Tuesday, August 26, 2014 0 komentar

Agar Bonus dan Diskon Tidak Menjadi Bumerang



"Bu, jadi total belanjanya Rp. 75.000" Kata Abang Tukang Sayur
"Saya belanja sebanyak ini, dikasih bonus, dong, Bang. Tomat 2  biji, ya."
"Maaf, Bu, tidak bisa."
"Jadi ngga dapat bonus nih? Atau didiskon saja deh, Bang"
"Waduh, ini Saya kasih Ibu harga langganan. Sudah murah, Bu"
"Ya sudah. Ngga mau belanja dengan Abang lagi, ah. Pelit."

Percakapan yang terasa familiar kan bagi Ibu-ibu? Saya mengaku deh, Saya juga sering, loh, minta bonus kepada para supplier. Bonus dalam bentuk diskon, tambahan jumlah barang yang dibeli atau bonus dalam bentuk barang lain. Pokoknya dalam bentuk apapun, yang judulnya BONUS dan DISKON Saya akan menerimanya dengan sukacita. Bahkan tidak jarang bonus dan, atau, diskon menjadi salah satu alasan Saya untuk mengambil keputusan membeli. Dengan kata lain, jika tidak ada bonus atau diskon boleh jadi tidak akan membeli produk tersebut. 

Sebagai entrepreneur, kita pun tidak jarang memberikan gimmick BONUS dan DISKON sebagai salah satu cara untuk memikat konsumen, juga sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan volume penjualan. 
Namun, jika tidak dilakukan secara terencana, program ini bisa menjadi bumerang bagi penjual, karena dapat menyebabkan konsumen menjadi ketagihan untuk meminta bonus atau diskon setiap kali mereka melakukan transaksi. Terutama konsumen yang sudah merasa sebagai pelanggan tetap. 

Lalu, bagaimana caranya agar program bonus  atau diskon ini tidak menjadi kendala dalam proses jual- beli dengan konsumen?
Mudah saja, lakukan pemberian bonus dan, atau, diskon dengan syarat dan ketentuan yang jelas.  Misalkan:
1. Bonus/diskon akan diberikan jika pembelian mencapai jumlah nominal tertentu
Contoh:
Pembelian Rp.100.000,- mendapat bonus 1 buah piring eksklusive
Pembelian Rp.200.000,- mendapat bonus 1 set piring dan gelas eksklusive.

2. Tentukan jangka waktu pembelian untuk mendapatkan bonus/diskon.
Contoh:
Pembelian senilai 100.000,- pada tanggal 17 Agustus mendapat diskon 17% + 8%
Pembelian senilai 200.000,- pada tanggal 17 Agustus pukul 8 akan mendapat diskon sebesar 45%

3. Pembelian berulang
Contoh:
Beli item pertama dengan harga normal, pembelian item kedua mendapat diskon 25 %
Beli 1 pcs harga normal, tambah Rp. 2000 mendapat 2 pcs

4. Tulis dengan jelas ,agar mudah terlihat konsumen, program diskon atau, bonus yang sedang anda buat. Bila perlu pasang spanduk sebesar mungkin dengan warna ngejreng yang menarik mata untuk melihatnya. 

Sebagai penjual kita pun harus tunduk pada syarat dan ketentuan ini. Termasuk apabila pembeli adalah tetangga sebelah rumah. Jika ingin memberikan hadiah kepada pelanggan spesial diluar ketentuan, lakukanlah bukan pada saat proses jual-beli berlangsung.  Jadikan sebagai bingkisan ulang tahun, misalnya. Karena tidak jarang "kebaikan hati" kita-sebagai penjual-akan cepat tersebar.
" Jeng A, Saya beli mukena di toko Bu Indah, dapat diskon 25%, loh. Ada tambahan bonus kerudung cantik pula" kata tetangga sebelah kanan kepada Jeng A, tetangga sebelah kiri rumah Bu Indah. 
Karena tergiur diskon dan bonus berdasarkan cerita tersebut, Jeng A kemudian tertarik membeli ke toko Bu Indah.   Namun , karena karena alasan tertentu, Jeng A  tidak mendapatkan bonus dan diskon yang sama. Sudah tentu sebagai sesama tetangga , Jeng A  merasa mendapat diskriminasi. Berikutnya Jeng A malah jadi "alergi" untuk membeli di toko Bu Indah lagi. Jika cerita bonus dan tambahan diskon ini menjadi cerita yang disampaikan secara getok tular antar tetangga dalam satu kelurahan, akibatnya Bu Indah akan kesulitan untuk memberikan bonus dan diskon yang sama kepada pembeli-pembeli lain karena keterbasan budget pemberian diskon atau bonus
Jadi rumit kan? 

Oya, perlu diingat, setiap barang yang keluar dari gudang sesungguhnya sudah menanggung biaya operasional perusahaan. Sehingga program pemberian bonus dan diskon harus dihitung secara hati-hati dan seksama karena akan mengurangi keuntungan per-unit  produk . Untuk itu, sebelum menentukan program pemberian bonus atau diskon terlebih dahulu harus ditetapkan besarnya BUDGET yang akan di’korban’kan untuk program ini.
Monday, August 25, 2014 6 komentar

Pembersihan Patung Dirgantara di Pancoran.


Patung Dirgantara adalah nama resmi dari patung  yang terletak di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Berada tepat diseberang Gedung Aldiron Dirgantara, yang dulu merupakan Markas Besar Angkatan Udara.  

Patung ini digagas oleh Presiden Soekarno yang menginginkan adanya patung bagi  Kedirgantaraan Indonesia. Patung yang terbuat dari perunggu yang menggambarkan manusia angkasa ini  dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 - 1965.  Proses pengecorannya dipimpin oleh I Gardono. Berat patung  ini mencapai 11 Ton dengan tinggi  11 Meter, sedangkan kaki patung mencapai 27 Meter. Proses pembangunannya dilakukan oleh PT. Hutama Karya. Patung ini selesai dikerjakan pada tahun 1966.

Pada 15 Agustus 2014, untuk kesekian ribu kalinya (maklum, Saya lahir dan besar di Jakarta) Saya melewati Patung Pancoran ini.  Saya melihat beberapa orang yang sedang melakukan pembersihan untuk pertama kalinya sejak patung tersebut berdiri.

Ternyata, proses pembersihan sudah dimulai sejak Senin, 11 Agustus 2014 dan akan berlangsung selama dua bulan ke depan. Pembersihan patung dari perunggu ini dilakukan secara konvensional dengan menggunakan air jeruk nipis lalu dilakukan penyikatan secara menyeluruh, setelah itu disiram dengan aquadest. Diperkirakan jeruk nipis yang dibutuhkan sebanyak 25 kg - 30 kg. Kandungan asam sitrat dalam jeruk nipis diyakini dapat meluruhkan kotoran oksidasi tembaga  tanpa merusak bahan utamanya.

Selain Patung Pancoran, rencananya Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta juga akan membersihkan Patung Diponegoro di Menteng, Jakarta Pusat. Proses pembersihan kedua patung ini diperkirakan akan menghabiskan biaya 566 juta rupiah.
 




Saturday, August 23, 2014 10 komentar

Kulit Halus Dengan Ragi Roti

Saat blog-walking saya menemukan artikel tentang cara membuat toner dengan menggunakan ragi roti. Dalam tulisan tersebut dinyatakan bahwa manfaat toner tersebut adalah untuk mencerahkan,melembutkan  dan mengenyalkan kulit , serta menghilangkan garis-garis halus wajah.  
Setelah Saya googling ragi roti yang disebutkan  ternyata mengandung Saccharomyces Cerevisiae. Salah satu merek terkenal ragi roti ini adalah FERMIPAN

Di artikel lain Saya menemukan kutipan tulisan sebagai berikut :
"Saccharomyces Cerevisiae is the scientific name for common Baker's Yeast. Varying types of Baker's Yeast is used in skincare because the cellular structure of this organism is very similar to human cells. Saccharomyces Cereivisiae has numerous benefits including: skin brightening, reducing the appearance of fine lines and wrinkles, reducing skin stress and soothing skin".

Adapun cara membuat toner tersebut adalah sebagai berikut :
-Siapkan gelas, sendok makan dan sebuah wadah dari kaca. Distrerilkan dengan cara direbus.
-Larutkan 1 sendok teh Baker's Yeast (Fermipan)dalam gelas kaca/keramik
-Masukkan 4 sendok makan nasi (Sebaiknya nasi yang baru dimasak)
-Tutup rapat gelas tersebut (dengan plastik diikat karet, jika tidak ada gelas berpenutup)
- Diamkan selama 3 jam
- Saring dengan menggunakan kain berpori halus (agar nasi tidak ikut tersaring)
- Air saringan bisa langsung dipakai sebagai toner
- Simpan di dalam kulkas
- Ramuan ini tahan selama 3 hari.
- Atau tambahkan seujung sendok sodium benzoat sebagai pengawet.







Setelah 3 jam difermentasikan Saya langsung mencoba mengaplikasikan ramuan ini.  Dengan bantuan kapas air hasil saringan dioleskan ke wajah dan tangan. Saat ramuan ini dipakai kulit terasa kencang seperti halnya memakai masker. 5 menit kemudian Saya basuh dengan air. Dan saat itu juga hasilnya langsung terasa. Kulit terasa halus dan kenyal. 

Sedikit kekurangan ramuan ini adalah aromanya yang asam seperti halnya aroma adonan roti. Tapi beberapa menit kemudian aroma tersebut menghilang. 
Monday, August 18, 2014 0 komentar

Perpanjang SIM, Cepat dan (Belum) Bebas Pungli


Hari ini Saya menemani Suami menemui kliennya di sebuah tempat di Jakarta Utara . Saat melewati sebuah plang bertuliskan " Kantor Pelayanan Perpanjangan SIM", Suami teringat bahwa SIM A-nya telah habis masa berlakunya sejak tanggal 4 lalu, maka langsung saja kami berbelok ke kantor polisi di Kemayoran tersebut. Kebetulan juga SIM A Saya juga sudah mati Januari nanti.
Saat bertanya ke loket, maka prosedur yang harus kami lakukan adalah sebagai berikut: 
1.Persiapkan Fotokopi KTP 3 lembar dan fotokopi SIM 1 lembar
2. Bayar Asuransi Rp 30.000
3. Periksa kesehatan mata dan cek buta warna Rp. 30.000
4. Membayar biaya perpanjang SIM Rp. 110.000
5. Foto diri dan sidik jari
6. Tunggu sekitar 3 menit di ruang tunggu 
7. Kami dipanggil dan SIM pun langsung jadi. 
Semua proses berlangsung kurang lebih hanya 15 menit. 

Sayangnya, saat Saya googling ternyata biaya administrasi pembuatan SIM yang resmi Rp. 80.000 diluar biaya asuransi dan tes kesehatan. Jadi ada selisih Rp.30.000.  Saya yang semula merasa bangga dan salut dengan kecepatan pelayan kepolisian kali ini, langsung merasa sedih lagi. Ternyata Kepolisian kita belum bisa bebas dari pungli. Bayangkan jika sehari di Polres tersebut  ada 100 orang saja yang mengurus perpanjangan SIM, maka uang pungli yang dipungut dari masyarakat sebesar Rp.3.000.000.  Sebulan 25 hari kerja berarti Rp. 75.000.000 selisih biaya yang tidak masuk kas Negara. Padahal, gerai perpanjangan SIM baik berbentuk layanan keliling maupun gerai di Mall dan perkantoran, mungkin sekitar 20 gerai hanya di Jakarta saja.
Wow!!

Betapa hebatnya Kepolisian Republik Indonesia, jika bisa benar-benar BEBAS PUNGLI


Friday, August 8, 2014 1 komentar

Gaya emak-emak : Beda Komunitas, Beda Gaya, Beda Cara Berinteraksi.


Tadi , saat akan mengantar pesanan Nastar Safira saya melihat ibu-ibu (sekitar 6-7 orang)  berdiri bergerombol di halaman sebuah SD.  Menanti anak-anak mereka pulang sekolah. Kebetulan dua orang diantaranya Saya kenal. Saya berhenti untuk menyapa mereka.
Teman : “Mau kemana , Bu? Jalan melulu nih”.
Saya : “Mau ke Cilandak, nganterin pesanan kue kering”.  
Saya pikir Ibu-ibu ini mungkin bisa jadi calon pelanggan, maka Saya mengeluarkan dan membagikan brosur Nastar Safira kepada para Ibu yang ada disitu. 
"Maaf ya, Bu, ini brosur kuker,  mungkin minat buat cemilan anak."Kata Saya
Salah seorang ibu nyeletuk : “Habis ini keluarin brosur apalagi nih? Asal bukan MLM aja, Bu.  Saya ngga bakalan ngikut deh. Saya mah ngga kekurangan uang belanja dari Suami”.
Saya : “Alhamdulillah ya Bu, gaji Suaminya gede. Jadi ngga perlu cari tambahan uang jajan." Balas Saya dengan tetap tersenyum. Sebenarnya -meskipun saat ini bukan pemain MLM-  Saya agak merasa sebel juga menghadapi kejutekan si Ibu, 
Mungkin uang bukan masalah bagi mereka, karena Saya sering melihat kumpulan para Ibu-ibu mapan ini runtung-runtungan jalan kesana-kemari. Saling traktir. Facial bareng. Shopping bareng. Seakan uang jajan dari suami mereka nggak berseri. Belum lagi pakaian mereka yang selalu kompakan. Saya sering melihat di timeline Facebook dari foto yang mereka unggah, hari ini barengan 'nge-pink, lusa biru, akhir pekan polkadot. Dan masih banyak lagi foto-foto mereka dengan seragam yang berbeda-beda.

Penampilan berbeda Saya lihat pada teman-teman perempuan di beberapa komunitas Entrepreneur yang Saya ikuti. Saya lihat , bagi mereka penampilan sudah cukup jika terlihat bersih, rapi dan sopan. Sangat  jarang ada yang berpenampilan heboh. Pernah ada seseorang yang mengusulkan tampil dengan nuansa tertentu pada acara yang akan kami hadiri. Ide tersebut langsung sukses ditolak dengan kompak oleh teman -teman lain. Mereka malas ribet. Ingin tampil praktis. Begitulah para entrepreneur emak-emak ini, yang penting pakaian mereka nyaman dan bisa membuat mereka bergerak gesit.  Ibu-ibu Entrepreneur ini tidak pernah runtung-runtungan untuk acara yang tidak produktif. Mereka biasanya bertemu dalam seminar atau workshop atau sekalian dalam kegiatan baksos. Pembicaraanpun berkisar pada soal barang dagangan dan strategi berusaha

Kemudian, gaya teman-teman perempuan di klub otomotif berbeda pula. Pakaian kami nyaris selalu casual.  Saat kumpul biasanya kami agak heboh. Banyak cekikikan. Pilihan tempat kami   kongkow  adalah di food- court mall, karaoke-an,  atau touring bareng ke suatu tempat wisata  Obrolan kami seputar anak dan suami. Jarang berbicara tentang bisnis.

Lalu, ibu-ibu komplek (perumahan kami). Kebetulan Saya tinggal di komplek ini nyaris 13 tahun di tiga cluster yang berbeda. Jadi punya teman-teman tang berbeda. 
Di cluster yang pertama kami  masih mengontrak karena rumah yang kami beli di cluster lain sedang dibangun. Disini Saya tidak terlalu bergaul akrab dengan ibu-ibu tetangga, kecuali dengan beberapa ibu dalam satu RT. Ibu-ibu teman saya sebagian besar full-time housewife alias ibu-ibu yang tidak bekerja di luar rumah. (Meskipun di dalam cluster tersebut lebih banyak Ibu-ibu yang pekerja kantoran).  Saat saling 'nenangga paling sering kami cuma berbaju rumahan (kalau Saya, yah, gamis batik alias dasteran batik). Kami biasanya berkumpul siang hari saat anak-anak di sekolah dan para suami di kantor. Acaranya ngerujak, ngerumpi sambil bawa potluck dari rumah masing-masing, atau belanja ke pasar bareng. Yang dibicarakan melulu tentang anak. (Kami memang  jarang banget loh ngerumpiin tetangga, kecuali ada kehebohan di RT).
Saat rumah telah selesai dibangun, kami pindah ke cluster kedua. Disini tempat berkumpulnya para ibu-ibu adalah di mushalla. Mengaji atau acara RT lainnya. Bermain volley atau badminton pun di halaman mushalla. Pokoknya mushalla jadi pusat kegiatan. Sesekali kami ke Tanah Abang bareng. Berburu jilbab dan baju muslimah model terbaru. Karena kami "ibu-ibu mushalla" otomatis kami berpenampilan lebih sesuai syar'i. Bergamis dan berjilbab lebar.
Sayangnya, di cluster ketiga sekarang ini (kami baru tiga tahun pindah ke sini), Saya tidak bergaul akrab
dengan para ibu-ibu disini, kecuali dengan beberapa tetangga kanan-kiri. Jadi Saya belum punya penilaian gaya "gaul" ibu-ibu di cluster ini. Meskipun tiap bulan rutin dapat undangan menghadiri acara arisan, sebagai ajang kumpul Ibu-ibu di cluster ini,  tetapi, karena sejak zaman dulu -(zaman pra sejarah?)- Saya ngga suka arisan, maka saya cuma sekali menghadiri acara tersebut, saat kami baru pindah. Untuk memperkenalkan diri. Di cluster ini malah Suami yang lebih aktif bergaul dengan lingkungan. Karena sehari 5 kali ia ke mushalla, yang sama seperti cluster kedua, merupakan pusat kegiatan warga disini. 

Begitulah.
Ini penilaian subyektif  Saya, loh, terhadap gaya ibu-ibu dalam komunitas yang Saya ikuti dan kenal. Sangat mungkin anggapan Saya ini salah.
Oke deh, sekarang saatnya  Saya melanjutkan perjalanan ke Cilandak. Mengantar pesanan sekaligus ambil pembayaran orderan 12 lusin kue kering. 
Alhamdulillah.


(Diketik menggunakan ponsel sepanjang perjalanan Karawaci - Cilandak. Agak ribet juga karena menulisnya di samping Pak Supir yang sedang bekerja mengemudi mobil supaya baik jalannya, hai! )
0 komentar

Andai Ada Badan Sosial Penampung Gelandangan


Kira-kira 25 meter setelah  exit Karawaci tol Merak- Jakarta kami tidak sengaja melihatnya, seorang ibu gelandangan yang terbaring di pinggir jalan. Beralaskan tanah diantara rimbun daun-daun  pagar pembatas jalan dengan gedung-gedung ruko. Karena tidak memungkinkan kami berhenti maka kami memutar di RS Qadr lalu mampir ke Hypermart Pinangsia. Kami membeli 3 lembar sarung, biskuit dan 3 botol air kemasan. 2 box nasi dengan lauk pecel ayam memang sudah kami bawa
Saat Saya menghampirinya, si Ibu  tersentak bangun dan siap-siap membawa buntelannya. Mungkin ia sudah biasa diusir oleh orang yang tidak menghendaki kehadirannya. Saya tanya apakah Ia sudah makan, jawabnya Ia belum makan sejak kemarin. Saat ditanya namanya, Ia hanya terdiam memandangi kotak nasi yang Saya pegang. Mungkin Ia sudah sangat kelaparan.

Saya sodorkan 2 kotak nasi, Saya jelaskan bahwa 1 kotak buat malam ini, dan kotak lainnya buat besok pagi bekal Ia sarapan. Ia mengangguk sambil membuka kotak tersebut.
Lalu Saya serahkan sarung-sarung dan air kemasan. Ia hanya melirik sekilas, rupanya sedang konsentrasi dengan makanannya. Ia terus menunduk.

Saya pun pergi dari hadapannya dan melanjutkan keliling membagikan Sedekah Nasi  malam Jum'at itu.

Saya sedih Pemerintah kita tidak bisa sepenuhnya menjalankan amanat Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”
Di dalam mobil, Suami berkhayal, "Andai ada model '911' yang bisa kita telepon lalu merespon cepat menjemput orang-orang terlantar tersebut untuk dirawat semestinya tentu mereka tidak perlu berkeliaran di jalan seperti itu".
 

Semoga, kami bisa ikut serta mengelola badan sosial seperti yang dikhayalkan Suami, suatu saat. 
Aamiin
Thursday, August 7, 2014 0 komentar

Rawatlah Silaturahmi

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,
تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)

Dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat)” (HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih)

Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
Seorang yang menyambung silahturahmi bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” (HR. Bukhari no. 5991)

Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim no. 2558)

Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ
Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi).

Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ
Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan)

Silaturahmi bukan hanya kepada tetangga atau saudara yang jauh, namun juga kepada orang tua dan kerabat yang dekat.

Monday, August 4, 2014 0 komentar

Selalu Ada Hikmahnya

Setelah lebaran, setelah belanja berbagai penganan, baju baru sekeluarga, biaya transportasi silaturahim kesana-kemari plus wisata kuliner, tentunya, maka sesuai perkiraan, dana  untuk persiapan lebaran pun kembali "fitri". Alias terkuras habis. Dana yg tersisa kami tidak berani mengurak-atiknya karena  sudah ada penunggunya. Mau menagih koq malu. 


Namun tiba-tiba malam ini ada pelanggan yang mentransfer pembayaran pembelian kue kering. Rupanya ia kelupaan dan keburu mudik akhir Ramadhan lalu. 


Alhamdulillah, uang tersebut terasa banget manfaatnya sekarang. Karena Saya jadi bisa mentraktir Suami -yang sedang ulang tahun- makan malam di Soto Kudus. 


Terima kasih, Mbak, sudah kelupaan. 


Alhamdulillah, Ya Allah.


0 komentar

Berbagilah Dikala Masih Ada Kesempatan

Percakapan di dapur petang kemarin dengan salah seorang anakku:

Anak: "Ma, koq, dikasih ke orang sih, nanti kan aku mau makan lagi".

Ma : "Rejeki kita adalah yang masuk ke pencernaan lalu mengalir di pembuluh darah. Yang masuk mulutpun sebagian kita buang lagi,bukan?. Kemampuan  kita
untuk makanpun terbatas sesuai daya tampung lambung.  Nah, daripada mubazir disimpan-simpan untuk nanti, bisa jadi sebelum kita ingat memakannya lagi, makanan ini sudah lebih dulu basi. Jadi lebih baik kita bagi-bagi"

Anak: "Kalau nanti aku mau makan lagi bagaimana"

Ma: "Kalau ada uangnya, kita bisa beli lagi".

Anak: tapi kadang-kadang aku mau beli, koq ngga dibolehin, Ma.

Ma : "Kadang kondisi sudah berbeda. Mungkin saat itu uangnya terbatas, atau cuaca sedang panas jadi lebih baik kamu di rumah saja, atau ada sebab lain. Yang harus kamu pahami, tidak semua keinginan langsung terpenuhi. Jadi kamu sekaligus belajar bersabar"

Anak : "Ma, kenapa kita ngga pernah menyimpan makanan?"
Ma: "Negara kita tidak sedang dalam kondisi perang atau bencana besar lainnya. Jalan kaki sedikit sampai minimarket. Pasar juga dekat. Kita nggak perlu khawatir kelaparan. Lebih baik kelebihan yang kita punya, dibagi kepada yang kekurangan. Mereka gembira hidup kita berkah"

Anak: "Kalau ngasih-ngasih terus kita ngga kaya-kaya, dong, Ma"
Ma: "Tapi kita kan juga ngga kekurangan. Ada rumah yang nyaman, pakaian cukup, punya kendaraan buat bepergian, kalian pun bisa sekolah di sekolah yang baik. Apa lagi yang kita perlukan?
Dengan berbagi kita memberi kesempatan kepada orang yang kekurangan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka".


Ma :"Nak, berbagilah dikala masih ada kesempatan. Dikala masih ada orang yang jauh lebih kekurangan dibanding kita. Karena nanti ada masa dimasa semua orang makmur dan kita kesulitan mencari fakir miskin. Saat itu terjadi, kemana kita akan bersedekah. Karena sesungguhnya manfaat sedekah banyak sekali,."
2 komentar

Bagaimana Membuat Email Blast Yang Menarik?

Email Blast adalah salah satu cara komunikasi antara perusahaan dengan (calon) konsumennya. Tapi dalam "blasting" email penawaran ada etiket yang harus dipatuhi, yaitu kirimkan hanya kepada (calon) konsumen yg benar-benar mau mendapatkan email anda.
Jika anda menggirim email penawaran pada sembarang orang disebut  SPAMMING. Dan kebanyakan orang -bahkan Google dan Yahoo!- membenci spamming.

Email penawaran harus dibuat  menarik , sehingga (calon) konsumen menerimanya dengan suka cita bahkan menunggu email berikutnya dari kita.

Ada 6 hal yang menyebabkan pesan dalam email anda tidak sampai kepada (calon) konsumen, yaitu:
1. Anda tidak menyampaikan dengan jelas gagasan utama email anda
2. Anda tidak tahu dengan jelas siapa target email anda
3. Isi email anda dianggap tidak menguntungkan bagi target
4. Isi email anda menjadikan target hanya sebagai obyek, bukan subyek.
5. Email anda tidak memberikan arah yang jelas bagaimana (calon) konsumen dapat bertransaksi dengan anda.
6. Pemilihan waktu untuk 'blasting email'  yang tidak tepat

Kemudian, saya juga akan berbagi enam strategi yang dapat membantu Anda menyusun 'email blast' yang baik. Strategi ini disebut  Strategi 5 W dan 1H :
What
Why
Who
Where
When
dan, How 

Why  : Anda harus tahu persis MENGAPA anda mengirimkan email tersebut.
Who : Anda harus tahu persis kepada SIAPA email tersebut akan anda kirimkan.
What: Tentukan APA yang akan anda sampaikan. Perjelas inti isi email anda dan jangan melebar ke hal lainya.
How : Pelajari BAGAIMANA cara berpikir (calon) konsumen anda, dan berkomunikasilah dengan cara yang sesuai.
Where: Tunjukan dengan jelas KEMANA langkah selanjutnya jika (calon) konsumen ingin bertransaksi setelah mereka membaca dan tertarik dengan email penawaran anda. Anda juga sebaiknya mencantumkan nomor dan alamat kontak yang jelas jika mereka ingin bertanya bahkan komplain tentang produk anda.
When: Lakukan 'blasting email' pada saat yang paling nyaman bagi (calon) konsumen anda. Untuk mengetahuinya anda dapat mengirimkan mereka quosioner sebelumnya. 

Semoga artikel ini bisa membantu anda, sehingga "email blast" yang anda kirimkan tidak lagi dianggap sebagai SPAM

Salam Berkah

Rinny Ermiyanti
0 komentar

Kirimkan "Email Blast" Hanya Pada Yang Mau



Beberapa tahun lalu, sebelum membuka toko onlinenya di Indonesia, Lazada menghubungi beberapa blogger, diantaranya Saya yang saat itu masih aktif sebagai blogger. Tujuan mereka adalah agar kami bersedia menuliskan preview tentang bisnis mereka. 
Keikutsertaan Saya sebagai “blogger tim cuap-cuap” mengharuskan Saya rajin berhubungan dengan Divisi Communication dan nyaris tiap hari mendapatkan email blast dari mereka.
Lalu dengan bayaran dan hadiah voucher dari ngeblog, Saya pakai untuk berbelanja. Jadi Saya bisa dikatakan termasuk konsumen awal toko online ini.
Setahun belakangan, Saya ‘pausing’ dari nge-blog dan hampir tidak pernah lagi membuka email-email dari  Lazada, rupanya kelakuan saya ini terdeteksi mereka. Agar Saya giat kembali, Lazada beberapa kali mengirimkan voucher dari yg 50 ribu hingga ratusan ribu. Saya bergeming. Karena Saya lebih suka belanja online produk teman sendiri. 
Lalu, tadi pagi Saya mendapatkan email yang berisi quosioner tentang seberapa sering Saya ingin dikirimi email blast mereka, bahkan termasuk pilihan jika tidak ingin dikirimi iklan-iklan mereka lagi.
Satu pelajaran bagus Saya dapatkan dari cara komunikasi Lazada ini. Pertama, diusahakan sedapat mungkin mempertahankan kontak, karena JEJARING adalah ASET.
Tapi jika kontak tersebut memang sudah ‘emoh’ yah, buat apa dipertahankan, energi yang ada lebih baik dipergunakan untuk membina jaring/ customer yang lain yang lebih potensial.
-----
Blast Email adalah salah satu cara komunikasi dengan (calon) konsumen, tapi lakukan hanya pada (calon) konsumen yang BENAR-BENAR MAU mendapatkan email promosi dari anda.


 
;