Tuesday, November 25, 2014

BERENANG

(Khawatir Bag.1)
Sepagi yg dingin ini (baru terasa sekarang) Saya sudah keluar dari kolam renang. (Wuuuiihhh, gaya banget), lalu pulang dengan berlari. 
Saya berlari bukan karena takut dikira "menyimpan" handuknya klub janapada, juga bukan karena berharap bisa lari dari kenyataan hidup, dan bukan pula karena dikejar herder. Saya berlari karena setelah mandi koq otot Saya jadi auto-senam disko, alias menggigil. Angin yang berhembus dengan bersemangat ternyata lebih terasa dingin dibanding air kolam renang.  Jadilah Saya lari sekitar 3 KM tadi. 

Sebagai anak yang pernah tinggal di kampung, dulu saya terbiasa bermain air dan berenang di saluran irigasi. Pun sewaktu tinggal di Tanjung Priok yang terkenal jadi langganan banjir saat air laut pasang apalagi saat musim hujan. Tapi kemampuan berenang saat kecil itu cuma sampai tahap supaya tidak kelelep. 

Saya belajar berenang dengan "bergaya" saat SMP. (Terima kasih kepada guru olahraga, Pak Makruf). Saya termotivasi menguasai berbagai macam gaya berenang -gaya punggung, gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya banget deh- karena Ketua OSIS Saya jago banget berenangnya, masa Saya sebagai wakilnya ngga bisa berenang. 
Apa kata dunia! 

Saya kembali aktif berenang 2 tahun belakangan ini. Karena desakan untuk mengunjungi kampung Bapak Mertua semakin gencar dari Suami.
"Ribuan orang datang kesana, masa kita ngga sih?" Katanya "Nanti masing-masing anak diwajibkan memakai jaket pelampung selama di kapal. Bila perlu kita bawa sekoci sendiri"

Jelaskan sekarang? 
Keywordnya : kapal, pelampung, sekoci. Yang berarti Laut. 
Tempat parkir jamaah air berton-ton liter. Jadi harus bisa berenang.

Kampung Bapak Mertua Rahimahullah di Pulau Tidung - Pulau Seribu. Yang tidak pernah Saya injak lagi sejak Saya hamil pertama. Padahal sebelumnya Saya kerap main ke sana. 
Sebagai anak keturunan pelaut, ketakutan Saya terhadap laut terasa aneh. Saya tidak takut berada dilaut jika "hanya Saya" yang berlayar diatasnya. Tapi Saya merasa ngeri jika membawa anak-anak ke laut. Dimata Saya, laut bukan tempat  yang aman buat mereka. 

Jadilah Saya semangat mengasah skill berenang agar bisa mengajak anak-anak pulkam. Saya tidak berharap terjadi hal yang jelek (amit-amit, ih), setidaknya kalau bisa berenang Saya ngga malu-malu banget lah ama Paus. Jangan sampai dia ngebathin: "Bodi doang yang sama gede, kalau soal berenang sih masih jagoan gue".
Nah! 

Malang nian kan jika mengalami nasib di darat ngga sanggup mengalahkan Dian Sastro (kami sama-sama punya kartu Marie France Bodyline - Kalau Dian Sastro contoh keberhasilan program pelangsingan , sedangkan Aku contoh kemalasan : Sudah dikasih gratis hadiah ngeblog, masih malas juga ikuti programnya), eh, dilaut diketawain Paus. 

Bulan terus berganti nama. Tahun 2014 pun sudah mau selesai. Tapi keberanian Saya berenang cuma maksimal di kedalaman 120 cm. Lebih dalam dari itu masih aatuuuttttt. Takut tiba-tiba keram perut dan kaki tidak bisa menjejak lantai kolam. Hal ini terjadi pada tetangga Saya, yang kemudian tenggelam. 

Padahal jika di laut, 120cm itu masih dihitung pantai. Kalau sudah ketengah laut kan lebih dari itu. Bahkan ada pepatah : "Dalamnya hati bisa diukur, dalamnya laut siapa yang tahu?" ( Harap dianggap benar saja pepatah ini, demi ketenangan bathin Saya. Plissss...). 
So, kedalaman kolam lebih dari 120 CM saja Saya ngga berani apalagi di laut yang 10 METER lebih? Jika sendiri saja tidak berani, bagaimana meyakini diri Saya sanggup membawa 4 anak dan memastikan keamanan mereka?

Begitulah. Kekhawatiran emak overprotektif.
Sudah 2 tahun mempersiapkan diri. Kemampuan berenang pun sudah lumayan. Tapi soal keyakinan diri yang belum bisa mengatasi kekhawatiran dengan begitu banyak "jikalau". 
Kata Suami " Kekhawatiranmu tidak beralasan. Ribuan orang pulang-pergi ke sana tiap pekan, mereka baik-baik saja."  
Yeeee... Mereka ya mereka. Saya ya Saya. Mereka tidak merasakan kekhawatiran Saya.

2 komentar:

starleery said...

salam kenal mbak.
duuh kebayang yaa.. saya juga suka ngerii kalau dilaut. terlebih lagi saya dan suami gak bisa renang. komplit! :(

Rinny Ermiyanti said...

Mbak Lia terima kasih sudah berkunjung.
Hehehe ternyata Saya ada temennya, ya

Post a Comment

 
;