Monday, February 3, 2014

Aku (Calon) Pelanggan Yang Diabaikan

Nastar Safira
Setelah browsing dan bertanya ke Adik Google, Saya mendapatkan sebuah alamat 'workshop' pembuat kotak souvenir di daerah Kampung Ambon - Jakarta. Yang membuat Saya tertarik untuk datang ke sana karena iklannya tertulis : Pesanan bisa ditunggu, tanpa minimum order. Sangat cocok dengan kebutuhan Saya saat ini, yang  butuh prototipe kotak kemasan Nastar Safira.

Setelah menembus hujan dan kemacetan Jakarta dari Karawaci, sampailah Saya ditempat yang dituju. Sebuah ruko dengan pintu kaca , sehingga jejeran contoh kotak-kotak souvenir  terlihat jelas dari halaman ruko. Wah, hati saya gembira karena merasa datang ke tempat yang tepat.
"Selamat Siang" sapa Saya saat melihat dua orang duduk di depan dua buah meja yang berlainan.  Seorang lelaki dan seorang lainnya perempuan.
"Siang" Jawab yang perempuan. Yang lelaki hanya menoleh, lalu lanjut menunduk kearah laptopnya. Nampaknya game yang sedang dimainkannya sedang tanggung untuk ditinggalkan.  Yang perempuan, Saya lihat membaca pesan masuk di ponselnya lalu menelpon. Tampaknya telepon tersebut begitu penting sekali sehingga Saya sama sekali  belum lagi diajak bicara  selain satu kata " Siang" tadi.

Saya  berdiri serba salah.
Hanya bisa tolah-toleh kiri-kanan melihat jajaran kotak, karena Saya tidak berani menyentuh jika belum diizinkan.
Si Lelaki masih terus main game, padahal saya berdiri semeter disampingnya.  Si Perempuan masih berbicara di telepon.

Untunglah, dari atas lantai dua turun karyawan bagian produksi membawa kotak-kotak yang telah jadi. Saya langsung memanggilnya, menunjukkan ukuran kotak yang ingin Saya buat, minta ditunjukkan contoh kertas, memilih dan memintanya membuatkan masing-masing hanya satu kotak. Saya disuruh menunggu satu jam
Ok lah.

Tidak tahan berdiri dan tidak diajak bicara sama sekali , Sayapun memutuskan keluar,. Duduk manis sambil mendengarkan radio dimobil Saya pikir lebih baik daripada berdiri seperti patung di dalam ruangan tersebut. Saya jadi merasa menjadi orang ketiga yang tidak diinginkan kehadirannya diantara mereka berdua.
Huh!!!

Kira-kira 40 menit kemudian, kaca jendela mobil saya diketuk. Si Mas bagian produksi tadi.
"Sudah selesai, Bu." Katanya mengulurkan dua buah kotak pesanan saya.
"Berapa harganya?" tanya Saya.
"Kata Ibu,  30.000 satunya. Jadi 60.000 semua." Jawabnya.
"Wah, mahal, ya" Saya ulurkan uang 60.000 rupiah.
"Kalau bikinnya banyak, bisa lebih murah." Kata si Mas.
"Berapaan?"
" Tanya aja langsung ke Ibu , Bu" Katanya sambil menoleh kedalam ruko.
"Oh, yang berdua di dalam itu, Bos kamu?"
"Iya, Bu."
Sayapun hanya tersenyum, pamit, lalu pergi tanpa masuk kembali ke toko tersebut.

Seberapapun penasarannya Saya terhadap harga grosir kotak-kotak ini, Saya tidak akan masuk ke dalam ruko itu lagi.
Masih ada ratusan toko sejenis di Jakarta ini.
Dan merekapun kehilangan satu pembeli potensial. Plus potensi viral marketingnya, (cie..cie..)

3 komentar:

Shintaries.Com said...

iya tuh mba, tinggalin aja. Bikin males kalo mau beli dicuekin kaya gitu :-( aku sering sih, abis itu ya tak tinggal hehehe

Rinny Ermiyanti Yasin said...

mereka pikir ngga punya kompetitor, barangkali..

Ayaran said...

Dia nggak ikut wpc sih. Hehe

Post a Comment

 
;