Lepas Dua, Kembali Banyak Sekali. (Pengalaman Umrah Ramadhan)

by - Monday, June 30, 2014

Kegiatan Jelang Berbuka

Setiap kali menjalankan umrah, entah mengapa saat di Masjid Saya jarang mendapatkan “panggilan alam” baik buang air kecil maupun BAB. Padahal tiap hari, Saya berada di masjid sejak sebelum Ashar hingga selesai shalat dhuha.  Antara sekitar pukul  tiga sore hingga sekitar pukul 07.30 pagi.
Kurang lebih selama  16 jam. 
Alhamdulilllah. Metabolisme tubuh Saya begitu pengertian. Urusan  sekresi dituntaskan saat Saya berada di apartemen. Kadang-kadang sebelum berangkat ke masjid, kadang-kadang setelahnya.

Namun, ba’da Maghrib hari ini berbeda. Udara yang sangat panas (Suhu di 45-47 derajat celcius) membuat Saya meneguk air zam-zam bergelas-gelas saat berbuka. Belum lagi berbagai jenis jus (kebanyakan, sih, jus mangga) dan teh berempah yang ditawarkan sesama jamaah umrah. Maka sekarang Saya kebelet pipis. Setelah menitip-nitipkan tempat duduk Saya kepada sesama jamaah di kanan-kiri, Sayapun bergegas menuju toilet.
Dalam perjalanan menuju toilet  baru teringat belum pamit pada Suami bahwa Saya keluar dari Masjid. Saya pun menelponnya melalui ponsel.
Saat keluar dari ruang toilet, ternyata Suami sudah menunggu.
Begitu mendekat, Suami menumpahkan protesnya,“Lain kali kalau mau kemana-mana, kasih tahu dulu, biar diantar.”  
“Jamaah sebanyak ini, kalau Mama tersesat malah bikin susah nantinya.”    
Sebenarnya kegusaran Suami beralasan. Ia bukan hanya khawatir Saya tersesat tapi Ia juga mencegah terjadi lagi pelecehan terhadap Saya, sebagai perempuan, oleh lelaki setempat. Seperti banyak cerita yang kami dengar. Belum lagi  sehari sebelumnya, saat belanja panci di kios tak jauh dari apartemen, Saya dan seorang teman perempuan dicolek-colek oleh pedagang panci.

Tapi,

“Pa, ingat ngga, kita keluar tadi dari pintu mana?” Tanya Saya. Masjidil Haram mempunyai puluhan pintu. Jadi jika akan keluar sejenak dari Masjid untuk bisa kembali ke tempat semula, sebaiknya membaca dulu nama pintu yang tertera di atas dan disamping pintu.
“Aduh, Papa juga lupa keluar dari pintu yang mana. Tadi cepat-cepat keluar setelah Mama menelpon.”

Alhamdulillah, segitu dikhawatirkan oleh Suami.

“Mama ninggalin apa di dalam Masjid tadi?”
“Cuma Sajadah.”  Jawab Saya. Kami memang biasa ke Masjid berjalan lenggang saja. Kadang-kadang bawa sajadah. Fungsi lebih sebagai tudung penahan panas saat dalam perjalanan dari apartemen ke Masjid.  
Kami rasanya tidak butuh apa-apa yang harus dibawa dari “dunia luar” sebagai bekal selama di Masjidil Haram. Mushaf Al Qur’an sudah tersedia untuk dibaca. Sebagai alas duduk, karpet sudah terhampar siap digunakan. Jika haus tersedia bergalon-galon Air zamzam di berbagai sudut, siap di minum. Dan tak perlu takut kelaparan karena Qurma dan biskuit berlimpah dari sedekah sesama jamaah umrah.
“Papa juga cuma ninggalin sajadah. Ya sudahlah, ikhlaskan saja. Kalau sajadah itu masih milik kita pasti ketemu. Kalau tidak, biar dipakai jamaah lain. Kita masuk dari pintu ini aja, deh.” Suami menarik tangan Saya ke pintu terdekat.
Sebelum mencapai pintu masuk tersebut, bahu Saya dijawil seseorang.
Saya menoleh.
Seorang perempuan bercadar dan berabaya hitam melambai dan menunjuk ke kantong kresek besar yang dibawanya.      
“May I help you?” Saya pikir mungkin Ia butuh pertolongan untuk membawa gembolannya.  Bungkusan kresek itu terlihat berat.  Ia membungkuk dan mengambil sesuatu dari dalam kresek.
Sebuah sajadah.
“All for You. Halal. Halal.” Katanya menyorongkan kantung kresek besar itu kehadapan Saya.
“These are for me?” Tanya Saya ngga yakin. 
“Halal. Halal.” Ia menganggung-angguk. Lalu beranjak pergi setelah mengucapkan salam.

Subhanallah.  

Semenit sebelumnya Suami mengikhlaskan dua lembar sajadah yang tertinggal di dalam masjid. Sekarang tidak kurang selusin sajadah di sedekahkan seseorang, entah siapa, kepada kami. 
Di dalam masjid, setelah mendapatkan tempat duduk dalam shaf shalat, kamipun membagi-bagikan sajadah-sajadah tersebut kepada jamaah yang duduk disekitar. Hanya kami sisakan dua lembar untuk kami pakai sendiri.

Pagi harinya setelah shalat Dhuha, kami kembali ke apartemen. Sebelumnya terlebih dahulu Suami mengajak mampir ke tukang cukur. Merapikan cukuran tahalulnya yang belum sempurna semalam. Selesai bercukur saat kami sudah berada di jalan menuju apartemen, kami mendengar dari belakang kami ada seseorang berteriak-teriak.  
“Ahmad. Ahmad. Kembali” Tukang Cukur melambai-lambai. Merasa Ahmad bukan nama Suami, kamipun berjalan kembali.
Bahu Suami ditepuk. “Ahmad. Tunggu. Ini Saya kasih.” Kata tukang cukur yang rupanya pintar berbahasa Indonesia. Mungkin karena sering mendapat pelanggan orang Indonesia.  
Empat lembar sajadah diulurkan kepada Suami.
“Halal.” Kata Tukang Cukur sebelum beranjak pergi.
Kami berpandangan. 
“Wah, kita untung besar ya. Ketinggalan dua sajadah, malah dapat sajadah banyak banget sebagai gantinya.” Suami tampak gembira.
 “Yang ini, buat oleh-oleh saja. Insya Allah berkah.” Kata Saya.

Segala Puji bagi ALLAH. Kami tidak pernah merugi berada dijalanMU.       

Maha suci Engkau, Ya ALLAH. 

You May Also Like

0 komentar