Pengaruh Sinetron, Kenangan dan Pengampunan (Bag. 1)

by - Saturday, March 08, 2014

1.      Pengaruh Sinetron

Kemarin siang salah seorang teman menuliskan status di dinding Facebooknya : Teman2 Analis Kimia Carnus: Ade Sara yg tewas dibunuh dan mayatnya di buang di tol Bintara, benarkah anak dari Suroto dan Elizabeth, teman sekolah kita?

Status FB tersebut tentu mengejutkan. Saya pun terdorong untuk browsing beritanya lebih intens. Hasilnya potongan berita-berita yang tersaji di beberapa portal berita online membuat perasaan saya teraduk-aduk antara ngeri, sedih dan salut.

Bagaimana perasaan saya tidak ngeri saat membaca pelaku pembunuhan tersebut adalah sepasang remaja, Ahmad Imam Al Hafitd (20 thn) dan Assyifa Ramadhani (19 thn). Mereka merencanakan pembunuhan tersebut sejak seminggu sebelumnya. Hafidt, yang merupakan mantan pacar korban, merasa sakit hati karena korban tidak mau lagi dihubungi. Sedangkan alasan Syifa, yang merupakan kawan SMA sekaligus pacar baru Hafitd, merasa cemburu , khawatir jika Hafidt  CLBK dengan Sara.
Kedua pelaku masih bisa tersenyum manis saat diinterogasi di POLSEK Bekasi

Perasaan dan ketakutan yang didramatisir ini sanggup menghilangkan akal sehat , sehingga tidak menimbang efek dan dampak kejahatan tersebut bagi masa depan mereka. Dari mana mereka belajar tentang kekerasan , balas dendam  bahkan membunuh? Dengan mudah saya akan menunjung hidung :MEDIA MASSA!!!.

Lihatlah yang terhidang di media massa sekarang. Portal berita menurunkan  pembunuhan lengkap dengan detail teknik membunuhnya disampaikan berulang-ulang bagaikan cerita bersambung. Dari tulisan yang gamblang seperti itu, para remaja galau ini akan mudah menyerap informasi : Oohh.. kalau mau membunuh, begini toh caranya.
  
Begitupun sinetron remaja  menayangkan hingga puluhan seri kisah balas dendam karena kekasih yang direbut, penganiayaan si Kaya terhadap si Miskin, saling benci antar tetangga, saling caci-maki dalam berita gosip dan sebagainya. Dan tontonan-tontonan tersebut ditayangkan di prime-time. Jika menyaksikan tayangan-tayangan tersebut setiap hari, maka akan menjadi terbiasa dan menganggap seolah-olah begitulah perilaku keseharian kita.  

Apakah tidak ada pengaruh orang tua terhadap perilaku anaknya?  Pada usia remaja ini pengaruh peer group  lebih dominan terhadap perilaku keseharian,  karena dalam grup bersama teman-temannya mereka merasa lebih bebas dan ‘menjadi diri sendiri’. Bagi remaja yang kemudian ‘terisolasi’ karena telah memiliki pacar, maka perilaku pacarlah yang menjadi tolok-ukurnya. Pacar yang baik akan mempengaruhi pasangannya menjadi anak baik.
Dan, pada hubungan Hafidt dan Syifa, Hafidt yang hobi menonton film bergenre psiko-thriller, tampaknya berhasil mempengaruhi Syifa untuk bersedia menjadi partner in crime-nya.

Bersambung     

You May Also Like

2 komentar

  1. Saya jg prihatin banget, mbak. Ngeri bayangin masa depan. Smg Allah membantu kita dlm membimbing anak2, khalifah bumi yg amanah dan berbudi pekerti luhur ya mbak... aamiin

    ReplyDelete
  2. aamiinn.. Pengaruh luar bagi anak pengaruhnya lebih masif dibanding jaman kita dulu.

    ReplyDelete