Friday, August 30, 2013 0 komentar

Emak-emak Rempong: Jadwal Harian

Dengan 4 Gadisku, 3 thn lalu
Tugas mengurus anak-anak dan pekerjaan sepertinya tidak ada habisnya bagi seorang 'full-time Mom' tapi bukan berarti seorang Ibu tidak bisa punya kegiatan yang bermanfaat diluar rumah.

Jika dibuat rincian singkat inilah jadwal harianku sebagai Ibu dari 4 putri rutin setiap hari : 
-Bangun tidur, rapih-rapih, shalat subuh
-Bikin sarapan,
-Siapin A Pin & A Ming ke PG dan TK (Kakak2nya siap-siap sendiri)
-Antar Van-Da ke sekolah
-Antar A Ming ke sekolah
-Antar A Pin ke sekolah
-Ke Pasar buat menu besok
-Masak (menu dan sayuran sudah disiapkan malam sebelumnya)
-Antar Lunch Box ke sekolah VanDa
-Jemput A Pin
-Jemput A Ming
-Kerja termasuk pesbukan, twitteran, 'Ngompasiana,urusan ini-itu.
-Jemput Van-Da
-Menulis artikel,'ngerumpi via SosMed,baca buku dll
-Siapin makan malam (dan buat makan siang besok)
-Pacaran, berantem, diskusi, dengan suami
-Baca buku, tidur

...tau-tau sudah hampir subuh lagi. 
Yang kutulis diatas adalah jadwal idealnya. kadang-kadang  ada yg di skip . Jika sedang malas, kegiatan memasak diganti membeli makanan matang saja. Atau saat tidak sempat  mengantar-jemput anak2 , aku membayar tukang ojeg langganan untuk mewakili mengerjakan tugas tersebut. .
Begitupun jika ada kegiatan lain yang membutuhkan waktu seharian, biasanya aku rundingkan dengan suami sebelumnya, sehingga sebagian tugas-tugas harianku bisa digantikan oleh suami.

'Sparing' Partner-ku
Lalu apa dong tugas suamiku?
Selain sebagai pencari nafkah utama, karena suami tipe senang hal-hal detail , maka tugasnya adalah memastikan rumah rapi. Jadi menyapu, mengepel dan bersih-bersih (kecuali membersihkan kamar mandi, karena aku 'doyan" sikat-sikat sambil mandi.) adalah tugasnya. Juga karena ia bisa sabar diuyeng-uyeng A Ming (terutama) dan A Pin, maka sepulang mereka sekolah, tugas suami menemani mereka main. Tidak jarang suami mengetik email dengan A Ming nangkring dipundaknya dan A Pin bergelayut dikakinya. Namun, jika saat suami harus bekerja yang memerlukan konsentrasi penuh maka ia akan 'melarikan diri' ke coffe-shop. Saat-saat itulah saya seharian 'handle' anak-anak dan tugas domestik. Pasrah.

Begitulah pembagian tugas diantara kami. Alhamdulillah, sekian tahun berjalan dengan lancar meskipun kadang-kadang bertengkar kecil-kecilan rebutan 'free-time' terutama jika saya dan suami  sedang dikejar deadline pekerjaan pada saat bersamaan. Kalau sudah begitu, biasanya kami akan mengirimkan sigyal SOS kepada adik di Tanjung Priok (untuk jaga anak), tukang ojek (untuk antar-jemput) dan seorang Ibu tetangga kampung (untuk beberes rumah).

Saat semuanya beres, maka saya bisa tarik napas panjang dengan lega..
Hooooossss.....syaaahhhhh...
Tuesday, August 27, 2013 0 komentar

Berpetualang di KL Bersama Bayi Apin




Hari Pertama di KL.

Setelah penerbangan selama 2 jam, pesawat Malaysia Airline ,MH 710, dari Jakarta mendarat dengan mulus di KLIA. Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 13.15. WIB. Segera kumajukan jarum jam 60 menit lebih cepat, mengikuti waktu setempat. Aku tidak merasa perlu tergesa-gesa turun dari pesawat karena kali ini aku terbang ke KL berdua dengan Apin yang baru berumur 6 bulan.
Saat menapaki garbarata kunyalakan ponsel dan segera bertubi-tubi SMS masuk. 2 dari provider celular Malaysia yang menyambut kedatanganku dengan suka cita karena mulai saat itu hingga kembali ke tanah air  pulsaku akan dialihkan ke mereka, 1 SMS dari Ibu yang memintaku berhati-hati selama di Malaysia, dan 2 SMS dari suami. 2 SMS terakhir membuatku terbengong-bengong selama beberapa saat.
Kebiasaan suami adalah mengirimkan SMS pendek-pendek, malah sering kali hanya berisi 1 kata.Jadi aku bisa paham dengan isi SMS pertama ini: Ma, maaf banget ya , Papa jadi berangkat ke off-shore siang ini. Seminggu. Pemberitahuannya mendadak. Mama nginep di hotel depan kantor saja. Papa sudah booking.
SMS kedua berisi alamat hotel yang terletak di Jl. Sultan Ismail, sekitaran Medan Tuanku.

Kedatanganku di Kuala Lumpur kali ini bukan untuk pertama kali, sudah beberapa kali kutelusuri sudut-sudut kota ini baik sendirian maupun bersama suami. Namun ini adalah pengalaman pertama travelling ke luar negeri hanya berdua dengan seorang bayi 6 bulan. Sempat terpikir ingin balik badan saja. Pulang lagi ke Jakarta.Tapi saat ingat sayang uang yang sudah terlanjur dibayarkan untuk sewa hotel dan tiket  pulangpun pasti kena potongan andai dibatalkan, akhirnya kuputuskan: Yo,wis lah. Sudah kadung sampai KL. The show must go on.  

Menaiki KLIA Express aku dan Apin menuju KL Sentral , lalu dilanjut dengan naik monorel menuju Medan Tuanku lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke hotel. Sejak awal aku tidak merencanakan adanya jadwal blusukan di KL pada hari pertama karena mempertimbangkan kondisi Apin yang tentu kelelahan setelah perjalanan cukup jauh bagi bayi 6 bulan ini.

Hari Kedua.

“Pin,hari ini kita ke Batu Cave dan Genting yuk.” Apin yang sedang kususui hanya menatapku.  
“Supaya kamu ngga kepanasan, kita naik taksi saja deh. Gimana?” Apin kembali menatapku sambil berkedip-kedip. Hahaha.
Kami sengaja tidak memesan taksi dari hotel karena sudah pasti akan kena tarif taksi yang lebih mahaldan susah buat nego harga. Kami memilih menyusuri trotoar menjauh dari hotel lalu memberhentikan taksi di pinggir jalan.
Woooyy, ini bukan di Jakarta yang bisa seenaknya memberhentikan taksi di sembarang tempat.
Eh, tapi ternyata sebuah taksi berwarna  merah dibody dan putih di atapnya mau juga berhenti tuh. Supirnya keturunan India. Setelah tawar menawar yang cukup alot maka kami diangkut dengan kesepakatan RM 90 dengan trayek KL-Batu Cave-Genting .
Aca…aca…let’s go to Batu Cave!
Taksi baru berjalan 10 menit, supir berbelok masuk ke sebuah POM Bensin.
”Ibu, mobil isi gas dulu ya. Kita jalan jauh.” Kata si Sopir. Sebagian besar taksi disana rupanya  berbahan bakar gas.
“Ok” saya setuju.
Saat antrian mendekati mesin pengisi gas, sopir kembali menoleh ke saya. “Ibu, saya minta 50 ringgit. You’re my first passenger this morning. Saya belum ada uang” katanya sambil membuka dompet agar saya yakin. 
Hahaha…sopirnya bokek

Sayapun menyerahkan 50 ringgit ke tangannya yang disambut dengan senyum malu-malu.Setelah mengisi gas, taksi kembali melaju ke arah Batu Cave.  
Berwisata di Batu Cave kali ini saya memutuskan tidak menaiki tangga ke dalam gua, karena pasti nafas akan lebih ngos-ngosan saat memanjat 272 tangga sambil menggendong bayi gendut. Jadi saya hanya foto-foto dipelataran dan didepan patung raksasa yang dipersembahkan bagi Dewa Murugan. Patung yang berlapis 300 liter cat emas yang khusus diimport dari Thailand  ini, terlihat suaaanggat bling-bling bahkan dari kejauhan .
Sekitar setengah jam saja saya bernarsis-ria di Batu Cave. Karena kali ini juga bukan kunjungan pertama,maka saya tidak terlalu curious dengan isi wahana wisata ini. Kami lanjut ke Genting Highlands

Dengan alasan karena jalan-jalan sambil menggendong bayi, wahana Theme Park yang merupakan salah satu wahana utama di Genting, kali ini saya skip saja. . Tapi,saya sempat menonton pertunjukan Cabaret di Hall (nontonnya berdiri sambil ngemil) dan masuk ke Museum  Ripley’s untuk (lagi-lagi) berfoto-foto. Tujuan besar saya ke Genting sekali ini adalah karena ingin masuk kedalam Casino. Kunjungan sebelumnya bersama suami di warnai oleh omelannya : “Ngapain sih? Cari penyakit! Udah jelas-jelas dilarang.” Katanya sambil menunjuk tanda perempuan berjilbab dicoret. Alias Muslimah tidak boleh masuk. Karena tidak ada yang akan mengomeli kali ini saya mau mencoba, sekedar memuaskan rasa ingin tahu dan penasaran saya.
Sayapun mendekati petugas security yang sedang berjaga,”Pak Cik, boleh tak saya masuk ke dalam?” Saya pasang tampang sepolos wajah Apin.
You muslimah ke? Tak boleh!” Pak Satpam menggeleng keras.
“Saya dari Indonesia, jalan-jalan kesini. Sebentar saja , Pak Cik. Nak lihat-lihat” Saya coba merayu. Biasanya rayuan saya maut. 
“Saya nak lihat passport awak. Betulkah awak touris?” Buru-buru saya keluarkan paspor hijau saya dan print tiket pulang. 
“Saya hanya sepekan disini, Pak Cik”
“Okelah.Awak boleh masuk. Sekejap saje. No foto ye.”Pak Satpam menyerahkan kembali paspor dan tiket lalu menyilahkan saya masuk. 
Benarkan, rayuan saya maut.

Menuntaskan keingin-tahuan saya keliling dari satu meja ke meja lain. Dari satu permainan ke permainan lain. Memperhatikan bagaimana orang-orang tua-muda (kebanyakan encim-encim dan akoh-akoh) mempertaruhkan keberuntungan mereka disitu. Sekali-kali saya ikutan bertepuk tangan saat ada seseorang yang beruntung memenangkan pertaruhannya.

Bosan berkeliling, sayapun memutuskan keluar dari arena perjudian tersebut. Di pintu keluar saya bertemu lagi dengan Pak Satpam yang mengijinkan saya masuk. 
You kate hanya sekejap.”Katanya menegur. Saya hanya tersenyum menjawab protesnya dan melenggang santai menuju terminal Genting Express Bus untuk naik bis menuju KL Sentral.

Saya tiba di hotel pukul 8 malam. Bahu saya terasa pegal karena seharian penuh menggendong Apin. Apinpun tampak kelelahan. Malam itu ia tidur lelap sekali hingga tidak terbangun malam hari meminta ASI, seperti biasanya.

Hari Ketiga.

Hari itu saya memutuskan jalan-jalan pada sore hari saja. Pagi hingga siang kami istirahat didalam kamar hotel saja. Apin saya pinjat dan mandi berendam di air hangat hingga 2x. Merasa rileks ia tidur siang cukup lama .

Saat matahari telah condong ke barat, saya menggendong Apin keluar kamar. Tujuan kali ini ke Twin Tower, untuk berfoto-foto tentu. Naik monorel dari Medan Tuanku saya turun di Bukit Nanas. Hanya 1 perhentian. Jika tidak menggendong Apin saya biasanya memutuskan berjalan kaki saja untuk jarak sedekat ini. Toh, trotoarnya cukup lebar dan nyaman bagi pejalan kaki.

Setelah puas berfoto-foto dipelataran Twin Tower, sayapun masuk kedalam Suria Mall. Keliling di tiap lantainya. Naik turun lift. Sempat mampir sebentar kedalam salah satu toko yang menjual camera. Sekedar melihat-lihat koleksi lensa mereka sambil berharap semoga ada sale gede-gedean. Ternyata harapanku tidak terkabul selain itu harga lensa dan kameranya nyaris tidak berbeda dengan harga yang dibanderol toko kamera di Jakarta. Sayapun melangkah keluar komplek pertokoan dan perkantoran tersebut bermaksud kembali menuju hotel. Saat menyusuri trotoar setelah perempatan jalan Ampang, Jalan P. Ramlee dan Jalan Yap Kwan Seng, diantara bayang-bayang rimbun pepohonan ,saya melihat ada sebuah café terbuka.
”Pin, kita mampir kesitu ,yuk. Barangkali ada makanan enak. Kamu lapar ngga?” Apin hanya balik menatap saya sambil tertawa-tawa. Merasa diajak ngobrol.
“Oke, berarti kamu setuju,kan Pin?” sayapun melangkah mendekati salah satu bangku besi terdekat.
Dengan menu sepotong ayam kari dan nasi lemak serta secangkir es teh tarik saya sudah merasa full tank. Dan chicken corn soup buat Apin. Jalan kaki menuju hotel terasa berat disaat perut kekenyangan apalagi sambil mengendong bayi yang montok. Maka saya melambai saat ada sebuah taksi lewat.
Alamak! Sampai lambaian kelima tak ada satupun taksi yang bersedia berhenti. Maka saya pasrah saja pelan-pelan berjalan ke terminal monorail Bukit Nanas. Selanjutnya naik monorel ke Medan Tuanku dan berjalan kaki lagi ke hotel.
Tepar.

Saat mata sudah mulai terpejam malam itu, ponselku berdering. Dari suami.
”Ma, Papa sudah turun dari off-shore tadi siang. Sekarang lagi istirahat mess. Tapi besok mau ke Miri, Cuma mau meeting dengan beberapa orang sih. Kalau mau boleh nyusul.”
Wah, tawaran yang tidak akan kulewatkan. Aku belum pernah menginjakkan kaki di Miri. Apalagi , akan lebih mantap berjalan-jalan dengan suami. Bisa gantian menggendong Apin.
Akupun segera searching tiket Kuala Lumpur – Miri untuk esok hari. Alhamdulillah, dapat.
Malam itupun kami berkemas-kemas dan membatalkan sisa pesanan kamar yang 3 hari 
Hari Keempat.


Jam 6 pagi saya dan Apin sudah duduk manis di KLIA Express. Apin saya biarkan duduk dibangku sendiri. Karena kadang-kadang iapun capek digendong terus menerus.
Jam 10 tepat pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 2564 sudah mulai bergerak perlahan-lahan siap mengangkasa meninggalkan Kuala Lumpur.

Goodbye KL, Hello Miri…






















Sunday, August 25, 2013 0 komentar

Relasi Dalam Bisnis Online



Faktor ini sangat penting. Jika anda tidak memiliki relasi dalam bisnis online Anda, Anda tentu tidak akan memiliki target efektif yang bisa dijadikan calon konsumen. Bahkan jika anda hendak berjualan di jejaring sosial, tanpa adanya relasi, bisa dipastikan tidak ada yang akan mengunjungi laman anda.

Untuk itu relasi adalah salah satu syarat mutlak dalam bisnis online. Manfaatkanlah jejaring sosial seperti twitter dan facebook dalam menjalin relasi dengan calon pelanggan anda. DI Twitter dan Facebook terdapat ribuan akun grup yang bisa anda ikuti berdasarkan minat dan bidang usaha anada. Agar anda dikenal,aktiflah dalam grup tersebut dengan mempostingkan tulisan-tulisan yang dapat memberikan manfaat bagi para anggota grup. Jangan hanya memposting iklan melulu. Karena hal tersebut akan cepat membosankan anggota lainnya. Kecuali jika grup tersebut memang grup khusus iklan.
Monday, August 19, 2013 0 komentar

Nastar Safira : Sebuah Bisnis Dari "Rasan-rasan"

Kali ini saya mau berbagi kisah bisnis baru saya yang saya mulai saat Ramadhan kemarin.
Bermula dari "rasan-rasan" saya dengan kakak yang berteman dengan bagian pembelian di sebuah BUMN . Kakak saya bercerita bahwa teman itu setiap menjelang lebaran selalu membeli ratusan stoples kue kering untuk hadiah lebaran bagi dhuafa sebagai bagian CSR mereka. Saya bilang ke Kakak : "Saya juga bisa bikin kue kering. Beli ke saya aja deh". Kakak langsung menelpon temannya dan sang teman meminta besok saya membawa sample ke kantornya.

Waduh. Jelas saya tidak siap. Saat itu'kan saya asbun saja.

Tapi tidak kehilangan akal saya dan adik segera ke pasar Mayestik untuk membeli beberapa stoples kue kering sebagai sample dan menyerahkan ke teman Kakak. Untuk meyakinkan beliau bahwa bisnis saya serius,saya segera membuat Fanspage di FB, Twitter dan website dan memberi merk Nastar Safira untuk dagangan saya ini.

Sayangnya sample yang saya kasih "over of spec" buat mereka. Saya kasih kue yang harga diatas 50.000 sedangkan budget mereka separuhnya. Saya tersingkir.

Namun, karena sudah kadung maka saya jalan terus. Alhamdulillah berkat rekomendasi teman-teman dan promosi yang gencar orderan masuk terus dan saya harus merekrut hingga 10 tenaga bala-bantuan.


Masalah lain muncul yaitu permodalan. Karena biarpun saya memakai sistem pre-order, tapi kan agar harga jual lebih ekonomis saya harus membeli bahan baku grosiran. Gak mungkin ada yang pesan nastar stoples, saya baru beli telur sekilo, mentega setengah kilo dlll secara "ketengan". Alhamdulillah, setelah pasang status di FB,ada teman yg kebetulan punya dana nganggur menawarkan untuk profit sharing.

Alhamdulillah (lagi), bisnis dadakan ini dalam 1 bulan beromset tidak kurang dari 25 juta.Dan produk kami juga sudah pernah di liput oleh televisi loh . 


Lalu setelah lebaran apakah bisnis ini akan berhenti? Insya Allah tidak. Kami hanya perlu merumuskan pola pemasaran baru yang berbeda tentu dari pola saat menjelang lebaran kemarin.

Oya, ini foto beberapa produk Nastar Safira :








Sunday, August 18, 2013 1 komentar

Sate Padang, oh, Sate Padang


Tahu sate padang’kan? Itu loh irisan daging  , lidah dan jeroan sapi yang direbus dengan bumbu, setelah masak di potong-potong dan ditusuk dengan batangan lidi, kemudian dibakar lagi. Sekedar untuk menghangatkan . Lalu sate tersebut dihidangkan dengan lumuran saus kacang, taburan bawang goreng dan di temani sebungkus kerupuk kulit.  Biar makin jelas nih saya kasih gambarnya.

Melihat penampilan sate padang seperti itu, saya tidak memasukkannya ke dalam daftar makanan favorit saya. Malah bisa dikatakan saya anti sate padang.  Dalam pandangan mata saya bumbu sate padang itu terlihat aneh. Kenthel, kuning, lengket.  Seperti pup bayi.
Yeakh.!
Saya langsung bergidik.
Saya memilih menahan lapar jika satu-satunya menu yang tersedia adalah sate padang. Dibanding harus menyuapkan sesendok demi sesendok “pup bayi” itu ke dalam perut saya.
Yeakh!
Tapi, itu pendapat lama saya,  sebelum saya mengenal sate Mak Syukur . (Uppss, menyebutkan merk. Tapi gak apa-apa deh, Toh, Sate Mak Syukur sudah melegenda)

Kegandrungan  pada sate padang dimulai saat saya baru saja melewati fase morning sickness pada kehamilan kedua. Setelah lepas dari “bulan-bulan mual-muntah”, nafsu makan saya jadi gila-gilaan. Sehari saya bisa makan 6 kali makanan berat ditambah beberapa kali ‘ngemil.  Saat-saat itu sepertinya saya tidak berhenti mengunyah. Gembul sekali.

Suatu hari,  saya kembali mengunjungi mall dekat rumah (kunjungan yang kedua-juta sekian, saking seringnya kami kesana) dan kebetulan sedang ada pembukaan cabang Sate Mak Syukur.  Pertama yang menggoda saya adalah diskon Grand Launching-nya yang  50 %.
“Pa, tuh, Mak Syukur diskon 50%” Saya menjawil suami. “Kesana yuk.”
“Yakin?” Suami paham betul kalau saya anti sate padang. Sebelumnya ia telah beberapa kali gagal memprovokatori saya mencicipi sate padang.
“Papa aja yang makan. Saya temani saja”
Wah, suami menyambut tawaran saya dengan suka cita. Karena ia termasuk penikmat makanan satu ini. Hanya karena istrinya tidak suka, maka dengan berbesar hati ia mengesampingkan menu tersebut saat makan bersama saya .  

Melihat suami menyantap potongan-potongan daging sate dengan lahap, saya jadi tergoda juga. Lalu saya mencicipi sepotong kerupuk kulit yang berbumbu.
Wah, enak ya ternyata. 
Kemudian sekerat daging.
Tidak terasa saya menghabiskan satu porsi sate. Sendirian.
Dan sejak saat itu, yang tadinya antipati menjadi cinta.
Kebelakangan, saya sering ngangeni sate padang. Akibatnya saya tidak segan-segan menyediakan waktu khusus untuk berburu kuliner yang satu ini. Namun, setelah mencoba sate padang ke beberapa tempat. Sate padang Mak Syukur masih yang paling terenak buat saya

Namun, sejak dua hari lalu saya mesti menggeser status sate padang dari yang “Disukai” menjadi “Diwaspadai”. Ceritanya, hari itu seharian saya berkutat dengan kesibukan urusan rumah tangga dan pekerjaan, tidak terasa jam menunjukkan pukul 3 sore. Saya merasa lapar karena belum sarapan sejak pagi dan makan siang. Kebetulan sore itu saya berjanji mengajak anak-anak menonton film Smurf 3 di bioskop. “Makan sate padang di mal aja sekalian deh sebelum nonton. “ Begitu pikir saya.

Kamipun berangkat ke mal (lagi-lagi-dan lagi. hehe), setelah memesan tiket bioskop kami segera ke gerai sate Mak Syukur. 1 porsi sate plus 2 gelas es teh manispun lenyap ke dalam perut saya. Dengan perasaan puas karena telah kenyang sayapun menemani anak-anak menonton.Tetapi, ditengah film ditayangkan, perut saya bergejolak. Sayapun segera terbang ke toilet. Astaga. 
“Mama’kan dari dulu sudah tahu. Kalau sudah telat makan begitu jangan makan bersantan, berbumbu kacang dan pedas. Akibatnya sekarang diare.” Tegur suami melihat saya  sepulang dari bioskop hingga pukul 3 dini hari bolak-balik ke kamar mandi.
“Mulai sekarang, kalau sudah telat makan jangan makan sate padang. Diingat-ingat,Ma”
“Oke deh, Kakak” Saya manggut-manggut. Geli dengan gaya galaknya suami
“Jangan meledek. Saya serius nih. Atau mau di blacklist aja tuh sate padang? Dulu juga ngga suka’kan?”
Noooo !!!!
Baiklah. Baiklah. 
Daripada sate padang di blacklist saya akan mengikuti komando Bos Gede aja deh.
Toh, buat kebaikan saya juga. 


Gambar dari 1.bp.blogspot
 
;