Tuesday, February 4, 2014 2 komentar

Amplop Kusam

Dengan menggendong Ratna dan menuntun erat lengan Aji dan Dewi dikiri-kanan, Aku segera bergegas meninggalkan arena pesta pernikahan ini.
Sedihku tak terkira.
Harga diriku hancur.
Namun kupaksakan tetap menyunggingkan senyum kepada para kerabat dan tamu kedua mempelai,  yang beberapa diantaranya kukenal.
Saat kembali melewati kotak amplop di hadapan meja penerima tamu, aku tertegun.
Lalu kutetapkan hati, karena jika tidak kulakukan, aku yakin akan makin merasa berdosa. Kepada anak-anakku , juga kepada kedua mempelai dan keluarganya. Dengan cepat kumasukkan selembar amplop yang telah kupersiapkan dari rumah.
”Bismillah, Semoga mereka mengerti dan mengikhlaskan” Doaku dalam hati.

“Sstt, Mak, aku tadi sisain ayam gorengnya” Aji mengeluarkan potongan ayam goreng dari sakunya. “Buat makan nanti malam”
“Dewi, juga punya ini, Mak.” Diacungkannya segumpal bungkusan dari kertas tisu. Campur aduk disitu, sepotong ayam goreng, dua potong kue bolu dan sebuah jeruk.
”Masya Allah, Nak. Kalian mengambil lagi?”Aku terbelalak. 
“Nggak koq, Mak, Ini sisa d ipiring kami.” Dewi buru-buru memasukkan lagi gumpalan tisu itu, seolah-olah khawatir aku akan merampasnya.
“Ya sudah. Disimpan buat makan nanti malam, ya “ Kuusap kepala mereka.
“Untung Pakde Suryo mantu ya, Mak. Jadi siang ini kita bisa makan kenyang, deh.” Aji mengelus-elus perutnya. “Coba setiap hari ada yang selametan ya , Mak, kan kita bisa ikutan makan. “
”Itu kalau kita diundang. Kalau nggak diundang kan nggak dapet makanan juga. Iya’kan , Mak?” Dewi menimpali.
Ah, anak-anakku, semoga kalian bersabar dengan segala kesulitan ini.

Aku bersyukur siang ini anak-anakku makan dengan kenyang. Nanti malampun nampaknya kami tidak terlalu kelaparan karena kami bisa mengganjal perut dengan sisa makanan yang dibawa anak-anakku. 
Tapi bagaimana dengan besok dan lusa?

Beginilah yang selalu terjadi pada kami. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Kami jarang makan dengan cukup. Bahkan sering harus menahan lapar sehari-semalam. Penghasilanku sebagai buruh harian di sawah Juragan Busro hanya  cukup untuk membeli makanan seadanya, asal kami tidak kelaparan.

Upahku tidak pernah bersisa untuk membeli simpanan bahan pangan disaat tidak ada pekerjaan di sawah buatku. Seperti yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Hujan yang turun sangat deras, menyebabkan sawah-sawah Juragan Busro pun kebanjiran. Dan aku sebagai buruh harian kehilangan pekerjaan. Padahal itulah satu-satunya sumber penghasilanku.

Entah sampai kapan kondisi ini berlaku bagi kami.

--------
Meskipun sedikit merasa sedih karena Nadya, putri sulung kami, sebentar lagi akan diboyong ke Balikpapan oleh Sapto, yang sekarang menjadi suaminya, namun aku bersyukur, kami sudah menunaikan salah satu kewajiban sebagai orang tua. Menikahkannya.

Upacara pernikahan pun berlangsung meriah. Hampir semua tetangga desa kami datang. Beberapa teman kuliah dan kerja Nadya dan Sapto pun menyempatkan untuk datang dari luar kota.


“Alhamdulillah” Bisik syukur diakhir shalat isyaku.
”Bunda” Kudengar Yulia, bungsuku, mengetuk pintu. “Dipanggil Ayah ke ruang tamu. Mau buka amplop, katanya.”

Diruang tamu sudah berkumpul suami, kedua putriku dan Sapto, menantu baruku , serta beberapa orang keponakan kami. Kulihat  Yulia sudah siap dengan sebuah buku dan pulpen untuk mencatat uang pengisi amplop yang kami terima.

Beberapa amplop berisi uang dengan nominal cukup banyak, terutama dari relasi kerja Nadya, Sapto dan suamiku. 
Hingga Fauzan, adikku, mengangkat sebuah amplop.  
“Ya, ampun, lusuh amat nih amplop” komentarnya. Lalu dia membuka dan mengeluarkan isi amplop tersebut. 
Sebuah surat .
Dibacanya segera. 
Tetapi kulihat bibir Fauzan bergetar dan wajahnya memucat.
”Buat Mas Suryo dan Mbak Yu,” katanya sambil mengulurkan surat itu kepada suamiku . Suamiku pun segera membacanya.

“Ya Allah.! Astaghfirullah! Astaghfirullah”  Kulihat suamiku menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada setitik air disudut matanya, “ Ampuni hamba Ya, Allah. Ampuni Hamba“
Mendadak Mas Suryo mengambil sebagian uang-uang dari amplop yang menumpuk di depan Nadya
”Sebagian ini untuk bayar sisa hutang kalian untuk pesta ini. Jika kurang ambil simpanan Ayah di bank, besok," katanya.
“Dik, kita masih punya beras?" Ucapnya kepadaku. "Bawa kesini 10 kilo. Ayam goreng, dan rendang masih ada? Gula, teh, Indomie ada?. Bawa sini semua!“ Perintah Mas Suryo sambil mengumpulkan sebagian kue-kue yang terhidang di hadapan kami.

“Baik, Yah.” aku kebingungan dengan sikapnya. Anak-anak pun hanya terdiam memperhatikan.  “Tapi apa isi surat itu? Dari siapa?”   
Diulurkan surat itu, aku pun segera membacanya. Tulisan tidak rapi tapi bisa terbaca dengan jelas. Terutama kepedihan di dalam kata-katanya.

Yth. Pak Suryo dan Bu Suryo,

Mohon maaf yang sebesar-besarnya sebelumnya. kami datang ke pernikahan Mbak Nadya dan Mas Sapto meski tanpa diundang.

Saya paham kami memang tidak seharusnya berada di acara itu karena kami tidak punya pakaian yang pantas dan kado sebagai kenang-kenangan. Namun, sudah dua hari ini saya dan anak-anak belum makan karena kami sama sekali tidak mempunyai makanan juga uang untuk beli makanan. Mohon maaf kami menumpang makan siang ini. Semoga Bapak dan Ibu Suryo mengikhlaskan makanan yang saya dan anak-anak saya makan. Dan semoga Mbak Nadya dan Mas Sapto rumah tangganya bahagia.

Salam,
Jamilah

Ya Allah, ampuni kami!


Bagaimana bisa terlupa mengundang  tetangga kami itu, padahal mereka sering kami panggil untuk membantu membersihkan rumah! 

“Ayo, Yulia, Nadya, Sapto, ikut kami mengantar makanan dan uang ini ke rumah Bu Jamilah. Semoga mereka  mau memaafkan kita,”kata suamiku sambil menarikku bangkit dari duduk. "Ayah merasa sedih karena di saat kita bergembira dan berpesta, ternyata ada tetangga yang sedang kelaparan. Astaghfirullah!"

-------
Fiksi lainnya:




Monday, February 3, 2014 3 komentar

Aku (Calon) Pelanggan Yang Diabaikan

Nastar Safira
Setelah browsing dan bertanya ke Adik Google, Saya mendapatkan sebuah alamat 'workshop' pembuat kotak souvenir di daerah Kampung Ambon - Jakarta. Yang membuat Saya tertarik untuk datang ke sana karena iklannya tertulis : Pesanan bisa ditunggu, tanpa minimum order. Sangat cocok dengan kebutuhan Saya saat ini, yang  butuh prototipe kotak kemasan Nastar Safira.

Setelah menembus hujan dan kemacetan Jakarta dari Karawaci, sampailah Saya ditempat yang dituju. Sebuah ruko dengan pintu kaca , sehingga jejeran contoh kotak-kotak souvenir  terlihat jelas dari halaman ruko. Wah, hati saya gembira karena merasa datang ke tempat yang tepat.
"Selamat Siang" sapa Saya saat melihat dua orang duduk di depan dua buah meja yang berlainan.  Seorang lelaki dan seorang lainnya perempuan.
"Siang" Jawab yang perempuan. Yang lelaki hanya menoleh, lalu lanjut menunduk kearah laptopnya. Nampaknya game yang sedang dimainkannya sedang tanggung untuk ditinggalkan.  Yang perempuan, Saya lihat membaca pesan masuk di ponselnya lalu menelpon. Tampaknya telepon tersebut begitu penting sekali sehingga Saya sama sekali  belum lagi diajak bicara  selain satu kata " Siang" tadi.

Saya  berdiri serba salah.
Hanya bisa tolah-toleh kiri-kanan melihat jajaran kotak, karena Saya tidak berani menyentuh jika belum diizinkan.
Si Lelaki masih terus main game, padahal saya berdiri semeter disampingnya.  Si Perempuan masih berbicara di telepon.

Untunglah, dari atas lantai dua turun karyawan bagian produksi membawa kotak-kotak yang telah jadi. Saya langsung memanggilnya, menunjukkan ukuran kotak yang ingin Saya buat, minta ditunjukkan contoh kertas, memilih dan memintanya membuatkan masing-masing hanya satu kotak. Saya disuruh menunggu satu jam
Ok lah.

Tidak tahan berdiri dan tidak diajak bicara sama sekali , Sayapun memutuskan keluar,. Duduk manis sambil mendengarkan radio dimobil Saya pikir lebih baik daripada berdiri seperti patung di dalam ruangan tersebut. Saya jadi merasa menjadi orang ketiga yang tidak diinginkan kehadirannya diantara mereka berdua.
Huh!!!

Kira-kira 40 menit kemudian, kaca jendela mobil saya diketuk. Si Mas bagian produksi tadi.
"Sudah selesai, Bu." Katanya mengulurkan dua buah kotak pesanan saya.
"Berapa harganya?" tanya Saya.
"Kata Ibu,  30.000 satunya. Jadi 60.000 semua." Jawabnya.
"Wah, mahal, ya" Saya ulurkan uang 60.000 rupiah.
"Kalau bikinnya banyak, bisa lebih murah." Kata si Mas.
"Berapaan?"
" Tanya aja langsung ke Ibu , Bu" Katanya sambil menoleh kedalam ruko.
"Oh, yang berdua di dalam itu, Bos kamu?"
"Iya, Bu."
Sayapun hanya tersenyum, pamit, lalu pergi tanpa masuk kembali ke toko tersebut.

Seberapapun penasarannya Saya terhadap harga grosir kotak-kotak ini, Saya tidak akan masuk ke dalam ruko itu lagi.
Masih ada ratusan toko sejenis di Jakarta ini.
Dan merekapun kehilangan satu pembeli potensial. Plus potensi viral marketingnya, (cie..cie..)
 
;