Tuesday, September 30, 2014 3 komentar

Sahabat Veteran: Jualan Voucher atau Penggalangan Dana?

Siang ini Saya dan Suami kembali "meeting" di salah satu mall . Saat kami sedang serius membahas sesuatu, datanglah 3 orang anak muda. Tapi yang maju datang ke meja kami cuma seorang. Agar tidak mengganggu rekan lain, maka Saya mengajaknya untuk pindah ke meja lain. 

Perempuan muda ini mengaku seorang mahasiswi Universitas Bina Nusantara yang sedang melakukan aksi penggalangan dana. Saya percaya Ia mahasiswi karena terlihat dari cara Ia bicara yang terstruktur dan sopan. Ia mengaku sebagai volunteer penggalangan dana bagi kesejahteraan veteran. Ia berkata mereka melakukan penggalangan dana tidak hanya sekedar fund raising tapi juga mereka memberikan manfaat bagi penyumbang dengan memberikan voucher diskon dengan total diskon senilai 2 juta rupiah sebagai ucapan terima kasih.

Sebenarnya Saya tidak tertarik dengan voucher diskon yang ditawarkan, karena beberapa tempat yang ditawarkan jarang, bahkan tidak pernah, kami kunjungi. Tapi Saya menganggap: 'wuihh... Keren nih, anak muda melakukan penggalangan dana untuk veteran. Para pejuang yang berjasa namun jarang kira perhatikan. 

Maka tanpa banyak kata Saya pun segera mengulurkan uang 100 ribu rupiah yang ditukar dengan sebuah buku berisi kumpulan voucher. 

Setelah 'transaksi' tersebut, buku voucher langsung Saya masukkan ke dalam tas, lalu Saya kembali ke arena meeting.

Selesai meeting dan sambil menunggu ke jam meeting berikutnya, Saya mengeluarkan buku voucher tersebut dari dalam tas, lalu menelitinya dengan seksama lembar demi lembar. Betapa kagetnya Saya saat mendapati tulisan dibagian bawah depan buku voucher yang justru tidak Saya perhatikan : Rp. 10.000,- Dari hasil penjualan voucher ini akan disumbangkan untuk Sahabat Veteran. 

Loh koq, cuma Rp. 10.000, sih yang disumbangkan? Tadi si Mbak bilang sedang "Penggalangan Dana dan voucher sebagai ucapan terima kasih". Oke lah dipotong biaya cetak dan ongkos transport. Katakanlah termahal habis 50.000 rupiah untuk biaya-biaya tersebut. Sedangkan volunteer mestinya tidak dibayar kan?  Jadi seharusnya manfaat yang didapat para veteran lebih banyak. Lah wong voucher yang ditawarkan adalah voucher yang biasa didapat pada saat-saat tertentu. Misalnya karaoke di De'Tones bayar 1 jam gratis 1 jam di hari Senin-Kamis. 

Catatan buat PT. GA sebagai penyebar buku voucher, anda mungkin beralasan "inilah bahasa Marketing", tapi yang Saya tangkap 'inilah bahasa Marketing yang tidak mengenal etika'

Apakah anda tidak yakin bisa menjual produk , yang berupa buku voucher, itu? 
Apakah anda tidak yakin produk akan dirasa bermanfaat bagi konsumen anda?
Apakah jujur mengatakan "sebagian profit produk akan disumbangkan bagi veteran" tidak membuat anda makin pede menjual?
Jangan-jangan anda tipe pengusaha yang menjual penderitaan sekelompok masyarakat demi meraup untung?

Sebel Saya! 




Friday, September 12, 2014 1 komentar

Belum Rezeki


Jadi, ceritanya, ba'da Maghrib semalam, Kami keliling membagikan ‪#‎SedekahNasi‬ , setelah membagikan kepada para pedagang asongan, kami mendekati sopir-sopir taksi yang sedang 'ngetem menunggu penumpang.
Kami mulai dari supir taksi yg antrian mobilnya paling belakang (krn lebih dekat dengan kumpulan pedagang asongan). Saat bungkusan yang Saya bawa habis, Saya balik ke mobil untuk ambil bungkusan baru. Kali ini mulai dari antrian mobil paling depan (krn berada di belakang mobil kami), saat Saya mendekati 1 mobil lagi - berada di tengah-tengah antrian tsb- tiba-tiba mobil petugas DLLAJR datang, dan bubarlah taksi-taksi tersebut.
Si Sopir yang di tengah tidak jadi mengambil "jatah" Nasi Kotaknya, padahal tangannya sudah terulur, demikian juga tangan Saya, jarak kami hanya beberapa centi. Tapi petugas DLAJR sudah memukul-mukul badan mobilnya shg mau ngga mau taksi tersebut harus jalan.
Sering kali Saya mengalami hal tsb. Kajadian seperti ini membuat Saya bisa melihat dengan terang benderang bahwa Saya tidak bisa memaksa datangnya rezeki. Dari kejadian seperti ini pula Saya belajar "legowo".


Friday, September 5, 2014 0 komentar

Saat Hari Pertama Anakku Sekolah

Aku adalah seorang ibu dari empat orang putri. Vania dan Rifda yang merupakan anak kembar, lalu Jasmine serta Safira. Sejak kelahiran Si Kembar, Saya memutuskan untuk mengurus anak-anak sendiri.

Dengan mengurus sendiri keempat buah hati kami, Saya mengikuti benar perkembangan mereka dari hari ke hari. Saya ada saat mereka pertama bisa tengkurap, mengangkat kepala, belajar merangkak, tumbuh gigi, berdiri, merambat, Saya pun yang memegangi tangan mereka saat belajar jalan dan seterusnya. 

Hari-hari selalu penuh ketakjuban bersama mereka, karena bukan hanya mereka bertumbuh secara fisik, tapi pola berpikir polos ala anak-anak seringkali membuat Saya terpukau. 

Hari-hari sejak kelahiran mereka adalah hari yang penuh warna. Kehadiran mereka membuat Saya bahagia namun terkadang Saya marah, sedih dan merasa lelah dalam mengurus dan mendidik mereka. Terutama jika Saya merasa mereka tidak bisa memahami atau memenuhi harapan Saya.  (Belakangan, harus Saya akui bahwa Saya bukanlah seorang ibu yang sempurna. Saya kerap menganggap dan memperlakukan mereka sebagai manusia dewasa) 

Diantara hari-hari berwarna itu, hari pertama mereka masuk sekolah adalah salah satu hari mendebarkan bagi Saya. Saya selalu merasa suka cita sekaligus terharu. 
Saya turut merasa suka cita dan bersemangat karena hari itu adalah tonggak baru perjalanan hidup mereka. Merasa terharu karena telah sekian tahun terlewati perjalanan hidup Saya dengan mereka namun Saya merasakannya begitu singkat. 
Perasaan baru saja mereka dilahirkan, kini telah masuk playgroup. 
Perasaan baru saja mereka bisa berjalan kini sudah masuk SD. 
Perasaan baru saja mengajari mereka bermain sepeda sekarang mereka mulai remaja dan masuk SMP. Dan seterusnya



Saat melepas mereka pertama kali di depan pagar sekolah, selalu dengan air mata menitik. Karena ternyata bukan saja mereka yang bertumbuh semakin besar dan dewasa, tapi Saya pun berkembang menjadi lebih bijak sebagai seseorang yang menjadi sandaran keempat malaikat-malaikat tercinta. 
Tuesday, September 2, 2014 1 komentar

Gara-gara BBM-an, Pelanggan Lari

Lelah dan merasa haus setelah berjalan dari ujung barat ke ujung timur mall, Kami berhenti di sebuah konter yang menjual bubble ice,
"Mbak, beli empat gelas, dong, yang rasa cokelat." Kata Saya kepada Mbak SPG yang berdiri di bagian dalam konter. Ia tampak sedang mengetikkan sesuatu dengan ponsel BB nya.
Saya pikir Si Mbak tidak mendengar suara Saya yang halus lemah lembut merayu.( halah!!), maka Saya ulangi kalimat tadi.
"Mbak, beli bubble ice yang cokelat, empat gelas, ya."
Si Mbak SPG mengangkat mukanya memandang Saya sekilas, lalu kembali menekuri ponselnya.
Merasa dicuekin, Saya melangkah pergi. 
Di sebelah konter bubble ice, ada konter lain yang menjual pie susu. Mbak SPG pie susu ini begitu bersemangat menawarkan dagangannya, padahal stok dagangannya di show case tinggal sedikit, sisa 8 pie. Dengan semangat "balas dendam", Saya memborong semua sisa pie yang ada. Sementara Mbak "pie susu" membungkus pesanan saya, sengaja dengan suara agak keras Saya berucap, 
"Si Mbak jualannya semangat, jadi Saya  membeli deh.  Padahal tadi Saya ngga kepingin pie loh."
"Terima kasih, Bu" Jawabnya.


Sementara itu si Mbak penjual bubble ice nampaknya sudah selesai urusan mengetik di ponselnya. Dari balik konternya Ia memanggil Saya,"Bu, mau yang cokelat empat gelas, ya?"
"Oh, ngga jadi, Mbak. Nanti Saya beli es teh manis saja di konter sana." 
Di ujung deretan konter-konter makanan dan minuman tersebut memang ada konter es teh manis gelasan. 
Mendengar jawaban Saya, si Mbak penjual bubble ice menggerutu dengan suara pelan tapi masih bisa Saya dengar 
"Ya ngga apa-apa kalau tidak sabar. Tadi jawab BBM dari bos, koq."
What?!
Saya yang mendengar perkataannya, menjawab dengan gaya menggerutu yang sama "Saya yakin Si Bos ngga akan marah BBM nya dijawab sejam kemudian, kalau alasannya karena sedang sibuk melayani pembeli. Daripada dagangannya ngga laku, kan jadi ngga dapat komisi"
(Haha, cara kami berbalas gumaman sebenernya lucu juga kalau dipikir-pikir. Kenapa juga ngga ngomong langsung dengan orangnya, ya.)

Kejadian ini menjadi pelajaran bagus buat Saya pribadi jika suatu saat memiliki konter dan SPG.  
SPG yang merupakan  wakil pemilik usaha harus mau memprioritaskan pelanggan. Karena jika tidak,  maka para kompetitor akan merebut pelanggan tersebut, serta bersedia memberi pelayanan yang jauh lebih baik dari kita. 
 
;