Bayaran Mengaji 5 Juta Seminggu.

by - Sunday, July 14, 2013



Minggu lalu, salah satu karyawati saya izin tidak masuk kerja selama beberapa hari karena ibu mertuanya meninggal dunia.  Saat ia masuk kerja kembali terlihat raut wajahnya sangat keruh.
“Rohimah, turut berduka cita ya . Kamu kayaknya sedih banget mertuamu meninggal. “ Saya menyalaminya.
“Iya, Bu . Mertua saya orang baik “
Lalu mengalirlah cerita kenangannya mengenai  hubungan mertua-menantu. Namun, cerita berikutnya membuat saya heran karena baru kali ini saya mengetahuinya.
“Dirumah masih ramai terus sampai hari ketujuh, Bu.  Jadi pulang kerja nanti saya harus memasak untuk bikin ta’jil dan makan malam yang pada ‘ngaji”
Oh, bukannya dapat sumbangan makanan dari tetangga , Mah?” begitu kebiasaan di komplek perumahan  kami. Jika ada tetangga terkena musibah kematian anggota keluarganya, ibu-ibu akan berkumpul di salah satu rumah warga lain untuk memasak bagi keluarga tersebut dan para penta’jiah.
“Cuma hari pertama doang. Selanjutnya ,yah, memasak sendiri. Paling dibantuin tenaga tukang memasaknya."
 “Makanya, Bu.  Suami saya keluar uang banyak nih. Belum lagi bayar  Tukang ‘Ngajinya. 5 Juta.”  Lanjutnya.
“Loh, koq bayar sih?” Saya terheran-heran.
Rupanya kebiasaan di kampung tersebut saat tertimpa musibah kematian adalah anggota keluarga akan mengadakan pengajian di rumah duka selama 3, 7 atau 40 hari. Tergantung kemampuan ekonomi dan tingkat sosial mereka. Mereka akan mengundang tetangga untuk bersama-sama membaca Al Qur’an (terutama surah Yasiin). Pengajian tersebut berlangsung ba’da Maghrib hingga menjelang Isha.  Selesai pengajian , saat akan pulang para penta’jiah akan dibekali  “nasi berkat” yang berisi nasi dan lauknya. Bahkan sering ditambah kue-kue kecil.
Pengajian yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam tersebut rupanya kurang memuaskan bagi sebagian orang. Mereka ingin diadakan pengajian lanjutan.. Disinilah para “Tukang Ngaji” (begitu sebutan mereka) bertugas. Mereka akan melanjutkan pengajian tersebut sejak ba’da Isha hingga pukul 10  atau hingga pukul 12 malam. Tergantung keinginan tuan rumah. 
Tidak heran mereka disebut “Tukang ‘Ngaji” karena mereka mendapat bayaran uang dalam melakukan tugas tersebut. Menurut Rohimah, keluarga membayar 5 juta rupiah untuk 5 orang Tukang ‘Ngaji dengan “jam kerja” sejak ba’da Isha hingga pukul 10 malam. Tentu saja makin banyak anggota tim pengajian tersebut dan makin lama waktu mereka mengaji  maka tarif nya makin mahal.
“Bisa 10 juta, Bu” Kata Rohimah. 
“Lah, anak mertuamu berapa orang ,Mah?” Tanya saya
“8 orang, Bu. Perempuan 5 , Lelaki 3”
“Kenapa ‘gak anak-anaknya aja yang ‘ngaji.? Pahalanya Insyaa Allah sampai ke mertuamu. Lagian, kan lumayan uang 5 juta. Bisa dipakai  buat bayarin hutang-hutang, kalau ada. Mungkin ada hutang kredit sandal yang belum dibayar. “
“Iya yah, Bu. Tapi, bagaimana lagi, anak-anaknya gak lancar ‘ngajinya.” Tukasnya.

Saya jadi termanggu.
Oh, itu alasan sebenarnya.
Saat ada anggota keluarga meninggal , terutama orang tua, keluarga tersebut tentu ingin mendo’akan dan mengirim pahala kepada yang meninggal. Namun, jika pengetahuan agama keluarga yang ditinggalkan minim, termasuk tidak bisa mengaji, mereka berpikir praktisnya saja. Membayar orang untuk melakukan hal tersebut bagi mereka.
Apakah sampai atau tidak pahala perbuatan mereka, wallahu’alam.

Yang jelas, semakin membaja tekad saya untuk mengajari anak-anak saya tentang pengetahuan agama termasuk mempelajari ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhana wata’ala.   Harapan saya mereka menjadi anak-anak shalihah (4 anak saya semua perempuan) yang bisa mengirimkan do’a-do’a saat kami orang tuanya meninggal kelak.

Aamiinn...


You May Also Like

7 komentar

  1. Persis seperti itu juga yang terjadi juga di desa Fenny,Insya ALLAH besok untuk orang tua akan Fenny gerakan saudara-saudara sendiri untuk kembali ke jalan yang benar *semangat 45 :D

    ReplyDelete
  2. kisah nyata miris ya mak :-(
    mudah-mudahan saya ngga harus manggil tukang ngaji kelak untuk kedua orang tua saya amiinn.
    ngomong-ngomong masalah ngaji itu, saya pernah denger juga malahan ada mayat yang di kasi walkman/headset surat yasin karena satu rumah dan tetanggan (elit) yang ngga bisa pada ngaji :-(

    ReplyDelete
  3. Di tempat tinggal saya sekarang ini juga begitu, bahkan sampai ada yang khusus dibayar untuk mengaji di kuburannya. Lebih kasihan kalau yang meninggal dari kalangan tidak mampu, sampai berhutang. Jadi kegiatan ini sudah menjadi tradisi,tiap ada anggota keluarga yang meninggal akan memanggil si tukang ngaji tersebut, dan membayarnya.

    ReplyDelete
  4. ini salah satu alasan saya tidak suka pengajian macam ini, secara logika ga masuk akal, orang lagi berduka kog mengeluarkan uang utk hal2 spt itu, malah sibuk nyiapin makan utk yg tahlilan n sediain dana utk yg ngaji? hadeuuhh, org sedang berduka atau mau pesta kematian? maaf kalau kasar *nauzdubillah min dzalik
    kalau memang ga ada, ya ga usah maksain diri, toh hal tsb ga ada tuntunan agamanya, cuma budaya aja kan? *cmiiw

    ReplyDelete
  5. wah malah memberatkan orang yang tertimpa musibah ya

    ReplyDelete
  6. Doa yang diterima adalah doa dari anak2, doa bisa beberapa doa seperti tuntunan Alquran atau doa dengan kata2 sendiri. Pengajian yg dilakukan orang hanya menimbulkan pahala mengaji pada orang yang bersangkutan, bahkan misalnya anak membaca yasin pun itu hanya menjadi pahala membaca yasin bagi anak ybs. Jadi lebih baik berdoa dengan kata2 sendiri dengan sepenuh hati utk orang tua jadi. Itu pesan ayah ibuku mba

    ReplyDelete