku sudah memberi isyarat

Kemarin sore aku membeli beberapa plastic container untuk merapikan barang-barang printilan kami yang rasanya semakin lama semakin banyak. Aku bermaksud menggunakan salah satu kotak tersebut sebagai tempat ‘parkir’ botol-botol kosmetikku. Parfum, pelembab, alas bedak, susu pembersih, penyegar dan teman-temannya selama ini bertumpang tindih dalam laci lemari pakaian. Berantakan.

Semalam kulaksanakan niat itu. Pertama tentu mencari lokasi yang cocok untuk meletakkan kotak kosmetik tersebut (sekarang container merah yang terpilih kusebut begitu). Karena mempertimbangkan tinggiku yang “ secukupnya saja”, maka rak kedua adalah posisi yang paling cocok. Aku mengosongkan rak dan memindahkan barang-barang diatasnya ke lemari lain. Kemudian meletak kotak kosmetik disitu  dan menata segala macam botol berisi cairan atau krim untuk wajah dan tubuh ke dalamnya. Saat mengambil botol pelembab di tangan kiri dan botol susu pembersih di tangan kanan, tiba-tiba otakku melepaskan sinyal  : botol di tangan kiri akan terpeleset , jatuh dan pecah.

Sejenak aku mempertimbangkan untuk menaruh kembali  botol tersebut, tapi karena merasa ‘tanggung’ sudah memegang maka kulanjutkan gerakanku memindahkannya. Dan benar saja, botol itu terasa licin ,dan meluncur bebas dari genggamanku lalu menghantam lantai. Pecah berderai. Duh!

Selintas prediksi yang kemudian menjadi kenyataan seperti ini sebetulnya sering kualami. Kupikir  inilah yang disebut firasat .  Sebuah alarm yang akan berbunyi jika akan ada kejadian yang tidak mengenakkan (aku tidak ingin menyebut sebagai kejadian buruk)  akan terjadi. 
Alarm ini pernah berbunyi saat aku akan jatuh dari motor,  atau ketika anak ketigaku , Jasmine, akan  tertimpa etalase yang jatuh . 

Dan yang firasat terburuk  yang pernah terjadi padaku  adalah saat  akan terjadi sebuah tragedi yang hingga kini meninggalkan luka tak terobati di hatiku. Detail peristiwa kejadian itu begitu melekat, bahkan setelah 2 dasa warsa terlewati.  Pagi itu aku memutuskan ikut dengan salah seorang paman yang ingin menjenguk Bapak di RSPP. Padahal sehari sebelumnya aku baru pulang dari RS saat hampir tengah malam. Aku merasa hari itu aku harus datang karena akan menjadi pertemuan terakhir dengan Bapak.  Dan benar saja. Pukul 10, di suatu hari Jum’at 24 tahun lalu, Bapak terbangun  setelah semalaman koma pasca operasi. Ia menitipkan pesan-pesan kepada Ibu dan kami anak-anaknya,  sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.   
Sunday, July 14, 2013 7 komentar

Bayaran Mengaji 5 Juta Seminggu.



Minggu lalu, salah satu karyawati saya izin tidak masuk kerja selama beberapa hari karena ibu mertuanya meninggal dunia.  Saat ia masuk kerja kembali terlihat raut wajahnya sangat keruh.
“Rohimah, turut berduka cita ya . Kamu kayaknya sedih banget mertuamu meninggal. “ Saya menyalaminya.
“Iya, Bu . Mertua saya orang baik “
Lalu mengalirlah cerita kenangannya mengenai  hubungan mertua-menantu. Namun, cerita berikutnya membuat saya heran karena baru kali ini saya mengetahuinya.
“Dirumah masih ramai terus sampai hari ketujuh, Bu.  Jadi pulang kerja nanti saya harus memasak untuk bikin ta’jil dan makan malam yang pada ‘ngaji”
Oh, bukannya dapat sumbangan makanan dari tetangga , Mah?” begitu kebiasaan di komplek perumahan  kami. Jika ada tetangga terkena musibah kematian anggota keluarganya, ibu-ibu akan berkumpul di salah satu rumah warga lain untuk memasak bagi keluarga tersebut dan para penta’jiah.
“Cuma hari pertama doang. Selanjutnya ,yah, memasak sendiri. Paling dibantuin tenaga tukang memasaknya."
 “Makanya, Bu.  Suami saya keluar uang banyak nih. Belum lagi bayar  Tukang ‘Ngajinya. 5 Juta.”  Lanjutnya.
“Loh, koq bayar sih?” Saya terheran-heran.
Rupanya kebiasaan di kampung tersebut saat tertimpa musibah kematian adalah anggota keluarga akan mengadakan pengajian di rumah duka selama 3, 7 atau 40 hari. Tergantung kemampuan ekonomi dan tingkat sosial mereka. Mereka akan mengundang tetangga untuk bersama-sama membaca Al Qur’an (terutama surah Yasiin). Pengajian tersebut berlangsung ba’da Maghrib hingga menjelang Isha.  Selesai pengajian , saat akan pulang para penta’jiah akan dibekali  “nasi berkat” yang berisi nasi dan lauknya. Bahkan sering ditambah kue-kue kecil.
Pengajian yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam tersebut rupanya kurang memuaskan bagi sebagian orang. Mereka ingin diadakan pengajian lanjutan.. Disinilah para “Tukang Ngaji” (begitu sebutan mereka) bertugas. Mereka akan melanjutkan pengajian tersebut sejak ba’da Isha hingga pukul 10  atau hingga pukul 12 malam. Tergantung keinginan tuan rumah. 
Tidak heran mereka disebut “Tukang ‘Ngaji” karena mereka mendapat bayaran uang dalam melakukan tugas tersebut. Menurut Rohimah, keluarga membayar 5 juta rupiah untuk 5 orang Tukang ‘Ngaji dengan “jam kerja” sejak ba’da Isha hingga pukul 10 malam. Tentu saja makin banyak anggota tim pengajian tersebut dan makin lama waktu mereka mengaji  maka tarif nya makin mahal.
“Bisa 10 juta, Bu” Kata Rohimah. 
“Lah, anak mertuamu berapa orang ,Mah?” Tanya saya
“8 orang, Bu. Perempuan 5 , Lelaki 3”
“Kenapa ‘gak anak-anaknya aja yang ‘ngaji.? Pahalanya Insyaa Allah sampai ke mertuamu. Lagian, kan lumayan uang 5 juta. Bisa dipakai  buat bayarin hutang-hutang, kalau ada. Mungkin ada hutang kredit sandal yang belum dibayar. “
“Iya yah, Bu. Tapi, bagaimana lagi, anak-anaknya gak lancar ‘ngajinya.” Tukasnya.

Saya jadi termanggu.
Oh, itu alasan sebenarnya.
Saat ada anggota keluarga meninggal , terutama orang tua, keluarga tersebut tentu ingin mendo’akan dan mengirim pahala kepada yang meninggal. Namun, jika pengetahuan agama keluarga yang ditinggalkan minim, termasuk tidak bisa mengaji, mereka berpikir praktisnya saja. Membayar orang untuk melakukan hal tersebut bagi mereka.
Apakah sampai atau tidak pahala perbuatan mereka, wallahu’alam.

Yang jelas, semakin membaja tekad saya untuk mengajari anak-anak saya tentang pengetahuan agama termasuk mempelajari ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhana wata’ala.   Harapan saya mereka menjadi anak-anak shalihah (4 anak saya semua perempuan) yang bisa mengirimkan do’a-do’a saat kami orang tuanya meninggal kelak.

Aamiinn...


 
;