Thursday, November 27, 2014 0 komentar

Google Tidak Tahu Semua

Di status Facebook Saya kemarin (yang foto Saya lagi belagak nelpon pake telepon jadul itu,loh) Saya metulis dialog begini :
""Hello Rome, this is New York calling. Can you take a telegram from me, please?"
Kalimat tersebut merupakan penggalan dialog dari lagu berjudul "Telegram" yang dirilis tahun 1960 sekian (atau mungkin tahun 1950-an, ya). Lagu yang dibawakan duet oleh penyanyi perempuan dalam Bahasa Inggris, sedangkan Penyanyi lelakinya menyanyi dalam Bahasa Italia.

Lirik lagu yang menceritakan kegalauan si Perempuan, dimana semalam sebelumnya Ia bermimpi Kekasihnya mengatakan "Goodbye'. Jadi melalui telegram itu, Ia ingin memastikan apakah hubungan mereka baik-baik saja.
Itu 'resensi singkat lirik lagunya' . Nah, karena Saya tidak tahu penyanyi lagu tersebut , maka Saya coba Googling dengan keyword penggalan lirik lagunya. (Cara ini biasa Saya lakukan untuk mencari lagu-lagu lainnya, jika Saya lupa judul lagu atau penyanyinya.) Eh, ternyata hingga belasan halaman yang di rekomendasikan Google, tidak ada satupun yang tepat.

Yeeeyyyyy!!!!!
Untuk pertama kalinya Google tidak tahu apa-apa tentang lagu itu. 
Untuk pertama kalinya Google tidak tahu apa yang Saya tahu. 
Jadi, buat Saya, terpatahkan sudah pameo "Google adalah Si Serba Tahu"
-----
Tapi jadi mikir : terus, koq Saya bisa tahu lagu itu ya? sejadul itukah selera Saya? jangan-jangan sebenernyaaa Saya ituuuu...


Tuesday, November 25, 2014 2 komentar

BERENANG

(Khawatir Bag.1)
Sepagi yg dingin ini (baru terasa sekarang) Saya sudah keluar dari kolam renang. (Wuuuiihhh, gaya banget), lalu pulang dengan berlari. 
Saya berlari bukan karena takut dikira "menyimpan" handuknya klub janapada, juga bukan karena berharap bisa lari dari kenyataan hidup, dan bukan pula karena dikejar herder. Saya berlari karena setelah mandi koq otot Saya jadi auto-senam disko, alias menggigil. Angin yang berhembus dengan bersemangat ternyata lebih terasa dingin dibanding air kolam renang.  Jadilah Saya lari sekitar 3 KM tadi. 

Sebagai anak yang pernah tinggal di kampung, dulu saya terbiasa bermain air dan berenang di saluran irigasi. Pun sewaktu tinggal di Tanjung Priok yang terkenal jadi langganan banjir saat air laut pasang apalagi saat musim hujan. Tapi kemampuan berenang saat kecil itu cuma sampai tahap supaya tidak kelelep. 

Saya belajar berenang dengan "bergaya" saat SMP. (Terima kasih kepada guru olahraga, Pak Makruf). Saya termotivasi menguasai berbagai macam gaya berenang -gaya punggung, gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya banget deh- karena Ketua OSIS Saya jago banget berenangnya, masa Saya sebagai wakilnya ngga bisa berenang. 
Apa kata dunia! 

Saya kembali aktif berenang 2 tahun belakangan ini. Karena desakan untuk mengunjungi kampung Bapak Mertua semakin gencar dari Suami.
"Ribuan orang datang kesana, masa kita ngga sih?" Katanya "Nanti masing-masing anak diwajibkan memakai jaket pelampung selama di kapal. Bila perlu kita bawa sekoci sendiri"

Jelaskan sekarang? 
Keywordnya : kapal, pelampung, sekoci. Yang berarti Laut. 
Tempat parkir jamaah air berton-ton liter. Jadi harus bisa berenang.

Kampung Bapak Mertua Rahimahullah di Pulau Tidung - Pulau Seribu. Yang tidak pernah Saya injak lagi sejak Saya hamil pertama. Padahal sebelumnya Saya kerap main ke sana. 
Sebagai anak keturunan pelaut, ketakutan Saya terhadap laut terasa aneh. Saya tidak takut berada dilaut jika "hanya Saya" yang berlayar diatasnya. Tapi Saya merasa ngeri jika membawa anak-anak ke laut. Dimata Saya, laut bukan tempat  yang aman buat mereka. 

Jadilah Saya semangat mengasah skill berenang agar bisa mengajak anak-anak pulkam. Saya tidak berharap terjadi hal yang jelek (amit-amit, ih), setidaknya kalau bisa berenang Saya ngga malu-malu banget lah ama Paus. Jangan sampai dia ngebathin: "Bodi doang yang sama gede, kalau soal berenang sih masih jagoan gue".
Nah! 

Malang nian kan jika mengalami nasib di darat ngga sanggup mengalahkan Dian Sastro (kami sama-sama punya kartu Marie France Bodyline - Kalau Dian Sastro contoh keberhasilan program pelangsingan , sedangkan Aku contoh kemalasan : Sudah dikasih gratis hadiah ngeblog, masih malas juga ikuti programnya), eh, dilaut diketawain Paus. 

Bulan terus berganti nama. Tahun 2014 pun sudah mau selesai. Tapi keberanian Saya berenang cuma maksimal di kedalaman 120 cm. Lebih dalam dari itu masih aatuuuttttt. Takut tiba-tiba keram perut dan kaki tidak bisa menjejak lantai kolam. Hal ini terjadi pada tetangga Saya, yang kemudian tenggelam. 

Padahal jika di laut, 120cm itu masih dihitung pantai. Kalau sudah ketengah laut kan lebih dari itu. Bahkan ada pepatah : "Dalamnya hati bisa diukur, dalamnya laut siapa yang tahu?" ( Harap dianggap benar saja pepatah ini, demi ketenangan bathin Saya. Plissss...). 
So, kedalaman kolam lebih dari 120 CM saja Saya ngga berani apalagi di laut yang 10 METER lebih? Jika sendiri saja tidak berani, bagaimana meyakini diri Saya sanggup membawa 4 anak dan memastikan keamanan mereka?

Begitulah. Kekhawatiran emak overprotektif.
Sudah 2 tahun mempersiapkan diri. Kemampuan berenang pun sudah lumayan. Tapi soal keyakinan diri yang belum bisa mengatasi kekhawatiran dengan begitu banyak "jikalau". 
Kata Suami " Kekhawatiranmu tidak beralasan. Ribuan orang pulang-pergi ke sana tiap pekan, mereka baik-baik saja."  
Yeeee... Mereka ya mereka. Saya ya Saya. Mereka tidak merasakan kekhawatiran Saya.

Thursday, November 13, 2014 1 komentar

Konsumen Tidak Butuh Produk Anda

Seberapapun bagus dan canggihnya sebuah produk, bisa saja produk tersebut tidak akan laku dijual.
Mengapa?
Karena pada dasarnya pembeli tidak butuh "produk". Mereka butuh "kenyamanan".

Salah satu contohnya adalah sekotak tissue.
Di tas ,di mobil, di rumah bahkan hingga ke kamar mandi kita selalu menyediakan tissue. Padahal dulu kita ngga merasa butuh,tuh.
Saat kita merasa perlu melap atau menghapus sesuatu. Ingus, keringat, tetesan air di meja kita biasanya melap dengan kain. (ingat, saat kecil kita melap ingus dengan lengan baju? hiiii)

Lalu kapan mulai merasa butuh tissue?
Kita mulai merasa butuh tissue ketika para Pembuat Strategi Marketing pabrik tissue berhasil meyakinkan dan merasuk ke pikiran kita bahwa melap dengan kertas tissue itu lebih bersih dan lebih higienis.

Ok. Kita melap segala kotoran dengan kertas tissue.

Namun, ternyata pabrik kertas tissue menerima berbagai macam pulp (bubur kertas) dengan berbagai macam 'grade' sesuai jenis kayu yang tersedia pada musim tersebut. Sehingga kertas tissue yang dihasilkan berbeda 'grade'nya. Maka para Ahli Marketing mereka berpikir keras lagi untuk menjual produk tersebut.

Akhirnya, sekarang kita dengan suka rela menerima kenyataan bahwa kertas tissue untuk wajah berbeda dengan tissue untuk toilet, berbeda juga untuk tissue dapur, dan berbeda dengan tissue untuk melap piring . Dan seterusnya.

Kembali lagi, jika sejak awal para Tenaga Penjual hanya menawarkan kertas tissue, tanpa upaya menanamkan bahwa "kita butuh tissue agar bersih (berarti merasa nyaman) apakah kita bersedia mengeluarkan uang hanya untuk membeli lembaran kertas tipis tersebut?

Jadi, apakah konsumen anda merasa nyaman menggunakan produk anda, sehingga mereka butuh untuk membeli lagi dan lagi?
1 komentar

Cari Istri Yang Cantik, Lalu Shalehah

"Mbak, tolong carikan calon istri buat Saya" Kata Dermawan, (nama Samaran, Saya suka nama ini) teman Saya.
"Memang ngga bisa cari sendiri?"
"Belum ketemu yang cocok. Mbak kan temannya banyak, barangkali ada jombowati yang sedang mencari suami" Lanjutnya.
"Teman yang single sih ada aja. Oke,  kamu mau calon istri yang spesifikasinya seperti apa?" Saya pikir ngga ada salahnya mengenalkan satu-dua teman Saya yang masih gadis padanya. Mungkin saja salah satu diantaranya ada yang berjodoh dengannya.
Siapa tahu.
"Memangnya mau beli rumah, Mbak. Pake spesifikasi segala. Pokoknya cantik dan baik."
"Wuih, cari gadis yang cantik saja susah. Apalagi gadis yang cantik dan baik"

Saya jadi ingat sebuah kisah nyata yang bisa diambil pelajaran karena salah memilih istri. kejadian kira-kira tahun lalu.
Ada seseorang lelaki muda menemui Saya minta dicarikan calon istri juga. Kebetulan saat itu ada 2 karyawati Saya yg masih jomblo. Singkat kata Saya minta foto seluruh badan dan pas foto serta CV lelaki muda tersebut.
Ia seorang sarjana, good looking , 32 tahun, sudah bekerja di perusahaan BUMN dengan jabatan setingkat Supervisor, sudah punya rumah sendiri, ada usaha sampingan toko kelontong.
Wah, calon suami yang mantap'kan?
Lalu saya membaca ke baris lebih ke bawah....eng..ing...eng... ternyata Ia sudah punya istri (waktu itu usia istrinya 30 thn) dan 1 anak (usia 3,5 tahun).
Tau dong Saya, xixixi, Saya langsung telepon anak muda ini, marah-marah : "Jadi maksud,lu, mau cari bini muda gitu? Ogah gw! Apa-apaan coba!"

Beberapa hari kemudian, anak muda ini dan istrinya datang menemui Saya untuk menjelaskan alasannya ingin berpoligami. Rupanya selama ini Ia tidak sreg dengan istrinya karena 'cuma' tamatan SD, kulitnya cokelat gelap, dan wajahnya terlalu biasa saja.
"Jomplang" katanya.

Lantas kenapa dinikahi?
"Waktu itu,Saya kadung janji dengan guru Saya, untuk menerima siapapun calon yg dia tawarkan kepada Saya, asalkan perempuan baik. Sejak awal Saya sebetulnya ingin menolak, tapi Saya kadung janji, itu, Mbak. Daripada mengganjal perasaan Saya terus, makanya sekarang Saya mau memilih istri yang sesuai pilihan Saya,Mbak".
Ia katakan hal tersebut blak-blakan di depan istrinya, yang cuma bisa tertunduk.
Saya bayangkan jika perempuan ini adalah Saya. Betapa sedihnya. 

Merasa simpati dengan istri teman ini, lalu selama beberapa bulan berikutnya saya mendampinginya untuk lebih berdaya guna. Mengajarinya komputer, mendorong, memaksa dan memberi les pelajaran agar Ia lulus hingga kejar paket C. Meskipun akhirnya si Suami tetap menikah lagi, setidaknya istri mudanya bukan Saya yang mencalonkan.

Nah, jadi benar ada sebuah anjuran yang mengatakan :
Kriteria pertama dalam mencari istri : Carilah calon istri yang indah dipandang matamu, lalu kriteria selanjutnya carilah calon istri yang shalehah. Karena jangan sampai Istri yang salehan membuatmu memalingkan wajah darinya karena kau tidak suka memandangnya.
 
;