Diakah Jodohku?

by - Saturday, June 21, 2014

Suatu hari di bulan Juni beberapa belas tahun lalu, sambil mengerjakan penelitian, Saya mengatakan kepada partner tim,  
"Kamu tahu ngga, Saya koq merasa Kamu yang akan menjadi suami Saya nanti." 
Ia diam saja. 
Shock mungkin. 
-----
Bulan Juli 25 tahun lalu, selama tiga hari para siswa baru diharuskan mengikuti Mapras. Kalau sekarang disebut Masa Orientasi Siswa (MOS). Dua hari Penataran P4 , hari ketiga diisi dengan perkenalan antar siswa dan lingkungan sekolah, termasuk perkenalan dengan kakak kelas dan para guru.

Perkenalan dengan kakak kelas dilakukan dengan cara para murid baru harus bisa mengumpulkan sejumlah tanda tanda tangan dari murid senior dengan jumlah minimum tertentu.  Siswa yang berhasil mendapat tanda tangan terbanyak akan mendapat hadiah dari OSIS. Iming-iming hadiah lah yang membuat siswa baru semangat mengejar tanda tangan seniornya. 
Kesempatan menjadi selebriti  dimanfaatkan para senior untuk "ngerjain" yuniornya. Ada yang disuruh push-up, menyanyi atau merayu. Sekedar lucu-lucuan. Karena para senior pun sudah dibriefing, dilarang melakukan "bullying".

Saya dan beberapa teman yang sedang duduk beristirahat dibawah pepohonan, di dekati salah seorang siswa baru.
Siswa baru : " Kak, minta tanda tangannya dong"
Saya: " Boleh. Namanya siapa, Dik?"
Siswa baru : " Agus"
Saya : " Beu, another Agus. Hobinya apa, Dik?"
Siswa baru : " Ngeben kak."
Saya : " Oya? Bisa main apa?"
Siswa baru : " Gitar, drum"
Saya: " Oke, coba kamu contohkan gerakan menabuh drum"
Meskipun enggan, sebagai siswa baru mau tidak mau ia harus memenuhi permintaan Sang Senior.
Selesai menonton demo permainan drum imajiner itu, Saya pun membubuhkan tanda-tangan dibukunya. Kemudian Saya juga memintakan tanda-tangan beberapa teman yang sedang nongkrong bareng disitu.
" Nih, sekalian tanda-tanganin." Kata Saya.
"Yeee, enak aja, kita kerjain dia dulu dong." Teman Saya menggeleng. 
"Tadi kan udah disuruh main drum, Kak" Agus pasang tampang melas. 
"Udah, tanda tanganin aja, sih. Kasihan anak orang" Desak Saya. Dengan bersungut-sungut kedua teman Saya menandatangani buku itu. 
Setelah mendapatkan tiga tanda tangan sekaligus, Agus pun segera beranjak mengejar tanda-tangan kakak kelas lainnya. 

Diantara puluhan percakapan dan diantara puluhan permintaan tanda tangan dari para yunior di hari itu, yang tentu saja disertai berbagai permintaan imbalan serta tingkah laku yang unik-unik, entah mengapa Saya mengingat jelas scene permainan drum tersebut. 

Itulah perjumpaan pertama Saya dengan " Agus Sang Drummer". Hari-hari berikutnya setelah Mapras, karena kami berbeda kelas, kalaupun pernah berpapasan di lorong-lorong kelas atau di kantin, kami tidak pernah bertegur sapa. 

Hingga empat tahun kemudian. 
Di tempat kost seorang teman, George, Saya dan Suroto merencanakan mengajukan proposal penelitian ke LAPAN. Ditengah serunya obrolan kami, rupanya Agus - yang ngekost disitu juga- menguping, ia pun tertarik untuk ikut masuk ke dalam tim kami.

Singkat cerita, Saya, George, Suroto dan Agus magang di LAPAN. Untuk efisiensi waktu, kami dibagi menjadi dua tim. George dan Suroto di Laboratorium Aerodinamika, Saya dan Agus ditempatkan di Laboratorium Propulsi Motor Roket.  
Dari tempat dan saat itulah kisah kami berawal. Hingga kami mengikat janji dan menikah 9 tahun kemudian. 

Dalam kurun waktu itu, baik Saya maupun Agus  pernah mencoba menambatkan hati ke orang lain.
Berulang kali.

Entah baginya.
Namun  bagi Saya, Ia selalu menjadi benchmark saat Saya menimbang calon 'pelabuhan' hati. 
"Ih, cerewet amat jadi cowok, mendingan si Agus deh, pendiam" atau,
"Keren sih, tapi koq ya, kecerdasannya cuma segitu doang. Kalau otak Agus, ada isinya tuh." 
dan sebagainya,
dan seterusnya. 

So, Saya mentok lagi, mentok lagi. Pada Agus. 
Bukan karena ia seorang lelaki yang sempurna. Tetapi karena Ia adalah lelaki yang paling PAS buat Saya. 

Perasaan ia lah orang yang "paling pas buat Saya" ini sudah Saya rasakan sejak hari-hari pertama kami bekerja sebagai tim di LAPAN. Kami langsung "klik". Padahal Saya baru 'ngeh dengan kehadirannya di muka bumi ini saat kami berangkat bareng mengajukan proposal. Sebelumnya, Saya tahu ia ada, tapi tidak berarti. 

Tahun-tahun berikutnya, kami selalu membayangi satu dengan lainnya. 

Meskipun tidak secara fisik kami sering bertemu, karena Saya beberapa kali berpindah kerja, sekolah dan melanglang buana. Saya tahu, ia ada disuatu tempat, menunggu. 
Begitupun, ia pernah berkata pada Saya " Saya ngga berani jatuh cinta pada perempuan lain. Meskipun kadang-kadang ada yang menarik hati. Karena ada kamu." 

----
Bersambung...















You May Also Like

1 komentar

  1. Ohh...tau aku.Pasti Agus temennya presiden Amrik ya. Tu yang diiklan. "Agus...agus..." *jowomedok

    ReplyDelete