Tuesday, August 27, 2013

Berpetualang di KL Bersama Bayi Apin




Hari Pertama di KL.

Setelah penerbangan selama 2 jam, pesawat Malaysia Airline ,MH 710, dari Jakarta mendarat dengan mulus di KLIA. Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 13.15. WIB. Segera kumajukan jarum jam 60 menit lebih cepat, mengikuti waktu setempat. Aku tidak merasa perlu tergesa-gesa turun dari pesawat karena kali ini aku terbang ke KL berdua dengan Apin yang baru berumur 6 bulan.
Saat menapaki garbarata kunyalakan ponsel dan segera bertubi-tubi SMS masuk. 2 dari provider celular Malaysia yang menyambut kedatanganku dengan suka cita karena mulai saat itu hingga kembali ke tanah air  pulsaku akan dialihkan ke mereka, 1 SMS dari Ibu yang memintaku berhati-hati selama di Malaysia, dan 2 SMS dari suami. 2 SMS terakhir membuatku terbengong-bengong selama beberapa saat.
Kebiasaan suami adalah mengirimkan SMS pendek-pendek, malah sering kali hanya berisi 1 kata.Jadi aku bisa paham dengan isi SMS pertama ini: Ma, maaf banget ya , Papa jadi berangkat ke off-shore siang ini. Seminggu. Pemberitahuannya mendadak. Mama nginep di hotel depan kantor saja. Papa sudah booking.
SMS kedua berisi alamat hotel yang terletak di Jl. Sultan Ismail, sekitaran Medan Tuanku.

Kedatanganku di Kuala Lumpur kali ini bukan untuk pertama kali, sudah beberapa kali kutelusuri sudut-sudut kota ini baik sendirian maupun bersama suami. Namun ini adalah pengalaman pertama travelling ke luar negeri hanya berdua dengan seorang bayi 6 bulan. Sempat terpikir ingin balik badan saja. Pulang lagi ke Jakarta.Tapi saat ingat sayang uang yang sudah terlanjur dibayarkan untuk sewa hotel dan tiket  pulangpun pasti kena potongan andai dibatalkan, akhirnya kuputuskan: Yo,wis lah. Sudah kadung sampai KL. The show must go on.  

Menaiki KLIA Express aku dan Apin menuju KL Sentral , lalu dilanjut dengan naik monorel menuju Medan Tuanku lalu jalan kaki sekitar 5 menit ke hotel. Sejak awal aku tidak merencanakan adanya jadwal blusukan di KL pada hari pertama karena mempertimbangkan kondisi Apin yang tentu kelelahan setelah perjalanan cukup jauh bagi bayi 6 bulan ini.

Hari Kedua.

“Pin,hari ini kita ke Batu Cave dan Genting yuk.” Apin yang sedang kususui hanya menatapku.  
“Supaya kamu ngga kepanasan, kita naik taksi saja deh. Gimana?” Apin kembali menatapku sambil berkedip-kedip. Hahaha.
Kami sengaja tidak memesan taksi dari hotel karena sudah pasti akan kena tarif taksi yang lebih mahaldan susah buat nego harga. Kami memilih menyusuri trotoar menjauh dari hotel lalu memberhentikan taksi di pinggir jalan.
Woooyy, ini bukan di Jakarta yang bisa seenaknya memberhentikan taksi di sembarang tempat.
Eh, tapi ternyata sebuah taksi berwarna  merah dibody dan putih di atapnya mau juga berhenti tuh. Supirnya keturunan India. Setelah tawar menawar yang cukup alot maka kami diangkut dengan kesepakatan RM 90 dengan trayek KL-Batu Cave-Genting .
Aca…aca…let’s go to Batu Cave!
Taksi baru berjalan 10 menit, supir berbelok masuk ke sebuah POM Bensin.
”Ibu, mobil isi gas dulu ya. Kita jalan jauh.” Kata si Sopir. Sebagian besar taksi disana rupanya  berbahan bakar gas.
“Ok” saya setuju.
Saat antrian mendekati mesin pengisi gas, sopir kembali menoleh ke saya. “Ibu, saya minta 50 ringgit. You’re my first passenger this morning. Saya belum ada uang” katanya sambil membuka dompet agar saya yakin. 
Hahaha…sopirnya bokek

Sayapun menyerahkan 50 ringgit ke tangannya yang disambut dengan senyum malu-malu.Setelah mengisi gas, taksi kembali melaju ke arah Batu Cave.  
Berwisata di Batu Cave kali ini saya memutuskan tidak menaiki tangga ke dalam gua, karena pasti nafas akan lebih ngos-ngosan saat memanjat 272 tangga sambil menggendong bayi gendut. Jadi saya hanya foto-foto dipelataran dan didepan patung raksasa yang dipersembahkan bagi Dewa Murugan. Patung yang berlapis 300 liter cat emas yang khusus diimport dari Thailand  ini, terlihat suaaanggat bling-bling bahkan dari kejauhan .
Sekitar setengah jam saja saya bernarsis-ria di Batu Cave. Karena kali ini juga bukan kunjungan pertama,maka saya tidak terlalu curious dengan isi wahana wisata ini. Kami lanjut ke Genting Highlands

Dengan alasan karena jalan-jalan sambil menggendong bayi, wahana Theme Park yang merupakan salah satu wahana utama di Genting, kali ini saya skip saja. . Tapi,saya sempat menonton pertunjukan Cabaret di Hall (nontonnya berdiri sambil ngemil) dan masuk ke Museum  Ripley’s untuk (lagi-lagi) berfoto-foto. Tujuan besar saya ke Genting sekali ini adalah karena ingin masuk kedalam Casino. Kunjungan sebelumnya bersama suami di warnai oleh omelannya : “Ngapain sih? Cari penyakit! Udah jelas-jelas dilarang.” Katanya sambil menunjuk tanda perempuan berjilbab dicoret. Alias Muslimah tidak boleh masuk. Karena tidak ada yang akan mengomeli kali ini saya mau mencoba, sekedar memuaskan rasa ingin tahu dan penasaran saya.
Sayapun mendekati petugas security yang sedang berjaga,”Pak Cik, boleh tak saya masuk ke dalam?” Saya pasang tampang sepolos wajah Apin.
You muslimah ke? Tak boleh!” Pak Satpam menggeleng keras.
“Saya dari Indonesia, jalan-jalan kesini. Sebentar saja , Pak Cik. Nak lihat-lihat” Saya coba merayu. Biasanya rayuan saya maut. 
“Saya nak lihat passport awak. Betulkah awak touris?” Buru-buru saya keluarkan paspor hijau saya dan print tiket pulang. 
“Saya hanya sepekan disini, Pak Cik”
“Okelah.Awak boleh masuk. Sekejap saje. No foto ye.”Pak Satpam menyerahkan kembali paspor dan tiket lalu menyilahkan saya masuk. 
Benarkan, rayuan saya maut.

Menuntaskan keingin-tahuan saya keliling dari satu meja ke meja lain. Dari satu permainan ke permainan lain. Memperhatikan bagaimana orang-orang tua-muda (kebanyakan encim-encim dan akoh-akoh) mempertaruhkan keberuntungan mereka disitu. Sekali-kali saya ikutan bertepuk tangan saat ada seseorang yang beruntung memenangkan pertaruhannya.

Bosan berkeliling, sayapun memutuskan keluar dari arena perjudian tersebut. Di pintu keluar saya bertemu lagi dengan Pak Satpam yang mengijinkan saya masuk. 
You kate hanya sekejap.”Katanya menegur. Saya hanya tersenyum menjawab protesnya dan melenggang santai menuju terminal Genting Express Bus untuk naik bis menuju KL Sentral.

Saya tiba di hotel pukul 8 malam. Bahu saya terasa pegal karena seharian penuh menggendong Apin. Apinpun tampak kelelahan. Malam itu ia tidur lelap sekali hingga tidak terbangun malam hari meminta ASI, seperti biasanya.

Hari Ketiga.

Hari itu saya memutuskan jalan-jalan pada sore hari saja. Pagi hingga siang kami istirahat didalam kamar hotel saja. Apin saya pinjat dan mandi berendam di air hangat hingga 2x. Merasa rileks ia tidur siang cukup lama .

Saat matahari telah condong ke barat, saya menggendong Apin keluar kamar. Tujuan kali ini ke Twin Tower, untuk berfoto-foto tentu. Naik monorel dari Medan Tuanku saya turun di Bukit Nanas. Hanya 1 perhentian. Jika tidak menggendong Apin saya biasanya memutuskan berjalan kaki saja untuk jarak sedekat ini. Toh, trotoarnya cukup lebar dan nyaman bagi pejalan kaki.

Setelah puas berfoto-foto dipelataran Twin Tower, sayapun masuk kedalam Suria Mall. Keliling di tiap lantainya. Naik turun lift. Sempat mampir sebentar kedalam salah satu toko yang menjual camera. Sekedar melihat-lihat koleksi lensa mereka sambil berharap semoga ada sale gede-gedean. Ternyata harapanku tidak terkabul selain itu harga lensa dan kameranya nyaris tidak berbeda dengan harga yang dibanderol toko kamera di Jakarta. Sayapun melangkah keluar komplek pertokoan dan perkantoran tersebut bermaksud kembali menuju hotel. Saat menyusuri trotoar setelah perempatan jalan Ampang, Jalan P. Ramlee dan Jalan Yap Kwan Seng, diantara bayang-bayang rimbun pepohonan ,saya melihat ada sebuah café terbuka.
”Pin, kita mampir kesitu ,yuk. Barangkali ada makanan enak. Kamu lapar ngga?” Apin hanya balik menatap saya sambil tertawa-tawa. Merasa diajak ngobrol.
“Oke, berarti kamu setuju,kan Pin?” sayapun melangkah mendekati salah satu bangku besi terdekat.
Dengan menu sepotong ayam kari dan nasi lemak serta secangkir es teh tarik saya sudah merasa full tank. Dan chicken corn soup buat Apin. Jalan kaki menuju hotel terasa berat disaat perut kekenyangan apalagi sambil mengendong bayi yang montok. Maka saya melambai saat ada sebuah taksi lewat.
Alamak! Sampai lambaian kelima tak ada satupun taksi yang bersedia berhenti. Maka saya pasrah saja pelan-pelan berjalan ke terminal monorail Bukit Nanas. Selanjutnya naik monorel ke Medan Tuanku dan berjalan kaki lagi ke hotel.
Tepar.

Saat mata sudah mulai terpejam malam itu, ponselku berdering. Dari suami.
”Ma, Papa sudah turun dari off-shore tadi siang. Sekarang lagi istirahat mess. Tapi besok mau ke Miri, Cuma mau meeting dengan beberapa orang sih. Kalau mau boleh nyusul.”
Wah, tawaran yang tidak akan kulewatkan. Aku belum pernah menginjakkan kaki di Miri. Apalagi , akan lebih mantap berjalan-jalan dengan suami. Bisa gantian menggendong Apin.
Akupun segera searching tiket Kuala Lumpur – Miri untuk esok hari. Alhamdulillah, dapat.
Malam itupun kami berkemas-kemas dan membatalkan sisa pesanan kamar yang 3 hari 
Hari Keempat.


Jam 6 pagi saya dan Apin sudah duduk manis di KLIA Express. Apin saya biarkan duduk dibangku sendiri. Karena kadang-kadang iapun capek digendong terus menerus.
Jam 10 tepat pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 2564 sudah mulai bergerak perlahan-lahan siap mengangkasa meninggalkan Kuala Lumpur.

Goodbye KL, Hello Miri…






















0 komentar:

Post a Comment

 
;